Silent

Silent
Perasaan



Cantik? Memang benar, karena itulah dirinya menjadi selebriti papan atas. Wajah yang tersenyum menatap ke arah kamera. Sedikit menonggakkan kepalanya, bibir merah merekah yang terkesan sensual. Berpose di atas mobil sport.


Namun, itu saja tidak cukup. Dirinya juga memerlukan uang untuk perawatan dan membeli berbagai barang mewah untuk menunjang kariernya kan?


Seorang pria berlari, memberikan sebotol air mineral padanya. Wanita yang mulai duduk di kursi yang diperuntukkan untuk model.


Wajah tuan muda pemilik villa yang menolaknya terang-terangan terus terbayang. Pemuda menarik seorang gadis yang tidak lebih cantik darinya.


"Sialan!" teriak Amanda murka, melempar botol airnya. Namun, wajah pemuda itu kembali terlintas di memorinya. Begitu memanjakan Dora, bahkan tadi pagi menciumnya penuh napsu.


Pandangan Amanda terarah pada satu titik, fikirannya kosong. Entah kenapa dirinya berimajinasi berada di posisi Dora. Dilindungi oleh pemuda rupawan yang posesif. Tinggal di villa yang begitu luas, bayangan lebih intens lagi melintas. Pemuda yang tidak bicara, namun memiliki tatapan tajam. Jika saja dirinya yang ada di posisi Dora.


Ditarik ke atas pangkuannya, berciuman dengan agresif. Dimanjakan oleh pemuda sepertinya, mendapatkan perlakuan seperti yang Dora dapatkan.


"Amanda!"


"Amanda!"


"Amanda!" teriakan dari managernya, berusaha membangunkannya dari lamunan.


"Ada apa?!" bentak Amanda merasa imajinasinya di ganggu.


"Setelah ini, waktu bebas. Kamu bisa pergi kemana saja," ucap sang manager menghela napas kasar.


Sejenak Amanda terdiam, melirik ke arah managernya. Tidak memakai hati? Itulah yang selalu dilakukannya setiap berkencan. Karena mereka hanya menginginkan tubuhnya saja, merayunya mati-matian dengan tumpukan uang, agar dapat menikmati satu malam saja bersamanya.


Tapi pemuda ini berbeda, membuatnya kesal, ketakutan, tidak dapat ditaklukkan dengan mudah. Selain itu, dirinya juga membenci wanita yang selalu bersama Yoka. Tidak pernah seperti ini, biasanya jika pria yang usai berkencan dengannya, berkencan dengan wanita lain, dirinya tidak akan uring-uringan seperti ini.


Apa ini? Apa perasaan tidak mau kalah? Mungkin itu yang ada di benaknya. Hingga memberanikan diri bertanya.


"Aku mempunyai seorang teman, yang cukup cantik dan populer. Belakangan ini ada seorang pria yang menolaknya, pria itu sudah memiliki pacar. Sebenarnya pria itu dibawah standar tapi membuat temanku terus menerus mengingat wajahnya. Dia pasti benar-benar membenci pria itu kan?" tanyanya penasaran, menelan ludahnya sendiri.


"Tergantung, bagaimana cara dia mengingatnya," ucap sang manager menghela napas kasar.


"Dia mengingat, selalu membayangkan bagaimana dirinya diancam untuk pergi dan ditolak. Dia juga mengingat bagaimana pria itu berciuman dengan pacarnya. Rasanya benar-benar kesal setengah mati!" tegas Amanda, tidak dapat mengendalikan emosinya.


"Ini cerita tentang temanmu, atau cerita tentangmu?" tanya sang manager menaikan sebelah alisnya menatap pada Amanda, yang terlihat emosional sebelumnya.


"Tentang temanku, iya... tentang temanku," jawaban dusta dari selebriti itu, penuh senyuman.


"Mungkin hanya perasaan tertantang karena sulit menaklukkannya. Sesuatu yang terjadi ketika menemukan hal menarik. Bagaimana menjelaskannya ya..." Sang manager terdiam sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya.


"Begini, semisal kamu yang bodoh, ber-IQ rendah, mendadak pintar matematika. Selalu berhasil memecahkan soal, tapi ketika kamu menemukan soal yang sulit, kamu akan tertarik memecahkan soal itu," jelas sang manager.


"Oh... begitu..." ucap Amanda terdiam sejenak, penuh senyuman lega. Ini benar-benar perasaan tertarik hanya karena menemukan tantangan baru.


