
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah aku bisa up lagi. Gimana keadaan kalian semua?? Semoga sehat selalu yaa.
.
.
Semoga kalian suka.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Zara rajin banget yah baca novel?" Tanya Raluna pasalnya banyak sekali buku yang Zara ambil, tadi baru saja 6 buku sekarang sudah berganda 2 kali lipat. Raluna melihatnya seperti papan tulis saat pelajaran matematika saja. Beberapa detik berpaling sudah banyak saja.
"Bukan rajin banget, tapi setiap saat aku rajin banget banget banget baca novel."
"Kalo baca buku pelajaran?" Tanya Raluna.
"Jarang jarang jarang banget baca.." Jawab Zara diakhiri tawa kecil.
"Diseimbangin Zara."
"Kalau aku baca novel happy, kalau aku baca buku pelajaran otak sama mata gak bisa kerja sama, mata aku udah jalanin tugasnya melihat terus otak aku gak ngerti."
"Bisa aja jawabnya."
"Udah, Ayuk aku antar kamu beli atom." Zara hendak menarik Zara.
"Atom?" Beo Raluna.
"Buku kimia, fisika dan bahasa Jawa untuk kita berdua."
"Raluna gak mau beli buku Zara."
"Tidak, kamu harus mau. Kalau Raluna ikut itu artinya Raluna harus mau di belikan buku."
"Tapi tadikan tidak ada perjanjian seperti itu, Raluna hanya ikut Zara saja."
"Ish biasa, Ayuk ah Zara bantu." Zara menarik tangan Raluna mencari bagian ilmu pengetahuan. Nahh banyak sekali buku bukunya, jika saja semua buku di bagian ilmu pengetahuan ini novel, pasti Zara akan bacanya satu persatu. Berhubung ini buku buat pelajarannnn masih mikir dulu deh.
"Ambil Raluna." Suruh Zara, Raluna tidak enak sendiri tapi bagaimanapun ia menolak Zara pasti akan ngotot.
Raluna mengambil buku, dalam satu rak besar ada dua baris buku, pembatas diantara dua baris buku itu adalah kaca transparan jadi bisa lihat lorong sebelah jika mengambil buku di sisi sebelahnya.
"Hello prenn!!" Suara cempreng milik seorang laki laki membuat semua atensi pembeli di toko buku itu melihat kearah pintu masuk.
"Anjir!, Goblok Lo!, Ini bukan hutan kali." Bryan langsung menoyor kepala Ryan, membuat sang empu langsung meringis kesakitan.
"Hobi banget kayaknya Lo teriak, mau gue pindahin ke hutan?" Tawar Brendan.
"Thanks, gue masih suka tidur dikasur empuk. Dari pada dipadang rumput." Ryan menepuk bahu Brendan.
"Gak bisa apa tu mulut gak bicara sehari aja." Kata Bryan.
Ryan menggeleng tak setuju. "No!, Gak bisa karena gunanya mulut buat bicara."
"Yaudah serah Lo aja." Kelima cowok itu memasuki toko buku, mereka datang kesini dengan tujuan membeli buku nyanyi telah tepatnya untuk seni budaya.
"Ada apa sih ribut amat kayak pasar ayam." Zara berjinjit dengan tujuan bisa melihat apa yang ribut tadi, setelah melihat oh mayy goodddd.
No no no ini berjanda??. Sweet Deanno nya kesini?? Zara mencubit sedikit pipinya.
"Zara kenapa?" Tanya Raluna.
"Hufftttt kak Deanno ada disini." Jawab Zara girang.
"Owhh, gausah diliatin terus dosa." Peringat Raluna.
"Iya Raluna sayang, dikit doang kok."
"Banyak dikit tetep gaboleh, soalnya dia bukan mahram kita."
"Hehehehe iya lupa." Raluna dibuat geleng kepala oleh sahabat yang satu ini. Eh salah bukan yang tapi sahabat satu ini aja, soalnya sahabat Raluna kan cuma Zara.
Mereka berdua berjalan kekasir dan hendak membayar sebelum ketiga playboy Scorpion menghentikan mereka.
