
Ruangan yang begitu besar, dengan deretan buku tersusun rapi. Seorang pelayan mengantarkan kue kering dan teh hangat di hadapan mereka.
Dua orang yang duduk berhadapan di sofa ruang kerja. Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun Narendra ingin bicara serius padanya.
"Tanda tangani ini..." ucapnya menyerahkan beberapa berkas sembari tersenyum.
Dora meraih berkasnya yang ada di hadapannya. Membulatkan matanya menatap ke arah ayah mertuanya.
"Apa maksudnya?" tanya Dora tidak mengerti.
"Warisan akan aku bagikan lebih awal. Sebagian dari perusahaan adalah milik mendiang istriku. Ibu kandung Yoka. Jadi Yoka akan mendapatkan 60% dari peninggalanku. Dia memiliki 50% saham dari Melda dan 30% saham dariku. Sedangkan 20% lainnya akan aku berikan pada Samy adiknya," jawaban dari Narendra menghela napas kasar masih berusaha untuk tersenyum.
"Adik?" Dora kembali terdiam tidak mengerti sedikitpun.
"Melda ibu kandung Yoka adalah istri keduaku. Sedangkan ibu kandung Samy adalah istri pertamaku. Inilah alasan aku membunuh Melda, aku membunuhnya dengan tanganku sendiri. Meragukan hatinya, hanya karena beberapa bukti. Walaupun itu adalah bukti asli tidak seharusnya aku meragukan hatinya. Ini kesalahanku, mempercayai pengakuannya sebagai kebenaran..." kata-kata ambigu dari Narendra, terdiam sejenak dengan mata memerah bagaikan menahan air mata yang hendak mengalir.
Tidak begitu mengerti, namum dari raut wajahnya, Narendra mungkin bukan orang yang begitu jahat. Dora mengembalikan berkas di hadapannya, kemudian menggeleng."Kenapa menitipkannya padaku? Ayah dapat menunggu mereka pulang. Memberikannya sendiri."
Narendra menggeleng."Aku tidak ingin bertemu dengan mereka. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Minta maaf? Bahkan aku tidak pantas dimaafkan, aku yang membunuh ibu mereka. Karena itu, tolong tandatangan. Wakili mereka, berikan bagian mereka setelah mereka pulang," pintanya.
Dora terdiam, isi dari dokumen? Menyerahkan seluruh aset yang dimiliki Narendra atas nama Dora. Dengan perjanjian, setelah kepulangan Yoka dan Samy, seluruh aset akan dikembalikan pada mereka.
Tangan Dora mengepal air matanya tiba-tiba mengalir, merasa ada yang tidak beres dengan dokumen di hadapannya."Aku tidak mau tandatangan,"
"Kenapa? Ayah mempercayaimu, kamu akan mengembalikan semuanya pada mereka. Untuk pertama kalinya ayah meminta bantuanmu, jadi..." Kata-kata Narendra dipotong.
"Ayah mau kemana? Selama ini ayah yang menjagaku di rumah ini. Jika ayah pergi, aku hanya sendirian. Arsen dan Zou hanya peduli pada kepentingan Yoka. Salsa dan Anggeline ingin menyingkirkanku secara terang-terangan. Dan Malik, dia seperti penguntit mesum. Aku sendirian..." rengekan dari Dora menangis tersedu-sedu.
Bukannya menjadi wanita yang tegar, namun 2 tahun ini dirinya malah semakin bergantung pada Narendra. Mungkin sosok ayah yang sama sekali tidak didapatkannya di masa kecilnya. Ayah kandung yang telah meninggal, ayah angkat yang juga mati akibat kecelakaan di usianya yang masih terlalu kecil, mungkin hanya Narenda yang bagikan seorang ayah baginya.
Firasat? Mungkin iya, mungkin jika dirinya menandatangani dokumen di hadapannya Narendra akan pergi ke tempat yang jauh. Mungkin itulah yang ada di benaknya.
Wajah yang tertunduk dengan air mata tidak henti-hentinya mengalir. Bahkan wanita itu kini cegukan.
"Dasar! Jangan menangis, kamu boleh tidak tandatangan jika tidak ingin," ucapnya menghela napas kasar, menatap ke arah menantunya.
Tidak dapat berkata apa-apa, mungkin tidak hari ini. Wanita cantik yang bagikan pinguin kecil menggemaskan, inikah rasanya mempunyai anak perempuan? Mungkin iya.
