Silent

Silent
Berbagi Cinta



Arsen terdiam seorang diri, melangkah melewati Samy yang tiada henti menatap foto almarhum Melda.


"Kamu tidak tidur?" tanyanya.


Samy menggeleng, wajahnya terlihat tersenyum.


"Dunia memang tidak seindah surga..." gumam Samy tiba-tiba, melangkah meninggalkan Arsen seorang diri.


Pemuda yang kembali ke kamarnya. Menutup pintu, kamar yang benar-benar gelap dengan tidak satupun penerangan di sana. Hanya sinar cahaya rembulan yang melewati jendela kaca. Menampakan wajah pada foto berukuran 10R. Foto wanita yang selalu ada di fikirannya.


Foto seorang wanita paruh baya yang terdiam. Tidak terlihat senyuman di wajahnya, bersama dirinya yang tersenyum, mengambil gambar, menggunakan kamera handphone.


Siapa sebenarnya seseorang yang selalu dipanggilnya ibu? Seorang wanita paruh baya yang dicintainya. Air matanya mengalir, seharusnya dirinya menggantikan Yoka, menerima segalanya.


Ini bukan kesalahan Melda, dirinya mengetahui segalanya. Mengapa? Dirinya yang masih hidup menjadi bukti, betapa berbelas kasih sang nona muda. Nona muda yang membesarkannya diam-diam, memanggilnya ibu dan memanggil Martin yang merawatnya sebagai ayah.


Memberikannya segala hal yang didapatkan Yoka. Mainan, pakaian, semuanya selalu sama, hanya satu hal yang berbeda. Melda hanya mengijinkan dirinya memanggil mama kala mereka berdua, selebihnya bibi atau nyonya.


Wanita yang menyayanginya layaknya putranya sendiri. Ini salah, benar-benar salah, seharusnya Melda membuangnya, tapi nona muda yang dianggap keji begitu mencintainya.


Tidak mungkin orang sepertinya melakukan hal yang begitu busuk. Walaupun Melda melakukannya, Samy putranya, akan tetap membelanya.


Pemuda yang tertawa lirih dalam tangisannya. Wajah yang sedikit menyerupai ayah kandungnya, Narendra.


Dari mana hal ini dimulai?


Dimulai ketika Ghani sahabat baik Narendra, pengidap kanker otak stadium akhir. Penyakit yang dirahasiakannya tidak menjalani pengobatan sedikitpun. Hanya meminum beberapa butir obat penahan rasa sakit. Itulah yang membuatnya bertahan.


Matanya menatap ke arah Narendra yang berusaha tersenyum.


"Aku belum beruntung, tidak ada yang cocok," ucap Narendra.


Ghani tersenyum, memukul pundak sahabatnya."Pasti akan ada yang cocok! Lebih baik kamu pulang dulu!" bentaknya.


"Iya," Narendra hanya tersenyum padanya, berjalan meninggalkan Ghani. Wajah tersenyum pemuda itu memudar, darimana dirinya sejatinya mengenal Narendra?


Mengetahui penyakit Narendra sebelumnya, saat dirinya mengajukan diri sebagai donor organ dari seorang dokter kerabatnya. Mendekati Narendra, itulah tujuannya, menikahkan pemuda itu dengan adiknya.


Ghani tidak ingin mati, masih ada seorang adik perempuan yang harus dijaganya, seorang ibu penderita alzheimer dan ayah yang lumpuh akibat kecelakaan kerja.


Karena itulah dirinya mendekati Narendra, tidak mengatakan tujuannya dari awal. Sebelum hasil tesnya jelas, dirinya ingin mendonorkan jantungnya untuk Narendra yang menderita Aritmia jantung.


Dirinya akan tetap hidup untuk melindungi adik dan kedua orang tuanya. Walaupun satu-satunya yang hidup darinya adalah jantungnya.


Ghani memasuki ruang pemeriksaan, memastikan jantungnya cocok dengan Narendra. Air matanya mengalir, dirinya akan tetap hidup, setidaknya itulah pemikirannya.


*


Hingga hari itu tiba juga pada akhirnya. Kala kondisinya semakin lemah. Narendra-lah yang membawanya ke rumah sakit, sebelum adiknya Viona datang.


Wajah putih pucat dengan bibir berusaha tersenyum. Meraih jemari tangan Narendra.


"Maaf..." ucapnya.


Narendra terdiam sejenak, duduk di samping sahabat yang baru beberapa bulan ini dikenalnya.


"Kamu akan hidup, pasti akan ada dokter yang dapat mengangkat kanker di otakmu. Bersemangat lah!" Narendra tersenyum menggenggam jemari tangannya.


Ghani menggeleng, membalas senyumannya.


"Kamu hidup dengan alat pacu jantung, mengawasi detak jantungmu setiap saat, apa tidak jenuh?" tanyanya.


"Aku memiliki keyakinan untuk sembuh. Kamu juga harus," jawaban dari Narenda.


"Aku tidak akan sembuh, letak sel kanker tepat berada di bagian paling fatal. Hanya ada dua pilihan jika melakukan operasi cacat syaraf permanen atau mati di meja operasi. Karena itu...aku akan hidup dalam dirimu. Memberikan jantungku untukmu,"


"Tolong... bantu aku! Terima jantungku," pinta Ghani pada pria di hadapannya.


Narendra menggeleng."Semangatlah! Masih ada orang tua dan adikmu yang menunggu di rumah,"


"Tolong terima jantungku, nikahi adikku. Dia hidup sulit dari kecil, kini harus merawat ibu dan ayahku yang sakit-sakitan..." pintanya, mengetahui bagaimana kondisi keuangan Narendra. Mungkin hanya Narenda yang dapat membantunya untuk menjaga keluarganya.


"Jangan seperti ini! Kamu akan hidup! Harus hidup!" Narendra, membantunya untuk bangkit.


"Tolong..." pintanya kembali, masih berlutut di hadapan Narendra. Pemuda yang tidak memberi jawaban sama sekali.


*


Ghani tidak berbohong, Viona yang menemani kakaknya setiap hari terlihat kelelahan. Mengurus kedua orang tuanya seorang diri, termasuk mencari biaya rumah sakit untuk kakaknya yang tidak sedikit.


Iba? Mungkin itulah perasaan Narenda, pada akhirnya kala kondisi Ghani semakin kritis dirinya mengangguk untuk menyetujui akan menikah dengan Viona.


Acara pernikahan yang tertutup, mengingat kelurga Narendra tinggal di luar negeri. Menyematkan cincinnya pada jemari Viona. Tepat pada saat acara, Ghani dinyatakan meninggal, dan Narendra harus menjalani operasi, menerima donor dari Ghani.


Paksaan? Bukan, namun rasa iba, pemuda yang pada akhirnya berjanji akan menjaga Viona. Melindunginya dan membalas jika ada yang menyakiti kelurga Ghani. Menggantikan Ghani untuk menjaga keluarganya.


Menjalani pernikahan seperti pengantin pada umumnya. Perasaan cinta akan tumbuh? Tapi lebih seperti perasaan melindungi, seperti saudara. Tidur seranjang? Viona kadang mempertanyakannya, menginginkan keturunan dari Narendra. Seorang wanita yang sejatinya memiliki rahim yang lemah.


Narendra hanya dapat menyanggupi, dirinya harus berusaha mencintai Viona, bukan? Melakukan hubungan layaknya suami-istri, walaupun belum benar-benar mencintainya.


*


Namun segalanya berubah, kala kedua orang tuanya datang dari luar negeri. Tidak mengetahui tentang pernikahan putranya. Kedua orang tua yang marah besar padanya memaksanya untuk bercerai. Pasalnya hanya keluarga Melda yang dapat membantu perusahaan keluarganya dari kebangkrutan.


Narendra tetap menggeleng tidak bersedia. Melda yang baru pertama kali ditemuinya bangkit berjalan mendekati dirinya yang tengah dihajar oleh ayahnya.


