Silent

Silent
Keributan



Dora terdiam, jemari tangannya lemas. Entah kemana menghilangnya, kemarahannya saat ini. Semuanya bagaikan lenyap tanpa sisa. Yoka sudah pergi? Meninggalkannya sendirian di villa? Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Apapun dapat terjadi dalam kurun waktu itu.


Apa Yoka akan tetap mengingatnya?


"Nyonya muda, tuan muda berpesan agar anda menjaga diri sendiri mulai saat ini," itulah yang dikatakan Arsen.


Dora hanya menunduk, kesepian? Itulah yang tiba-tiba dirasakannya. Hampir 24 jam dirinya menghabiskan waktu bersama suaminya. Dan kini? Harus tinggal seorang diri di villa.


Air matanya mengalir, bagaikan melupakan rasa malunya. Merengek menangis seorang diri. Syukurlah Samy saat ini ikut pergi dengan Yoka, jika tidak mungkin Samy akan membelikannya ice cream agar berhenti menangis.


*


Sedangkan di tempat lain Narenda menatap ke arah langit. Tepatnya dari jendela besar kantornya. Tidak memastikannya, namun dari usia dan kemunculannya yang tiba-tiba, Samy memang putranya.


Tatapan matanya kosong, seorang wanita yang diam-diam membesarkan anak dari madunya? Bahkan memberikan kasih sayang yang sama dengan yang diberikannya pada Yoka?


Dirinya masih ingat, kala Melda selalu membelikan dua set mainan yang sama. Hanya satu yang diberikannya pada Yoka. Sedangkan satunya lagi akan diberikannya pada Martin dengan alasan, Samy tidak memiliki ibu yang mengasihinya.


Pada awalnya dirinya sempat cemburu. Apa Melda ingin menjadi ibu dari Samy, menikah dengan Martin? Sebuah kecemburuan yang bodoh saat itu. Kini air matanya mengalir tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. Wanita berhati baik yang membagi kasih sayangnya. Itulah Melda.


Dapatkah wanita seperti Melda membunuh Viona? Apa tujuannya? Mengapa Melda bersikeras mengakui segalanya?


Jemari tangannya mengepal, beberapa orang telah ditugaskannya menyelidiki semuanya kembali. Walaupun semua bukti yang diberikan Salsa adalah bukti asli, pasti ada satu celah lagi dan keberadaan Samy adalah celah terbesar.


Bukti yang 16 tahun lalu pernah diselidiki ulang olehnya, kala dirinya tidak dapat menerima ini semua perbuatan Melda. Tapi semuanya tetap sama, semua bukti yang diberikan Salsa adalah bukti asli. Kini akan menyelidiki segalanya kembali untuk yang kesekian kalinya.


"Bukan Melda..." gumamnya, menatap ke arah langit. Tidak dapat meminta maaf pada orang mati. Apa gunanya meminta maaf? Yang mati adalah satu-satunya orang yang dicintainya. Tidak ada yang dapat dilakukannya, bagaikan hidup tanpa jiwa. Hanya menunggu mati yang entah kapan akan tiba. Mungkin kala putranya telah bahagia, dan pembunuh asli menebus dosanya.


Langit yang luas tetap terlihat tenang. Pria yang mengetahui kepergian Samy dan Yoka ke negara lain.


Sedikit lagi, setelah mengetahui yang sebenarnya dirinya akan menyeret pelaku sebenarnya. Membuatnya mati tersiksa seperti yang terjadi pada Viona dan Melda. Apa hal terakhir yang akan dilakukan Narendra?


"Aku ingin membusuk di neraka, setelah mengetahui segalanya. Menyeret pembunuh sebenarnya ke dasar lahar di neraka..." gumamnya, dengan air mata menetes masih menatap ke arah langit.


Mengingat kematian Viona yang tengah mengandung, dua lansia. Bahkan kematian Melda, yang dibunuh dengan tangannya sendiri.


Sebuah kenyataan yang mungkin belum diketahui Narendra. Pelaku yang sama membunuh kedua orang tuanya, berserta mertuanya. Lebih tepatnya kematian Reksa dengan empat orang korban tewas di tempat, dalam mobil yang terjatuh ke jurang terjal.


*


Hari ini Narendra pulang lebih awal, mobilnya memasuki rumah utama. Motor seorang pria terdapat di sana. Ini sudah biasa baginya, menikahi Salsa hanya sebagai kedok kebahagiaan palsunya. Dirinya tidak pernah ingin dilayani di tempat tidur atau melayani wanita yang kini berstatus istrinya.


Balas budi karena menguak kematian Viona? Mungkin ingin menunjukkan dirinya telah bahagia pada Melda yang diyakininya telah tiada? Atau hanya ingin melukai dirinya sendiri, tidak ingin hidup dalam kebahagiaan sedikitpun?


Mungkin alasan ketiga adalah kebenarannya, untuk melukai dirinya sendiri, kala melihat wajah kebencian putranya.


Putranya sudah pergi bukan? Dirinya belum menemukan bukti nyata. Tapi terdapat banyak celah Salsa telah membohonginya.


