Silent

Silent
Masih Masam



Chery menghela napas kasar."Turunkan aku," ucapnya.


Namun, Samy hanya terdiam menurunkannya di kursi penumpang bagian depan mobilnya.


"Apa sakit?" tanya Samy, menggerakkan perlahan kaki Cherry. Dengan sekali gerakan, posisi otot yang salah dibenahinya.


"Aw..." pekik Chery, kemudian berusaha menggerakkan kakinya."Ini karenamu," gumamnya enggan mengucapkan terimakasih.


"Maaf," Samy tersenyum simpul, mengenakan sepatu kembali ke kaki wanita di hadapannya.


Chery menghela napas kasar mengalihkan pandangannya. Sungguh pria yang menyebalkan. Namun, tetap saja ada perasaan nyaman kala menatapnya.


"Kita akan menemui Dora," ucapnya menghela napas kasar. Dijawab dengan anggukan oleh Chery.


Mobil mulai melaju, Samy berkali-kali menelan ludahnya. Berusaha tetap konsentrasi menyetir. Apa yang salah sebenarnya? Wanita ini tidak menggodanya, bahkan tidak memakai pakaian yang terkesan sensual. Minidress yang dikenakan Chery masih sebatas lutut, belahan dada yang tidak terlihat. Hanya memberikan kesan feminim padanya.


Namun benar-benar aroma yang manis dari seorang wanita dalam rupa apapun. Berambut pendek bagaikan peri kesatria, dan kini terdiam dengan rambut panjangnya bagaikan malaikat.


Tidak bergerak menggoda Samy sama sekali, namun menatap bibir yang terdiam itu membuat Samy melonggarkan dasinya."Panas," gumamnya menurunkan suhu AC.


"Aku sudah gila!" batinnya mulai berimajinasi menikmati ciuman panas. Kemudian perlahan melepaskan resleting minidress yang dikenakan gadis itu.


Benar-benar gila, bagaimana wanita ini dapat membuatnya seperti ini? Keringat dingin mengucur dari pelipisnya."Aku ingin," gumamnya tanpa sadar.


"Ingin apa?" Chery mengenyitkan keningnya.


"I... ingin minum air," jawab Samy gelagapan, menghentikan mobilnya di pinggir jalan sejenak. Kemudian mulai meminum air. Tapi apakah benar hanya ingin air? Entahlah hanya Samy yang tahu.


Mobil kembali melaju, membuka pembicaraan hal yang dilakukannya."Berapa umurmu?" tanyanya.


"33 tahun..." jawab Chery menatap ke arah jalan di hadapannya.


"Usiaku 30 tahun. Kamu lebih tua dariku," ucapnya tertawa. Namun wanita ini tidak mudah tertawa, membuatnya menghela napas kasar. Seorang pemuda humoris dengan wanita yang bagaikan tentara? Apa akan cocok?


"Aku suka pria yang lebih tua." Satu kalimat menusuk dari Chery membuat Samy tidak dapat berkata-kata.


"Buah jika terlalu matang akan cepat membusuk," ucap Samy dengan nada bicara terkesan dingin.


"Terlalu muda akan masam," Chery tidak mau kalah.


"Wanita culas menyebalkan. Aku benar-benar sudah tidak waras jika menyukainya." Komat-kamit Samy mengomel dalam hatinya. Berusaha untuk tetap tersenyum.


Hingga pada akhirnya mobil tiba di kediaman utama. Dua orang pengawal membukakan pintu, setelah memeriksa siapa saja yang ada di dalam mobil.


Wanita cantik yang berjalan bersama Samy mengalihkan perhatian beberapa orang. Pemuda yang bangga membawa pacarnya. Namun, entah di bab mana mereka jadi pacar, yang jelas itulah yang ada dalam otak Samy saat ini.


Pintu besar terbuka, sepasang muda-mudi yang berjalan bersama diantar seorang pelayan menuju ruang tamu. Hanya ada Martin dan Narendra di sana.


Mata Chery menelisik, tidak ada keberadaan adiknya.


"Ayah perkenalkan ini Chery, kakak kandung Dora," ucap Samy tersenyum pada ayahnya.


"Apa ini pacarmu?" tanya Martin tersenyum, pada akhirnya dirinya memiliki menantu.


"I...y..." Baru saja akan menjawab, namun kata-kata Samy dipotong.


"Tidak! Aku bukan pacarnya. Bocah ini hanya menyusahkan saja!" gerutu Chery.


"Samy memang seperti itu," Martin tertawa kecil."Narendra semua barang-barang Melda sudah aku bawa,"


"Iya!" bentak Narendra, berharap masih ada satu foto Melda yang tertinggal.


"Las Vegas, aku membuka Kasino tapi masih join, bagi hasil dengan temanku." jawab Chery.


