
Dora terdiam menunduk, pertanyaan yang benar-benar aneh baginya. Saat situasi mendesak seperti ini hanya satu hal yang dapat dilakukannya agar tidak dibantai.
"Maaf, aku permisi perutku sakit!" ucapnya pada Narendra.
"Saya akan mengantarnya ke kamarnya," Zou menunduk, meraih koper milik Dora, guna mengantarnya ke kamar yang sudah dipersiapkannya. Kamar dengan kamar mandi yang cukup luas di dalamnya.
Sedangkan Narendra menghela napas kasar. Melarikan diri kurang dari lima menit? Itulah menantunya. Dirinya melihat pantulan bayangannya sendiri pada cermin besar di kamarnya.
"Aku masih tampan. Kenapa dia melarikan diri?" batinnya, narsis, sifat yang diturunkan pada kedua putranya.
Sedangkan Arsen menunduk memberi hormat, menatap tajam padanya."Tuan, jika anda sedikit saja mencoba mencelakai nona muda, saya dan Zou akan melakukan apapun untuk melindunginya."
Kata-kata menusuk dari Arsen yang berjalan keluar dari kamar Narendra. Pria yang menghela napas kasar memijit pelipisnya sendiri.
Sejenak merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya menatap ke arah langit-langit kamar, entah apa yang ada difikirannya saat ini. Namun hanya senyuman yang terlihat di wajahnya.
Matanya menatap ke arah sampingnya tempat tidur luas yang kosong. Hanya fatamorgana Melda yang selama ini menemaninya.
"Aku senang kamu bukan pelakunya," wajah Narendra tersenyum, namun terlihat guratan mata kesedihan disana. Hanya fatamorgana Melda yang kini ada, membalas senyumannya.
"Maaf..." satu kata yang diucapkannya, mengetahui dirinya tidak pantas untuk dimaafkan. Dalam hati yang terasa sakit, dirinya tersenyum, menggenggam jemari tangan yang sejatinya tidak pernah ada di sana. Perlahan matanya tertutup, bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir.
Dirinya benar-benar merindukan Melda.
"Aku juga merindukanmu," suara Melda terdengar, suara yang sejatinya hanya rekaman ingatan masa lalunya.
Semua tawa dan perkelahian di dalam kamar. Saling menyindir tentang pekerjaan. Namun, pasangan yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.
Mata Narendra terbuka, melirik ke arah sampingnya. Tempat tidur kembali kosong seperti semula. Dirinya hanya seorang diri dari awal. Seorang istri yang mati di tangannya sendiri.
"Maaf, apa suatu saat nanti aku boleh menyusulmu, saat Yoka sudah bahagia?" tanyanya terdiam seorang diri, menatap ke arah jendela. Bulan yang tidak terlihat sempurna, sinarnya sedikit tertutup awan.
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita menyusun beberapa tangkai bunga mawar, menggunakan gunting kecil. Jari tangannya terkena duri, tergores cukup dalam, darah mengalir, jatuh di atas kelopak mawar merah yang indah.
Melda terdiam membiarkan darah mengalir dari jemarinya. Menetes ke arah kelopak bunga mawar yang ada di atas meja. Tatapan matanya kosong, kembali menatap ke arah langit. Apa yang ada di fikirannya? Entah.
*
Kamar tidur yang luas, Dora segera masuk. Matanya menelisik, dirinya menjadi nyonya muda dari keluarga konglomerat? Ini tidak pernah dibayangkan olehnya. Tapi juga bukan impiannya.
Foto pernikahan berukuran besar, dengan bingkai yang kokoh terpasang di sana. Foto pernikahan dirinya dan Yoka.
Rak yang dipenuhi dengan buku tentang kedokteran dan novel romansa, bahkan ada banyak boneka di sana. Kamar ini benar-benar dipersiapkan Zou untuknya.
"Apa ada yang kurang? Nanti akan aku persiapkan..." ucapnya pada Dora yang tengah mengamati rak buku.
"Ti... tidak ada, tapi bisa singkirkan bonekanya. A...aku tidur dimana?" tanyanya sungkan, memperhatikan tempat tidur yang benar-benar dipenuhi boneka berukuran besar.
Zou menepuk tangannya, dua orang pelayan segera masuk membawa kantong plastik besar. Memasukan semua boneka ke dalam kantong.
"Mau kamu apakan?" tanya Dora pada sang kepala pelayan.
"Bagikan pada anak jalanan saja," ucap Dora ragu, Zou akan menerima perintahnya.
"Turuti perintah nyonya muda," Kata-kata dari bibir Zou pada pelayan yang segera membawa beberapa boneka berukuran raksasa keluar."Saya permisi, jika ada perintah atau keluhan, panggil saja saya. Satu lagi, jangan pernah dekat atau menjalin hubungan di belakang tuan muda. Jika saya mengetahuinya maka..."