Untuk itu, dirinya akan menahan Salsa terlebih dahulu. Tidak akan memberikan kebahagiaan padanya sedikitpun.


"Tuan..." Zou menunduk memberi hormat. Dirinya memang membenci Narendra, namun hanya Yoka dan Narendra yang tersisa dari keluarga almarhum Reksa.


"Aku ingin membuat Salsa sakit kepala. Bagaimana menurutmu jika menantuku tinggal disini? Masih banyak kamar kosong bukan?" ucap Narendra tersenyum.


"Jika yang anda maksud Anggeline, dia sudah menulikan telinga. Tinggal disini bahkan setelah mengajukan perceraian pada Malik. Dengan alasan setelah bercerai dengan Dora, Yoka akan menikahinya, kembali bersamanya," jawaban dari Zou tidak mengerti, pertanyaan Narendra.


"Hentikan uang bulanan mereka. Makan, bantai, terserah apa yang mau kamu lakukan. Bahkan kamu boleh menghubungi Arsen, agar membawa menantuku tinggal di rumah ini," ucap Narendra tiba-tiba, sembari tersenyum ke arahnya.


"Dia siapa? Aku dimana? Ini bukan mimpi kan? Aku boleh memakan tikus hitam yang berkeliaran di rumah ini?" batin Zou, tidak mengerti dengan kata-kata Narendra. Setelah 16 tahun dirinya diperbolehkan berbuat semaunya? Bahkan membawa nyonya mudanya (Dora) ke rumah utama? Apa dirinya tidak akan kesepian lagi?


Namun, tiba-tiba keningnya berkerut, apa ini rencana Narendra untuk menyingkirkan nyonya mudanya? Atau menjadikan nyonya mudanya sebagai menantu teraniaya. Sementara Anggeline, mengikir kuku dan membawa belanjaan.


Penuh kecurigaan, melihat punggung pria keji yang tengah meminum segelas air putih.


"Apa anda ingin menganiaya menantu anda, hingga memutuskan bercerai dari tuan muda?" Satu pertanyaan menusuk dari bibir Zou.


Pyur!


Narendra menyemburkan air dari mulutnya, terbatuk-batuk. Memaksa Dora untuk bercerai? Dirinya memang lumayan kejam dari luar. Tapi itu hanya fikiran sesaatnya, membiarkan Yoka mati di tangan Amanda, agar dirinya bisa menyusul Melda. Tapi menganiaya wanita tidak bersalah?


"Tidak! Sekarang kamu masuk ke kamar Salsa! Walau mereka belum berpakaian sekalipun! Usir mereka keluar! Ganti sprei, gorden dan semua peralatan di kamar itu!" bentak Narendra, menunjuk ke arah kamar Selasa.


"Lalu?" Zou mengenyitkan keningnya masih belum mengerti.


"Kamu ingin Arsen dan nyonya mudamu tinggal disini bukan? Kamar Salsa akan menjadi miliknya..." Kata-kata dari mulut Narendra, membuat Zou membulatkan matanya.


Kamar kedua terbesar dari rumah ini memang hanya pantas di tempati nyonya mudanya. Wajahnya tersenyum menyeringai.


Melangkah dengan cepat meninggalkan Narendra.


*


Menyewa pria muda? Itulah yang sering dilakukan Salsa terang-terangan. Bahkan kali ini menyewa seorang mahasiswa yang memang memiliki profesi sampingan, menjajakan diri pada wanita kesepian.


Tanpa malu dan ragu sedikitpun, pintu dibuka oleh sang kepala pelayan.


Hingga membuat pasangan yang tengah berbalut selimut itu tertegun.


"Zou! Berani-beraninya kamu!" bentak Salsa, mengapa? Karena Narendra memang membebaskannya mencari kepuasan di luar sana.


"Keluar!" teriakan dari bibir Zou, menarik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Salsa segera meraih baju tidur berbentuk kimono miliknya. Sedangkan sang pria muda, memakai pakaiannya dengan cepat, mengambil bayarannya di meja kemudian melarikan diri.


"Thanks Tan, maaf aku buru-buru!" ucap sang pria muda melarikan diri, tidak mengerti dan peduli dengan situasi yang terjadi.


"Kamu mau apa?! Aku akan mengatakan kejadian ini pada Narendra!" bentak Salsa.


"Aku? Ini adalah kamar nyonya muda, jadi cari kamar lain..." ucapnya tersenyum mendekati Salsa yang mulai melangkah mundur dengan tangan gemetar.


*


Narendra mengenyitkan keningnya, meminum tehnya, melihat seorang pria muda pergi dengan membawa setumpuk uang. Kemudian tubuh Salsa yang diangkat Zou, dilemparkannya ke lantai ruang tamu.


Mereka benar-benar berkelahi. Zou tidak tanggung-tanggung melakukannya, semua barang milik Salsa dikeluarkannya.


Salsa mendekati Narendra mencoba mengadu. Namun, pria itu hanya acuh, memasang earphone di telinganya seolah-olah mengangkat panggilan. Kemudian pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua.