
🍀🍀🍀🍀 Masih kerja kalau ada typo nanti aku revisi 🍀🍀🍀🍀
Dora terbangun lebih awal, mengingat suaminya yang mungkin akan marah akibat salah paham. Meraih jubah mandi, berlalu untuk membersihkan dirinya.
Beberapa bekas keunguan terlihat di tubuhnya. Perlahan? Memang benar, namun tetap saja pemuda itu tidak berhenti membuat tanda di tubuh istrinya. Seakan membuat pernyataan tertulis di jidat istrinya, untuk pria yang berani mendekat. Wanita ini sudah menikah dan sering ditiduri suaminya.
Benar-benar brutal dan posesif bukan? Tapi itulah Yoka yang tengah tertidur nyenyak saat ini. Mungkin terlalu lelah untuk bangun, karena bekerja seharian, hingga malam juga harus bekerja untuk kecebong. Maaf, salah untuk menghamili istrinya.
Dora menghela napas kasar, mengeringkan rambutnya mengganti pakaiannya. Mungkin dengan menyiapkan segala keperluan suaminya, Yang Mulia Suami tidak akan marah lagi.
Satu-persatu disiapkannya, diletakkan di atas meja ruang ganti. Bahkan jam tangan dan pilihan sepatunya.
Wanita yang melangkah menuju lantai satu, menatap para pelayan telah menyiapkan sarapan. Apa yang harus dilakukannya? Mungkin hanya itu yang ada di benak Dora saat ini, tidak ada tugas saat ini. Mengingat suaminya akan makan siang di salah satu restauran secara random.
Dora mengepalkan tangannya, menelan ludahnya sendiri. Apa yang harus dilakukannya agar terlihat selayaknya istri yang baik?
*
Cup.
"Sayang bangun," panggilnya pelan membangunkan suaminya.
Bau kopi hangat, serta roti panggang tercium memenuhi ruangan. Yoka perlahan bangkit, apa ini mimpinya? Ini bahkan terasa lebih manis lagi. Ingin rasanya pemuda itu tertawa berguling-guling, merasa aneh dengan tingkah istrinya.
Namun, tidak boleh, harus tetap dingin untuk mendapatkan full service.
Dan benar saja, tubuhnya yang duduk di atas tempat tidur hanya berbalut selimut tebal sebatas pinggang dipeluk istrinya. Menyadarkan kepalanya di dada bidangnya.
"Sayang, jangan marah ya? Aku tidak sengaja bertemu kemudian hanya berkenalan," ucap Dora memelas.
"Tidak sengaja?" Yoka mengenyitkan keningnya.
Dora mengangguk."Kamu lebih tampan darinya..." Mulut manis dilumuri gula, mungkin Yoka lama kelamaan akan terkena diabetes karena istrinya.
"Yoka, aku juga mencintaimu," ucap Dora tiba-tiba.
Sedangkan Yoka menghela napas kasar, pada akhirnya luluh juga. Sebaiknya dirinya berhenti berpura-pura marah, agar dapat menikmati saat seperti ini lebih banyak lagi sebelum kepergiannya.
"Sudah aku katakan, aku mencintaimu. Apa siklus bulananmu datang?" tanya Yoka memperkirakan waktu. Seharusnya hari ini siklus bulanan istrinya. Mengetahui dari mana? Tentu saja pemuda protektif itu pernah menanyakannya secara blak-blakan.
Dora mengangguk pelan, pagi ini siklus bulanannya memang datang. Tangan Yoka terangkat membelai pucuk kepalanya.
"Tidak apa-apa, mungkin bulan depan kita akan lebih beruntung," ucap sang pemuda.
"Tapi..." Air mata Dora mulai mengalir, dirinya kecewa, benar-benar kecewa. Apa dirinya mandul? Mungkin itulah yang ada di benaknya. Padahal baru hampir tiga bulan menikah.
Benar-benar calon dokter yang tidak belajar dengan baik. Kita maklumi saja, Dora masih semester pertama di jurusan kedokteran.
"Tidak apa-apa, kita hanya harus menunggu. Jika tidak ada pun, yang terpenting aku ada di villa ini bersamamu. Hanya kita berdua sudah cukup." Sebuah jawaban yang menangkan dari Yoka. Namun, memang itulah intinya, dirinya ingin menghabiskan masa tuanya dengan wanita ini. Wanita yang dapat meraih hatinya.
"Benar-benar tidak marah lagi?" tanya Dora, melepaskan pelukannya. Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Yoka.
"Tidak kecewa karena aku belum hamil juga?" Lagi-lagi wanita itu bertanya, kembali dijawab dengan anggukan oleh Yoka.
"Sebenarnya..." Dora tertunduk sesaat terlihat ragu.
"Lusa hari pernikahan Meira! Apa aku boleh hadir?!" tanya Dora menunduk menutup matanya sendiri takut akan kemarahan suaminya.
"Per... pernikahan Meira?" tanya Yoka memastikan pendengarannya. Dijawab dengan anggukan kepala oleh Dora.
"Dengan Jovan?" tanya Yoka lagi. Dan Dora kembali mengangguk.
