Silent

Silent
Kesal



Perlahan Malik dan Salsa berjalan menuruni tangga. Mulai duduk, kini semua orang sudah berkumpul termasuk Martin. Tidak banyak pembicaraan, menyantap hidangan pembuka, kemudian soup mulai dihidangkan pelayan.


Mata Anggeline sesekali melirik ke arah Yoka. Tidak mengerti dengan pemuda yang terlihat sama sekali tidak marah.


"Yoka, kapan kalian akan berpisah? Sebaiknya gunakan Martin sebagai pengacaramu. Atau kamu ingin pengacara lain?" tanya Salsa pada akhirnya, masih duduk memakan soupnya.


"Bercerai? Kenapa harus? Bibi sendiri setiap hari tidur dengan pria lain, ayah tidak menceraikan bibi. Kenapa aku harus menceraikan istriku?" tanya Yoka terlihat tenang.


"Tapi aku tidak pernah hamil anak dari pria lain!" tegas Salsa memendam emosinya.


"Tidak hamil, tapi membawa Malik sebagai anak sambung. Apa bedanya..." Yoka tertawa kecil, sedangkan Dora hanya menunduk.


"Sialan! Kapan dia akan menjelaskan semuanya!" batin Dora menahan rasa geramnya, berusaha keras tersenyum ramah. Memendam rasa kesal.


"Tapi kamu anak tunggal Narendra! Satu-satunya keponakanku! Cucu kandung tunggal Reksa! Jika masih dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya ini maka..." Kata-kata Salsa disela.


"Maka apa? Bibi tahu aku anak tunggal dari ayah dan ibuku, tapi masih menentang keputusanku? Kedudukan ku di rumah ini setara dengan ayah. Tapi hanya karena dulu aku bisu, aku sisihkan," Yoka meletakkan sendok soupnya, berusaha untuk menekan emosinya.


"Begini, selama ini aku hanya diam karena tidak ingin terlibat masalah. Merasa lebih menyenangkan tinggal sendiri di villa. Tapi sekarang tidak lagi, ketika kalian menghina dan mulai menjadikan istriku sebagai sasaran. Saat itu juga kesabaranku akan habis. Aku bukan orang yang naif seperti ibuku, aku juga tidak seperti ayahku yang mempunyai prinsip. Karena itu babat, bantai, hanya itu yang ada di otakku. Sayangnya norma agama dan hukum tidak mengijinkan..." ucap Yoka, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, penuh senyuman.


Pemuda yang bagaikan ingin menghabisinya, itulah yang terlihat. Bagaimana cara mengalahkan pemuda ini? Mungkin itu yang ada di benak Salsa. Semakin lama waktu berjalan, pemuda rapuh yang kesulitan bicara. Kini memiliki aura membunuh yang kuat, terdiam dalam senyumannya, menyeka bibir istrinya.


"Tapi dia berselingkuh! Kamu bersedia membesarkan anak orang lain?!" teriak Anggeline murka. Tidak dapat lagi bersabar.


"Lalu apa kamu lebih baik darinya? Aku mendengar semuanya. Saat setiap malam Malik membuat alasan untuk menginap di villa." Yoka mulai tertawa, hanya tertawa miris.


"Kalian bahkan melakukannya di dapur villa, tengah malam. Apa kamu merasa lebih baik dari istriku?" tanyanya, meraih jemari tangan Dora kemudian mencium punggung tangannya.


"A...aku, tapi itu masa lalu! Istrimu berselingkuh dan dihamili pria lain. Yoka! Sadarlah!" ucap sang wanita baik hati, memperingati mantan kekasihnya.


Yoka hanya tersenyum, kembali mengangkat sendoknya, memakan tomato soup di hadapannya. Ingin mengetahui perkembangan sifat istrinya, apakah akan sama mudah ditindas seperti dulu?


"Dasar anak yang lahir nanti adalah anak hasil perselingkuhan. Pastinya..." cibiran Salsa disela.


Tiba-tiba saja Dora bangkit. Benar-benar menyebalkan baginya, suaminya tidak memberikan penjelasan apapun. Membuat dirinya disudutkan, dan anak kembarnya akan dihina.


Benar-benar suami yang patut diceraikan. Karena itu sebagai ibu pinguin yang baik. Pinguin ini mempunyai naluri melindungi anaknya. Mengeluarkan basoka besar yang selama ini disimpannya.


"Bibi, aku mempunyai sekitar 22 fotomu yang sedang berhubungan dengan beberapa pria berbeda. Anggeline, bukti plagiarisme beberapa lagu milikmu ada padaku. Jadi sebaiknya tutup mulut kalian." Tegas Dora penuh senyuman.


"Bagus! Kamu sudah mulai pintar," batin Yoka tertunduk dalam senyumannya.


"Kamu! Aku akan!" kata-kata Salsa kembali disela.


