Silent

Silent
Perasaan



Jemari tangan sang pemuda yang terus menari cepat diatas tuts piano. Memainkan nada-nadanya, benar-benar terlihat ketulusan dari wajahnya yang dingin.


Hingga lagu tersebut berakhir, sang pembawa acara, datang mendekatinya. Seorang wanita cantik yang tengah berada di puncak kariernya.


"Ini salah satu tamu kejutan kita hari ini. Kamu lebih cocok menjadi artis dibandingkan anak konglomerat..." ucap sang pembawa acara, memukul bahu Yoka. Seorang selebriti profesional, yang pandai mencairkan suasana.


Yoka hanya tersenyum, penonton yang sebagian besar wanita berteriak. Tampan, pandai bernyanyi, terlihat tulus, putra konglomerat, wanita mana yang tidak akan berteriak.


"Untuk pertama kalinya aku muncul di hadapan publik. Perkenalkan namaku Yoka, putra tunggal dari pemilik GC Company, almarhum ibuku memiliki setengah perusahaan dan ayahku memiliki setengahnya lagi. Aku memang sombong, karena aku terlahir kaya..." ucapnya tersenyum, senyuman yang melelehkan semua wanita, bahkan mengedipkan sebelah matanya. Membuat para penonton semakin berteriak histeris lagi.


Narsis? Siapa yang peduli, itu adalah sebuah kenyataan bukan? Siapa yang sangka, beberapa bulan lalu, pemuda ini bahkan tidak ingin melangkah keluar dari villanya. Ketakutan akan cibiran semua orang.


Namun, kini dirinya harus mencari uang lebih banyak untuk istri dan anak yang entah akan hadir atau tidak. Membahagiakan dan melindungi mereka. Mungkin karena itulah Yoka keluar dari villanya yang nyaman, ingin lebih baik dan tegar lagi.


"Sekarang ulang tahun stasiun televisi Bintang, tidak mengucapkan selamat?" tanya presenter, menyenggol tangan Yoka dengan sikunya.


"Sekarang hari pernikahanku? Tidak mengucapkan selamat?" Yoka mengenyitkan keningnya, membuat sang presenter melirik ke arah layar besar yang menjadi latar panggung.


"Jadi baru menikah hari ini?! Aku fikir hanya untuk konsep acara..." sang presenter tertawa.


"Hadiah ulang tahun untuk stasiun televisi Bintang, sekaligus hadiah pernikahan untuk istriku, Dora. Aku akan menyanyikan satu lagu lagi," ucap Yoka kali ini meraih gitar listrik, dari salah satu kru.


"Dasar pria tidak bermodal," sang presenter tertawa, kemudian mundur, kala sinar diatas panggung mulai redup.


Sebuah lagu yang diciptakan Yoka kala mengingat saat kepergiannya. Sebuah lagu yang diawali dengan alunan suara empat orang musisi memainkan biolanya.


Kala itulah nyanyiannya terdengar. Sebuah nyanyian dengan tempo lambat. Hingga di reff, gitar listrik berpadu dengan suara permainan dari drummer terdengar.


Histeris suara teriakan penonton menggema, benar-benar tidak ada yang menyangka yang ada di atas panggung saat ini bukan musisi profesional.


"Aku mencintaimu..." ucapnya tersenyum ketika musik terhenti melangkah mundur meninggalkan panggung.


*


"Anak tunggal?" gumam Anggeline yang saat ini masih berada di restauran cepat saji, menyadari sesuatu yang tidak beres dengan suaminya Malik.


Tapi tidak mungkin, Anggeline yang tidak mengetahui silsilah keluarga Yoka hanya menggeleng meyakinkan dirinya sendiri. Malik yang merupakan anak tertua adalah pewaris utama GC Company. Ini mungkin lelucon yang dibuat Yoka agar dirinya kembali ke villa.


Wanita itu segera membayar, melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi menuju kediaman utama. Pintu gerbang dibukakan dua orang penjaga, dirinya memarkirkan mobil, melangkah dengan cepat. Ingin mengetahui segalanya dari mulut suaminya.


Hingga pada akhirnya wajah itu terlihat, menatap ke arahnya.


"Ada apa?" Malik memijit pelipisnya sendiri, hanya karena beberapa kata dari Yoka orang-orang mulai mencibirnya di media sosial, pemuda yang duduk di ruang tamu dengan tab di tangannya.


