
"Jika kamu hamil, bagaimana dengan kuliahmu? Aku juga tidak dapat pulang selama tiga tahun..." bisiknya, mengecup pelan leher Dora.
"Kenapa tidak bisa pulang? Kamu tidak merindukanku?" tanya wanita yang mulai memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang didapatkannya.
"Ini untuk kebaikanmu. Arsen akan menjagamu, banyak mata akan mengawasimu selama kepergianku. Jadilah wanita yang tidak dicintai selama tiga tahun. Bisa dibilang janda bukan perawan juga bukan..." gurauan dari mulut Yoka, yang menarik Dora ke atas pangkuannya. Melepaskan satu persatu kancing kemeja istrinya.
Tidak melepaskan pakaiannya dengan sempurna. Suara ikat pinggang dan resleting celana pria yang terlepas, terdengar. Benar-benar tidak kenal tempat, hanya mencari tempat sepi yang jarang dilalui orang.
Kata-kata ambigu yang tidak dimengerti Dora. Dirinya terlalu terhanyut dalam sentuhan tubuh suaminya. Wanita yang tidak dicintai selama tiga tahun? Pemuda itu hanya ingin melindungi istrinya. Membuat semua orang kembali berfikir jika Dora hanya pengganti Anggeline. Wanita yang menonggakkan kepalanya, mencengkeram bahu Yoka, dengan napas tidak teratur.
*
Hingga hari mulai larut, pasangan itu baru sampai di villa. Mata Yoka menatap ke arah Samy yang terdiam di pintu utama. Turun dari mobil bersama istrinya.
"Kalian melakukannya di dalam mobil? Ingatkan aku agar tidak pernah meminjam mobilmu jika belum di cuci," Kata-kata dari mulut Samy menatap rambut Yoka yang acak-acakan, bagaikan kapten kapal yang baru saja melewati badai yang dibuat istrinya.
"Ada apa?" Yoka mengenyitkan keningnya.
Samy mendekat menatap ke arah Dora. Kemudian berbisik pada Yoka entah apa yang dikatakannya. Dora mendekat ingin mendengar apa yang dikatakan oleh kedua pria itu. Namun dengan cepat dahinya di dorong Yoka agar tidak mendengarkan hal yang dikatakan Samy padanya.
"Jadi begitu?" Yoka melirik ke arah istrinya yang tengah mengusap-usap dahinya sendiri.
"Jika rajin belajar, kamu mungkin akan menjadi dokter dalam waktu sekitar tiga tahun," ucapnya pada istrinya.
"Seharusnya begitu," Dora mengangguk, membenarkan.
"Jadilah tidak tahu malu 3 tahun ini. Tutup matamu, tulikan telingamu, Arsen dan Hudson akan tinggal di villa ini bersamamu. Jangan coba berselingkuh dengan mereka," tegas Yoka mengecup pipi istrinya.
Dengan cepat Dora mengangguk, tersenyum-senyum sendiri entah kenapa. Mereka memang sering melakukan hubungan layaknya suami-istri. Namun entah kenapa pada saat-saat tertentu, dirinya bagaikan memenangkan undian hadiah mobil kala pemuda itu menunjukkan kasih sayangnya.
Mata pemuda itu tiba-tiba melirik ke arah pintu, menghela napas kasar. Berjalan dengan cepat, Dora mengikuti langkahnya, berusaha meraih tangannya. Namun, dengan cepat Yoka menepisnya.
Mimik wajah pemuda itu tiba-tiba berubah. Senyuman tidak terlihat lagi di wajahnya.
"Kamu menemui Jovan lagi kan?!" tanyanya menatap tajam ke arah istrinya.
"Ka... kapan?" Dora mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Mencoba memegang tangan suaminya.
"Kapan aku menemui Jovan lagi?" batinnya, tidak mengerti sama sekali.
"Aku sudah muak, aku menyukaimu hanya karena wajahmu yang mirip dengan Anggeline. Selebihnya tidak ada kelebihan dalam dirimu!" tegasnya, berjalan menuju lantai dua. Sedangkan Dora hanya tertunduk diam, air matanya mengalir. Segera dihapus olehnya.
"Pengganti?" Angeline mengenyitkan keningnya kemudian tertawa. Sedangkan dua orang berkebangsaan asing duduk di sofa ruang tamu.
Wilson dan Caterina, mereka merupakan orang tua angkat dari Anggeline. Pengusaha yang memiliki banyak aset, menyayangi anggota keluarganya. Termasuk Anggeline, walaupun seharusnya di atas usia 18 tahun Angeline bukan tanggung jawab mereka lagi.
Membiarkan putri angkat mereka hidup mandiri. Namun, dua orang ini mungkin sudah termakan kata-kata Anggeline yang mengadu pada mereka.