Merindukan Melda, perasaan bersalah, semua masih menggumpal di hatinya. Bahkan dendam itu masih ada, menemukan pelaku sebenarnya. Menyerah? Dirinya memutuskan untuk menyerah, tidak akan menemukan pelaku sebenarnya. Ingin meminta maaf pada Melda yang entah berada dimana. Apa mungkin di laut? Entahlah, namun mendiang istri yang dicintainya dan juga mati di tangannya sendiri.
"Ayah tidak kemana-mana jangan menangis," suara tawa Narendra terdengar, menyumpal mulut Dora yang menangis terisak menggunakan kue kering. Dan ajaibnya lagi Dora mengunyahnya dengan cepat.
"Ayah malam ini dokter Tantra memintaku membantunya melakukan otopsi lagi. Apa boleh?" tanya Dora menghapus air matanya, baru ingat tentang janji kencan. Maaf salah, tentang janji menjadi asisten sang dokter forensik.
"Boleh, tapi tanyakan pada Zou, sepertinya dia juga penasaran dengan kegiatanmu di kampus," jawab Narendra, meminum teh di hadapannya.
"Benar boleh?" senyuman terlihat di bibir Dora, perasaan yang berubah dengan mudah. Namun apa arti senyuman itu sebenarnya? Apakah benar setelah 2 tahun wanita itu belum mandiri sama sekali.
Tempatnya dirinya hanya berpura-pura, mengamati situasi orang-orang di rumah ini. Dengan keberadaan Narendra, akan lebih mudah membully Salsa dan Anggeline.
Wanita yang sejatinya masih menyimpan dendam. Setiap hari dicibir sebagai pengganti oleh Anggeline, hinaan dari mulut Salsa semua masih disimpannya.
Calon dokter bedah yang memiliki dendam, wajah yang tersenyum bagaikan pinguin tidak berdaya. Apa yang disimpan sang pinguin? Senjata api laras panjang? Basoka? Entahlah, tapi dua tahun ini dirinya benar-benar banyak belajar.
Menghindari masalah jika bisa, tapi harus bersiap di saat yang terdesak nantinya. Sampai sekarang pisau bedah masih tersimpan di bawah bantalnya. Berjaga-jaga jika Malik kembali memasuki kamarnya diam-diam.
Rekaman video panas Salsa dengan beberapa pria berbeda, jika mulut wanita itu masih tidak bisa diam, menceramahinya, maka akan ada waktu dirinya menekan enter untuk menyebar luaskan video anonim.
Anggeline? Jangan harap dia bisa lolos, berbekal uang bulanan yang diberikan Narendra dan dikirimkan Yoka. Beberapa bukti plagiarisme sudah disimpannya. Tidak semua lagu yang diciptakan Anggeline buatannya, ada beberapa meniru seniman luar yang tidak terkenal.
Siapa bilang dirinya hanya bersembunyi di balik punggung Narendra. Tapi walaupun itu kenyataannya, dirinya sudah menyiapkan segalanya jika kesabaran sang pinguin kecil sudah habis.
Basoka akan ditembakkan, wajah manis itu akan membabat habis. Seekor pinguin yang sudah beradaptasi untuk hidup di hutan Amazon yang kejam.
*
Canberra, Australia.
Seorang pemuda menghela napas kasar. Memijit pelipisnya sendiri setelah mengangkat panggilan internasional. Memikirkan betapa genit istrinya saat ini.
Tidak heran usia yang terbilang muda, masih 27 tahun, tidak ada kabar dari suaminya sendiri. Wanita mana yang tidak akan frustasi tinggal di sarang penyamun tanpa kejelasan.
"Apa yang dilakukannya kali ini?" Samy menipiskan bibir menahan tawanya, menatap raut wajah Yoka yang benar-benar tidak terlihat baik-baik saja.
"Hudson mengatakan ada seorang dokter forensik yang selalu berkencan dengannya di kamar mayat. Puas?" tanya Yoka masih menegang mouse laptopnya dengan kuat.
"Masih muda, cantik, calon dokter yang gigih. Janda bukan perawan bukan, merasa tidak diperhatikan suaminya, menganggap dirinya pengganti. Resmi, setahun lagi saat kepulanganmu, surat cerai akan menempel di jidatmu..." Samy tertawa lepas, melihat Yoka yang menatap tajam padanya.