Silent

Silent
Kiss



Tangan Narendra terangkat, jantungnya berdegup cepat, jemarinya menyentuh tirai. Namun, sejenak mengenyitkan keningnya, menatap ke arah tangan kanan yang sedikit terlihat di balik tirai.


Tangan kanan dengan tahilalat, serta gelang benang, batu giok putih lambang burung api menjadi bandulnya.


"Dasar anak br*ngsek," batin Narendra kesal, menghela napasnya berkali-kali. Siapa yang memiliki tahilalat di pergelangan tangannya? Satu lagi, jangan lupa gelang dengan bandul giok putih, dibuat almarhum Reksa secara khusus untuk cucu satu-satunya.


Kini dirinya mengerti, mengapa menantunya yang manis dapat berselingkuh. Ternyata lebih tepatnya bukan berselingkuh, namun merahasiakan keberadaan suaminya sendiri.


Narendra terdiam sejenak, jemari tangannya kembali terangkat. Namun jemari yang gemetaran itu kembali terjatuh. Setetes air matanya mengalir. Apa yang akan diucapkannya pada putranya nanti? Minta maaf? Bahkan dirinya tidak pantas untuk dimaafkan.


"Dora! Jangan makan terlalu banyak!" teriak Narendra, berjalan ke arah wastafel, mencuci tangannya. Setidaknya berpura-pura mencuci tangannya. Biarlah Yoka membencinya, itu pantas untuknya. Bahkan jika saat dirinya matipun putranya meludahi makamnya itu masih pantas untuknya.


Narendra berusaha tersenyum, menghapus air matanya. Berpura-pura tidak mengetahui keberadaan putranya.


Sementara Yoka tertunduk diam, menghapus air matanya. Entah kenapa dirinya merindukan ayah yang dulu begitu menyayanginya. Dirinya merindukan punggung kokoh yang dulu menggendongnya.


Memaafkan? Apa bisa? Dirinya masih mencintai Narendra, sebagai satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup. Pintu kamar mandi sedikit dibukanya. Tidak lama setelah Narendra keluar.


Wajah pria paruh baya itu terlihat, meletakkan makanan pada piring Dora. Apakah makanannya beracun? Mungkin itulah yang ada dalam benak Yoka. Namun, Narendra tidak menolak kala Dora menyuapinya dengan makanan yang sama. Makanan yang tidak beracun.


Narendra sedikit melirik ke arah pintu kamar mandi, menampakan sedikit dari wajah putranya. Berusaha tidak bertemu, walaupun merindukannya, menyakiti diri sendiri, hanya itu yang dilakukannya beberapa belas tahun ini.


"Makanlah yang banyak," ucap Narendra pada menantunya.


"Cepat-cepatlah hamil. Siapkan tenagamu untuk malam ini. Diam! Dan nikmati saja semua yang dilakukan putraku," batin Narendra, dalam senyumannya, melihat pinguin kecil yang kelaparan, menyantap banyak ikan.


Ada berapa tanda? Tidak terhitung jumlahnya. Putranya memang benar-benar ganas. Mungkin karena sifat Dora yang menggemaskan. Entahlah, namun yang dirinya tahu malam ini Yoka tidak akan tinggal diam.


"Dora, kamu boleh tidak ke kampus selama beberapa hari lagi," ucap Narendra, membuat Dora terdiam sejenak.


"Apa boleh?" tanyanya lagi memastikan. Senang? Tentu saja, dirinya dapat menghabiskan waktu bersama Yoka.


Berdua di tempat tidur bersama seharian. Hanya untuk sekedar mendengarkan musik berbaring saling mendekap. Sungguh kencan yang romantis bukan?


"Tapi nanti malam ada evaluasi, aku harus ke kampus," ucap Dora ragu. Narendra mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, memberikan pada menantunya.


"Aku belum lancar mengemudi," ucap Dora dengan tatapan menyelidik.


"Cari supir pengganti, kamu boleh kembali ke rumah sakit atau pulang malam," Narendra menipiskan bibir, berusaha untuk tidak tertawa. Tas diraihnya berjalan beberapa langkah."Jangan makan-makanan pedas, jangan sering melompat-lompat. Atau meminum minuman beralkohol,"


Tidak ingin cucunya terluka sedikitpun, itulah yang dilakukan Narendra. Wajah itu tersenyum, berharap kali ini Yoka akan membuat Dora mengandung.


Jika Dora mengandung maka dalam setahun ini kecil kemungkinannya wanita itu meminta cerai.


Perlahan Yoka keluar dari tempat persembunyiannya, setelah kepergian Narendra. Duduk di samping istrinya."Aku boleh ikut ke kampus?"


