Silent

Silent
Kewaspadaan



Dirinya sudah cukup kelelahan, perlahan membersihkan tubuhnya. Tidak menyadari sesuatu bersembunyi di balik selimutnya.


Seekor hewan dengan lidah menjulur, sedikit berderik merayap di bawah selimut. Mungkin hanya dengan sekali gigitan maka wanita itu dapat meregang nyawa.


Dora menghela napas kasar, memakai pakaian tidur berbentuk kimono. Bentuk tubuh indahnya benar-benar terlihat, tubuh yang sejatinya sudah dua tahun tidak pernah disentuh suaminya. Hanya tertutup kimono sepanjang lutut.


Dirinya mulai memasuki selimut, perlahan memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Namun suara aneh terdengar, mata Dora tiba-tiba terbuka. Segera turun dari tempat tidurnya. Selimut ditariknya dengan cepat, seekor ular ikut terjatuh bersama selimut, mencoba untuk menyerangnya dengan merentangkan tubuhnya.


Prang!


Namun di luar dugaan, Dora meraih lampu tidur membantingnya tepat mengenai kepala ular. Menyebabkan seketika hewan itu tewas di tempat.


"Apa kamu sudah mati?" tanyanya pada sang ular, menyentuh tubuhnya menggunakan penggaris panjang.


Tidak ada jawaban dari sang ular, yang mungkin telah tenang di sisi-Nya. Mata Dora menelisik, menghela napas kasar.


"Maaf aku tidak sengaja, salahmu sendiri ingin melecehkanku," kata-kata aneh yang keluar dari mulut sang pinguin. Dilecehkan ular? Apa ini drama kolosal dimana siluman ular dapat berubah menjadi pria tampan?


Dora menghela napasnya, wajahnya tiba-tiba tersenyum. Apa jika dirinya di kabarkan terluka parah atau mati suaminya akan pulang? Mungkin itulah keinginan sang pembunuh, tapi juga sekaligus keinginannya sendiri.


Ingin agar suaminya pulang, sehari saja. Setidaknya menghentikan niatnya untuk mengajukan perceraian.


Berbohong? Meminta ayah mertuanya bekerja sama? Itulah yang akan dilakukannya nanti, menyebarkan berita dirinya keracunan bisa ular. Sangat berharap suaminya akan pulang, setidaknya sebentar saja.


"Ayah!" teriaknya mengundang kebisingan di rumah itu.


Semua orang keluar dari kamarnya, kecuali Anggeline, termasuk Salsa yang terlihat cemas. Cemas? Sejatinya menyembunyikan senyumannya. Jarak kediaman utama yang lumayan jauh dengan rumah sakit. Selain itu cukup sulit menemukan anti bisa pada ular jenis tertentu. Hingga dapat dipastikan Dora tidak akan selamat.


Tidak percuma dirinya menyuruh seorang pelayan mengamati Dora setiap kali menekan kode akses kamar dan melepaskan ular. Pada akhirnya wanita menyebalkan itu akan mati juga, terkubur dalam tanah.


Berikutnya tinggal menyingkirkan Yoka, yang menghadiri pemakaman Dora. Maka garis keturunan Reksa benar-benar akan terputus.


Tapi sesuatu yang aneh ditatapnya, wanita itu berjongkok menatap ke arah ular yang mati akibat dihantam keras menggunakan lampu tidur.


"Ayah aku membunuhnya karena ular ini merayap ke atas tempat tidurku ingin melecehkanku. Ular derik hewan langka, bagaimana jika ayah jadikan kulitnya sebagai ikat pinggang?" tanyanya memeluk lengan Narendra. Benar-benar anak perempuan yang manis.


"Kamu tidak takut?" Narendra mengenyitkan keningnya. Dengan cepat Dora mengangguk.


"Aku takut dilecehkan oleh ular," jawaban yang benar-benar luar biasa dari sang pinguin manis, mengundang gelak tawa dari Narendra. Benar-benar anak perempuan yang lucu dan manis.


Tapi tidak dengan Salsa yang memijit pelipisnya sendiri, menatap ke arah bangkai ular. Dilecehkan? Mungkin itu hanya sindiran telak untuknya. Dan benar saja, Dora tersenyum padanya. Memiliki sifat yang mirip dengan Melda? Dari luar memang iya, namun bagian dalamnya benar-benar mengerikan, naluri bertahan hidup yang benar-benar kuat.


