
Assalamualaikum temen temen, ekhem Nana balik lagi nihh. Siapa tau ada yang kangen wkwkwkwk komen deh yang kangen entar Nana kasih surprise.
.
.
"Semua tak harus diungkapkan, cukup diam dan ikuti langkah alurnya."__Abram.
.
.
'Diam mengikuti alur memang baik. Tapi adakalanya kau harus bergerak agar sesuatu milikmu tidak diambil orang lain.'__Raluna.
.
.
Azzseekkkkk sreepeetttt!! Hello. Nana come back, wkwkwkkw Nana agak gimana gitu. Masa Nana barbar? Gak lah Nana kalem kalem aja wkwkwkkw.
.
.
Ekhemmm, mau kasih tau. Kalau---
Enggak jadi deh kwkwkkwk.
.
.
Oke langsung scroll aja kebawah!!!
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ceklek
Suara pintu dibuka membuat semua orang menolehkan kepalanya, kini Zara sudah dipindahkan ruang rawat inap. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Raluna berjalan mendekat ke kasur tempat Zara terbaring.
"Abi, umi. Katanya Raluna udah baikan tadi, tapi kenapa malah dirawat?" Tanya Raluna bingung.
"Itu, t-adi Zara ternyata belum diperbolehkan pulang." Jawab Saidah.
Raluna mendekatkan dirinya ke Zara yang kini sudah berpakaian pasien. "Tapi kenapa mata kalian sembab semua?" Tanya Raluna lagi.
"Enggak, tadi kita nangis soalnya ada orang meninggal lewat dan anaknya juga nangis dramatis sekali makanya kita nangis kasihan." Balas David.
"Iya kasihan, tapi semua mahluk Allah akan kembali kepadanya. Tugas kita hanya beribadah melakukan perintah dan menjauhi larangannya. Insyaallah kita akan selamat dunia akhirat. Seperti persahabatan Abi sama papah, umi sama mamah, dan Raluna sama Zara. Kita akan selalu saling mengingatkan untuk selalu berada dijalan yang benar, supaya nanti kita bisa bersahabat bukan hanya didunia saja tapi sampai diakhirat kelak."
Saidah mengusap pucuk kepala putrinya. "Amin."
Raluna beralih duduk disamping Zara, membawa boneka yang tadi ia beli untuk diberikan kepada gadis didepannya ini yang tengah memejamkan matanya.
"Zara. Raluna bawa Shawn De sheep kesukaan Zara. Cepet bangun ya, perasaan tadi waktu Raluna tinggal Zara masih sadar kenapa sekarang bobok? Enggak mau ya Raluna suapin kayak tadi?"
"Oh iya, nanti kalau Zara udah pulih kita berkunjung ke desa ya. Padahal baru kemarin yang pindah tapi Raluna kangen tempat itu. Kangen main sama Zara di sawah. Dan masih banyak lagi."
"Maka dari itu, Zara harus cepat sembuh ya. Kalau Zara gini terus Raluna pengen cepet cepet jadi dokter, supaya Raluna bisa obatin Zara sendiri." Raluna menyeka air matanya, tak tega melihat Zara. Zara kini sangat pucat, dan tangannya dingin.
"Hiks.. kenapa Zara tutup mata? Enggak mau lihat Raluna ya?"
"Zara buka mata Zara." Zara perlahan sadar, tadi ia lupa apa yang terjadi. Kini ia heran melihat Raluna yang menangis.
"Aku udah buka mata, jangan nangis lagi. Cengeng kamu mah." Ucap Zara pelan. Raluna mendongak melihat kearah Zara dengan tatapan berbinar.
"Mau Raluna suapin lagi gak? Zara kayaknya lemas, Zara butuh makan."
"Iya sini, mana makannya." Raluna bersemangat mengambil makanan yang tadi ia belikan untuk Zara.
Raluna perlahan menyuapi Zara dengan telaten. Hati Balqis sakit, bagaimana jika? Ahhh Balqis tidak mau mengingatnya dulu.
"Uhh pinter, ini minum dulu." Raluna memberikan botol air AQUA untuk Zara.
Zara baru sadar, ketika melihat pakaian Raluna yang masih mengenakan seragam. "Kamu belum ganti baju?"
"Belum, tadi gak sempat. Magrib tadi Raluna cuma mampir di masjid buat sholat gak ganti baju."
"Ohhh."
"Umi lupa. Ini ganti baju dulu." Saidah memberikan paper bag kepada Raluna yang berisi baju yang Raluna minta tadi.
"Terimakasih umi."
"Yaudah sana ganti baju dulu." Suruh Zara.
"Siapp." Raluna berjalan kesebuah musholla putri untuk berganti baju di sana. Eits jangan salah bukan di musholla nya ya, tapi di tempat sebelah musholla yang memang tempat untuk ganti baju.
Hari hari berlalu, kini Zara sudah diperbolehkan pulang. Raluna senang karena Zara sudah membaik. Raluna Abi dan uminya ke rumah bisa dikatakan mansion David pria bermarga William itu.
"Zara jangan kecapean lagi ya. Raluna gak mau lihat Zara sakit. Zara tau? Waktu Zara sakit, hati Raluna juga sakit tau. Raluna gak tega liat Zara seperti waktu itu. Pokonya Zara gaboleh baca novel sampai larut malam, dan ya jam makan Zara harus teratur. Waktu itu Raluna dengar kalau Zara juga kena tipes, jangan terlalu suka pedes ga baik. Dan satu lagi, Zara jangan banyak banyak makan es nanti Zara kena amandel karena suka makan pedes sama es." Raluna nge rap kali ya, dia mengeluarkan segala keluh kesah dan unek unek nya kali ini. Sungguh dia sangat khawatir dengan Zara.
Ditambah lagi, semua orang hanya bilang baik baik saja. Padahal dari yang Raluna lihat mereka tengah menyembunyikan sesuatu. Raluna tentu saja masih polos, dia hanya percaya saja dengan ucapan mereka. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya aneh.
"Iya Raluna, aku gak bakal kecapean lagi. Tenang aja." Senyum terbit dibibir pinknya, dua gadis itu kemudian berpelukan.
****
Pagi ini Raluna berangkat pagi sekali, Zara masih belum dibolehkan masuk sekolah. Alasan Raluna berangkat pagi begini adalah karena ada pr matematika yang lupa ia kerjakan, dari kemarin ia asik menemani Zara. Dengan alasan agar Zara cepat pulih sepenuhnya.
Kenapa Raluna tidak kerjakan saat tadi sholat tahajjud? Yahh karena Raluna hanya ingin baca Al-Qur'an saja. Biar tugas belakangan, usai membantu uminya memasak Raluna langsung siap siap untuk berangkat sekolah. Memang banyak pembantu di rumah ini, tapi Saidah tidak mau karena ia sudah sering memasakkan makanan untuk suami dan anaknya.
Beberapa menit Raluna sampai disekolah, keadaannya sekarang masih sepi, sunyi. Hawa pagi masih menelisik masuk. Seragam khusus hari Kamis sedang Raluna gunakan sekarang. Memang seragam bunga bangsa sangat amat beda dari seragam SMA pada umumnya.
Jika hari Senin dan Selasa memakai abu abu, disini akan memakai rok abu abu juga seperti plisket berwarna abu muda, dengan kemeja dan jas putih. Berlambang bunga anggrek bulan di lengan kiri atas.
Berbeda lagi kalau hari Kamis, disini memakai batik dengan rok berwarna hitam dan jas batik dengan kemeja putih. Untuk siswa yang nonis maka pakaiannya juga sama namun pembedanya cukup tidak ada kerudung, dan juga rok yang digunakan pendek sebatas lutut dan minimal diatas lutut saja.
Raluna berjalan dengan tergesa ke kelasnya. Duduk dibangku, mengeluarkan buku dan alat tempurnya kemudian dia bergulat dengan angka angka yang menurut orang matikan. Namun tidak dengannya, menurut Raluna rumus itu mudah yang sulit adalah menghitung cinta seseorang. Yah memang cinta tidak dapat dihitung, namun cinta akan pudar jika tidak dibalas.
Tapi ada sebuah perasaan yang bernama mati rasa, dimana hati kita tidak mencintai dan hanya diam. Namun ketika ada orang yang datang dan berhasil membuat kita jatuh cinta, percayalah mungkin dia orang dibalik matinya rasa kita terhadap seseorang.
15 menit kemudian, 40 soal sudah rampung Raluna kerjakan. Ini hanya soal pilihan ganda jadi tidak akan memakan waktu lama.
Bel masuk tiba. kini beralih ke kelas 12 IPA 4, dimana kelas ini adalah kelas para inti Scorpion. Lima cowok kini tengah frustasi ulangan harian kimia tengah melanda, Ralat tiga cowok kalau Edgar dan Deanno otak mereka encer encer saja. Ryan Bryan dan Brendan yang asalnya lemah kimia kini merengek sedih kepada dua manusia didepannya. Siapa lagi kalau bukan Edgar dan Deanno.
Bryan mencolek bahu tegap edgar yang terlapis jas batik itu, "Pagar. Kasih contekan dikit dong. Otak gue rantainya karatan makanya gak bisa jalan."
"Gak, minta nyontek gaada sopan sopannya. Manggil pagar nama gue Edgar!" Koreksi Edgar.
"Eh eh, ada apa itu kenapa Nitrogen Germanium Gallium Sulfur?" Tanya Bu lili yang mengajar mata pelajaran kimia.