Zou dengan sengaja menghentikan ucapannya. Berjalan meninggalkan kamar. Benar-benar pria yang lebih mengerikan daripada suaminya. Kepala pelayan yang protektif dengan urusan rumah tangga majikannya.
Wanita yang menghela napas kasar, menatap ke sekeliling kamarnya. Terkadang dirinya merindukan kehidupannya yang dulu. Dapat bertemu dengan berbagai orang desa yang ramah. Tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Hingga handphonenya berbunyi, pertanda sebuah e-mail masuk.
'Arsen mengatakan kamu pindah ke rumah utama hari ini. Angkat kepalamu, dan jangan mau ditindas. Aku mencintaimu...' itulah isi e-mail yang masuk, dirinya bagaikan menemukan jacpot. Tersenyum-senyum sendiri, berguling-guling di atas tempat tidur berukuran king size.
'Aku juga...' jemari tangan Dora mengetik dengan cepat membalas pesannya.
Namun setelah satu jam menunggu dirinya tidak mendapatkan balasan juga.
"Si bisu sialan!" umpat Dora, melempar handphonenya ke atas tempat tidur, memasuki kamar mandi guna membersihkan dirinya.
*
Suasana makan malam yang cukup ganjil. Ini adalah makan malam pertamanya di kediaman utama. Anggeline bagaikan terasingkan di ruangan itu.
Dora menelan makanannya, bahkan untuk menelan makanan pun terasa sulit baginya. Jemari tangannya gemetar, mengiris daging sapi Wagyu yang empuk. Daging yang terasa keras, kala dihadapkan dengan orang-orang yang hendak membunuhnya. Namun tanpa diduga, Narendra meraih piring Dora, mengiriskan daging untuknya.
"Apa dagingnya terlalu keras?" tanyanya memberikan kembali piring Dora dengan daging yang telah teriris.
Prilaku baik hati yang sama dengan Yoka. Tangan Dora semakin gemetar ketakutan. Masih teringat di benaknya kala Narendra menentang hubungannya dengan Yoka, dan menginginkan Yoka menikah dengan Amanda.
Orang ini bagaikan bunglon, mungkin karena darah keturunan, putranya juga bagaikan bunglon. Sifat ayah mertuanya berubah-rubah sulit untuk di tebak.
"Apa mungkin aku akan dijadikan gemuk seperti b*bi? Kemudian mati kegemukan karena obesitas? Atau dia ingin membuat Yoka menceraikanku karena gemuk. Kemudian membunuhku saat tidak ada dalam perlindungan Yoka?" batinnya curiga, benar-benar curiga pada senyuman tulus dari wajah rupawan ayah mertuanya. Seorang pria yang merencanakan pembunuhan istrinya sendiri.
Dora menelan ludahnya berkali-kali, ketakutan untuk kembali makan. Sedangkan Zou menghela napas kasar.
"Ini adalah daging sapi berkualitas tinggi. Aku sendiri sudah mengujinya sebelum disajikan di meja makan. Karena jika ada yang menggunakan trik seperti racun. Aku yang akan memaksanya minum racun yang sama saat dia tidur di malam hari..." sebuah kata-kata mengerikan dari bibir Zou.
Dora menghela napas kasar pada akhirnya memberanikan dirinya untuk makan. Tidak ada orang yang bisa dipercayai olehnya, kecuali Arsen.
Hanya Arsen harapannya di rumah ini. Anggeline yang membencinya, Salsa yang menginginkan Yoka tidak memiliki istri atau keturunan. Malik yang entah kenapa, tersenyum-senyum sendiri meliriknya. Ayah mertua yang keji tiba-tiba menjadi baik. Bahkan Zou yang berani mengancamnya di hari pertamanya tinggal di rumah tersebut.
Ini benar-benar rumah yang mengerikan, bagaikan kastil besar bergaya Eropa yang dipenuhi dengan monster.
Harapan terbesarnya benar-benar hanya Arsen. Hingga dirinya mulai bangkit hendak ke toilet. Berjalan beberapa langkah, tidak sengaja mendengar Arsen berbicara dengan seseorang, melalui phonecellnya.
"Terus ikuti nyonya muda, jagan biarkan ada satu pria pun yang mendekatinya! Tidak ada yang boleh mengkhianati tuan muda..." ucap Arsen penuh penekanan pada seseorang di seberang sana.
Wajah Dora pucat pasi, dirinya hanya seorang diri. Tidak ada yang berpihak padanya, bahkan Arsen sekalipun.
"Ibu...aku ingin pulang..." batinnya ingin rasanya menangis merengek, ketakutan.