
Untuk pertama kalinya dirinya mengantar Dora ke kampus. Canggung? Itulah situasi saat ini, matanya sedikit melirik ke arah Yoka. Tidak ada lagi papan putih di dekatnya.
"Yang semalam..." kata-kata Dora terhenti, dirinya juga bingung harus bagaimana. Bingung pada dirinya sendiri yang bersedia berhubungan tanpa status yang jelas. Bahkan dengan bodohnya tanpa ikatan pernikahan.
"Aku akan menikahimu, tidak peduli kamu setuju atau menolak," jawaban yang tidak dapat dibantah. Benar-benar sosok berbeda, yang membuatnya takut walaupun hanya untuk mengeluarkan suara.
Jemari tangan Dora mengepal, dirinya terdiam sejenak. Menatap ke arah sang pemuda.
"Kamu mencintaiku atau tidak?!" bentak Dora padanya, benar-benar ragu dan tidak mengerti dengan pemuda yang pada awalnya menganggapnya sebagai pengganti.
"Aku menyukaimu," dua kata dari Yoka yang masih membaca pembukuan dari beberapa restauran miliknya. Mulai hari ini dirinya benar-benar akan turun tangan mengelolanya, cepat atau lambat dirinya harus mengumpulkan lebih banyak uang untuk anak dan istrinya.
Dora menghela napas kasar, benar-benar tidak yakin pada pemuda yang sama sekali tidak romantis ini.
"Lalu kenapa kamu bilang badanku seperti triplek?!" tanya Dora lagi, ingin Yoka merevisi kalimat yang dulu ditulisnya pada papan putih.
"Triplek..." gumam Samy yang tengah menyetir dengan suara kecil, menahan tawanya.
"Kenapa tertawa?!" tanya Dora lebih kesal lagi.
"Aku hanya heran, triplek tapi tandanya bisa sebanyak itu." Tawa Samy akhirnya terdengar tidak dapat ditahannya lagi. Sedikit melirik dari spion, entah berapa cetak keunguan hasil perbuatan pemuda yang masih membaca dokumen tanpa perasaan bersalah.
Dora mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, ekspresi wajah yang bagikan ingin menangis. Dirinya benar-benar diolok-olok oleh Samy, sedangkan Yoka tidak menanggapinya sama sekali. Hanya konsentrasi pada kertas yang dipegangnya.
Benar-benar pria sialan, kenapa dirinya tidak melawan, melarikan diri saja semalam. Air matanya tiba-tiba mengalir, dirinya sudah tidak perawan lagi, tidak memiliki harapan untuk memiliki kekasih lain, mungkin itulah yang ada dalam fikirannya saat ini. Jika menikah dengan orang lain, mungkin suaminya akan meragukannya, menganggapnya murahan karena sudah tidak perawan lagi pada malam pertama.
Yoka menghela napas kasar, mendengar suara isakan. Pada akhirnya wanita galak ini menangis juga, ini memang kesalahannya. Wajahnya tersenyum, mengusap pucuk kepala sang wanita. Benar-benar perlakuan lembut yang membuat Dora terdiam sesaat.
Ini sama seperti Yoka bisu yang sebelumnya.
"Jangan menangis seperti kamu sudah menyesal. Itu membuatku merasa, kamu tidak tulus ketika kita melakukannya. Apa kamu berani menyukai pria lain?" tanyanya, benar-benar mengeluarkan aura mengerikan, mendominasi.
Dora menghentikan tangisannya, dengan cepat menggeleng.
"Apa kamu menyesal?" tanya Yoka lagi. Dora yang ketakutan kembali menggeleng.
"Bagus! Pintar! Belajarlah yang baik, nanti sore aku akan menjemputmu. Arsen sedang mempersiapkan segalanya untuk pernikahan kita. Jangan mencoba untuk melarikan diri." Pemuda itu tetap tersenyum, mengacak-acak rambutnya. Benar-benar mendominasi, menakutkan, mengerikan. Dapat dibayangkan olehnya hidup dengan pemuda seperti Yoka.
Bukan si bisu yang lembek, namun pemuda yang bagaikan mengatur hidupnya. Dora masih diam, menelan ludahnya sendiri, jemari tangannya gemetar.
"Pergilah, aku tau aku tampan dan wajahku tidak mudah kamu lupakan. Tapi kamu tetap harus kuliah..." Kata-kata narsis itu kembali terucap, membuat Dora tersadar dari rasa takut yang mendominasi dirinya. Pergi keluar dari mobil dengan cepat.
Sedangkan Samy hanya dapat menipiskan bibir menahan tawanya.
"Kenapa? Ingin tertawa?" tanya Yoka padanya.
"Tidak, tapi kamu membuatnya ketakutan. Dia tidak akan bertahan lama denganmu." Samy menghela napas kasar, mulai menyalakan mesin mobilnya.
Alumni kampus? Itulah Jovan, pemuda yang berjalan membawa beberapa kelengkapan untuk mendaftar, menempuh S2 mengikuti kuliah malam. Mengingat syarat jika dirinya ingin naik jabatan.
Pemuda itu perlahan melangkah, duduk seorang diri di kantin kampus, setelah menyelesaikan administrasinya. Banyak hal yang ada dalam fikirannya. Sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Meira.
Dirinya mulai ragu, entah berapa tahun hubungan yang dijalaninya dengan Dora. Gadis yang tinggal seorang diri, memecahkan celengan tembikarnya hanya untuk biayanya mendaftar kuliah.
Sungkan? Benar-benar sungkan, dirinya sendiri bekerja paruh waktu untuk menunjang biaya hidupnya. Tidak ingin terlalu membebani kekasihnya. Tapi segalanya berubah, kala Meira yang juga kuliah di kota mendekatinya.
Apakah perasaan pada Meira salah? Dirinya merindukan sentuhan Meira, setiap lekuk tubuh yang dinikmatinya. Tapi beberapa bulan ini ada yang kosong dalam hatinya, saat menemukan kue ulang tahun di depan pintu tempat kostnya.
Dora tidak mengangkat panggilannya sama sekali, tidak membalas pesan yang dikirimkannya. Handphone android miliknya kembali di keluarkan, mencoba menghubungi nomor itu lagi. Tapi tidak ada hasil.
Dulu setiap pesan akan dibalasnya dengan segera, mengirimkan emoji hati di akhir pesan. Namun sekarang, panggilan pun tidak pernah dijawab gadis itu. Dirinya terdiam, menggeser layar phonecellnya, pesan terakhir yang dikirimkan Dora beberapa bulan lalu terlihat.
Satu persatu dibacanya, wajahnya tersenyum, hanya kiriman chatt yang tulus. Sekedar menanyakan sudah makan atau belum, jaga kesehatan, aku mencintaimu. Bukan sebuah sentuhan, hanya sekedar perhatian.
Ruangan kosong di hatinya semakin terasa. Apa ini perasaan bersalah? Atau mencintainya? Bukan, yang dicintainya adalah Meira. Wanita yang mampu memberikan kehangatan padanya. Dialah Meira, seharusnya Meira.
Suara tawa seseorang terdengar berjalan dengan mahasiswi lainnya, memakai minidress yang terlihat tidak berharga murah. Rambutnya tumbuh dengan cepat, mungkin karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. Rambut yang kini sudah melewati bahu, poni yang dulunya lurus bagaikan tokoh animasi Dora. Kini menyamping terlihat lebih dewasa.
Gadis yang terkurung jarang memiliki waktu untuk keluar. Kulit wajahnya terlihat lebih bersih, menggendong ransel, membawa beberapa map.
"Dora," panggilnya tertegun.
Dora menoleh ke arah belakang. Pemuda itu terlihat pada akhirnya.
Apa yang akan dilakukannya? Mengapa Dora ada di sini dengan penampilan yang berbeda? Apa mungkin untuk mencari dirinya?
Pemuda yang masih ada dalam dilema. Dirinya mencintai Meira bukan? Tapi mengapa ruangan kosong di hatinya bagaikan terisi menatap gadis ini kembali.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apa mencariku? Tentang Meira, aku harap kamu mengerti tentang perasaan kami. Aku..." kata-kata Jovan terhenti.
"Aku mahasiswi baru di kampus ini. Jurusan kedokteran. Satu lagi kita tidak saling mengenal mulai sekarang. Maaf, kita putus." Rasa lega menghampiri Dora, kalimat yang ingin diucapkannya secara langsung. Dirinya resmi menjadi burung pipit yang hidup sendiri. Seolah melupakan naga yang semalam telah menjeratnya, mengekang kebebasannya.
"Putus?" tanya Jovan tersenyum lirih, seharusnya dirinya lega bukan? Dora tidak melekat padanya, tidak mengganggu hubungannya dengan Meira. Namun satu kata yang terasa menyakitkan.
Matanya menelisik, mengamati penampilan Dora. Dengan hanya berjualan dapat mengumpulkan uang kuliah dengan cepat? Bahkan mengenakan pakaian dan ransel bermerek.
"Kamu mendapatkan biaya kuliah dari mana?! Jangan bilang kamu menjual diri! Atau berkencan dengan pria hidung belang!" bentaknya mencengkeram pergelangan tangan Dora.
Beberapa mahasiswi yang dikenalnya melakukan perbuatan serupa demi mendapatkan biaya hidup dan uang kuliah. Apa Dora juga melakukannya?
Dora melepaskan pergelangan tangannya, mengepalkan tangannya. Dirinya tidak boleh kalah dalam berdebat.
"Iya! Aku memang tidur dengan pria kaya! Memangnya dengan cinta aku bisa kuliah?! Yang ada cinta hanya dapat menghabiskan uang yang aku kumpulkan susah payah!"