Silent

Silent
Anak



Pernikahan? Segalanya diadakan besar-besaran oleh keluarga Melda. Kedua orang tua yang tidak mengetahui putri mereka berakhir menjadi istri kedua. Seorang putri yang dimanjakan, namun tidak memiliki sifat yang arogan. Terlalu baik? Mungkin itulah sosok Melda.


Martin menatap segalanya, mengantar orang yang dicintainya untuk menikah dengan pria lain. Andai itu dirinya, mungkin saja lebih mudah. Jemari tangannya mengepal, berusaha menahan air matanya mengalir tidak terkendali.


Tidak menyadari seseorang juga berdiri terpaku disana. Salsa terdiam menatap Melda yang tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum saat acara pernikahan.


Dirinya hanya anak angkat. Adik angkat dari wanita yang kini tengah menjalani pernikahan. Orang tua angkatnya, akan lebih dan semakin menyayangi Melda yang menurut begitu saja.


Sempurna? Itulah Melda di mata Salsa. Anak sah yang menyebalkan. Kini memiliki pengantin pria berwajah rupawan. Rasa iri menggerogoti hatinya, mencari kelemahan sang anak sah.


*


Hari ini adalah malam pengantin mereka. Namun, pasangan pengantin baru itu tidur saling memunggungi dengan bantal sebagai pembatas.


"Viona menunggumu! Pulang sana!" bentak Melda.


"Aku juga tidak nyaman disini, tapi kedua orang tua kita diluar! Kamu mau aku dibunuh oleh ayahku?!" geram Narendra, masih memunggungi Melda.


"Dasar pria beristri tidak setia, br*ngesek, menyebalkan," Komat-kamit mulut Melda mengomel.


"Kamu sendiri pelakor!" tegas Narendra mulai bangkit. Wanita yang benar-benar menyebalkan, tidak menolak untuk menikah, tapi membuat kupingnya panas.


"Aku kuliah di luar negeri! Menduduki jabatan yang tinggi di perusahaan keluargaku. Aku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi pelakor!" bentak Melda, ikut bangkit duduk di atas tempat tidur.


Gemas itulah perasaan Narendra saat ini. Entah kenapa melihat mulut itu mengomel secara langsung lebih menyenangkan. Berusaha menipiskan bibir menahan tawanya.


"Apa?! Kenapa tertawa?!" bentak Melda, menggulung dirinya dengan selimut, mengingat pakaian laknat yang diberikan kedua orang tuanya, kini tengah dikenakannya.


"Aku akan memberikan hal yang menyenangkan." ucap Narendra tiba-tiba. Menarik tengkuk Melda, dirinya tidak pernah seperti ini. Pemuda yang merasa benar-benar gemas saat ini.


Berciuman adalah hal yang biasa bagi seseorang yang tinggal di luar negeri bukan? Setidaknya itulah yang ada di fikiran Narendra.


Tapi dengan cepat Melda mendorongnya. Hanya sentuhan bibir yang mereka dapatkan.


"Kamu! Kamu! Ini pelecehan! Ini ciuman pertamaku!" bentak Melda menangis dengan kencang. Siapa bilang pergaulan bebas ada dalam kamusnya. Walaupun tinggal di luar negeri, gerak-gerik dan pergaulannya dibatasi sang kakek.


"Ciuman pertama," Narendra tertawa kencang, kemudian menghela napas kasar menyadari Melda yang masih menangis. Pemuda itu tersenyum, memeluknya.


"Jangan menangis, nanti aku belikan permen..." ucapnya berusaha menenangkan Melda.


"Permen kepalamu!"


Plak!


Tubuh Narendra dipukul menggunakan bantal. Itulah malam pertamanya dengan istri keduanya. Malam pertama yang menyenangkan baginya. Bukan malam panas ala pengantin baru. Namun malam yang penuh dengan pertengkaran. Tapi anehnya dibalik caciannya, Narendra hanya tersenyum mendengar segalanya.


*


Persaingan? Iri dan dengki? Semua tidak ada sama sekali. Mengapa? Melda yang dulunya selalu dibatasi oleh keluarganya kini lebih bebas. Orang yang pertama dikenalnya adalah Viona, wanita yang selalu menemui Viona sepulang dirinya bekerja. Bercerita tiada henti, mulut yang sulit dihentikan oleh Viona.


