
Narendra tersenyum, kemudian menggeleng."Aku memang seharusnya dibenci oleh putraku. Ibunya meninggal karena perbuatanku."
"Ayah mencintainya?" satu pertanyaan dari Dora, membuat Narendra menatap padanya, kemudian pria itu mengangguk.
Dirinya mencintai Melda. Membunuhnya? Dirinya ingin kembali ke masa dimana belum menerima bukti-bukti kematian Viona. Setiap hari bertengkar dan berdebat dengan istrinya. Saling menyindir, namun segalanya tetap terasa hangat, tidak ada perdebatan yang berarti. Berakhir dengan tawa, apa bisa? Melda sudah meninggal karena perbuatannya.
Makam? Bahkan abunya pun di taburkan di laut. Tidak ada jalan baginya untuk meminta maaf. Tidak ada jalan sedikitpun, jika bisa dirinya ingin Samy membunuhnya pada malam itu. Menghujamkan pisau tepat di jantungnya. Tidak dapat mati, namun hidup pun terasa bagaikan sesuatu yang menyakitkan setiap detiknya.
Matanya memerah, air mata itu bagaikan tertahan."Aku mencintainya,"
Pria yang menatap ke arah jendela, hujan lebat yang mulai turun terlihat."Hari kematiannya juga sama, saat aku menaiki pesawat hujan mulai turun. Ketika aku ingin kembali melihat pemakamannya, badai salju menghalangi. Aku tidak diijinkan kembali, bahkan untuk melihat tubuhnya," ucapnya.
Dora meraih sehelai tissue, mengeluarkan ingusnya. Air matanya mengalir entah kenapa."Kalau mencintainya kenapa harus membunuhnya?! Bahkan membiarkannya dilecehkan?!"
Narendra tersenyum pahit dalam air matanya yang tidak henti-hentinya mengalir."Aku tidak mempercayai bukti-bukti yang diberikan. Tapi dia berlutut dan mengakui semuanya. Aku memohon padanya untuk membela diri, bahkan memaksa menyakiti hatinya agar dia tidak mengakuinya. Tapi dia tetap mengakuinya, membunuh almarhum istri pertamaku, adik Yoka yang ada dalam kandungannya, serta kedua mertuaku yang lumpuh dan menderita dimensia,"
"Empat nyawa mati karenanya. Dia tidak bisa melakukannya, aku tahu dan aku ingin dia membela diri. Tapi setiap detik dia selalu mengatakan telah membunuh mereka. Bahkan dalam mimpi pun dia selalu mengigau dan menangis, menyalahkan dirinya atas kematian empat orang." Narendra menghentikan kata-katanya, terdiam menatap jendela yang berembun.
Air matanya mengalir semakin tidak terkendali, bagaikan tetesan air hujan yang mengalir membelai jendela kaca."Aku yang salah, aku meragukan hatinya. Bahkan dia diam-diam membesarkan anak dari istri pertamaku. Bukan dia pelakunya..."
Dora terdiam kembali mengambil tissue mengeluarkan ingusnya. Menatap tajam pada ayah mertuanya."Ayah membayar orang untuk membunuh dan melecehkannya?!" bentaknya.
"Aku memang membayar orang untuk membunuhnya. Bukan untuk melecehkannya, karena..." kata-kata Narendra tiba-tiba disela.
"Ayah apa tidak dendam pada pembunuh bayaran yang ayah kirim? Mereka melecehkan wanita yang ayah cintai," tanya Dora tidak mengerti.
"Ada empat orang yang aku kirim untuk membunuh Melda. Aku sempat mencari keberadaan mereka. Tapi, tiga diantaranya empat orang itu meninggal karena kecelakaan. Sedangkan satu orang lagi menghilang," jawaban dari Narendra, menghela napas kasar meminum secangkir teh yang baru saja disajikan pelayan.
"Ayah, apa tidak pernah berfikir jika mereka memang hanya berniat membunuh saja. Sedangkan ada orang lain yang membayar mereka untuk melecehkan?" satu pertanyaan dari Dora, membuat Narendra melirik padanya.
"Itu juga sempat terfikirkan. Tapi, mayat tidak dapat bicara. Karena itu, aku memerlukan Siti, saksi pembunuhan istri pertamaku, dan pembunuh bayaran terakhir yang masih menyembunyikan dirinya," jawaban dari Narendra.
"Pelakunya adalah Salsa..." jawaban dari Dora tiba-tiba tanpa memberi bukti apapun.
"Kamu punya buktinya?" Narendra mengenyitkan keningnya.