"Adek zara lagi ngapain?" Tanya Bryan.
"Lagi mandiin gajah, yah beli buku lah kak." Apa Bryan tidak lihat satu keranjang penuh seperti ini masih ditanya ngapain. Aneh emang ni anak.
"Oh kirain beli kata cinta kakak yang telah hilang." Goda Bryan.
"Krik krik, krik krik. Garing Lo! Kalo goblok gombal diem aja." Maki Brendan.
"Kak Brendan beliin buku gombal buat kak Bryan, udah jadi buaya tapi gak bisa gombal." Semua pun menertawakan Bryan, biasanya Ryan lah yang selalu jadi samsak ejekan sekarang gantian brehhh!.
Zara dan Raluna kemudian pergi meninggalkan kelima cowok itu untuk membayar buku buku yang ia beli, "Adek beli buat hadiah?" Tanya Mbak mbak kasir itu.
"Buat baca, kanapa?" Jawab Zara.
"Enggak papa, cuma saya kaget aja banyak banget soalnya." Kasir itu kaget mendapati jawaban Zara, pasalnya buku novel yang Zara beli lebih dari 20 judul kata Zara sih buat stok baca, yah sultan mah bebas.
Banyak judul buku novel yang Zara beli diantaranya, santri pilihan bunda, Samuel, Gibran dirgantara, argantara, dan masih banyak lainnya.
"Totalnya dua juta tiga ratus delapan puluh empat lima ratus." Perkataan mbak mbak kasir itu sukses membuat Raluna melotot kan matanya, 2 juta? Oh sudahlah uang segitu tidak banyak untuk Zara yang seorang anak pengusaha kaya raya.
"Sini bukunya Raluna." Raluna pun memberikan 3 buah buku yang ia pegang. Jika kalian kira itu adalah buku kimia oh tidak kalian salah besar, Raluna berpaling dari buku kimia yang Zara minta memilih membeli buku motivasi dan tamparan keras dalam Islam. Dan dua buku sisanya adalah buku tentang pelajaran bahasa Jawa, milik Zara dan Raluna.
"Ini mbak." Zara memberikan kedua buku tebal itu.
"Totalnya tiga ratus empat puluh lima dek." Kata kasir itu. Raluna melongo, astaghfirullah kenapa buku yang ia ambil sangat mahal. Ia tak enak sendiri dengan Zara.
"Semuanya jadi berapa mbak?" Tanya Zara.
"Total semuanya dua juta Tujuh ratus dua puluh sembilan lima ratus." Jawab kasir itu. Zara mengambil dompet domba dari tasnya dan mengambil ATM miliknya.
Zara memberikan kartu ATM warna biru itu
"Maaf dek kartunya tidak bisa." Kata kasir itu memberikan kembali ATM biru milik Zara.
"Kalau ini mbak." Zara kembali memberikan ATM miliknya.
"Kalau yang ini tidak ada saldonya dek." 'ish gaya gaya an pake belanja banyak buku segala, kalo kere gausah begaya lah.' cibir kasir itu dalam hati.
Zara mendengus sebal dan mengeluarkan ATM nya lagi. "Maaf dek yang ini juga tidak bisa, ada uang cash?" Kata gadis itu.
"Lama lama gue buang ni ATM." Geram Zara, satu satunya harapan yang ada di dompet nya, ya 3 Blac card nya pemberian papah, mamah dan kakeknya.
'alah kere belagu ni anak.' cibir kasir itu lagi dalam hati.
Kesal Zara memberikan 3 black card itu kepada mbak kasir, berharap dari salah satunya bisa digunakan untuk membayar jika tidak bisa juga, alamat dibuang ke got.
"Nih!, coba semua. Awas mbak bilang gak bisa lagi." Zara meletakkan ketiga kartu itu dengan kesal di meja kasir.
Kasir itu melongo 'anjay! black card, ni anak sultan ternyata.' batin kasir itu.