"Yaelah Bu. Kita gak ngerti buguru ngomong apa." Protes Ryan.
"Yahh Bu. Gak bisa gitu dong. Waktu itu juga udah kalau gasalah kelas 9 atau 10 atau 12." Protes Brendan.
"Nah itu, kalian hapalan kelas berapa aja lupa apalagi tabelnya? Gaada penolakan Minggu depan maju satu satu hapalan titik."
Ryan menyenggol lengan Brendan. "Mampus, ketiban duren sekebon Lo!"
"Enak dong."
"Bukan duren itu gob-"
"Heh! Siapa itu yang mau ngumpat?! Jangan rame jangan nyonto, ibu tinggal sebentar. Panggilan alam." Guru bernama lili itu ngacir, kabarnya dari kemaren Bu lili terkena mencret. Makanya tadi sempat telat masuk kelas, eh sudah senang malah Dateng. Nyuruh ujian lagi hadehhh, puyeng tujuh Empang.
"No, Lo kan pandai bagi lah no. Si pagar lagi jutek nih, kayaknya bidadari yang pagar kejar waktu itu gak ketemu. Makanya akhir akhir ini dia jutek, kayak cewek aja." Bisik Ryan, yang tentu saja didengar oleh orang yang dibicarakan.
"Gue gak tuli yan. Kalau mau gibahin gue, gue potong dulu burung Lo, biar jadi cewek baru gibahin gue." Sewot Edgar.
"Jangan dong pak ketu, entar gue gak bisa produksi anak."
"Eleh belagu ngomong anak, materi ****** yang mau jadi zigot sampai embiro aja Lo lupa."
"Why?? Buat anak gak usah pakai itu kali. Udah halal, baca doa, tancap gas buat anak entar juga jadi sendiri." Balas Ryan tak mau kalah dari Bryan. Lima cowok itu memang bakat dibidangnya masing masing.
Mulai dari Edgar dia pintar semua pelajaran, baik akademik maupun non akademik. Edgar unik, dia sangat pandai renang namun jantungnya tak karuan jika berada didekat Raluna. Oh ayolah Edgar tak bisa berenang dalam perasaan yang bernama cinta.
Deanno dia juga pintar dua duanya. Dan ya ada suatu hal yang istimewa darinya yang tidak dimiliki oleh siapapun diantara tiga empat temannya, Deanno punya Indra ke enam.
Brendan, dia sangat pandai dalam hal non akademik. Seperti halnya take Wondo, silat, karate, voli, renang. IPS, seni-budaya, dan masih banyak lagi terkecuali fisika dan kimia. Kalau matematika sih dia sedikit bisa, untuk fisika dan kimia menurut Brendan lebih mudah renang. Yaiya lah Bambang bandinginnya kurang tepat ngab!
Bryan? Oh jangan ragukan dia kalau soal panjat tebing, modifikasi motor, dia suka membuat sesuatu seperti robot tapi dia malas ketika sudah berhubungan dengan fisika. Sebenarnya Jika biologi Bryan sangat pandai. Oleh karena itu dirumahnya seperti kebun binatang, mulai dari ikan, sampai ke serigala dia asuh. Jika arus listrik Bryan masih toleransi tapi kalau harus menghitung berapa arus yang melewati ini dan berapa-- haduhh pertanyaan ini yang membuat Bryan malas. Padahal jika berhubungan dengan cara membuat listrik Bryan sangat jago.
Yang terakhir, si bego bego jenius siapa lagi kalau bukan Ryan dia tidak tau jika bertemu dengan sesuatu yang berbau harus hitung menghitung. Aneh nya waktu itu mereka diberi soal oleh guru fisika yang menurut Edgar mudah namun sangat sulit bagi Ryan. Dan suatu saat lagi mereka diberi soal yang menurut Edgar susah tapi dengan entengnya Ryan mengerjakan dan itu hasilnya benar! Membingungkan bukan?
Tau ah Nana juga bingung, karena waktu itu Nana juga sempat kayak Ryan. Makanya Nana tau rasa nya. Wkwkkwkw.
"Woyy gar, pelit amat Lo. Gak bertanggung jawab amat sama anggota secara Lo kan-" mulut yang tadinya komat Kamit mengatai Edgar kini disumpal oleh lembar jawaban milik Edgar.
"Cepet salin!"
"Asiapppp, pak ketu yang baik!" Balas Brendan.
"Dasar bekicot, giliran gak dikasih ngatain mohon, giliran udah dikasih muji. Simpan pujian Lo buat semangat hidup Lo. Bentar lagi ujian praktek, gue gak selamanya bisa bantu kalian." Ada benarnya memang perkataan Edgar, tapi biarlah jika para curutnya terlalu sulit memahami perkataannya.
"Iya pak bos.."
Edgar memalingkan wajahnya malas, bukan tak ingin memberi contekan. Namun dari tadi ia terganggu dengan bibir cleper ketiganya siapa lagi kalau bukan Ryan, Bryan dan Brendan.