"Aku mempunyai naluri bertahan hidup yang kuat, karena itu Samy dan Yoka terkadang begitu mengerikan. Tapi jika Salsa, dia menganggap nyawa manusia seperti batu pijakan. Ada satu orang lagi yang sebenarnya membuatku ketakutan. Tapi aku tidak memiliki bukti nyata tentang perilaku buruknya," ucap Dora tidak yakin.
"Siapa?" Narendra bertambah antusias, dengan kata-kata asal-asalan dari menantunya.
"Aku tidak akan mengatakannya, karena aku juga tidak yakin..." Dora tertawa cengengesan. Masih menyembunyikan ketakutan sebenarnya, setiap berpapasan dengan sosok pria itu.
*
Seorang pria yang kini mengenakan sarung tangan hitam. Memakai topi, serta setelan pakaian berwarna hitam. Bibirnya tersenyum, menatap seorang nenek yang kini terikat.
Wanita itu perlahan membuka matanya."Tolong! Tolong! Tolong!" teriaknya, namun percuma tidak akan ada yang datang.
Siti terlihat ketakutan, benar-benar ketakutan saat ini."Apa tujuanmu? Siapa sebenarnya kamu?!" bentaknya.
"Aku? Tujuanku menyeret kaki kalian ke neraka..." ucapnya tersenyum menitikkan air matanya.
Siti terdiam sesaat, menatap sang pemuda memakai sarung tangan karet. Memegang botol kecil entah apa isinya. Benda kecil untuk menuangkan cairan diraihnya.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriakan dari mulut Siti ketakutan.
"Korban-korban kalian mati dalam kebakaran, kecelakaan, bahkan diminumkan paksa dengan alkohol, kepalanya dibenturkan menggunakan batu berkali-kali. Mayatnya dilempar ke jurang. Apa menyenangkan?" tanyanya meneteskan cairan raksa ke kaki kanan Siti. Wanita yang berteriak menjerit merasakan kulitnya yang terbakar, melebur oleh zat kimia.
Teriakan yang benar-benar menggema. Neraka? Apa neraka seburuk ini? Tidak neraka akan lebih buruk lagi. Namun, rasa yang benar-benar menyakitkan, asap tipis sedikit terlihat, mengikis menyebar di kakinya. Hanya sedikit, sekitar lima tetes.
"Ingin lagi?" tanya sang pria tersenyum, menikmati setiap jeritan yang didengarnya.
"Hentikan!" pinta Siti menjerit menahan rasa sakit.
"Ini hanya air raksa. Lalu bagaimana dengan tubuh-tubuh yang menahan sakit akibat kobaran api?" tanyanya tersenyum senang.
"Kamu siapa? Hentikan..." Siti masih merintih kesakitan dalam keadaan terikat.
"Aku? Anggap saja pejabat di neraka," jawaban darinya, meneteskan air raksa pada kaki kiri Siti.
Membiarkannya mati? Tidak, berbagai makanan dan minuman ada disana. Tujuannya? Melihat mainannya mati dalam penderitaan. Salsa adalah tujuan terakhirnya, membuat wanita itu mati dalam penderitaan.
Penderitaan yang mungkin lebih buruk, daripada yang dialami Siti. Papan kapur masih ada di sana, jadwal penderitaan untuk mereka telah tertulis rapi.
*
Sementara itu, Yoka mengenyitkan keningnya. Menghela napas berkali-kali. Jemari tangannya mengambil sebotol air mineral, kemudian meminumnya.
"Aku akan pulang..." ucapnya bangkit dari tempatnya saat ini duduk.
"Tidak boleh!" Samy menghentikan, memegang kaki kanan kakaknya agar tidak melangkah.
"Tapi dia sedang hamil! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?! Dia diusir atau dipaksa meminum obat penggugur kandungan!" bentak Yoka, berusaha melepaskan Samy yang memeluk kakinya.
"Korban novel online..." batin Samy mengenyitkan keningnya, masih bertahan memeluk erat kaki Yoka.
"Tidak boleh! Dora pasti dapat melindungi dirinya sendiri! Dia hanya pinguin busuk yang menyembunyikan banyak rudal dan basoka di punggungnya!" Samy menyakinkan.
"Aku tetap harus kembali," gumamnya nasib ibunya masih terbayang sampai saat ini di benaknya. Dan kini meninggalkan istrinya yang tengah mengandung?
"Aku berjanji, kita akan kembali sebelum anakmu lahir..." ucap Samy menelan ludahnya sendiri. Dirinya juga merindukan ingin berciuman dengan wanita. Mungkin nanti malam dirinya harus menyewa wanita di bar, hanya untuk sekedar berciuman. Ingin mengetahui apa rasanya akan sama dengan wanita yang ditemuinya di bandara?