Dengan cepat Dora menggeleng, mengetahui dimana ini akan berakhir. Bagaimana Yoka akan berbuat kekacauan nanti.


"Tidak boleh!" bentaknya.


*


Malam semakin larut, seorang gadis berambut pendek berjalan di area kedatangan penumpang. Wajahnya tersenyum, memakan permen karet rasa strawberry.


"Apa ibu masih tinggal dengan si mesum?" gumamnya membenci sosok Warto. Mulai menghubungi sang ibu.


"Halo ibu?" Chery menghela napas kasar.


"Aku Chery, anak yang melarikan diri dari rumah. Ibu melupakanku?" Cherry mengenyitkan keningnya, menghentikan langkahnya sejenak.


"Akhirnya kamu pulang juga! Adikmu Dora sudah lama menikah. Kamu tidak ingin bertemu dengannya?" tanya Vera antusias.


"Aku merindukannya. Dua jam lagi mungkin aku sudah sampai rumah. Aku ingin mengevaluasi adik iparku nanti..." ucap Chery mematikan panggilan phonecellnya.


Jemari tangannya mengepal, mencari keberadaan adiknya adalah prioritasnya saat ini. Membawa satu set perhiasan untuk adiknya tersayang. Tapi sebelum itu dirinya harus membeli cheese cake.


Antrian yang benar-benar panjang. Hingga dirinya kembali duduk di area ruang tunggu bandara. Sekitar 40 menit kemudian barulah outlet kue jauh lebih sepi.


Gadis berambut pendek sebahu itu berjalan perlahan.


"Aku ingin ini,"


"Aku ingin ini,"


Seorang pemuda menunjuk ke arah kue yang sama. Sepotong kue yang hanya masih satu. Cheese cake yang benar-benar menggoda dengan toping coklat putih.


"Sebagai seorang pria seharusnya kamu mengutamakan kepentingan wanita," sinis Cherry.


"Sebagai seorang wanita, seharusnya kamu lebih lembut, memberikan kue terlebih dahulu pada pria tampan, kemudian bersikap malu-malu." gumam Samy yang telah menginap semalaman di bandara. Kini perutnya benar-benar lapar, mencari makanan lain? Namun dirinya sudah terlanjur jatuh cinta pada cheese cake dengan lelehan coklat putih.


"Aku yang membayar lebih dulu, ini milikku," tegas sang gadis yang usianya sudah berada di awal 30 tahun-an.


"Ini milikmu? Coba saja, melakukan apapun untuk merebutnya!" tegas Samy tidak terima merebut kue milik Cherry. Mengangkatnya dengan tubuhnya yang lebih tinggi, dirinya datang hampir bersamaan namun tidak mendapatkan apa yang dicarinya.


Tinggal di Eropa selama belasan tahun. Berciuman? Merupakan hal yang biasa, namun tidak di negara ini. Karena itu untuk merebut apa yang diinginkannya Cherry harus lebih nekat lagi.


"Aku mencintaimu," ucap gadis itu tiba-tiba, mengalungkan tangannya pada leher sang pemuda, mengecup bibir Samy dengan cepat.


Pemuda itu terdiam, untuk pertama kalinya dirinya dicium seorang wanita. Inikah rasanya berciuman? Mungkin itulah yang ada di benaknya.


Dan benar saja, Samy menjatuhkan kotak kue, yang dengan cepat dipungut oleh Cherry.


"Jadi rusak kan?" gumam Cherry kesal.


"Aku ingin lagi..." Samy meraba bibirnya sendiri. Perasaan yang sama sekali tidak buruk. Aliran darah yang berdesir hebat, kala bibir itu bersentuhan.


Kecanduan? Mungkin inilah perasaan kecanduan pada bibir tipis wanita di hadapannya.


"Apa?" tanya Chery tidak mendengar dengan jelas.


Samy berjalan membeli sembarangan kue. Apa yang ingin dilakukannya? Mencobanya sekali lagi saja. Hanya sekali lagi, maka dirinya akan berhenti.


Tangan Chery ditarik Samy paksa. Berjalan menuju gudang belakang bandara tempat pemeriksaan barang.


"Kamu mau apa?! Pergi! Atau aku akan berteriak!" bentak Chery melangkah mundur, membentur rak yang terbuat dari besi.


"Aku ingin merasakan yang tadi!" Samy meninggikan nada bicaranya, dengan wajah yang menunduk merasa malu sendiri, tapi mau bagaimana lagi. Dirinya benar-benar penasaran dengan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.


"Merasakan apa?" tanya Chery.


"Ini!" Samy memejamkan matanya, meraih tengkuk Chery. Benar-benar menyenangkan baginya. Tidak heran bahkan ada jasa penyewaan orang untuk sekedar memeluk atau berciuman.