Silent

Silent
Provokator



Hari masih terbilang pagi, Yoka menghela napas kasar menatap Arsen yang baru datang dari mengantar Dora.


"Tuan muda, nyonya muda hanya ingin bertemu dengan temannya. Usianya masih terlalu muda, sebaiknya jangan terlalu mengekangnya," ucap Arsen menunduk di hadapan Yoka yang tengah mengenakan jam tangannya. Pemuda yang kali ini akan memulai untuk mengurus aset milik ibunya dengan tangannya sendiri.


Yoka terdiam sejenak, mengingat wajah istrinya yang terlihat benar-benar kesal padanya. Wajahnya tersenyum, mungkin akan sedikit memberi kelonggaran kali ini.


"Pergi ke kampus, katakan aku akan ikut pergi bersama teman-temannya. Setidaknya aku juga harus mengenal beberapa sahabatnya kan? Agar jika dia melarikan diri, aku mengetahui kemana harus mengerahkan pengawal." Kata-kata mengerikan penuh senyuman cerah dari seorang suami yang benar-benar posesif.


Arsen menghela napas kasar, memang terlalu banyak luka dalam hati Yoka, hingga pemuda itu seperti saat ini. Ibu yang meninggal di depan matanya, Anggeline yang meninggalkannya untuk Malik.


Mungkin ini lebih baik, setidaknya Yoka tidak sendiri lagi. Ada seseorang yang akan menemani dan menghiburnya. Perlahan Dora akan mengerti, mengapa suaminya mengikat kebebasannya, setidaknya itulah harapan Arsen.


"Sudah, saya sudah mengijinkan. Nyonya muda berkata akan pulang jam 9 malam. Hanya untuk membeli buku dan makan malam bersama kedua temannya di cafe dekat kampus," Arsen menghela napas kasar, tertunduk, bersiap mendengarkan kemarahan Yoka karena memberikan ijin tanpa pemberitahuan. Apa yang akan dilakukannya? Mungkinkah dirinya dipensiunkan lebih awal?


"Aku akan menjemputnya 15 menit lebih awal di cafe dekat kampus. Bagaimana jika aku membawa teman-teman Dora makan malam bersama?" Yoka meraih tasnya, berjalan mendahului Arsen meninggalkan kamarnya.


"Mungkin itu lebih baik..." Ucap Arsen tersenyum, mungkin pada akhirnya Yoka akan memiliki teman sebaya.


*


Sore menjelang, pemuda itu tersenyum sendiri. Berfikir mungkin Dora akan memeluknya dan terharu, setelah membawa teman-teman istrinya ke restauran Eropa miliknya.


Hingga Dora tidak akan pernah berfikir untuk meninggalkannya. Matanya melirik jam tangannya, sudah pukul 20.40. Mungkin teman-teman istrinya telah sampai di cafe dekat kampus.


"Wajahmu cerah, seperti pengantin baru yang mendapatkan jatah," ucap Samy menipiskan bibir menahan tawanya, masih fokus menyetir mobil.


"Memang, aku hanya kasihan pada seseorang yang tidak mempunyai pacar, masih menjadi perjaka hingga sekarang," sindiran telak dari Yoka.


Benar-benar pasangan yang menyebalkan, satunya selalu memukul kepalanya, satunya lagi menyinggung tentang keperjakaannya.


"Yoka bagaimana jika aku merebut istrimu saja. Kami terlihat lebih akrab."Kata-kata dari Samy berusaha tetap tersenyum.


"Kamu berani? Kita bertarung adu pedang bagaimana?" Senyuman di wajah Yoka menghilang berganti aura suram.


"Adu tembak, kita bertarung adu tembak saja." Jawaban dari Samy, menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Bagaimana seorang pria dapat bisa menjadi sebucin ini? Jika itu dirinya mungkin akan bersikap biasa saja.


Tidak perlu semarah itu jika ada yang menggoda kekasihnya, memberikan kebebasan pada wanita yang mengejarnya, hanya mencintainya. Karena dirinya tidak akan ditaklukkan oleh wanita. Bahkan tidak memerlukan seorang wanita yang merepotkan, berdandan, manja, setiap panggilan harus diangkat, cemburuan. Wanita adalah makhluk paling merepotkan baginya.


Tidak pernah memiliki kekasih hingga sekarang, bukan karena tidak laku. Tapi memang cinta hal mungkin membuatnya ingin muntah. Dirinya adalah pria sejati, tidak akan pernah menjadi budak cinta sejati.


"Aku tidak bisa menembak, omong-ngomong aku ingin berinvestasi di negara lain, membuat aset atas nama Dora. Kamu bisa membantuku?" tanya Yoka menghela napas kasar.


"Kenapa tiba-tiba?" Samy mengenyitkan keningnya.


