Silent

Silent
Cemburu



"Pemilik?" tanyanya meyakinkan pendengarannya. Sedangkan sang pelayan mengangguk membenarkan berjalan meninggalkan Anggeline yang terpaku dalam diam.


Restauran berkelas yang cabangnya ada di beberapa kota besar. Hanya kalangan menengah keatas yang makan di tempat tersebut. Bahkan Malik sendiri tidak setiap hari mengajaknya ke restauran ini. Dan semuanya adalah milik Yoka?


Jantungnya berdegup cepat, tapi bukan karena jatuh cinta. Namun, karena membayangkan berapa banyak kekayaan yang sebenarnya dimiliki Yoka. Jelaslah sudah darimana sumber uang yang dulu digunakan Yoka untuk memanjakannya.


Ternyata bukan dari Narendra atau menggunakan jalan sesat, misal pesugihan. Tapi memang karena Yoka terlahir kaya, seperti yang diucapkannya di stasiun televisi.


Tapi mengapa Yoka memiliki banyak aset sedangkan Malik tidak memiliki apapun, kecuali jabatan direktur di perusahaan keluarganya?


Benar-benar wanita bodoh yang tidak menyadari dirinya sudah salah langkah, memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya pada saudari kembarnya.


Hukum karma, mungkin menjadi penyebabnya. Anggeline membohongi Dorothy dan Cherry, merebut orang tua angkat Dorothy dengan meminta Dorothy untuk mengalah. Dan sekarang? Dirinya sendiri yang melepaskan Yoka, hingga berakhir dengan Dora.


Namun, terlalu berfikiran positif juga tidak terlalu baik kan? Mungkin saja ini hanya bagian yang dimiliki Yoka karena tidak akan mewarisi perusahaan keluarga yang jauh lebih besar. Dirinya harus menanyakan pada Malik, benar-benar harus menanyakannya.


Wanita yang melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul Malik menuju ke tempat parkir.


"Malik," panggil Anggeline menegang tangan suaminya.


"Apa?! Kamu mau menghinaku seperti si bisu?!" bentaknya.


"Bu...bukan itu, hanya saja mereka mengatakan Yoka pemilik restauran ini. Bukankah ayahmu terlalu berlebihan memberikan restauran padanya?" tanya Anggeline gugup.


Malik memijit pelipisnya sendiri, tidak menyangka aset yang dimiliki Yoka tidak sedikit. Menghela napas kasar berusaha tetap berbohong.


"Iya, ayah dan ibu memberikan beberapa restauran padanya, karena iba. Perusahaan, aset bergerak lainnya akan diberikan padaku jika sudah saatnya. Ayah ingin aku lebih siap dulu, baru memberikan segalanya," jawaban darinya, tersenyum memeluk tubuh Anggeline, kemudian mengecup bibirnya sekilas.


"Sayang, aku boleh pinjam sertifikat gedung teatermu? Aku rencananya mau mencoba membuka restauran yang sama besarnya dengan restauran ini." Pinta Malik tidak ingin kalah dengan Yoka.


"Tapi... jika gedung teater..." Kata-katanya terhenti sejenak. Gedung teater merupakan sumber penghasilan utamanya, setelah berpisah dengan Yoka. Gedung teater pemberian si bisu, menginginkan Anggeline untuk dapat mengejar impiannya menjadi pianis terkenal.


Namun pada akhirnya menikah dengan Malik yang katanya keuangannya tengah dikekang oleh Narendra.


Hanya sekitar 3 juta yang diberikan Malik per bulan. Sedangkan kebutuhan sehari-harinya lebih dari itu, beberapa bulan ini segalanya memang sudah ditekan oleh Anggeline termasuk kebiasaan belanjanya.


Berusaha bersabar, membayangkan akan menjadi nyonya dari keluarga konglomerat nantinya.


"Kamu tidak mau? Tidak percaya padaku? Tenanglah dalam tiga bulan aku akan mengganti uangmu. Aku sudah memperhitungkannya, dalam tiga bulan kita sudah balik modal. Tinggal menikmati hasil," ucapnya meyakinkan. Pada akhirnya dijawab dengan anggukan kepala oleh istrinya.


Pintar? Bodoh? Entahlah yang mana lebih cocok untuk menjelaskan mereka berdua. Mengalahkan Yoka? Jangan bercanda, kekayaan yang diwariskan turun-temurun dari kakeknya, kemudian menurun pada Reksa, Melda, terakhir pada dirinya.


Apa hanya restauran? Lebih dari itu, aset yang selama ini dikelola Arsen dan dirinya. Hingga sore menjelang, barulah Yoka kembali menunggu di depan kampus.


Menatap istrinya yang menunggu dirinya di depan halte dari jauh, ditengah hujan gerimis yang mulai turun.


