
Memalukan? Tentu saja, ini sangat memalukan. Yoka tidak ada disini, jadi dirinya tidak dapat mengadu sama sekali. Sedangkan Samy yang hendak mengambil beberapa berkas, menatap ke arah Dora tanpa berkedip.
Apa ini adalah kakak iparnya yang sesungguhnya? Sungguh, sungguh, bahkan sungguh sangat lucu. Pemuda memukul-mukul mobil sport berwarna hijau tua kesayangannya. Akibat tidak dapat menahan gelak tawanya.
"Mau kemana?" tanya Samy menipiskan bibir, berusaha mati-matian agar tidak melanjutkan tawanya.
"Kondangan ke pernikahan mantan. Tapi tidak jadi pergi," jawab Dora berbalik ingin kembali memasuki villa. Namun dengan cepat, Arsen menarik bagian belakang pakaiannya.
"Tuan muda bilang nyonya muda harus berangkat. Agar tidak ada yang mencibir anda masih menyukai mantan..." tegas Arsen.
"Paman tolong aku, lihat! Samy saja tertawa!" geram Dora, benar-benar putus asa dengan nasib reputasinya.
"Anda adalah nyonya muda saat ini. Dulu bahkan Anggeline puluhan kali lipat lebih buruk dari ini. Jadi ini masih dalam batas wajar menurut saya," jawaban dari Arsen, menarik tangan majikannya ke dalam mobil.
Benar-benar tidak ada yang salah, inilah impian dan hal yang paling diinginkan wanita. Setidaknya itulah yang ada dalam benak Arsen, menjadikan prilaku Anggeline yang arogan sebagai contoh.
Samy terpaku menatap ke arah beberapa mobil yang melaju. Terdiam sejenak, sedetik, dua detik, hingga detik ketiga pemuda itu mulai tertawa hingga memegangi perutnya.
"Apa ini jaman kerajaan?! Ratu Elizabeth akan malu melihat ini!" Suara tawa Samy semakin kencang saja. Benar-benar menertawakan kakak iparnya.
*
Menjemput Vera adalah hal yang pertama dilakukan mereka. Seorang wanita yang telah lengkap memakai kebayanya. Mengenyitkan keningnya menatap ke arah putrinya.
"Ka...kamu mau kemana?" tanya Vera pada Dora yang tengah duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Dora menghela napas kasar menyesali nasibnya sendiri, dengan sangat menyesal dirinya berucap."Kondangan ke pernikahan mantan."
"I...ibu malu! Lebih baik ibu berangkat sendiri saja," ucap Vera gelagapan melangkah mundur.
"Ibu! Ini cara menantu kesayangan ibu memanjakanku!" Dora menarik ujung kebaya ibunya. Memelas agar dirinya dapat berangkat bersama.
Vera menghela napas kasar, tidak tega sama sekali. Pada akhirnya menaiki mobil yang ditumpangi putrinya.
*
Sedangkan di tempat acara hari ini, prasmanan yang cukup mewah untuk sebuah pesta resepsi yang diadakan di desa. Gaun putih terlihat modern, kontras dengan para warga desa yang mayoritas mengenakan kebaya dan kemeja batik.
Musik orkestra dangdut lokal terdengar memeriahkan acara. Pengantin pria? Jovan masih terdiam saat ini melirik cincin di jari manisnya. Tidak terasa air matanya mengalir.
Mantan? Apa itu sebutan yang pantas? Semua masih terngiang jelas di benaknya kala, mereka berbaring di atas padang rumput lapangan kosong dekat sekolah. Menatap ke arah langit yang luas, ada beberapa awan melintas yang terlihat.
"Aku akan menikahimu," janjinya kala itu menggenggam erat jemari tangan Dora.
"Tunggu sebentar," Dora berlari, mengambil ilalang menjalinnya menjadi cincin rumput. Jovan hanya tertawa kecil saat itu, ikut membuat cincin dari ilalang.
Dirinya mengkhianati Dora, kemudian Dora melupakannya, bersanding dengan Yoka. Mencintainya? Mengapa dirinya menangis? Seharusnya ini adalah hari terindah di hidupnya.
Meira terlihat benar-benar cantik hari ini. Apa yang perlu disesalkannya? Dirinya mencintai Meira, karena itu bersedia tidur dengannya. Pemuda yang mungkin tidak mengerti batasan antara napsu dan cinta.