"Aku bisa berinvestasi padamu. Bagaimana jika kita bekerja sama?" Martin mengenyitkan keningnya, tersenyum pada Chery. Sedikit melirik ke arah putranya. Iri? Dirinya cukup iri dengan hubungan Narendra yang akrab dengan Dora. Berandai-andai jika Samy membawakan menantu untuknya.


Bahkan Dora saat ini sudah akan melahirkan. Dirinya hanya dapat iri, menangis di pojokan menatap Narendra menggendong cucu. Sedangkan Samy masih menjadi pemuda yang anti wanita.


Mungkin wanita cantik ini adalah kandidat yang tepat untuk menjadi calon menantunya.


Memang benar-benar adik kakak, radar uang gadis itu aktif."Benar paman? Paman benar-benar tampan tipe ideal semua wanita," ucap Chery langsung duduk di samping Martin.


"Rencananya aku akan membuka bar juga, tapi terkendala dengan dana. Masih mengumpulkan keuntungan dari kasino. Tapi bar dengan konsep hanya kalangan atas yang ada di sana. Jadi harus ada minuman dengan kwalitas terbaik dan harga tinggi..." komat-kamit mulut wanita itu mengutarakan rencana perkembangan bisnisnya.


Sedangkan Samy masih berusaha tersenyum mengepalkan tangannya."Aku lupa, ayahku perjaka tua..." batinnya, kesal.


Berusaha mati-matian menahan amarahnya. Mengingat Chery yang menyukai pria tua. Bujang lapuk? Itulah ayahnya tipe ideal untuk pacarnya. Hanya kata pacar yang tersemat di otaknya saat ini. Tidak peduli Chery akan menerimanya atau tidak.


"Samy apa aku perlu menjodohkanmu dengan Arni, anak pengusaha batu bara, usianya dua tahun lebih muda darimu. Dia lumayan cantik, lulusan luar negeri." ucap Narendra mulai mikirkan jodoh untuk putra bungsunya.


"Aku ingin yang lebih tua!" tegasnya, ingin Martin berhenti membuat Chery menempel.


Namun benar-benar tidak peka, Martin terus tersenyum dan tertawa. Membicarakan masalah bisnis dengan Chery.


"Kamu menyukai kakaknya Dora?" Narendra mengenyitkan keningnya, merasakan aura tidak asing dari tubuh putra bungsunya.


Aura yang benar-benar dikenalinya. Kala dirinya menatap Martin yang terlalu akrab dengan Melda.


"Dia pacarku," jawab Samy menunjukkan senyuman yang menampakkan gigi putihnya.


"Sejak kapan aku mau jadi pacarmu! Bocah! Usiamu masih terlalu muda!" geram Chery.


"Lalu berapa batasan usia untuk menikah denganmu?" tanya Samy.


"Setidaknya 40 tahun," Chery menghela napas kasar meminum teh yang diberikan pelayan.


"Tunggu 10 tahun lagi, maka usiaku akan genap 40 tahun." Jawab Samy mengetahui arti kata-kata Chery yang menginginkan pria yang setidaknya 7 tahun lebih tua darinya. Namun pemuda itu seakan menutup mata dan telinganya.


"Yang penting masuk kriteria," batinnya, yang sejatinya benar-benar mengingat kata-kata Yoka dan wanita penghibur yang disewanya. Dirinya impoten? Tapi jelas tadi di mobil dirinya bersusah payah menahan diri.


Dirinya tidak impoten, hanya saja dirinya terlalu pemilih. Dengan dua kata semboyan, untung cinta!


Pyur!


Chery terbatuk-batuk mendengar kata-kata adik kecil yang lebih tinggi darinya. Pakaiannya sedikit kotor, menghela napas kasar."Paman boleh pinjam toiletnya?" tanyanya.


"Pelayan akan mengantarmu," ucap Narendra, bersamaan dengan seorang pelayan yang membimbing jalan Chery keluar dari ruang tamu.


Aura suram tiba-tiba terasa."Ayah tidak berniat menjadikannya ibu tiriku kan?" tanya Samy pada Martin.


Sang ayah yang tertawa kecil, menghela napas kasar."Tipe ayah bukan sepertinya. Ayah menyukai seseorang yang lebih menarik,"


*


Chery menatap penampilannya di cermin. Wajahnya tiba-tiba tersenyum senang. Tidak menyangka akan dapat secantik ini.


Perlahan melangkah keluar dari toilet usai mencuci tangan dan sedikit membersihkan minidressnya.


"Dora!" panggilnya tersenyum, menatap seorang wanita yang terdiam di gazebo. Wanita yang menoleh padanya.


Namun, wajah Chery seketika pucat pasi, menyadari sang wanita tidak sedang mengandung. Tidak, itu bukan Dorothy, itu Anggeline.