"Aku mendapatkan undangannya, ibu ingin aku hadir. Katanya untuk menyombong, jika tidak hadir orang-orang mungkin akan membicarakanku, menganggapku masih menyukai Jovan. Sebenarnya aku tidak ingin hadir tapi..." Kata-kata Dora terhenti, Yoka tersenyum padanya.
"Lusa aku tidak bisa datang, Aku harus ada di luar kota, bertemu dengan kontraktor. Belajar mengelola aset almarhum ibuku tanpa bantuan paman Martin. Datanglah bersama ibumu, tapi ingat tidak boleh menangisinya. Tidak boleh dekat dengannya, pakai sarung tangan karet saat berjabat tangan memberi selamat. Agar tidak tertular virus." Jawaban dari suaminya penuh senyuman.
"Sarung tangan?" Dora mengenyitkan keningnya. Apa dirinya harus memakai sarung tangan seperti dokter yang hendak menjalani operasi?
*
Hari demi hari berjalan seperti biasanya, susu dengan asam folat dikonsumsinya. Dora menghela napas kasar, menatap ke arah pelayan yang mempersiapkan segalanya.
Cinderella? Anggap saja begitu. Dimulai dari kisah drama ibu dan kakak tiri, hingga bertemu pangeran di dalam sebuah pesta, meninggalkan sepatu kacanya. Hanya saja, ini sangat aneh sang pangeran awalnya bisu, tidak ada pesta atau ibu peri, yang ada hanya sekotak kue tradisional.
Benar-benar aneh dirinya mengira akan menikah dengan penjaga gerbang atau pelayan rupawan di villa ini. Tapi semua orang serempak memanggilnya nyonya muda.
Dirinya sebenarnya sudah siap memakai kebaya dengan sanggul dan riasan di salon langganan ibunya. Ibu yang menginginkan anaknya tampil lebih cantik dari pengantin wanita. Mengingat ini adalah pernikahan mantan.
Namun Arsen tiba-tiba membawanya kembali ke villa. Dengan para pelayan wanita yang menatap dirinya dengan tatapan mengerikan. Para pelayan yang dulunya adalah langganan jajanan pasar yang dijajakannya.
"Dora, kamu adalah nyonya muda kami. Jadi jangan mempermalukan kami," ucap salah satu dari mereka, membawa kapas dan cairan pembersih riasan wajah.
"Benar! Sanggulmu, membuatmu seperti pedagang jamu..." seorang pelayan lainnya membawa catok rambut.
"A... aku harus berangkat. Menjemput ibuku yang sedang di rias di salon. Jadi..." Dora ketakutan saat ini ingin melarikan diri rasanya, berbalik berjalan beberapa langkah hingga menabrak tubuh Arsen yang menghalangi jalannya.
"Berlakulah seperti nyonya muda yang beradab! Jangan mempermalukan nama tuan muda di hadapan warga desa." Kata-kata menusuk dari Arsen.
"Mampus!" batin Dora menelan ludahnya sendiri. Memang itulah penampilannya hari ini. Salon? Tepatnya bukan salon, bisa dibilang tukang rias tidak berpengalaman. Dengan peralatan rias seadanya.
Yang mana lebih lengkap? Arsen mempersiapkan sedetail mungkin tentang keperluan tuan dan nyonya mudanya. Bahkan ada peralatan rias yang biasa dimiliki penata rias artis seharga puluhan juta. Beserta beragam produk perawatan kulit yang tidak dimengerti penggunaannya oleh Dora.
Pakaian? Jangan ditanyakan lagi, tentunya cukup banyak. Hingga para pelayan wanita terlihat bersemangat untuk mendandani boneka mereka. Seorang pedagang keliling yang entah ketiban rejeki apa menjadi nyonya muda.
*
Pesta resepsi yang cukup besar, mengingat orang tua Meira yang ingin disanjung seluruh warga desa. Setelah keributan acara syukuran kenaikan jabatan putrinya beberapa bulan lalu. Keributan yang terjadi, akibat kehadiran Yoka.
Mengundang Dora? Sejatinya itu dilakukan oleh Jovan. Tidak ingin hubungan yang dianggapnya persahabatan seperti doktrin Meira pupus. Dirinya merindukan Dora, sejatinya benar-benar merindukan perhatian tulus darinya.
"Hanya sahabat..." batinnya, mengelak hubungan sebagai kekasih selama bertahun-tahun adalah cinta.
Pengantin wanita yang begitu cantik, mengenakan gaun putih mahal berharga puluhan juta, riasan dari penata rias profesional. Matanya menelisik, tidak ada tanda-tanda kehadiran Dora di acara pernikahannya.
Menginginkan kehadiran Dora? Tentu saja ingin membuat wanita itu iri dengan kecantikannya. Dan mungkin suami rupawan Dora terpesona olehnya. Dapat dibayangkan oleh dirinya, Dora yang menangis karena kecewa Yoka memuji Meira yang terlihat cantik.
Di tambah lagi, dengan dirinya yang kini bersanding dengan Jovan. Apa mungkin Yoka dan Jovan akan memperebutkannya? Entahlah.
Tapi wajar bagi seorang pengantin merasa menjadi makhluk paling cantik di pesta pernikahannya. Ingin diperebutkan oleh makhluk rupawan yang akan hadir.