"Ayo! Sekarang kumpulkan ujiannya!" Suara cempreng milik Bu lili mengagetkan semua siswa, terutama tiga cowok yang tengah nyontek berjamaah itu.
Bryan mengusap dadanya sabar. "Astaghfirullah Bu, masuk assalamualaikum dulu kek. Ngagetin aja kayak uang kaget! Untung gak punya riwayat jantung!"
"Assalamualaikum, kumpulkan jawaban kalian! Yang nyontek juga segera kumpulkan!" Ulang Bu lili.
"Waalaikumsalam." Jawab semua murid, wajah tiga cowok yang bernama Ryan, Bryan dan Brendan itu kini menyengir lebar. Maju mengumpulkan lembar jawaban ujian.
Bu lili mengerutkan keningnya, "kenapa jawabannya kosong?!"
"Lagian buguru nyuruh kumpulkan sekarang. Yah belum lah Bu, orang baru aja dikasih contekan."
"Ini lagi Bryan! Kenapa kosong?!"
"Otak saya lagi kosong Bu, rantainya karatan makanya gak jalan. Butuh asupan oli Bu." Jawab Bryan santai.
Bu lili menggeleng gelengkan kepalanya, sungguh lima cowok didepannya ini dari dulu suka membuat guru guru pusing. "Yasudah, keluar! Kalian!"
"Asiapppp Bu lili cantikkk." Lima cowok itu hendak ngacir dari kelas.
Sebelum akhirnya suara Bu lili mengentikan kelimanya. "Heh!! Edgar Deanno! Kalian mau kemana?! Mereka yang saya suruh keluar bukan kalian juga!"
"Bu, kita ini sahabat sehidup seperjuangan. Kalau mereka keluar kita keluar juga harus itu, lagi pula jam Bu lili tinggal satu jam, itu karena dimakan waktu bu lili berak tadi."
"Hehh! Kurang ajar ya kamu. Awas kamu gausah ikut pelajaran saya satu Minggu!" Ancam Bu lili.
"Iya Bu, yang penting ibu bahagiahh!" Lima cowok itu kemudian kabur dari amukan Bu lili yang killer namun cantik itu. Yah mereka bertahan di pelajaran serumit ini karena yang mengajar bisa jadi penyemangat.
Kalau kata Bryan, "materi sulit, yang ngajar julit. Kalau guru cantik, gue jabanin sampai Upin Ipin tau rasanya permen split." Cowok satu ini penggemar permen yang katanya rasa permen ini asem asem manis, jangan lupakan dia fans Upin Ipin garis besar.
Jangan salah Edgar encer encer gini otaknya pernah masuk cuma numpang tidur dikelas, akibatnya dia disiram air oleh Bu BK. Jika tidur satu jam dua jam pelajaran saja masih bisa dimaafkan. Lah ini? Dia sudah dikira bolos satu hari, biasanya cowok itu masuk cuman numpang absen doang, waktu itu dia datang pas pelajaran olahraga, kebetulan kelas sedang sepi.
Berhubung dia dilanda ngantuk dan matanya meronta ronta minta ditutup dia menggunakan tas sebagai bantal. Sampai pelajaran terakhir dia baru ditemukan oleh empat curutnya yang mencari cari dia yang katanya sudah dari Sabang sampai Merauke. Tapi tak kunjung menemukannya, ternyata Edgar tidur dibalik tirai yang menutupi tembok, alhasil dirinya tidak bisa ditemukan.
Salah sendiri tidur sudah seperti orang mati suri saja, dari jam pertama sampai jam terakhir bayangkan seberapa lama itu.
Kini langkah kaki lima cowok ini mengarah ke kantin bunga bangsa, alasan kali ini adalah mendinginkan pikiran dengan marimas rasa jeruk kesukaan Ryan.
"Bukkkk, minuman seperti biasa!"
Brendan langsung menggeplak bahu Ryan, "alah ***.., suka amat bikin kuping ngacir ke Bojonggede!"
"Santai mas brohh, hobi gue gak bisa diubah."
"Oh iya btw, entar malem jadi gak?" Semua menoleh ke sumber suara, ya Deanno.
"Kemana no?"
"Ada deh, mau gak?"
"Awas Lo ajak kita nyedot sepetitank." Selidik Brendan.
"ASU!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, uhuyyyy nyampe di penghujung nihh... Gimana puas gak part ini??? Gimana puasa kalian??? Semoga lancar ya.
.
.
Nana masih ujiann, tapi gabuszzzz nya Masyaallah. Oh iya jaga kesehatan ya kalian semua biar puasanya lancar.
.
.
Gitu aja, jangan lupa vote sama komennya ya. See you next bab babayyyyyy!!!
.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
11 April 2022