
"Pergi!" satu kata yang tidak dapat diucapkannya. Mendorong Amanda yang beberapa kali berusaha memapahnya keluar dari perpustakaan.
Yoka berusaha berjalan seorang diri. Bahkan para pelayan tidak satupun yang terlihat.
Mengapa? Malam ini Samy memberikan liburan untuk mereka. Menginap satu malam di salah satu hotel yang setengah sahamnya dimiliki Yoka.
"Yoka? Kamu tidak apa-apa?" ucap Amanda lagi, menahan senyumannya. Namun Yoka menepis tangannya, pemuda yang masih memiliki kesadaran. Masuk kedalam kamarnya sendiri, jemari tangannya gemetar, mengunci kamarnya dari dalam.
Hujan yang semakin lebat saja, beberapa kali Amanda mengetuk pintu, menanyakan keadaan Yoka. Namun pemuda itu tidak menjawab atau membukakan pintu untuknya.
Wanita yang menghela napas kasar, masih menggenggam botol kecil. Apa mungkin Yoka berhasil menetralkan obat yang diberikannya? Itulah yang ada di fikirannya. Menunggu di depan pintu, di tengah keadaan yang gelap gulita. Seluruh lampu di villa padam total tiba-tiba, mungkin akibat konsleting listrik.
Hingga wanita itu menghela napas kasar, berjalan kembali ke kamarnya yang berada di lantai satu setelah cukup lama menunggu.
Yoka masih terdiam dalam kamarnya, tangannya gemetar, pengaruh obat? Bukan hanya itu, bayangan ibunya dilecehkan dan dibunuh kembali teringat di benaknya.
Takut akan kegelapan, pemuda yang duduk di sudut ruangan. Menutup telinganya, air matanya mengalir. Suara petir berkali-kali terdengar seperti malam itu. Malam saat dirinya bersembunyi di bawah tempat tidur. Melihat darah Melda yang mengalir ke dekat dirinya. Menutup mulutnya menahan tangisannya.
Tetap meringkuk seorang diri, phobia yang semakin dalam saja. Silent, itulah kata-kata terakhir ibunya. Membuatnya hidup dalam diam.
Hingga tiba-tiba pintu terbuka, seseorang memeluk tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa? Apa kamu sakit? Samy sedang pergi mencari dokter. Bersabarlah," kata-kata dari mulut Dora.
Ketakutan? Dirinya benar-benar ketakutan, suara petir yang menyambar pepohonan terdengar. Dengan cepat Dora menutup pintu dan jendela, mengingat phobia pemuda di hadapannya pada kegelapan dan suara petir.
"Sudah tidak apa-apa." Tangan Dora memegang jemarinya dalam kegelapan.
Dirinya kini tidak bersembunyi sendiri, sudah tidak apa-apa. Mungkin itulah yang ada di fikiran Yoka, asalkan gadis ini ada, dirinya tidak akan apa-apa.
"Yoka?" satu kata yang terucap dari bibir Dora, kala pemuda itu memeluk erat tubuhnya.
"Aku mencintaimu, jangan pergi," kata-kata yang terucap dari bibir sang pemuda penuh kesadaran. Tidak terjerat, pada kata-kata terakhir ibunya lagi. Dirinya tidak bersembunyi seorang diri, seseorang ada di sisinya saat ini.
Rambut basah gadis itu, diselipkannya. Tidak ingin wajah rupawannya tertutupi. Tidak terlihat apapun, hanya samar, tapi wanita ini adalah Dora.
"Aku mencintaimu," bisiknya lagi, entah kenapa Dora terdiam kala pemuda itu menikmati bibirnya. Udara yang benar-benar dingin, napas hangat yang menerpa lehernya. Membuatnya melupakan segalanya.
Membiarkan dirinya di bimbing ke tempat tidur. Pemuda yang ketakutan, takut akan sebuah perasaan sunyi. Semua terlihat jelas dalam dirinya, menatapnya dalam, kembali membuainya dalam ciuman.
"Aku mencintaimu," hanya kalimat itu yang terucap.
Jendela besar yang tertutup rapat, beberapa kali suara petir terdengar. Embun bahkan menutupi hampir sebagian besar jendela kaca.
Yoka menitikkan air matanya, tersenyum padanya. Sedikit ingatan Dora terbayang kala Chery berucap di masa kecilnya.
"Saat langit cerah, ibu akan menjadi bintang yang melihat kita. Namun saat hujan turun, ibu akan menjadi tetesan air hujan yang ingin menemui kita," Kini dirinya yang mengucapkannya, menatap pemuda yang berada di atas tubuhnya.
Yoka tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum tulus. Kembali menautkan bibirnya.
"Apa aku mencintaimu? Aku akan melindungimu, sebagai sesuatu yang paling berharga bagiku," kalimat yang tidak terucap dari sang pemuda.
Pakaian wanita yang basah, sweater pria, celana panjang, semuanya teronggok di lantai. Sebuah pajangan terlihat di dekat pakaian yang berserakan, sepasang angsa yang bersama.