"Bersabarlah 15 menit lagi, agar kamu tetap hanya dapat memikirkanku." gumam Yoka, memarkirkan mobilnya di badan jalan. Cukup jauh dari tempat Dora berdiri. Namun, dirinya masih tetap dapat melihat istrinya yang mulai duduk menunggu kedatangannya.


Wajah Yoka tersenyum, melirik ke arah cup cake yang terbungkus rapi. Tidak mencintai istrinya? Siapa yang bucin kali ini?


Hingga kisah cinta ala drama Korea pun terlihat. Seorang mahasiswa rupawan membawa payung ikut berteduh di sana menunggu kedatangan bus.


Yoka yang ada di dalam mobil mengenyitkan keningnya, mencengkeram stir mobilnya. Apa yang mereka katakan? Tidak jelas terdengar olehnya. Namun mereka seperti berjabat tangan hendak berkenalan. Pemuda yang tersenyum cerah pada istrinya. Tertawa sembari berteduh di halte bus.


"Sabar Yoka 5 menit lagi, demi full service," gumam Yoka lagi, berusaha bersabar.


Tapi dapat membuat Dora tertawa? Duduk berdua di tengah hujan lebat yang benar-benar dingin? Apa istrinya akan berselingkuh dan mencari kamar hotel?


Protective, posesif, kombinasi yang tidak dapat dihilangkan dari perilakunya. Mengapa harus menunggu 15 menit dari waktu yang dijanjikan untuk menjemput Dora, padahal dirinya sudah ada disana sejak 25 menit yang lalu?


Tapi dapatkah dirinya bertahan 5 menit lagi? Kali ini mahasiswa yang mendekati istrinya.


Berkali-kali melirik ke arah arlojinya. Hingga waktu habis, sudah waktunya menjemput istrinya.


Gas mobil diinjaknya.


Kriet!


Mobil Yoka sedikit menaiki trotoar, hanya berjarak beberapa centimeter dari sang pria yang tengah berdiri di samping Dora.


Jantung pria itu berdegup cepat, kakinya gemetar lemas, hingga jatuh duduk di atas trotoar. Merasa dirinya hampir ditabrak.


Seorang pemuda keluar dari dalam mobil. Menatap tajam padanya.


"Dora ayo pulang," ucap Yoka, dingin.


"Dia siapa? Pacarmu?" tanya sang pemuda yang baru saja berkenalan dengan Dora, masih ketakutan karena hampir ditabrak mobil Yoka.


"Aku suaminya, maaf sengaja..." jawaban yang benar-benar tidak lazim dari mulut Yoka. Menarik tangan Dora untuk segera meninggalkan halte, menuju ke mobilnya.


"Maaf! Suamiku sudah datang! Dia pencemburu!" teriak Dora pada pemuda yang berbicara dengannya kala hujan turun.


*


Hujan semakin lebat, membasahi mobil yang tidak begitu mahal. Tidak ada pembicaraan sama sekali.


"Apa dia benar-benar marah?" batin Dora, memikirkan cara untuk merayu suaminya lagi.


Hingga mobil terparkir di area villa, tidak ada kata yang terucap dari bibir suaminya. Salah paham? Dirinya tidak boleh berpisah hanya karena rasa salah paham.


Dora mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka yang ada di lantai dua. Dirinya takut akan perceraian, selain itu masih ada Anggeline dan Amanda yang mengejar suaminya.


Bug!


Pintu ditutup, tiba-tiba Yoka menyudutkannya ke dinding.


"Aku mencintaimu." Kata-kata yang beberapa hari ini bagaikan enggan diucapkan suaminya. Namun kini terucap.


"Agghh!" pekik Dora, kala pakaiannya ditanggalkan.


"Dengar kamu adalah milikku. Anak pertama? Jika perlu akan ada banyak anak untuk mengikatmu di villa ini..." ucapnya, mencumbui, bagaikan memuja, seluruh tubuh Dora tanpa terkecuali.


"Yoka! Hentikan! Agghh..." pinta Dora meracau, memegang pundak Yoka.


"Ingin?" tanya sang pemuda merapikan anak rambut Dora. Bibirnya kembali turun dari leher, membuat Dora pasrah. Dirinya tidak akan dapat menang melawan Yoka.


Pemuda yang mulai menanggalkan pakaiannya kini. Waktu sudah diaturnya beberapa minggu lagi dirinya harus ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama.


Menanam kecebong? Atau lebih tepatnya menanam jagung? Entahlah.


Namun Dora bagaikan tidak sadarkan diri saat ini. Melakukannya berkali-kali dengan Yoka. Bahkan dengan gerakan tidak lazim, suara racauan dan teriakan penuh kepuasan terdengar.


"Aku mencintaimu..." ucap Yoka kala tengah malam telah tiba, menyambut istrinya yang terlelap dalam mimpi. Berbalut selimut yang sama dengannya.


"Apa selama kepergianku kamu akan kembali mencari jalan untuk meninggalkanku? Tolong jangan, tolong, aku akan membuatmu segera mengandung."