Silent

Silent
Mulut Sampah



Seperti seekor serangga kecil yang telah terjerat jaring dari sarang laba-laba. Seekor laba-laba yang terdiam, memintal benangnya sembari tersenyum. Menunggu sang kupu-kupu kecil kehabisan tenaga.


Apa yang terjadi setelah kupu-kupu kehabisan tenaga? Tentu saja perlahan tubuh itu akan diselimuti jaring olehnya. Dibiarkan hidup namun tidak memiliki kesempatan untuk hidup. Hanya menjadi mangsanya, menunggu saat yang tepat untuk mati, bahkan memohon kematiannya.


Karena sang laba-laba hanya akan memangsanya saat lapar. Membiarkan sang mangsa hidup agar tubuhnya dapat bertahan lama tanpa membusuk. Seekor kupu-kupu kecil yang menginginkan kematian, tapi tidak juga bisa mati.


Wajah pria itu masih setia tersenyum, menunjukan keindahan jaringannya pada sang serangga kecil."Maaf, mobilnya mogok," ucapnya menghentikan mobilnya di tepi hutan tengah malam.


"Makanya, periksa dulu, sebelum berangkat!" bentak wanita itu padanya, bahkan memukul kepalanya menggunakan sandal jepit kotor.


"Ma...maaf, aku akan memperbaikinya," ucap sang pria yang terlihat benar-benar baik, dan kikuk.


Pria itu membuka kap mobil, kemudian berjalan ke arah bagasi mobil seolah-olah mengambil peralatan. Apakah benar mengambil peralatan? Beberapa benda ada dalam koper yang dibukanya, pisau kecil, tali, bahkan senjata api.


Tapi tidak, kunci Inggris yang diraihnya. Berjalan menuju ke arah depan, tapi tidak untuk memperbaiki mobil. Pintu penumpang bagian depan dibukanya.


Brak!


Kepala Siti dihantamnya menggunakan besi padat. Namun tidak begitu keras, tidak ingin wanita itu mati seketika.


"Kamu?" ucapnya dengan pelipis yang mengalirkan darah segar.


Tapi tidak ada jawaban, wajah pria itu hanya tersenyum. Kembali menghantam sekali lagi, hingga wanita itu tidak sadarkan diri. Tangan lemas dengan darah segar yang mengalir.


"Menyusahkan..." cibirnya, mengelap tangannya yang terkena cipratan darah pada pakaian Siti yang telah tidak sadarkan diri.


Hingga suara panggilan terdengar. Pria itu masih berdiri menyenderkan tubuhnya pada pintu mobil bagian belakang yang masih tertutup. Menatap ke arah rimbunnya hutan di dekat dirinya memarkirkan mobil.


"Yoka?" ucapnya, menghela napas kasar, mengangkat panggilan dari seseorang.


"Aku akan tinggal dengan Dora selama tiga hari," suara Yoka terdengar dari seberang sana.


"Itu bagus, gunakan kesempatan ini untuk membuat anak yang banyak!" Sang pemuda tertawa, entah apa yang ditertawakannya.


"Aku harus mengikutinya ke kampus. Aku tutup dulu!" Yoka segera mengakhiri panggilannya. Sedangkan sang pria masih menatap ke arah wajah Siti.


Rambut beruban dari wanita yang tidak sadarkan diri itu dijambaknya."Untuk selanjutnya, aku akan menyimpanmu. Membuatmu menginginkan lebih baik mati daripada hidup." Hanya itulah kata-kata yang diucapkannya, sebelum kembali menutup kap mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan hutan.


*


Sementara itu, Dora menghela napas kasar, dirinya meninggalkan Yoka kali ini. Berjalan seorang diri menelusuri lorong kampus. Matanya menelisik, tiba-tiba seorang mahasiswa berdiri di hadapannya memberikan seikat bunga.


"Mau jadi pacarku?" tanya seorang mahasiswa yang telah lama mengagumi Dora. Bersamaan dengan tepukan tangan semua mahasiswa lainnya.


"Aku sudah menikah..." Dora menunjukkan cincin di jari manisnya.


Sang pemuda hanya tertunduk kecewa."Kita jadi teman?" tanyanya tidak ingin menjadi canggung di hadapan semua orang.


Dora mengangguk, mengulurkan tangannya bersalaman dengan sang pemuda.


Hingga seseorang tiba-tiba terlihat menariknya ke dalam salah satu bilik toilet wanita. Pergelangan tangannya dipegang erat. Memojokkan sang wanita ke dinding.