"Ingin membunuhku? Jika aku mati ada lima orang lainnya yang menyimpan bukti-bukti dan foto. Tepat saat hari kematianku, mereka akan mengunggah semuanya di media sosial. Jadi tutup mulut kalian," tegasnya untuk pertama kali, seseorang yang biasanya berlindung di balik punggung Narendra.


Narendra menipiskan bibir menahan tawanya. Benar-benar berusaha untuk tidak tertawa. Hingga, kata-kata yang benar-benar buruk didengarnya.


"Kamu sudah berselingkuh berani-beraninya. Yoka kamu lihat sendiri kan? Dia bukan orang yang baik, tidak pantas untukmu. Aku ..." Anggeline yang berada di samping Yoka memegang tangannya. Walaupun, dengan cepat Yoka menepisnya.


"Iya! Ini anak hasil perselingkuhan! Karena kamu masih saja diam! Lebih baik kalian bersama! Lagipula dari awal aku cuma pengganti!" bentak Dora tiba-tiba, membuat Yoka membulatkan matanya. Kondisi emosional ibu hamil yang benar berubah-ubah.


"A...a...aku," Sungguh kata-kata yang membuat Yoka tergagap, berpisah? Istrinya muak dan ingin bercerai?


Tanpa basa-basi Dora mengenyitkan keningnya. Bukan tipikal wanita yang bersedia berjuang mati-matian di harem? Itulah dirinya, masih banyak pria tidak mendapatkan jodoh. Mengapa harus bersaing mati-matian memperebutkan satu pria?


"Ambil saja..." tegas Dora, membuat Narendra tersedak terbatuk-batuk.


Wanita hamil yang berjalan dengan cepat menggunakan kakinya meninggalkan meja makan. Bukan dirinya yang akan dihina oleh Salsa melainkan anak dalam kandungannya. Tidak ada seorang ibu yang akan tahan bayi mungilnya yang bahkan belum lahir mendapatkan perkataan kasar.


Kali ini Yoka bangkit menepis tangan Anggeline yang menghentikannya. Benar-benar tidak sesuai skenario yang ada di fikirannya. Ingin istrinya lebih dapat menindas orang. Namun, satu hal yang dilupakannya hormon wanita hamil dapat merubah-ubah tingkatan emosionalnya.


Berjalan beberapa langkah, Anggeline merentangkan tangannya berdiri di hadapan Yoka kembali mencegah."Yoka kamu harus sadar! Jangan mau diperdayai olehnya!" pinta Anggeline.


Kesal? Tentu saja, karena wanita ini dirinya terhambat mengejar istrinya.


Brak!


Dengan satu kali gerakan, Anggeline dibantingnya. Kemudian berjalan cepat mengejar Dora.


"Dora! Dora! Sayang!" panggilnya, untuk pertama kalinya melihat istrinya benar-benar merajuk. Tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Dora mulai melajukan motor matic yang dipinjamnya dari pengawal.


"Sayang!" panggil Yoka lagi, putus asa.


Apakah kedua anak kembarnya membencinya hingga mempengaruhi ibu mereka agar menjadi tidak penurut lagi? Entahlah, namun sudah dua kali semenjak dirinya pulang Dora bertindak plin-plan ingin melarikan diri.


Yoka berjalan cepat menuju mobil miliknya, mendorong supir keluar.


Pedal gas diinjaknya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan pengawal membuka pintu gerbang lebar-lebar dengan cepat. Tidak ingin mereka di tabrak.


Berkali-kali pemuda itu menghela napasnya. Matanya menelisik, pada akhirnya menemukan motor matic yang dikendarai istrinya.


Namun benar-benar sayang, author tidak berpihak padanya, terdapat kemacetan panjang, dimana motor yang dikendarai Dora dapat tetap melaju perlahan, sedangkan mobil yang dikendarainya terjebak.


"Sial! Sial! Sial!" umpatnya memukul stir mobil.


Kring!Kring!


Beberapa pengemudi sepeda melintasi jalan. Pemuda yang mengeluarkan uang di dompetnya, benar-benar anak konglomerat yang tidak beretika, meninggalkan mobilnya di jalan raya yang macet.


"Aku beli sepedamu!" ucapnya mengeluarkan tiga lembar uang 100 dollar setelah menghentikan salah seorang pengemudi sepeda.


Angin menerpa rambutnya, mengayuh sepeda dengan cepat. Mencari jalan pintas, memasuki gang untuk memotong jalan utama yang berkelok seperti huruf U. Benar-benar gila, pemukiman padat penduduk, bahkan menuruni tangga.


"Maaf!" ucapnya kala hampir menabrak dua orang yang tengah berbicara di dalam gang.


Melewati pasar tradisional yang cukup luas."Minggir! Minggir! Minggir!" berkali-kali berteriak, hingga berakhir di penghujung gang kecil.


Kriet!


Pemuda yang menghentikan laju sepedanya di jalanan sepi, berusaha mengatur napasnya. Menatap istrinya yang berhasil dihadangnya.


"Kamu tidak akan bisa melarikan diri," ucap pemuda yang masih mengenakan setelan jasnya, tersenyum ke arah Dora.