"Aku tidak akan mengatakan ini pada orang tuaku. Kakekku memiliki hutang jasa pada kakekmu. Karena itu aku tidak ingin kakekku sakit keras karena perjodohan ini batal,"


"Paman, jangan memukul Narendra lagi. Aku akan menjadi istri kedua. Tapi tolong rahasiakan ini dari kedua orang tuaku..." Gadis yang menangis ketakutan dengan kekerasan yang dilihatnya. Kekerasan yang dialami Narendra.


Orang yang baik? Mungkin itulah sosok Melda sebenarnya. Takut hanya karena melihat darah di sudut bibir pemuda yang akan dijodohkan dengannya. Dirinya hari ini datang sendiri ke rumah Narendra. Memenuhi permintaan kakek dan kedua orang tuanya.


Namun, inilah yang dilihatnya.


"Jangan menangis," ucap Narendra bangkit.


Melda hanya mengangguk. Bersedia menjadi istri kedua? Wanita mana yang mau cintanya dibagi? Namun, dirinya tidak memiliki pilihan, tidak ingin menyaksikan pemuda yang tidak dikenalnya ini mati dipukuli di hadapannya. Juga tidak ingin membuat kakek yang menyayanginya mendengar kabar buruk, jika perjodohan yang diatur sejak dini gagal begitu saja.


*


Tidak memiliki keturunan setelah 1 tahun pernikahan membuat Viona ketakutan. Takut orang tua Narenda mendatanginya, memaksanya untuk bercerai. Dirinya tidak memiliki sandaran hidup, kedua orang tuanya harus dirawatnya seorang diri.


Namun, seorang wanita yang mungkin seusia dengannya mendatanginya. Memperkenalkan diri sebagai orang yang akan dijodohkan dengan Narendra. Apa tujuan Melda? Apakah menampar dirinya? Mengatakan dirinya sebagai wanita desa murahan yang menjual diri?


Namun tidak, jemari tangan gadis itu gemetar.


"Maaf!" Melda menunduk pada wanita yang memiliki status sosial lebih rendah darinya.


"Ma...maaf?" tanya Viona tidak mengerti, seharusnya adegannya begitu bukan? Seorang nona muda arogan yang dijodohkan dengan Narendra. Akan mengusirnya, memaksanya bercerai, mengata-ngatai dirinya sebagai wanita murahan.


Apa Melda salah skrip?


"A ...a...aku tidak mencintai Narendra! Aku juga tidak mau menikah! Tapi kakekku yang memintanya jadi, aku minta maaf harus menjadi istri kedua!" ucap Melda yang tertunduk, memejamkan matanya ketakutan. Dirinya tidak pernah menyakiti hati satu orangpun. Dan kini? Menjadi istri kedua? Dirinya harus minta maaf bukan?


"Benar-benar wanita yang jujur..." batin Viona menahan tawanya. Tidak dapat marah sama sekali terhadap sosok Melda.


Istri kedua? Mungkin pilihan yang lebih baik, dibandingkan dipaksa untuk bercerai. Matanya menatap ke arah calon madunya, berpenampilan sopan ala nona muda kaya. Tapi bertingkah bagaikan anak kecil tidak berdosa.


Berbagi cinta? Entah kenapa Viona dapat mengetahui, walaupun Narenda bersedia tidur dengannya. Pemuda itu tidak benar-benar mencintainya. Jika ada wanita yang dapat menarik perhatian Narendra muncul, mungkin dirinya akan berakhir diceraikan.


Sudah berusaha satu tahun ini, tapi hanya tatapan iba yang didapatkannya dari suaminya.


Karena itu jika wanita yang dicintai Narendra seperti ini. Mungkin itu lebih baik, tidak akan ada pertengkaran perebutan kasih sayang.


Viona yang sadar diri akan status dirinya yang rendah dan Melda yang sadar diri hanya menjadi orang kedua. Ini bukan cerita tentang berbagi cinta dimana terjadi perkelahian antara dua wanita.


Hanya dua orang wanita yang tidak memiliki pilihan.