Wajah yang sama dengan Anggeline? Bukan itu daya tariknya tapi tingkahnya yang selalu membuat dirinya ingin mengigit gadis ini. Benar-benar membuat gemas, tapi di luar itu, perlahan Malik menyadari satu hal, wanita yang benar-benar pintar dan sadis. Bersembunyi di dalam sosoknya yang penakut dan manja.


"Aku ingin tinggal di rumah sakit, rawat inap, tiga hari ini, ayah tolong bantu aku ya? Katakan pada pihak kampus aku digigit ular. Aku ingin liburan, lihat kantung mataku sudah memiliki kantung. Dokter Tantra tidak pernah membiarkanku tidur sedikitpun. Belum lagi tugas dan bimbingan beberapa dosen," pintanya. Bimbingan beberapa dosen, mungkin sama seperti kedok dokter Tantra, memberikan bimbingan sekaligus memupuk kedekatan dengan wanita cantik bertubuh menggoda itu.


"Tapi, jika tinggal di rumah sakit..." Narendra menghela napasnya ragu.


"Aku mohon, aku hanya ingin liburan. Aku akan bayar kamarnya menggunakan uangku sendiri. Jika tidak menggunakan alasan ini untuk liburan, pasti ada dosen yang akan menghubungiku untuk menjadi asisten," pinta Dora memelas.


"Iya, tapi hanya tiga hari saja, kamu harus segera lulus," Narendra tersenyum, tidak dapat menolak permintaan menantunya. Dikekang? Dora sudah cukup dikekang oleh Zou dan Arsen. Jika dikekang lebih parah lagi, mungkin Yoka benar-benar akan diceraikan, itulah yang menjadi pertimbangannya.


Dengan cepat Dora mengangguk, wajahnya tersenyum. Pengujiannya pada suaminya akan dimulai. Arsen? Zou? Mereka tidak pernah dihubungi oleh Yoka hingga setiap ditanyakan akan memberikan jawaban meragukan.


Salsa? Anggeline? Malik? Narendra? Satupun tidak ada orang yang dipercayai oleh suaminya. Jadi tidak akan ada yang membocorkan jika dirinya berpura-pura sakit.


Tidak meletakkan mata-mata didekatnya? Tidak mempedulikannya? Jika memang benar begitu, setelah wisuda Dora akan benar-benar mengurus surat perceraian. Mengembalikan biaya kuliahnya sedikit demi sedikit walaupun harus dengan cara mencicil.


Suami yang tidak mencintainya, percuma rasanya menunggu di sarang penyamun selama dua tahun ini. Namun jika Yoka pulang dan menemuinya, berarti pemuda itu mengawasinya, masih memikirkan dan memperhatikannya.


Satu setengah tahun tanpa kabar, jantung Dora berdegup cepat. Menunggu hal yang akan terjadi, jika suaminya kembali nanti. Dua jalan yang akan diambilnya, akan setia atau datang ke pengadilan untuk berpisah.


Sedangkan Salsa diam-diam tersenyum, di rumah sakit tidak ada perlindungan dari Narendra atau Zou. Apapun bisa terjadi, bukan?


*


Tepat pada hari pertamanya di rumah sakit, ruang rawat VIP. Terdapat sofa disana, menggunakan pakaian pasien. Dora tahu ini perbuatan salah, namun dirinya memang perlu beristirahat mengingat tidak tidur dua hari berturut-turut.


Wanita yang tengah mengenakan pakaian pasien itu, baru terbangun dari tidurnya. Langsung duduk di sofa, mengerjakan tugas kampusnya. Seperti sudah diduga, hingga malam menjelang tidak ada tanda-tanda kehadiran dari suaminya.


Menangis? Air matanya sempat mengalir, benar-benar merindukannya. Apa Yoka tidak peduli lagi padanya.


Hari kedua juga sama, Dora lebih banyak mengerjakan tugas kampusnya, kemudian mencoba memejamkan matanya di malam yang cukup dingin.


Perlahan dirinya terlelap, tetap dengan air mata yang mengalir. Hari ini suaminya juga tidak datang.


Namun, kala lampu ruangan telah mati, seorang pemuda berpakaian dokter memasuki kamar, memakai masker entah apa tujuannya. Seringai jahat tertutup di balik maskernya. Mengambil sesuatu di sakunya.


Apa yang diambilnya? Jarum suntik dan racun? Pisau bedah? Sarung tangan untuk menghilangkan jejak pembunuhan?


"Wanita yang benar-benar tidak waspada," cibir sang pria.