Selama bertahun-tahun menjalani hubungan jarak jauh dengan Dora. Hanya bertemu mungkin seminggu sekali, tidak ada sentuhan fisik hanya merayakan ulang tahun bersama, atau menonton DVD. Tidak keluar dari tempat kost, gadis yang tidak ingin membebani hidupnya hanya untuk sekedar berjalan-jalan atau berbelanja. Itulah Dora, gadis yang ditinggalkannya.
Bayangan masa lalu menghilang, cincin dari ilalang dalam imajinasinya kembali menjadi cincin emas putih, bertahtakan berlian yang tidak begitu besar.
"Aku tidak mencintainya, aku mencintai Meira. Karena dia dapat membuatku tidur dengannya," gumamnya dengan suara kecil, menghapus air matanya.
Hubungan yang terjadi tidak lama setelah Jovan lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan di bank nasional atas rekomendasi dosennya. Sejak hari itu, hampir setiap malam Meira yang juga bekerja di kota datang ke tempat kostnya dengan berbagai alasan.
Memakai pakaian terbuka, bahkan menumpahkan minuman ke pakaian Jovan. Menyentuh dada bidang dan celana panjang pemuda itu. Tergoda? Pria mana yang tidak akan tergoda, terlebih Dora bukan tipikal wanita yang agresif. Pada akhirnya hubungan itu dimulai, untuk pertama kalinya bagi Jovan menyentuh tubuh wanita sepenuhnya. Kecanduan akan napsu yang dirasakannya dengan Meira, menganggap itu selaras dengan cinta.
Hingga akhirnya kini dirinya menikah dengan Meira. Jabatannya pun perlahan telah naik, banyak orang yang mengelu-elukan dirinya dan Meira. Namun, Jovan hanya terdiam tanpa senyuman, menyambut beberapa tamu yang mengucapkan selamat padanya.
Pengantin wanita yang cantik itu, terlihat tersenyum. Melirik ke arah suaminya.
"Ayo tersenyum!" perintah Meira. Jovan menghela napas kasar dirinya memang hanya memiliki perasaan bagaikan teman dengan Dora tidak lebih.
Hingga suara keributan terdengar, sekitar lima mobil mewah berhenti di parkiran tempat acara. Seorang pria rupawan berpakaian pelayan berlari keluar dari mobil. Membentangkan karpet merah, para pelayan lainnya menunduk menyambut kedatangan nyonya mereka yang akan turun dari mobil.
Wanita yang memakai gaun krem berharga tidak murah, rambutnya ditata sedemikian rupa, memperlihatkan leher jenjangnya. Jangan kira ada tanda keunguan disana. Tanda itu telah pudar, bahkan tertutup makeup mahal.
Riasan yang tidak begitu mencolok terlihat anggun. Hiasan rambut dari emas putih, memanjang berbetuk cendrawasih hanya ada di sebelah kiri bagian rambutnya.
Kulit putih kontras dengan warna dari set perhiasan berbahan batu ruby yang dikenakannya. Terlihat anggun dan cantik, benar-benar mencerminkan wanita kalangan atas.
Tapi apa yang sejatinya membuat Samy tertawa dan dirinya malu setengah mati? Selain riasan yang kesasar ala bidadari kaum jet set, yang masuk kampung. Juga para pelayan yang berjumlah sekitar 20 orang yang mengikutinya.
Berjejer di antara karpet merah yang dilewatinya. Kemudian menunduk memberi hormat.
"Nyonya muda," ucap mereka serempak. Berhasil membuat Dora menutupi wajahnya dengan tas bermerek berharga ratusan juta.
Ratusan juta? Arsen yang menyiapkan segalanya, saat pernikahan Dora dulu. Berharap wanita itu akan betah tinggal di villa, menemani Yoka terkurung dalam villa selama-lamanya. Namun, Dora tidak menggunakannya selama ini, hanya beberapa pakaian santai dan ransel untuk kuliah saja.
"Kalian fikir ini ajang penghargaan selebriti..." geram Dora dengan suara kecil pada salah satu pelayan.
"Inilah yang sering dilakukan nona Anggeline dulu. Menyuruh kami meninggalkan tuan muda di villa sendirian. Menemaninya berbelanja di mall, membentangkan karpet merah, kemudian membawakan belanjaannya. Satu lagi, jika dia lelah berkeliling, kami juga membawa kursi khusus, mengelap keringatnya dan memberikan air putih. Serta dua orang dari kami, mengipasinya yang bermain handphone," ucap sang pelayan panjang lebar.
"Ini tidak ada apa-apanya," lanjut sang pelayan. Membuat Dora menghela napas kasar.