Silent

Silent
Hadiah



Gaun berwarna putih masih menghiasi tubuhnya, benar-benar terlihat menawan. Seorang fotografer mengambil gambar mereka, mata pemuda itu menelisik sedikit melihat punggung Narendra yang melangkah pergi.


Hanya tersenyum dalam diam, itulah yang dilakukan Yoka.


"Jangan kaku begitu..." keluh sang fotografer pada pengantin wanita.


Dengan cepat Yoka memojokkan Dora ke dinding, menatap tajam matanya. Bibir sang pemuda mendekat bagaikan hendak menciumnya.


Perubahan ekspresi wajah yang kaku, berubah menjadi bagaikan begitu mencintai pemuda di hadapannya.


"Bagus!" ucap sang fotografer, mengambil gambar, lebih banyak lagi.


Beberapa gambar diambil kembali, Dora bagaikan terkena mantra, kala pemuda itu merangkul pinggangnya. Mendekapnya dalam pelukan, tubuh mereka menempel, sepasang mata yang bertemu.


Kelu? Benar-benar kelu, dirinya hanya terdiam menatap mata tajam yang menenggelamkannya bagaikan menatap lautan jutaan bintang.


Sang fotografer tersenyum, benar-benar ekspresi yang diinginkannya. Kembali mengambil beberapa gambar. Mempelai pria yang rupawan dan serta mempelai wanita yang bagikan takluk pada pemuda di hadapannya. Benar-benar ekspresi yang diinginkannya.


Resepsi? Pernikahan itu tidak menggelar acara resepsi sama sekali. Hanya mengundang beberapa orang secara lisan, dilanjutkan dengan makan bersama setelahnya.


Beberapa gambar telah diambil, kedua mempelai melihat hasil yang terlihat pada laptop sang fotografer.


"Ini aku?" tanya Dora kagum pada dirinya sendiri, yang terlihat seperti model majalah gaun pengantin.


"Simpan foto ini, ini dan ini ke dalam flashdisk yang berbeda."Yoka meraih mouse, menunjuk beberapa foto yang diambil.


"Ok, omong-ngomong salah satu foto kalian boleh aku jadikan contoh di studio fotoku? Akan aku pajang dengan ukuran besar," tanyanya antusias. Benar-benar ekspresi dan hasil jepretan yang sempurna dari sepasang pengantin.


Dora menahan senyumannya, fotonya akan ada di salah satu studio foto, dipajang berukuran besar bagaikan model profesional.


"Kamu mau memanfaatkan istriku sebagai model gratisan?" Yoka mengenyitkan keningnya.


"Maaf..." sang fotografer tertunduk.


"Yoka, boleh ya?" pinta Dora, memegang lengan kemejanya dengan ekspresi wajah memelas.


Yoka mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah, bagaikan tersipu. Benar-benar ekspresi wajah yang manis dari Dora, membuat jantungnya berdegup cepat.


"Terserah kamu saja!" ucap Yoka dengan nada tinggi, berjalan pergi dengan cepat, sebelum dirinya kehilangan kendali untuk menerkam kelinci kecil selucu itu.


"Dia marah?" Dora mengenyitkan keningnya.


"Tidak, dia hanya tidak tahan untuk membuatmu terbaring tidak berdaya di tempat tidur," jawaban Samy tiba-tiba menyela.


Plak!


Entah berapa kali semenjak pertemuan pertama mereka, kepala Samy dipukul olehnya.


"Sakit! Dasar wanita siang jual mahal, malam pasrah!" bentak Samy tidak tahan lagi, benar-benar kata-kata menusuk menancap dalam di hati Dora.


"Aku malam ini tidak akan mau tidur dengan Yoka! Aku bukan wanita murahan!" kata-kata asal yang diucapkan Dora membuat Samy menghela napas kasar.


"Yoka tidak mengatakan apa-apa padamu? Malam ini dia memang tidak akan bersamamu, tapi dengan wanita lain..." ucap Samy tersenyum menyeringai.


"Wa...wa... wanita lain? Apa Anggeline?" Tangan Dora gemetar, dirinya ketakutan, benar-benar ketakutan. Ini adalah malam pertamanya, maaf, bukan malam pertama, setidaknya malam pengantinnya. Dan suaminya malah menemui wanita lain.


"Bukan Anggeline, tapi selebriti lainnya, yang pastinya lebih cantik dari Amanda. Karena itu jangan jual mahal pada Yoka," jawaban dari Samy penuh senyuman berjalan meninggalkan Dora seorang diri.


Dora mulai mengangkat gaun pengantinnya, berlari walaupun menggunakan sepatu hak tinggi. Bahkan melepaskannya, agar mempercepat langkahnya, dirinya tidak akan menerima semua ini. Ditinggalkan di malam pertama untuk bertemu wanita lain? Benar-benar pria br*ngesek.


Dan benar saja, mobil itu terlihat di depan tempat acara pernikahan. Suaminya memasuki mobil lain, mobil yang segera pergi melaju dengan cepat.


"Yoka! Suami kurang ajar! Suami durhaka!" bentaknya dalam tangisan, melempar sepatunya ke arah mobil yang telah hampir menghilang dari pandangan, tangannya tiba-tiba dipegangi Arsen agar tidak berlari mengikuti Yoka.