Benar-benar cerita klasik bukan? Wanita yang sangat luar biasa. Mengapa tidak mencoba menjadi penulis saja?
Yoka melihat semuanya dari lantai atas, menghela napas kasar."Kamu harus belajar agar tidak mudah ditindas..." gumamnya tersenyum.
"Iya! Aku pengganti memangnya kenapa?! Tapi aku calon dokter! Dengan menjual diri sebagai pengganti!" bentaknya pada Anggeline. Membuat wanita itu tidak bisa berkata-kata.
Dora segera melangkah ke lantai dua, dengan perasaan benar-benar kesal.
Mengapa harus berpura-pura di hadapan Wilson dan Caterina? Status mereka tidak biasa. Ada beberapa orang yang harus dihindari untuk dijadikan musuh, oleh semut yang baru memulai segalanya.
Sejak diri Yoka mulai mencintai istrinya, berharap ada janin yang tumbuh di rahim wanita yang dicintainya. Sejak itu juga sebuah mimpi dibangunnya, membuat sang istri menjadi wanita yang tegar, wanita yang tidak akan tunduk pada siapapun. Memiliki kemampuan dan status sosialnya tersendiri.
Calon anaknya? Apa akan sama seperti dirinya? Tidak, calon anaknya tidak boleh seperti dirinya yang direndahkan walaupun memiliki segalanya. Mungkin jika dirinya pergi selama tiga tahun untuk menaikkan status sosialnya. Maka Dora yang mulai bergantung padanya akan menjadi lebih mandiri.
Wajah pemuda itu masih tersenyum, masalah Anggeline akan diurusnya nanti. Berani mencoba mencelakai Dora? Hudson dan Arsen yang akan menghalanginya. Mengahadapi Anggeline mungkin dapat membuat sifat Dora berubah nantinya.
Pemuda yang berjalan menuju kamar terbesar di villa tersebut. Memasang earphone di telinganya, menghubungi detektif swasta.
"Apa kamu sudah menemukan Siti dan Warka?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.
"Maaf tuan, Warka meninggal 16 tahun yang lalu karena mabuk terjatuh ke jurang dekat rumahnya. Sedangkan Siti, tidak ada informasi tentangnya..." jawaban dari sang detektif, membuat Yoka menghela napas kasar.
16 tahun yang lalu, saat yang sama dengan kematian ibunya. Apa sebuah kebetulan? Namun, kecurigaan yang semakin melebar. Tapi tanpa dasar dan bukti, dirinya tidak dapat melakukan apapun. Mungkin hanya dengan menemukan Siti, semuanya akan semakin jelas.
"Tetap jalankan tugasmu, cari informasi satu orang lagi. Aku akan mengirim uang setiap bulan ke rekeningmu," ucap Yoka mematikan panggilannya.
*
Sementara di lantai satu, Anggeline kembali mendekat ke arah orang tua angkatnya. Menghela napas kasar, bagaikan wanita tidak berdaya.
Sementara sementara Samy duduk dengan santai di sofa. Pemuda yang benar-benar tengil, entah apa yang ada di otaknya kali ini.
Sebuah rencana yang tersusun sempurna, Wilson cukup disegani di Thailand. Jika menjalin hubungan yang buruk dengannya, hanya akan membawakan kerugian yang besar.
"Tuan Wilson, putri anda sungguh cantik," pujian dari Samy tertuju pada Anggeline. Padahal rasanya ingin memukul bibirnya sendiri ketika mengucapkannya, mengingat betapa narsis dan materialistis sifat wanita di hadapannya.
"Terimakasih, aku memiliki dua orang putri angkat dan dua orang anak kandung. Jika kamu tidak keberatan bagaimana jika lain kali kamu berkunjung ke California. Mereka kuliah dan bekerja di sana," jawaban dari Wilson penuh senyuman.
"Apa ada yang lebih tua dari usiaku? Aku menyukai wanita yang sedikit lebih tua. Semakin galak dan semakin sulit didekati semakin baik..." Samy tertawa, diikuti tawa Caterina dan Wilson tidak membiarkan Anggeline bicara sedikitpun.
Jemari tangan Anggeline mengepal, menghela napas kasar.
"Ayah! Tidak lihat apa yang dilakukan Dora?! Dia itu jahat, Yoka dengan mudahnya takluk padanya!" teriak Anggeline tiba-tiba.
Wilson menatap tajam pada putri angkat yang menyela pembicaraannya."Takluk? Yang ayah lihat hanya wanita yang tidak dicintai. Mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter. Ayah menghargai setiap orang, kamu yang berkata menikah dengan Malik karena tidak ingin malu. Dan tiba-tiba akan bercerai? Bahkan meminta ayah menebus gedung teater milikmu? Baik, akan ayah tebus tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Kamu seharusnya sudah hidup mandiri seperti kakak-kakakmu..."