
Apa yang sebenarnya terjadi di Las Vegas?
Sudah beberapa bulan ini Angeline menyalahkan dirinya sendiri. Telah tulus meminta maaf pada Dorothy hanya melalui surat namun enggan menemuinya.
Chery terlalu sibuk dengan club'malam yang baru dibukanya. Sedangkan Samy masih tinggal di sana tidak kenal menyerah. Hingga pada akhirnya Chery mungkin sedikit tersentuh, menerimanya sebagai kekasih.
Kekasih aneh yang selalu mengejarnya untuk merenggut keperjakaannya. Akibat lamarannya masih ditolak Chery, belum di ACC masih dalam proses review.
Karena itulah Anggeline yang memulai kehidupan barunya bagaikan seorang diri. Keluarga angkat yang mulai menjauh, bertemu dengannya hanya pada perayaan Thanksgiving dan tahun baru.
Memulai kariernya dari awal, hingga tuduhan plagiat sampai padanya. Karya plagiat yang sejatinya telah dihapusnya beberapa bulan sebelum dilaporkan. Telah meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Namun sang pencipta menuntut dengan denda mencapai jutaan dolar.
Kala itulah dirinya enggan membantu Chery. Hingga pada akhirnya meminta bantuan Martin yang menemani putranya di LA.
Takut? Mungkin awalnya iya. Namun hanya pria itu yang melindunginya pada akhirnya.
Hingga pada acara pembukaan resmi club'malam yang dimiliki Chery mereka minum bersama. Seorang wanita mendekati Martin kala itu.
Entah kenapa Anggeline tidak dapat menerimanya. Berjalan mendekat, menampar sang wanita. Memang begitu bukan sifat antagonis?
"Tante jangan dekat-dekat dengan ayahku!" Maki Anggeline mencari-cari alasan menahan cemburunya, melindungi sang pria mabuk.
"Aku hanya menghiburnya saja! Dasar!" ucap sang wanita yang mungkin seusia Martin. Meninggalkan mereka.
Martin tertawa kecil,"Mengapa kamu mengusirnya?" tanyanya.
"Dia hanya akan memanfaatkanmu. Dia tidak tulus padamu," jawabnya.
"Memang kamu tahu apa itu tulus? Dasar anak kecil," gumam Martin tertawa.
"Aku tahu, tapi aku yang memang tidak ingin tulus. Karena ketika tulus pada orang yang salah itu akan terasa menyakitkan," Anggeline kembali menjawab.
"Begitu? Apa kamu bisa tulus padaku?" tanyanya.
Anggeline terdiam membulatkan matanya."Kamu terlalu mabuk, aku akan mengantarmu ke hotel,"
Banyak hal yang ada di fikirannya, membimbing tubuh Martin meninggalkan club' malam. Hingga sampai di area parkir, Martin tiba-tiba memojokkannya. Mencium bibirnya agresif."Anak kecil." gurau Martin pada wanita yang bahkan lebih muda dari pada putranya.
Angeline tahu ini memang aneh. Tapi dirinya benar-benar ingin bertanya pada orang mabuk."Kamu menyukai Melda?" tanyanya.
Martin mengangguk."Dia seperti adik kecil yang manis. Adik yang ingin aku nikahi. Sialnya dia dijodohkan dengan si br*ngsek,"
"Begini, jika aku menikah, aku tidak akan merasa canggung bertemu dengan Yoka dan Dora. Tapi aku hanya ingin menikah dengan orang yang mencintaiku. Apa kamu bisa?" tanya Anggeline menyeringai.
Dengan cepat Martin yang mabuk mengangguk.
"Apa setelah melakukan hubungan badan kamu akan menikahiku?" tanyanya memincingkan matanya. Dengan polosnya Martin kembali mengangguk.
Anggeline menghela napas kasar. Tidak terlihat tua di usianya yang tidak lagi muda. Tapi tidak dipungkiri, perasaan bisa hadir dari perasaan nyaman kala dilindungi.
Pria dingin yang dibimbingnya ke dalam mobil menuju hotel.
Hal yang dilakukan mereka setelahnya? Martin mencium bibir Anggeline dengan ganas. Menanggalkan pakaian mereka tanpa mematikan lampu kamar hotel.
Hingga pagi menjelang, pria itu terbangun dengan kepala yang sakit. Tubuhnya dipeluk oleh sang wanita muda. Martin membulatkan matanya mengingat segalanya merutuki kebodohannya.
"Paman! Paman harus bertanggung jawab!" ucap Anggeline menangis terisak.
Martin menghela napas kasar, bingung harus bagaimana. Pada akhirnya memeluk wanita itu."Aku akan bertanggung jawab, besok kita akan menikah,"
"Kalau begitu kita lanjutkan saja," Anggeline mendorong Martin, benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Hanya suara erotis yang terdengar setelahnya. Pasangan yang menikmati segalanya di bawah selimut hotel.
Keperjakaannya benar-benar direnggut habis oleh wanita muda yang berpengalaman.
*
Tidak ada penerimaan maupun penolakan dari Melda. Wanita yang hanya terdiam menatap ke arah jendela mobil.