Sifat yang terlalu lugu dan baik, membuat Viona tidak dapat membencinya. Jemari tangannya mengepal, dirinya belum juga mengandung. Mungkin jika Melda hamil itu akan lebih baik, Narendra juga belum sedikitpun menaruh perasaan padanya.


Meskipun bersedia berhubungan saat dirinya meminta. Namun Viona menyadari tidak ada yang memiliki hati Narendra.


Mungkin...ini hanya mungkin, jika Melda menjadi wanita yang dicintainya, mungkin dirinya tidak akan tersingkir. Viona yang sadar diri, tidak semua orang akan bersikap baik seperti Melda. Jika ada orang lain yang mengisi hati Narendra. Mungkin saja suatu hari nanti, Narendra akan melanggar janjinya, menceraikan dirinya yang tidak memiliki hati Narendra, keturunan, maupun harta.


Pernikahannya dengan Narendra harus tetap bertahan. Ini demi kedua orang tuanya, kehidupannya yang jauh lebih mudah saat Narendra ada.


Karena itu, mungkin mendekatkan Melda dan Narendra adalah jalan terbaik. Ikhlas? Tidak akan ada istri yang ikhlas untuk berbagi suami. Tapi suami yang menyayanginya karena sebuah janji, tidak dapat mencintainya? Bercerai? Jika bercerai, dirinya harus merawat kedua orang tuanya dengan keuangan yang terbatas.


Tidak ada jalan, dirinya harus tetap hidup dengan baik, karena itu.


"Apa kamu tidak menyukai Narendra?" tanyanya pada Melda.


Melda menghela napas kasar, sembari mengerjakan berkas perusahaan keluarganya dan keluarga Narendra yang telah menyatu.


"Dia suamimu, hanya suamimu. Aku akan mencari kesempatan untuk bercerai, setelah kesehatan kakekku membaik..." ucap Melda tersenyum, memberikan paper bag pada Viona.


"Ini vitamin untuk orang tuamu. Dan beberapa krim perawatan kulit untukmu, wajahmu kusam," sindir Melda kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tidak ada yang sebaik ini padanya. Bahkan kerabatnya sendiri. Tapi Melda? Seseorang yang seharusnya membencinya, berusaha mati-matian memisahkan dirinya dengan Narendra malah begitu menyayangi dan memperhatikannya.


Mundur demi Melda, jika bisa dirinya akan melakukannya. Tapi sekali lagi, hidup seorang diri dengan merawat dua orang lansia tidak akan mudah.


Jika Narendra dan Melda memiliki keturunan, mereka tidak akan bercerai, belajar saling menyukai. Dan dirinya dapat hidup tenang dengan kedua orang tuanya tanpa kekhawatiran, Narendra akan mencintai wanita lain suatu hari nanti. Wanita yang mungkin akan membuat dirinya bercerai.


*


Seperti hari ini, dua orang yang berkelahi saling menjambak.


"Kamu berani meloloskan proyek?" geram Melda menaikan ujung hidung Narendra, hingga berbentuk bagaikan b*bi.


"Jika kamu yang memegang memegang proyeknya, kamu bisa menjalankannya?" tanyanya menarik telinga Melda.


Tubuh mereka saling mengunci pergerakan di tempat tidur. Berkelahi setiap hari, apakah ini pengantin baru?


Namun, entah kenapa Narendra menyukainya, nyaman dengan pertengkaran mereka yang aneh.


"Aku bisa! Minggir! Sana pulang ke rumah Viona!" istri kedua yang mengusir suaminya ke rumah istri pertama. Sungguh istri kedua yang luar biasa.


"Kamu mengusirku? Tidak lihat ibuku menginap hari ini!" Narendra semakin gemas saja menahan tawanya, mencubit pipi Melda.


Pemuda yang menghela napas kasar, melepaskan dirinya yang saling mengunci pergerakan dengan Melda. Berbaring menatap ke arah langit-langit kamar.


Sedangkan Melda meraih segelas air, sudah cukup lama beradu mulut dengan suaminya.


"Melda, ibu dan ayahku ingin kamu segera hamil..." gumamnya.


Pyur!


Seketika Melda tersedak, menyemburkan air dari mulutnya.