Bodoh bukan? Memberikan kesuciannya sebelum pernikahan. Tapi otaknya terasa lumpuh, hanya dapat membagi segalanya dengan Yoka.
Mengapa harus memberikannya? Ini benar-benar sulit, hanya mencengkeram sprei, menahan segalanya hanya untuk menyebutkan nama pemuda yang kini dicintainya.
Terhanyut akan sebuah perasaan yang tidak pasti akan kemana ujungnya berakhir. Suara yang benar-benar tenang baginya, menenangkan dirinya bagaikan narkotika.
"Aku mencintaimu..." bisikan pemuda itu lagi.
"Aku bodoh..." kata-kata yang tidak terucap dari bibir Dora. Tidak ingin segalanya berhenti. Dirinya benar-benar bodoh, mempercayai pria ini untuk menjaganya.
Namun, hanya keinginan hati, hanya keinginan hatinya. Merasakan kehangatannya, entah kenapa, seluruh syarafnya bagaikan lumpuh. Memberikan segalanya, benar-benar sebuah kebodohan baginya.
Cinta? Apa itu cinta? Entahlah, bagi Yoka mungkin sebuah tangan yang bersamanya dalam kegelapan, memegang jemarinya erat, memeluknya bagaikan tidak ingin kehilangannya.
Cinta? Apa itu cinta? Entahlah, bagi Dora mungkin sebuah kepercayaan, menggantungkan hidupnya pada sebuah perasaan. Kala dirinya merasa dilindungi, dihargai, dan dikasihi.
Apakah perasaan itu dapat menghilang? Mungkin benang merah akan tumbuh, menyatukan mereka, hingga anggapan berbeda tentang perasaan akan berubah. Menjadi jemari tangan kecil yang menyatukan kedua orang tuanya kelak.
*
Lantai satu villa, Samy tersenyum, usai mengunci pintu kamar Amanda dari luar. Semua memang berada dalam kendalinya bukan?
Diam-diam mengawasi Amanda dan Yoka, memastikan tidak ada hal yang terjadi diantara mereka. Hingga Yoka memasuki kamarnya, dengan Amanda yang menunggu di depan pintu.
Sekring listrik diturunkannya, beberapa kabel dipotongnya. Memberikan syok tetapi agar Yoka bicara. Menunggu kedatangan Dora, mengatakan Yoka sakit akibat phobianya pada petir dan kegelapan, memberikan kunci pintu kamar Yoka.
Benar-benar sebuah permainan yang menyenangkan, mengendalikan boneka tali kemanapun keinginannya. Hingga Arsen yang telah memperbaiki beberapa kabel, hendak kembali menyalakan listrik.
"Hentikan!" teriaknya pada Arsen.
"Kenapa kamu masih disini? Katanya kamu akan pergi mencari dokter untuk tuan muda?" Arsen mengenyitkan keningnya curiga. Dirinya benar-benar tidak bisa mempercayai pria ini.
Di pihak siapa sebenarnya Martin berada? Apa yang diketahui putranya? Mungkin banyak pertanyaan di otak Arsen menimbulkan berbagai spekulasi bagaikan tayangan gosip mingguan. Apakah Arsen sebenarnya memiliki bakat sebagai wartawan majalah gosip?
"Apa kamu sengaja membuat phobia tuan muda semakin memburuk?!" bentak Arsen, meninggikan nada bicaranya. Hendak kembali menghidupkan tegangan listrik.
"Hentikan! Atau kamu akan mengejutkan penyu, hingga tidak jadi bertelur di pantai!" Samy masih berusaha menghentikan Arsen, memegang erat tangan pria paruh baya itu.
"Penyu?" tanya Arsen kembali memastikan pendengarannya.
"Maaf, salah pinguin. Pinguin hanya setia pada satu pasangan. Mereka akan tetap setia pada pasangan yang kawin pertama kali dengan mereka. Berjanji bertemu setiap musimnya kawin. Jika salah satu mati, maka satunya lagi akan memilih tidak kawin. Itulah kesetiaan pinguin. Dan hari ini adalah musim kawin pertama bagi pinguin..." jawaban ambigu dari Samy.
Arsen tertawa kecil, kemudian sejenak menghentikan tawanya.
"Jadi tuan muda dan..." kalimatnya terhenti.
"Aku sudah mengunci Amanda di kamarnya," kata-kata dari Samy, membuat Arsen ikut tersenyum.
"Aku harus menghubungi EO (event organizer), dan toko hewan peliharaan," Arsen segera meraih phonecellnya, mempersiapkan segalanya untuk pernikahan tuan mudanya.
"Toko hewan peliharaan?" Samy mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Pitbull (salah satu ras *njing), untuk mengusir Anggeline jika kembali ke villa ini lagi," jawaban dari Arsen, pada akhirnya dirinya terlepas dari kecemasan suatu hari nanti Anggeline akan kembali.