"Kenapa mbak? Macet atau pengen digencet? Kesel gue ni ATM gaada gunanya." Zara kesal, dia tidak tau jika isi black card yang ia miliki tidak main main, bahkan jika dibandingkan isi semua ATM nya jauh berkali kali lipat isinya.
Saat ia diberi black card itu oleh papah, mamah dan kakeknya mereka menyuruh untuk menggunakannya dalam keadaan yang penting. Dan parahnya Zara percaya kalau diantara ketiga black card nya itu hanya berisi sedikit oleh karena itu Zara harus menghemat nya. Tapi nyatanya jika black card nya Zara gunakan untuk membeli seisi toko buku ini sangat bisa bukan hanya belanjaannya kali ini.
"I-ni dek." Kasir itu memberikan kembali 3 black card milik Zara. Raluna yang juga tak tau menahu tantang Black ia hanya diam.
'the real anak orang kaya.' ucap kasir itu dalam hati.
"Tunggu Raluna kayaknya ada yang kurang." Zara mengetuk ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya berusaha mengingat apa yang kurang dari tas nya.
Di tempat bagian novel Deanno tengah berkeliling melihat lihat, tak sengaja sorot matanya menangkap pulpen yang terletak di atas rak buku, lucu pulpen dengan tutup berbentuk domba putih.
Deanno tersenyum, "punya siapa nih?". Deanno mengambilnya kemudian melihat detail pelpen itu, ada nama yang tercetak Exellyn Zara W.
"Ayam!, Pulpen domba akuuu!" Panik Zara.
"Astaghfirullah Zara. Ngagetin Raluna tau."
"Maaff lah, tadi kan aku masuk kesini masih aku pegang itu pulpen sekarang kemana?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
"Coba deh Zara inget inget, tadi Zara naruhnya dimana, Zara lepasin pulpennya dimana karena apa Zara naruhnya." Kata Raluna.
"Ahhh aku inget di rak novel, waktu tadi aku nunjukin judul buku yang aku cari tadi itu."
"Ahh, iya Raluna inget. Yaudah ayo cari." Keduanya kembali lagi ke rak bagian novel.
"Kak Deanno, itu pulpen aku." Zara menunjuk pulpen yang Deanno pegang, sontak Deanno yang tengah senyum senyum sendiri melihat kearah depan.
"ini punya Lo?" Tanya Deanno.
"M-maksudnya, itu punya adek aku." Koreksi Zara, bahaya jika ia mengaku. Bisa bisa ia ditertawakan karena pulpennya yang memang mirip seperti pulpen anak kecil, yah memang Zara tidak menggunakannya saat disekolah namun ia akan selalu memegangnya.
"Nih, lainkali hati hati, jangan ditinggal sembarangan." Tangan Deanno beralih memberikan pulpen itu kepada Zara.
"Makasih kak." Setelah mengucapkan terimakasih, Raluna menarik tangan Zara dan mereka pun keluar dari toko buku itu, meninggalkan Deanno yang kini senyum senyum sendiri.
"Ekhemm, kutubnya udah cair nih kayaknya." Ledek Brendan dari belakang Deanno, seketika Deanno berbalik sejak kapan ketiga manusia ini berada dibelakangnya. Sebenarnya mereka ada sejak Deanno menemukan pulpen itu, mereka mati matian menahan tawa melihat Deanno yang senyum senyum sendiri.
"Duh pak Deanno sekarang sensian ya, kayak masker." Kata Bryan.
Ryan menoleh dan menepuk pundak Bryan."Garing Lo!"
"Suka suka gue lah." Bela Bryan.
"Udah lah anak babi, mending kita susul Edgar sama Deanno." Ajak Brendan.
"A-" Ryan menghentikan ucapannya, dan berpikir jika ia menjawab berarti ia anak babi.
"Kenapa kok diem gak mau?" Tanya Brendan.
"Bacot Lo!, Ngomong yang bener. Udah ah ayok males gue Ado bacot Mulu Ama Lo berdua." Bryan berjalan terlebih dahulu, kemudian Brendan dan Ryan mengikutinya dari belakang.
"Udah dapet bukunya?" Tanya Deanno, Edgar menoleh dan hanya menggeleng.