"Ha... hamil? Tapi setelah situasi kondusif kita akan bercerai," ucap Melda dengan wajah pucat pasi.


Narendra mengangguk, entah kenapa dirinya merasa keberatan untuk berpisah dengan Melda. Wanita yang terkadang menjaganya ketika dirinya sakit, berucap tiada henti dengan mulut cerewetnya.


Aneh bukan? Tapi itulah Melda.


"Viona mendesakku agar memiliki anak darimu. Dia takut, tidak ingin suatu hari nanti setelah bercerai denganmu akan ada wanita lain yang muncul. Mengingat kandungannya yang lemah, wanita lain yang mungkin akan bertindak buruk padanya. Aku bingung..." Narendra menghela napas berkali-kali.


"Biarkan saja, anggap saja angin lalu. Cepat atau lambat mereka akan lupa," jawaban lebih enteng lagi dari Melda.


"Ibuku mengancam akan mendatangi Viona, memaksanya untuk bercerai denganku. Jika dalam 6 bulan kamu tidak hamil. Tidak bisakah kita mempunyai anak? Aku mohon, 5% sahamku untukmu. Jabatan wakil CEO langsung di bawah ayahku dan ayahmu akan aku berikan..." pinta Narendra memelas.


"Ini demi Viona, jika kami bercerai orang tuaku mungkin akan mengirimnya ke tempat yang jauh. Dia harus mencari uang dan merawat orang tuanya seorang diri," lanjutnya.


Melda menghela napas kasar."Hamil palsu! Kita adopsi bayi diam-diam, saat waktunya melahirkan!" usulnya.


Plak!


Bahu wanita itu dipukul suaminya.


"Kamu fikir ini sinetron?! Bagaimana caranya menyembunyikan kehamilan palsu selama 9 bulan?! Ini cucu pertama mereka, mereka mungkin akan menyewa dokter pribadi! Kamu mau mengikat bantal di perutmu? Kemudian di USG akan terlihat janin di perutmu adalah tumpukan kapuk," Narendra menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu harus bagaimana?!" Pertanyaan dari wanita yang benar-benar terlalu baik.


"Kita melakukannya sekali, hanya sekali..." Narendra menelan ludahnya sendiri, menahan rasa malunya.


"Membuat anak. Tapi jika bercerai nanti,"Melda tertunduk, bingung harus bagaimana.


"Jika kamu suatu hari nanti mencintai pria lain, aku akan menjelaskan semuanya. Bahkan jika kamu menikah kembali dan meninggalkan anakmu, aku akan mengasuhnya." Jawaban dari Narendra.


Serakah? Dirinya entah kenapa menjadi serakah, mencintai Melda? Apa ini perasaan mencintai? Entahlah.


Tapi dirinya memiliki janji pada almarhum Ghani. Menjaga Viona sebagai suami, sebuah jantung yang seharusnya bertahan untuk mengasihi Viona.


"Bagaimana caranya?" Wanita yang benar-benar awam.


Narendra memijit pelipisnya sendiri, istri kedua seorang pelakor? Istri keduanya bahkan mulai melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian dengan polosnya bersembunyi di bawah selimut.


"Aku malu! Ingat aku melakukan ini bukan karena menyukaimu!" teriakan dari istrinya di atas tempat tidur.


Tidak menyukai Narendra? Siapa bilang? Perasaan yang mulai tumbuh di hatinya. Hingga melupakan tujuan awal mereka, kala bibir Narendra memulai dalam sebuah ciuman. Membuat Melda memejamkan matanya.


Darah keduanya berdesir hebat, perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Kain sprei dirematnya kuat, terkadang mencakar punggung Narendra.


Hanya kepala mereka yang terlihat di balik selimut berukuran king size itu. Perasaan? Adakah perasaan diantara mereka. Mungkin iya, tujuan awal yang hanya sekali, membuat Narendra menginginkannya lagi.


Perasaan berbeda ketika melakukan dengan orang yang benar-benar dicintainya. Bukan hanya sekedar ingin menjalankan permintaan dan kewajiban seperti selama ini yang dijalinnya bersama Viona.


Namun, dirinya hanya boleh berpihak pada Viona. Mengapa? Nyawa ini bukan miliknya, jantung Ghani yang ada dalam tubuhnya.