
Wanita yang menangis tertunduk penuh rasa bersalah 16 tahun lalu. Kini masih tetap rupawan, foto Melda kala muda terpajang di kamar Samy. Begitu juga dengan fotonya saat ini yang sedikit menua, hanya sedikit.
Foto Samy yang merangkul bahu sang ibu, mengambil gambar dengan kamera phonecellnya. Dirinya terlihat tersenyum, tepatnya berusaha tersenyum. Namun, tidak sedikitpun senyuman terlihat di bibir Melda.
Mengapa wanita yang seharusnya mati masih hidup? Rahasia yang disembunyikan Samy dan Martin. Seorang ayah yang tidak memperbolehkan putranya menangis kala pemakaman Melda. Penyebabnya? Surat kremasi palsu, serta rekam jejak medis tentang kematian juga dipalsukan olehnya.
Seorang pengacara yang untuk pertama kalinya melanggar hukum. Narendra yang masih terperangkap rasa bersalahnya tidak akan membiarkan keluarganya bahagia. Karena itulah, Martin menyembunyikan Melda selama ini.
Air mata Samy masih belum mengering, dirinya sudah cukup dewasa untuk mengetahui segalanya. Hanya anak tiri? Namun diperlakukan layaknya anak kandung. Bahkan menyiapkan masa depannya, itulah ibunya Melda.
Menyimpan dendam? Hanya dendam pada ayahnya. Tidak mengetahui siapa pengendali boneka sebenarnya.
Hai Tayo! Hai Tayo! Dia bis kecil ramah!
Suara dering dari phonecell terdengar, pemuda itu mengangkat panggilan. Suara seorang pria terdengar dari seberang sana.
"Maaf, tuan, nyonya..." Kata-katanya terhenti bagaikan enggan berucap.
"Aku tahu..." Samy menghapus air matanya berusaha untuk tersenyum, mematikan panggilan, meraih kunci mobilnya.
Berjalan beberapa langkah meninggalkan kamarnya. Suara petir terdengar, hujan gerimis turun, masih memasang wajah tersenyumnya. Melangkah dengan lebih cepat.
"Mau kemana?" tanya Arsen, yang masih berada di ruang tamu.
"Pacarku, katanya dia merindukanku. Kamu tidak tau betapa menyenangkannya menjadi anak muda. Terutama dalam gelap dan hujan petir begini. Teriakan seorang wanita meminta lebih, benar-benar membuatku tidak berdaya..." kata-kata ambigu dari mulut yang lancar berdusta bagaikan agen investasi bodong yang meyakinkan kliennya.
Arsen mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar."Memangnya ada yang mau denganmu? Narsis..." cibirnya.
"Ada, wanita berhati baik, aku menyayanginya. Jika aku mempunyai pasangan, aku ingin yang sepertinya. Sudah! Aku mau berkencan dulu!" ucapnya melangkah pergi.
Namun kata-kata Arsen membuat Samy kembali menghentikan langkahnya sejenak.
"Apa kamu berpihak pada Yoka?" tanyanya.
"Tidak, tapi kelahiran kami hampir serupa. Satu-satunya orang yang menyenangkan untuk bermain game bersamaku. Aku ingin bermain game perburuan dan mengalahkannya..." jawaban dari Samy kembali melangkah.
Bermain? Mengalahkannya? Dirinya ingin bermain game perburuan dengan sang kakak. Siapa yang akan pertama kali menangkap siluman, kemudian membunuhnya. Siluman yang sudah menghancurkan keluarga mereka.
Mengembalikan naluri Yoka kala berusia 6 tahun. Mungkin saat memukuli kakek tua yang akan menikahi Dora naluri kakaknya muncul perlahan. Sifat dingin yang berubah belakangan ini, dari pemuda bisu yang terlalu banyak mengalah.
Mungkin mereka bukan psikopat, namun memiliki naluri kuat untuk bertahan hidup, tempramental pada waktu-waktu tertentu, menyimpan dendam.
Garis yang memisahkan sepasang kakak beradik ini dengan seorang psikopat, mungkin hanya norma yang ditanamkan sejak dini. Serta rasa protektif dan dapat mencintai seseorang.
Selebihnya, memiliki daya intelektual yang tinggi, berwajah rupawan, tidak kenal belas kasih. Itulah yang tersisa dari ciri seorang psikopat dalam diri mereka.
Mesin mobil mulai dinyalakannya, senyuman menghilang dari wajahnya. Memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Satu, dua, tiga, entah berapa mobil disalipnya. Wajahnya mulai kembali tersenyum, jemari tangannya mengepal memegang stir.
Villa lain yang berjarak sekitar satu jam perjalanan menjadi tujuannya.
Bug!