"Pak ketu, udah belum kayak cewek belanja baju aja. Lama." Yah siapa lagi kalau bukan Ryan si pemberani dan juga goblok yang mengatakan hal ini kepada Edgar.
Sontak Edgar menoleh dan melemparkan tatapan horor kepada Ryan, Ryan menyengir.
"Untung pak ketu bodo amat, kalo sampe pak ketu sensian udah dilempar ke gorong gorong Lo yan." Bisik Bryan, menyenggol lengan Ryan.
"Lo si goblok." Brendan juga menyenggol lengan Ryan.
"Apaansi. Lo berdua suka amat ngatain gue." Bela Ryan, masih dengan topik berbisik bisik.
"Karena hidup Lo patut untuk dikatain, udah oon, lemot, lemper, goblok-"
"Ngomong lagi gue Staples mulut Lo." Ucapan Bryan terhenti saat Edgar bersuara.
Setelah memilih buku Edgar pergi menuju kasir disusul Deanno, Ryan, Bryan dan Brendan.
"Totalnya tiga puluh lima ribu mas." Kata kasir itu. Tanpa berbanyak kata kata Edgar mengambil ATM dari dompet hitam berlogo kalajengking, yah lambang geng Scorpion.
"Ini." Ucap kasir itu ramah memberikan pesanan Edgar, mata keranjang ni mbak mbak kasir.
"Lo sih, pasti pak bos marah." Brendan menyenggol tangan Bryan.
"Lah kok gue, biang kerok pertama kan si Ryan." Bela Bryan.
"Lah kok gue?"
"Diem, kalau gak mau di lempar dari Scorpion." Ancam Deanno, mereka bertiga kicep.
Kelima cowok yang diketahui sebagai inti Scorpion itu berjalan menuju mobil sport hitam milik Edgar, Deanno, dan brendan, ketiganya sama sama berwarna hitam. Tentang Bryan dan Ryan mereka nebeng, karena malas menyetir mobil mereka.
Sebelum kelima cowok itu masuk dalam mobil Edgar memberitahu sesuatu kepada mereka berempat.
"Kerumah gue nanti malam." Perintah Edgar.
"Aaaaa syiappp pak ketu." Jawab mereka semua kecuali Deanno hanya mengangguk saja.
Ketiga mobil sport mewah itu keluar dari halaman parkir toko buku yang seperti mall itu.
Kini beralih kepada Raluna dan Zara, Zara menyetir mobil sport hitam miliknya.
"Zara, Raluna mau tanya."
"Tanya aja."
"Ada berapa koleksi novel Zara?" Mendapat pertanyaan seperti itu Zara tersenyum.
"Kalo gasalah kurang lebih 200 lebih."
"Itu udah Zara baca semua?"
"Iya dong, aku gitu loh. Kalo cuma baca novel beh."
"Sekarang nambah mungkin udah 250 an."
"Kalau mau liat ikut aku kerumah."
"Enggak, Zara Raluna pulang aja takut dicariin umi."
"Tenang aja, sopir aku udah nganterin sepeda kamu karumah kamu dan aku udah minta izin bawa kamu kerumah dan umi kamu ngizinin." Jelas Zara. Raluna diam sejenak.
"Tenang Raluna gaada orang jahat dirumah. Semua pembantu wanita semua."
"Iyadeh. Tapi jangan lama lama ya, nanti pulangnya kemaleman dan Zara nganter Raluna jadi kemaleman."
"Ya nginep lah dirumah kamu, nanti aku bawa beberapa novel yang aku beli dibelakang kita baca bareng dirumah kamu."
"Tapi izin dulu sama papah kamu." Kata Raluna.
"Iya iya, Zara janji izin dulu sama papah." Selang beberapa menit mereka berdua sampai, dirumah yang sangat besar bak istana, pagarnya pun sangat besar ketika mobil Zara sampai langsung ada dua satpam yang membukanya.
"Makasi pak Budi!" Zara melambaikan tangannya kepada ke 8 satpam yang berada disana.
"Sama sama non." Jawab semua satpam itu.