"Apa maksudnya Yoka anak tunggal? Walaupun dia adik kandungmu seharusnya kamu menuntutnya karena menyebarkan berita bohong!" bentak Anggeline penuh keyakinan. Ini hanyalah tipu daya Yoka agar dirinya kembali.


Sudah menikah dengan Dora yang mirip dengan dirinya? Pengganti, selamanya hanyalah pengganti. Dora ada hanya untuk membuat dirinya cemburu. Sekali lagi, itu hanya tipu daya Yoka.


Malik menghela napas kasar, berjalan mendekati Anggeline kemudian memeluknya. Membelai rambutnya yang kecoklatan.


"Walau bagaimanapun kami kakak beradik. Yoka adalah adik kandungku. Aku menyayanginya, tidak akan menjebloskannya ke penjara hanya karena berbohong di hadapan publik..." jawaban dari Malik, diam-diam memendam rasa kesalnya.


"Aku mencintaimu," Anggeline memeluknya dengan erat. Malik yang baik hati, berwajah rupawan, sempurna, pemuda yang tidak akan dilepaskan olehnya.


*


Apa benar demikian? Dora saat ini baru usai membersikan dirinya. Hendak memakan rujak mangga dengan para pelayan, berbagi tugas membuat bumbu dan mengupas mangga.


Acara TV? Masa bodoh, orang-orang itu masih sibuk mencocol mangga muda. Mulut Dora bahkan tidak berhenti mengunyah, memakai celana pendek dan kemeja kebesaran milik suaminya.


"Dora bagaimana rasanya menjadi nyonya villa?" tanya salah seorang pelayan.


"Aku lebih suka berjualan keliling," ucapnya sembari mengunyah.


"Ayolah kamu nyonya kami sekarang," Sang pelayan terlihat antusias.


"Menjadi nyonya rumah? Aku selalu ketakutan, ketakutan jika suatu hari nanti Anggeline kembali dan Yoka meninggalkanku," Dora menghela napas berkali-kali.


Beberapa pelayan saling melirik, hanya dapat menghela napas mereka. Tapi salah satu dari mereka mencoba mencairkan suasana mengingat suasana yang tidak kondusif.


"Apa yang tidak kamu suka dari tuan muda?" tanya salah seorang pelayan lagi.


"Dia lembek! Tidak romantis! Tidak humoris! Si br*ngesek yang malah tidur dengan wanita lain di malam pernikahan! Aku bisa menebak dia sedang tidur dengan dua wanita sekaligus untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saat ini," Dora bersungut-sungut, mengingat kemampuan ranjang Yoka yang tidak membiarkannya beristirahat.


Semua pelayan yang berada di hadapan Dora tiba-tiba tertunduk, entah kenapa. Firasat buruk menghampirinya kini. Dan benar saja.


"Lembek?" Yoka mengenyitkan keningnya.


"Hamba memberi hormat Yang Mulia Suami?" ucap Dora sedikit menunduk memberi hormat ala film kerajaan jaman dulu.


"Mampus!" batin Dora ketakutan.


"Tidur dengan dua wanita?" Yoka tertawa kecil terlihat kesal, menarik tangan Dora tiba-tiba, agar mengikutinya menuju kamar mereka.


"Yoka aku bercanda..." pinta Dora memelas. Namun Yoka hanya terdiam.


Hingga pintu kamar mereka terlihat. Kamar terbesar di villa itu. Pemuda yang menghela napasnya berkali-kali bingung bagaimana harus menghukum istrinya lagi.


"Kamu tidak menonton TV?" tanyanya pada Dora, dijawab dengan gelengan kepala oleh wanita itu.


"Tidak tau hal yang aku katakan di depan umum?" Pemuda itu kembali bertanya, sedangkan Dora kembali menggeleng.


Hingga Yoka beralih ke pertanyaan yang lebih sensitif.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya kembali.


Dora menelan ludahnya sendiri, menggeser tubuhnya dari jarak yang terlalu dekat dengan Yoka. Hingga mundur beberapa langkah, namun pemuda itu maju setiap langkah Dora mundur.


Brak!


Dirinya terpojokkan pada rak yang dipenuhi dengan buku. Jantungnya berdegup cepat saat ini. Entah bagaimana harus menjawab pemuda di hadapannya.


"Aku mencintaimu, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?" bisiknya di dekat area leher Dora.