Plak!


Wanita itu tiba-tiba memukul kepala managernya.


"Aku hanya bercanda! Tapi hasil yang berbeda, jika temanmu mulai berimajinasi berada di posisi pacar pria itu. Ingin diperlakukan sepertinya, membayangkan dicintai dan disayangi pria itu. Itu artinya temanmu jatuh cinta padanya." Kata-kata yang keluar dari mulut sang manager membuat Amanda diam tertegun.


Dirinya menyukai si bisu, tidak mungkin kan? Masih banyak pria muda yang sempurna, menanti dirinya, mengorbankan apapun untuk mendapatkan cintanya. Sedangkan Yoka? Dia hanya alat untuk mendapatkan kekayaan.


Amanda tertawa sendiri, entah apa yang ditertawakannya. Namun, sejenak tawanya kembali menghilang.


"Aku sangat populer! Aku tidak menyukainya sama sekali! Hanya ingin uang dan warisannya!" teriak Amanda meyakinkan dirinya sendiri. Hanya akan menikah untuk menjadi istri sang tuan muda, kemudian menjadi janda muda kaya setelah kematian suaminya.


Jemari tangannya mengepal, dirinya harus melakukannya malam ini. Tidur dengan Yoka, kemudian menikah dengannya. Merebut kepercayaannya, terakhir membunuhnya perlahan.


Namun dirinya kembali menghela napas membayangkan wajah rupawan tersebut. Tidak tega rasanya, untuk membunuhnya.


"Tidak Amanda! Jangan menyukai si bisu! Dia hanya pria lembek!" teriaknya menjambak rambutnya sendiri.


*


Hari mulai sore, wanita itu kembali ke villa. Cairan botol obat-obatan dengan dosis tinggi sudah ada di tangannya. Dirinya hanya perlu menikmati segalanya malam ini. Itulah keyakinannya, Yoka hanya sebuah barang sebuah mesin penghasil uang.


Tinggal menjeratnya, kemudian mendapatkan warisannya. Semua pria sama saja, menikmati penuh napsu, hanya seonggok daging yang pada akhirnya berlutut di bawah kakinya. Mengemis cinta dan napsu pada tubuhnya.


Hingga dirinya sampai di ruang latihan. Pemuda itu terlihat tersenyum. Berlatih tanding dengan seorang pria paruh baya yang membawa pedang, sedangkan Yoka membawa dua kipas berukuran cukup besar.


Gerakan yang cepat dari sang pemuda yang memakai pakaian berwarna biru laut. Menepis serangan pedang, peluh terlihat menetes membasahi rambutnya. Wajahnya yang putih kontras dengan rambut hitamnya.


Hanya terdiam mengagumi keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya. Benar-benar menginginkan berada di posisi Dora. Tapi tidak perlu berada di posisi Dora. Karena setelah sekali tidur dengannya Yoka akan kecanduan pada tubuhnya.


Sang pemuda berjalan mendekatinya, tersenyum padanya.


"A...aku..." ucapnya tiba-tiba. Tapi benar-benar disayangkan Yoka melewatinya. Mendekat ke arah Samy yang berada tepat di belakang Amanda.


"Tuan, beberapa stok minuman impor di restauran sudah habis. Kita memiliki masalah dengan supplier bagaimana jika kita, mencari supplier lain," kata-kata dari Samy berjalan pergi dengan Yoka. Mata Samy sedikit melirik botol kecil dalam genggaman Amanda.


Pemuda yang tersenyum, menuntun Yoka ke perpustakaan, guna menyetujui beberapa berkas yang dibawanya.


Amanda mengenyitkan keningnya kesal, sejenak dirinya hampir luluh. Tapi tidak, semua pria akan sama takluk di bawah kakinya.


*


Malam semakin larut, Dora yang mengikuti kuliah sore belum juga pulang, mengingat hujan yang turun dengan deras.


Yoka melepaskan kacamata bacanya, bau tanah tercium, bagaikan kerinduan tanah pada air hujan telah terobati. Tidak satupun pelayan terlihat, entah kenapa. Sedangkan Arsen yang menjemput Dora belum juga pulang.


Cangkir teh kosong terlihat di sana. Perasaan aneh yang benar-benar tidak nyaman baginya, entah kenapa.


"Yoka, kamu tidak apa-apa?" tanya Amanda padanya, diiringi suara petir dalam pencahayaan ruangan yang redup.