Suara kepala Salsa dipukul, maaf salah suara pintu mobil ditutup. Berjalan dengan cepat, meraih paper bag kecil berisikan manisan asam berselimut gula. Hujan deras memang mudah turun di daerah ini. Hujan yang disertai petir.
Mungkin ketakutan yang sama dengan yang sebelumnya dialami kakaknya. Seorang pelayan menghampirinya, namun Samy mengacungkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, pertanda menyuruh sang pelayan untuk diam.
Namun, tidak ada jawaban. Kembali berjalan menuju lantai dua.
"Ibu! Keluar! Jika tidak aku akan menghamili seorang wanita, kemudian membawanya ke hadapan ibu!" ancaman dari mulut Samy.
Tapi benar-benar tidak ada jawaban, hingga dirinya berjalan ke arah ruangan yang cukup gelap. Suara isakan terdengar. Samy menghela napas lega, setidaknya Melda tidak berusaha bunuh diri lagi.
Perlahan dirinya melangkah, wajahnya tersenyum, melihat ke area bawah tempat tidur.
"Ibu sedang apa?" tanyanya, menatap Melda yang terlihat gelisah bersembunyi di bawah tempat tidur.
"Yoka ada disini, seharusnya bersembunyi di sini. Yoka melihatnya..." tangisan lirih darinya mengingat segalanya, semua yang seharusnya tidak putranya lihat.
Samy mengulurkan tangannya."Sudah tidak apa-apa. Kakak sudah tidak apa-apa," jawaban darinya.
Melda terlihat ragu untuk meraihnya, perlahan keluar dari bagian bawah tempat tidur. Air matanya mengalir, segera diseka olehnya.
"Maaf..." ucap Melda dalam tangisan, delusi yang telah menghilang. Jemari tangan Samy terangkat, menghapus air mata ibunya.
"Tidak apa-apa, aku membawa permen yang sering ibu berikan pada kakak. Kita makan bersama ya? Setelah ini berakhir, aku berjanji ibu dapat menemui kakak..." ucapnya.
Melda mengangguk perlahan berusaha tersenyum. Mengapa dapat seperti ini? Rasa bersalah dan trauma masih ada setelah belasan tahun.
Bahkan ada kalanya Melda beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Terlalu memalukan baginya, dilecehkan di hadapan putranya sendiri. Rasa bersalah kala mengingat Viona yang meregang nyawa, berserta mayat kedua orang tua Viona yang hangus terbakar. Ini adalah salahnya, Melda masih menyalahkan dirinya hingga kini.
Almarhum Reksa melakukannya karena menyayanginya. Begitu menyakitkan baginya untuk menerima kenyataan. Beberapa butir obat dikonsumsinya. Hingga terlihat jauh lebih tenang.
"Ibu, kakak sudah menikah, dengan gadis pilihannya," ucap Samy, menyuapi ibunya dengan permen asam berbalut gula.
"Dia seperti apa?" pertanyaan dari wanita yang tidak ceria seperti dulu lagi.
"Dia? Berisik seperti ibu, apa aku akan punya pacar?" tanya Samy menyuapi dirinya sendiri dengan permen.
"Mungkin, tapi jangan mencari yang seperti ibu," jawaban dari Melda.
"Mau bagaimana lagi, tipe idamanku adalah ibu. Apa ada orang yang sebaik ibu di dunia ini? Jika ada aku akan mengikatnya seperti kakak mengikat istrinya." Senyuman terlihat di bibir Samy. Ini menyenangkan baginya, perasaan yang benar-benar hangat.
"Kenapa ibu tidak menikah dengan ayah saja?" lanjut Samy.
Melda tersenyum, kemudian menghela napas kasar.
"Ibu sering mengalami delusi, terkadang mengamuk dan histeris, jadi kami tidak cocok, ibu hanya akan mempersulit hidupnya. Ayahmu orang yang terlalu baik. Carikan dia pacar yang cantik dan benar-benar dicintainya. Kami hanya sahabat, perasaan cinta benar-benar berbeda dengan persahabatan," jawaban dari Melda.
"Tapi..." Kata-kata Samy disela.
"Kakak iparmu, sifatnya sedikit mirip dengan ibu. Apa kamu menyukainya?" Melda tersenyum menggenggam jemari tangan putranya.
Samy segera menggeleng."Kami hanya sahabat. Tapi ayah benar-benar menyukai ibu!"
Melda menghela napas kasar."Dia hanya kagum, ibu mengetahuinya sejak kami masih muda. Tidak ingin kehilangan ibu, karena menganggap ibu sebagai adiknya. Bodohnya ayahmu menganggap itu adalah cinta..."
Pasangan ibu dan anak yang bercengkrama. Saat ini keadaan Melda masih stabil. Rasa bersalah masih menghantui wanita itu hingga kini. Bekas beberapa luka sayatan di pergelangan tangannya menjadi bukti. Kesehatan mentalnya masih buruk hingga kini.