"Yoka berani berselingkuh di malam pernikahan. Dan dia bahkan menasehatiku agar anaknya benar-benar berkembang?! Dasar pria br*ngesek!" bentak Dora dengan segala umpatannya menjambak rambut Arsen, benar-benar menyerang sang pria paruh baya.


*


Berselingkuh? Apakah itu yang dilakukannya? Selebriti yang lebih cantik dari Amanda memang berada di ruangan yang sama dengannya.


"Jadi kamu sudah menikah?" tanyanya pada Yoka.


"Sudah pagi tadi," jawaban dari Yoka menatap wajahnya di cermin. Dengan pakaian yang telah berganti, menjadi tuxedo berwarna hitam, dengan beberapa aksesoris yang berharga tidak murah.


"Benar-benar pria yang romantis, aku iri pada istrimu," puji sang selebriti.


"Sebaiknya segera mulai, aku ingin pulang lebih awal." Jawaban dari Yoka menghela napas kasar.


"Siap!" Sang selebriti memberi hormat, tertawa penuh senyuman.


*


Di tempat lain, tepatnya outlet makanan yang cukup ramai pengunjung. Seorang wanita mengenakan pakaian tertutup, memakai kacamata hitam, menikmati beef burger di hadapannya.


Kehidupan mewah? Tidak ada lagi semenjak beberapa bulan lalu Yoka menghentikan kiriman uangnya. Hanya mengandalkan penghasilan sendiri, mengingat gaya hidup Malik yang juga sama buruknya dengan dirinya.


Orang tua angkat yang tinggal di luar negeri? Mereka sejatinya hanya berkewajiban untuk menyokong biaya sekolahnya hingga berusia 18 tahun. Memang sudah cukup berlebihan kala biaya kuliahnya juga disokong orang tua angkatnya. Namun, kehidupannya setelah itu haruslah mandiri, itulah kebudayaan barat.


Penghasilan dari teater sejatinya cukup banyak. Tapi, terbiasa hidup penuh gengsi, menggunakan pakaian bermerek, sekali pakai. Membuatnya memutar otak agar pamornya tidak jatuh di hadapan teman-temannya yang sebagian besar dari kalangan atas.


Cukup aneh memang baginya, mengapa Malik yang tinggal dengan Narendra memiliki uang yang terbatas. Sedangkan dengan Yoka, segala keinginannya selalu terpenuhi. Memakan makanan berharga tinggi setiap hari, membeli apapun keinginannya. Bukakah Malik anak kesayangan Narendra? Tapi mengapa Yoka mempunyai lebih banyak uang?


Alasan Malik cukup masuk akal baginya, Malik mungkin sedang dipersiapkan untuk mewarisi seluruh kekayaan Narendra, hingga keuangannya sementara dibatasi. Hanya perlu bersabar, dirinya akan memiliki Malik yang sempurna, tidak cacat sama sekali, dengan jumlah kekayaan melebihi Yoka yang bisu.


Hingga suara riuh beberapa remaja terdengar, menatap ke arah televisi. Suara pemuda yang begitu memiliki ciri khas, terdengar tulus, membuat para remaja semakin histeris.


Anggeline mengenyitkan keningnya. Sama sekali tidak tertarik melihat ke arah TV.


Namun melodi dan keahlian bermain piano yang dikenalnya. Tapi tidak mungkin kan? Pria itu tidak dapat bicara.


"Hatiku gelisah ketika merindukanmu, terhanyut dalam perasaanku sendiri,"


"Dimana kamu saat ini? Aku merindukanmu,"


"Taukah kamu, jantung ini bagaikan tidak berdetak tanpa kehadiranmu,"


"Mendekap tubuhmu dalam air yang dingin,"


"Melihat senyumanmu, di setiap hariku. Membantuku bangkit dari kegelapan,"


Reff.


"Hati ini benar-benar terasa mati tanpamu,"


"Aku merindukanmu, aku merindukanmu, Maaf egoku terlalu sulit mengucapkannya,"


Benar-benar suara yang dingin dan terdengar tulus, melelehkan hati wanita manapun yang mendengarnya. Pada akhirnya Anggeline melihat ke arah televisi besar di restauran cepat saji tempatnya duduk.


Seorang pemuda rupawan berada di sana, sebagai bintang tamu tambahan yang hadir di salah satu acara ulang tahun stasiun televisi. Para wanita berteriak histeris di tempat acara, bahkan ada yang menangis, mendengar seorang pemuda yang bukan berasal kalangan selebriti itu.


Layar besar di panggung menunjukkan foto pernikahan, yang baru tadi pagi dilaksanakannya.


Lagu ciptaannya sendiri, dari sang pemuda, menunjukkan keberadaannya di depan publik dengan penuh percaya diri. Wajah yang tertunduk memainkan pianonya itu terlihat dingin, bagaikan benar-benar merindukan seseorang. Sebuah pertunjukan yang sejatinya menjadi hadiah pernikahan untuk istrinya.


"Yoka?" Anggeline tertegun, air matanya mengalir. Mendengar suara pemuda itu, bagaikan lagu itu ditujukan untuk dirinya.