"Maaf..." ucap Narendra.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Melda lirih. Benar-benar ingin mengetahui segalanya.
"Ini hanya anggapanku. Tapi Tuan Reksa tidak bersalah sama sekali. Salsa yang melakukannya, ayahmu mencoba menyembunyikan kenyataan. Hingga kecelakaan yang dulu dialami orang tua kita. Salsa juga yang melakukannya, mungkin karena putus asa menginginkan setengah dari warisan."
"Maaf, mungkin Martin sudah mengatakannya. Aku yang mengirim pembunuh ke rumah, aku... yang mengirim para b*jingan itu. Bukan untuk melecehkanmu, tapi untuk membunuhmu. Agar aku bisa mati setelahnya. Tapi amu menyiksaku dengan memintaku berjanji untuk mati setelah putra kita..." ucap Narendra tertunduk.
Melda hanya diam tidak menjawab apapun. Namun, mungkin suatu hari nanti hati itu akan melunak. Narendra yang tidak pernah lelah untuk menemani dan menjaganya.
"Udaranya lumayan dingin. Setelah pulang dari menjenguk Yoka dan cucu kita, aku akan memandikanmu dengan air hangat," ucapnya tidak tahu malu.
Telinga Narendra ditariknya. Benar-benar kesal dibuatnya, bukankah mereka memang seperti ini? Keadaan yang berangsur-angsur kembali seperti semula.
Hingga beberapa jam perjalanan mobil terhenti di villa dua orang pengawal membukakan pintu gerbang.
Mata Melda menelisik, inilah foto tempat yang sering ditunjukkan Samy. Tempat tinggal putra sulungnya.
"Hentikan, aku kalah!" teriakan seorang wanita tertawa, berjalan cepat menuruni tangga.
"Baru begini sudah mengatakan kalah?" Suara seorang pria yang telah menginjak usia dewasa terdengar. Tertawa mengejar sang wanita.
Air mata Melda mengalir antara perasaan malu dan merindukan. Malu, benar-benar malu mengalami pelecehan di hadapan putranya. Merindukan, dirinya benar-benar ingin memeluk tubuh putranya yang kini sudah dewasa.
Hingga langkah pemuda itu terhenti, menatap ke arah pintu depan yang terbuka lebar."Ibu?" gumamnya, masih mematung mengira ini hanya mimpinya saja.
Air matanya mengalir, tidak mempedulikan segalanya. Walaupun hanya mimpi dirinya ingin memeluk tubuh ibunya.
"Ibu..." teriaknya bagaikan masih anak berusia 11 tahun. Mendekap erat tubuh sang wanita."Aku, minta maaf, jangan mati,"
"Mati? Ibu masih hidup hingga saat ini. Martin membohongi kalian, ibu merindukanmu..." ucapnya dalam tangisannya, putra yang tumbuh dewasa jauh darinya. Kini ada dalam dekapannya.
"Maaf, aku tidak menyelamatkanmu. Aku bersembunyi dan..." kata-kata Yoka terhenti, sang ibu melepaskan pelukannya.
"Itu bukan salahmu. Kamu tidak jijik pada ibu?" tanya Melda dengan bibir bergetar.
Yoka menggeleng."Aku merindukan ibu, ingin menebus rasa bersalahku tidak dapat melindungi ibu. Ini karena dia!" Pemuda yang tiba-tiba menunjuk pada ayahnya.
"Jangan salahkan ayah mertua!" Dora membela, menjadikan dirinya sebagai perisai. Benar-benar menantu yang pengertian. Bagaimana pun hanya Narenda tempat berlindung sang pinguin selama hampir tiga tahun.
Melda tertawa kecil."Apa ini istrimu?"
Yoka mengangguk."Namanya Dora, dia masih kuliah jurusan kedokteran,"
"Aku Melda, ibu dari Yoka," ucap Melda.
Sedangkan Dora tiba-tiba menarik tangannya, untuk pertama kalinya menerima kunjungan dari ibu mertuanya yang sudah dikabarkan meninggal. Hal pertama yang dilakukannya adalah menunjukkan prestasinya.
Mengantar Melda menemui cucunya. Hingga pintu itu terbuka, sepasang bayi kembar yang tengah tertidur terlihat."Mereka seperti Yoka saat kecil..." gumam Melda penuh senyuman.
*
Malam semakin larut, malam ini Narendra dan Melda menginap. Yoka terdiam, tersenyum menatap sang ayah menyuapi potongan buah pada ibunya dari lantai dua.
Menghela napas kasar. Inilah ayah yang dirindukannya, bukan sosok Narendra yang dingin setelah kabar kematian ibunya.
Tidak diterima? Entah kapan ibunya akan luluh. Namun senyuman dan tawa tulus terlihat di wajah keduanya. Itu sudah cukup.
"Yoka, apa kamu mencintaiku dari awal?" tanya Dora tiba-tiba.
Yoka tertawa kecil, kemudian tersenyum."Pada awalnya aku ingin menjadikanmu sebagai pengganti. Tapi perlahan tidak lagi. Karena kamu lebih berharga daripada yang asli,"
"Aku mencintaimu..."
"Aku juga,"
Tamat