"Tidak akan ada yang tahu tentang masa depan. Jika usiaku lebih pendek dari istriku setidaknya istri dan anakku memiliki sandaran hidup. Aku tidak ingin seperti ayahku, menghancurkan keluarganya sendiri. Aku akan mencintai dan menyayangi istri dan anakku." Jawaban dari Yoka.


"Sebulan lagi kita ke Thailand. Temanku membuka perusahaan pengiriman, memerlukan banyak investor. Aku pernah melihat perencanaannya, cukup menjanjikan. Jika ingin investasi yang stabil, lebih baik kita ke sana." Senyuman di wajah Samy menghilang, pemuda itu sedikit melirik ke arah Yoka yang terdiam hanyut akan pemikirannya sendiri.


"Aku ingin melindungi dan memanjakannya, sebagai wanita yang paling istimewa di hidupku. Berpihak hanya padanya, bahkan jika perlu menjadi pria keji untuk kebahagiaannya," jawaban dari Yoka.


*


Hingga mobil terhenti di depan area cafe, cafe yang cukup besar, dipenuhi mahasiswa dengan kaca etalase besar. Terlihat jelas orang-orang yang berada di dalam cafe dari area parkir.


"Kita sudah sampai," ucap Samy menghentikan laju mobilnya. Pandangan mata Yoka beralih dari tab-nya, matanya menelisik, mengenyitkan keningnya. Menatap ke arah kaca besar depan cafe.


Samy menipiskan bibir menahan tawanya."Istrimu berselingkuh, pria dan wanita hanya makan berdua satu meja. Itu namanya berkencan."


Yoka tertawa, benar-benar tertawa terlihat mengerikan. Sejenak tawanya menghilang.


"Dia berani berselingkuh? Akan meninggalkanku seperti Anggeline?" gumamnya.


Samy mengangguk, benar-benar menyenangkan baginya melihat situasi saat ini. Baru saja seekor burung pipit akan diberi sedikit kebebasan, malah bermimpi untuk terbang lebih tinggi.


Apa yang akan dilakukan sang naga? Mungkin menyemburkan apinya penuh angkara murka.


"Mereka terlihat serasi, pantas saja Dora bersikeras datang ke cafe. Ini seperti drama Romeo dan Juliet. Dan kamu calon tunangan Juliet, hanya seorang antagonis." Samy menuangkan bensin ke dalam kobaran api.


Kesal? Apakah akan ada suami yang tidak kesal melihat istrinya bertemu berdua dengan mantan? Yoka melonggarkan dasinya, mengingat sebelumnya dirinya bertemu dengan beberapa sesama owner hotel. Masih memakai pakaian resmi.


Ternyata bukan hanya itu, matanya menatap mie yang dipenuhi dengan cabai yang dihidangkan pelayan, sembari mendengar ocehan tidak masuk akal dari Samy.


"Dia tidak meminum kontrasepsi, tapi berniat tidak menjaga kesehatannya agar tidak dapat mengandung." Kata-kata penuh provokasi dari mulut Samy.


Benar-benar menahan tawanya, beruntunglah Dora duduk di meja depan, dekat sekat kaca yang transparan. Seakan menunjukkan pada suaminya dan berkata. Sayang aku berselingkuh, ayo kurung aku selama-lamanya seperti Rapunzel.


Protective? Posesif? Siapapun yang mengalami banyak luka di hatinya akan memiliki sifat itu. Begitupun dengan pinguin satu ini, kita anggap saja pinguin. Makhluk mengerikan yang dapat berubah menjadi naga kala dirinya murka.


"Kenapa masih diam disini? Jika terlalu lama dia akan memakan mienya. Kamu mau sesuatu terjadi pada anakmu yang bahkan belum memiliki jantung." Bagaikan telah habis ledakan dari bensin, Samy kembali membawa satu tangki pertamax, ingin melihat pertunjukan yang lebih menarik.


"Kamu cemburu?" pertanyaan bodoh dari pemuda yang masih duduk di kursi pengemudi, benar-benar berusaha tidak tertawa.


"Aku tidak cemburu, hanya berusaha mendisiplinkan istriku. Ingat ini, mulai besok dia hanya lepas dari penglihatanku ketika kuliah. Hanya ada di dekatku, pulang bersamaku, berangkat bersamaku..." tegas Yoka, membuka pintu mobil, hendak keluar .


"Kalau mandi dengan siapa?! Boleh denganku?" gurauan Samy.


Plak!


Satu pukulan mendarat di kepalanya, Samy mengusap-usap kepalanya yang kebas, pukulan yang kali ini dilakukan oleh Yoka.


Namun, pemuda itu masih tersenyum, kemudian tertawa kencang melihat dari jauh Yoka meraih piring mie pedas level 10 kemudian membuangnya di tempat sampah.