"Yoka?" Dora mengenyitkan keningnya.


"Jangan berselingkuh atau meninggalkanku," ucap Yoka posesif.


"Aku fikir, aku akan mati setiap ada pria yang mendekatimu. Bisakah kamu tidak menunjukkan betapa sempurnanya Dora-ku? Agar mereka tidak mendekat?" batinnya menatap lekat ke arah istrinya.


"Aku tidak..." Dora yang hendak menjelaskan dibungkam dengan sebuah ciuman yang terasa dalam. Terasa benar-benar menuntut. Tangan pemuda yang melepaskan kancing kemeja yang dipakainya.


Kenapa harus terus berakhir seperti ini? Tentu saja agar malaikat kecil segera hadir diantara mereka. Bayi mungil yang akan mengikat istrinya untuk tetap tinggal di villa nantinya. Imajinasi yang sama, dirinya tidak serakah tentang harta.


Hanya menginginkan kekuasaan agar tidak ada yang akan mengusik keluarganya. Tidak lama pakaian wanita teronggok sempurna di bilik toilet, begitu juga dengan sweater, kaos, diiringi dengan gasper dan celana panjang pria.


Tubuh yang kembali menyatu bagikan tidak kenal istirahat setelah dua tahun saling merindukan dan mendamba. Peluh keduanya bercucuran, tidak mereka pedulikan, hanya jemari Yoka yang sesekali mengusap keringat istrinya.


Apa yang difikirkannya hingga melakukannya di tempat seperti ini? Hanya tidak ingin istrinya dimiliki oleh orang lain. Hanya itu tidak ada yang lain.


Hingga pada akhirnya tubuh mereka mengerat. Sang pemuda yang mendekap wanita dalam pangkuannya. Merasakan syarafnya yang bagaikan lumpuh akibat aliran darah bagaikan menyebar.


Begitu juga dengan Dora yang berusaha keras menahan suaranya, entah ada berapa bekas gigitannya pada pundak Yoka. Akibat dirinya yang tidak ingin mengeluarkan suara sedikitpun.


"Aku mencintaimu..." Yoka tersenyum padanya, merapikan anak rambut dari wanita yang ada di pangkuannya.


Dora tidak dapat menjawab, ini benar-benar indah untuknya. Pemuda yang dirindukannya, hingga rela berbuat di tempat yang tidak wajar seperti ini.


Siapa yang sangka pemuda ini dulunya kesulitan bicara. Namun kini, kala dapat bicara membuatnya benar-benar takluk untuk mencintainya.


Bukankah dulu juga seperti itu? Pemuda yang bagikan menganggap nyawanya sendiri tidak berarti. Memeluknya dalam dinginnya air sungai. Bahkan membiarkan punggungnya terluka parah hanya untuk dirinya.


Hingga suara dua orang mahasiswi terdengar."Dani ditolak?" gumam seorang mahasiswi.


"Iya, Dora benar-bebar sudah sombong. Mengatakan dirinya sudah menikah. Paling juga menjadi istri simpanan pria tua kaya. Cuma segitu saja, siapa yang akan bangga..." cibir mahasiswi lainnya, mencuci tangannya di washtafel.


"Kamu sudah dengar berita belum? Bahkan pak Tantra digodanya. Jika dia punya anak mungkin anaknya akan campuran. Dilihat dari penampilannya saja dia hanya wanita kaya dengan pergaulan bebasnya." Iri? Itulah salah satu sifat terburuk manusia.


Saat itu terjadi, hanya akan memamerkan kemampuan mereka. Hanya akan mengumpulkan kelemahan orang lain. Bahkan membuat berita bohong.


"Iya, menjijikkan..." ucap mereka bersamaan sepemikiran.


Dora terdiam, memungut pakaiannya yang berceceran dalam bilik toilet yang sempit. Mendengar semua yang dua orang mahasiswi di luar sana katakan.


Berpenampilan kurang pantas? Itu tidak pernah dilakukannya. Semua pakaian yang cukup tertutup, pakaian yang disiapkan Arsen. Jika sedikit terbuka, paling minidress selutut.


Yoka kembali memakai pakaiannya dengan cepat, mengecup pipi Dora kemudian tersenyum.


"Mereka tidak mengenalku, sebaiknya istriku jangan keluar. Tunggu aku disini, biar aku tunjukkan apa yang disebut dengan wanita murahan yang menjijikkan..." bisik Yoka menyeringai bagaikan iblis. Pemuda yang tidak menerima kata-kata kotor menghina istrinya.