Mereka berdua turun dari mobil Zara, Raluna tercengang. Pasalnya di parkiran rumah Zara terdapat banyak mobil mewah bisa dihitung ada 8 biji.
Raluna kagum karena ini adalah kali pertama ia kerumah Zara, walau Zara sering mengajaknya Raluna menolak karena takut kehadirannya akan membuat Zara dimarahi, karena membawa orang yang tak sebanding dengan Zara.
Zara menempelkan sisik jarinya ke alat scan yang ada di pintu utama, tinggi pintunya saja bisa Raluna hitung kira kira 3 meter wawww.
"Ayo masuk." Zara menarik tangan Raluna tapi Raluna masih diam ditempat. Zara menolehkan kepalanya kebelakang.
"Beneran Raluna gak papa masuk?, Gaada yang marah?" Tanya Raluna memastikan.
"Astaghfirullah Raluna, Zara sudah jamin 100 persen. Udah ayo." Zara kembali Manarik tangan Raluna.
"Assalamualaikum." Salam Zara menggema seantero rumah. Sama samar Raluna juga mengucapkan salam.
Beberapa saat kemudian jawaban salam dari Zara meramaikan suasana di rumah ini, yang tadinya sunyi. Zara menaik naikkan kedua alisnya.
Raluna tersenyum. "Dari kapan Zara latihnya?" Tanya Raluna.
"Emm kalau gasalah semenjak hp aku jatuh terus mati itu. Awalnya aku salam kecil doang, terus aku mikir kalau aku salamnya dikerasin terus semua pembantu disini jawab seru kali yah." Jelas Zara.
"Bagus." Jawab Raluna.
Zara menarik tangan Raluna menuju dapur menemui salah satu pembantu. "Buk Jum, buatin makanan sama minuman yah, nanti Zara minta tolong antarkan ke ruangan kesukaan Zara. Oke."
"Oke siap non." Keduanya berbicara sangat akrab. Kembali lagi Zara menarik tangan Raluna menuju tangga yang sangat indah itu dilapisi karpet berwarna putih abu abu dan hitam, menghiasi tangga itu agar menjadi lebih indah.
Menurut Raluna sendiri ini rumah sangat mengah nan mewah dengan nuansa Eropa.
Mereka berdua sampai di pintu suatu ruangan, pintu tersebut bermotif domba putih yang lucu. Zara menempelkan sidik jarinya ke scan alat tangan da di pintu itu. Zara membuka pintu dan menampilkan isi ruangan itu seperti perpustakaan yang sangat besar dan rapih.
"Masyaallah." Raluna kagum, melihat pemandangan didepannya, ruangan yang sangat luas dengan sofa, telefisi, culler dan lainnya ini sangatlah mewah. Jika membaca buku disini sudah pasti sangat betah, makanan yang ada di lemari culler mulai dari makanan ringan hingga kue.
Mereka masuk dan Raluna melihat sekeliling, lucu sekali dinding ruangan ini bermotifkan domba putih lucu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah udah sampai di penghujung bab aja, Zara penyuka shawn De sheep luar biasa bukan, si penyuka tawuran balap dan lainnya ternyata suka shawn De sheep.
Kalau Raluna suka apa hayoo???
.
.
Yeyy ada yang sama kayak Zara?, Yang suka baca novel tapi malas baca buku ??
Mulai sekarang jangan lagi ya, karena baca buku pelajaran lebih utama. abis itu baca novel buat nyegerin otak dan buat kita santai. jadi diseimbangin.
.
.
Ada gak yang dulunya gak suka baca tulisan doang, terus sekarang suka baca karena NT sama novel??. Kalo aku si iya wkwkkwkwk!(≧▽≦)
.
.
Oke tunggu Nana di bab selanjutnya ya, oh iya di bab ini kalian gak ketemu sama pak Abram yah?? Huuu kesian.
.
.
Semoga kalian selalu sehat yah, pantengin terus notifikasi di hp kalian. Babay jangan lupa selalu happy ya.
.
.
See you, next bab! Babayyy!. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏.
.
.
.
6 Maret 2021