Silent

Silent
Ayah, Anak, Cucu



Surat putusan cerai sudah ada di tangan Meira saat ini. Setelah tiga kali sidang akhirnya dirinya terbebas dari Jovan.


Kembali ke pekerjaannya? Dirinya tiba-tiba dipecat oleh atasannya. Walaupun dengan uang pesangon yang cukup besar.


Keadaan pria yang sering menghabiskan malam dengannya benar-benar sangat kacau. Bahkan pria itu mengemis dan memohon pada istrinya agar tidak berpisah. Sidang yang berjalan cukup lama, karena sang suami yang mengajukan banding terus menerus.


Tidak ingin berpisah dengan wanita yang tulus padanya. Bahkan Yuli di awal pernikahan sempat berlutut pada mertuanya, akan menjadi menantu dan istri yang baik. Wanita yang mewujudkan kata-katanya tapi hatinya terlalu lelah. Menyaksikan seorang wanita bergerak di atas tubuh suaminya yang meracau menikmati segalanya.


Meira tidak habis fikir apa kelebihan Yuli hingga atasannya bersedia berlutut, bahkan membuka tenda di depan rumah Yuli, hanya agar memohon istrinya kembali. Memakan mie instan di tengah tenda dalam keadaan hujan.


Bahkan kala dirinya kembali menggoda, pria itu hanya membentak dan mengusirnya.


"Benar-benar pria bodoh..." gumam Meira yang datang untuk terakhir kalinya menggoda pemilik pabrik semen itu. Godaan yang berakhir dengan dirinya yang diusir security.


Kini Meira melangkah mencari pekerjaan baru. Mungkin sebagai manager atau direktur? Itulah yang ada dalam benaknya.


Tapi sebelum itu, dirinya akan menemui Jovan terlebih dahulu di Bank tempat pria itu bekerja, meminta jatah bulanan. Mengapa? Salah satu temannya yang bercerai juga mendapatkan jatah bulanan. Mengapa dirinya tidak?


Jovan melangkah keluar setelah security mengatakan tentang Meira yang mencarinya. Menghela napas kasar menatap kearah mantan istrinya.


"Uang bulanan, langsung transfer ke rekeningku saja..." ucapnya memainkan phonecell.


"Kita sudah bercerai, harta gono-gini juga sudah dibagi. Kenapa meminta uang bulanan?" Jovan mengenyitkan keningnya.


"Temanku mendapatkan uang bulanan dari mantan suaminya walaupun sudah bercerai. Jadi aku meminta hakku!" tegas Meira.


"Maksudmu tetanggamu di kampung? Uang bulanan ditujukan untuk anak mereka! Apa kamu punya anak dariku?! Jika punya aku akan mengirim 3 juta perbulan ke rekeningmu," cibir Jovan menghela napas berkali-kali, berusaha untuk bersabar.


"Selama ini kamu menjadi suami yang tidak berguna! Seharusnya kamu merasa bersalah padaku." Sebuah jawaban yang egois bukan? Suami tidak berguna? Jovan telah memenuhi semua kebutuhan Meira. Bahkan hampir tidak tidur, kuliah sambil bekerja, agar dapat memenuhi syarat naik jabatan dengan cepat.


"Kita sudah bercerai, jika keberatan dengan sikapku lebih baik tuntut ke pengadilan." Pemuda yang enggan menanggapi mantan istrinya, berjalan kembali ke ruangannya.


Meira mengepalkan tangannya, meyakini ada wanita lain yang merebut hati Jovan hingga tidak menurut lagi padanya. Mengikuti Jovan? Itulah hal yang akan dilakukannya.


*


Sore menjelang kala itu, mobil Jovan melaju, sedangkan Meira menyewa sebuah mobil taksi online. Mengikuti sang pemuda menuju area parkir pusat perbelanjaan. Berbagai peralatan bayi dibelinya. Pemuda yang tersenyum, sejatinya benar-benar berusaha tersenyum. Ini adalah hadiah untuk wanita yang dicintainya. Wanita yang tengah mengandung, anak dari pria pilihannya.


Bukankah memang begitu? Tidak menayangkan langsung pada orangnya. Mengambil kesimpulan sendiri, mungkin Jovan lebih liar darinya. Memiliki anak diluar nikah.


Mobil pemuda yang kembali meninggalkan area parkir mall diikutinya. Melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Jemari tangan Meira mengepal, kali ini dirinya akan mengetahui, wanita mana yang membuat Jovan melupakannya.


Hingga mobil terhenti di depan area kampus. Pemuda itu tersenyum, menunggu kedatangan seseorang. Wajah Meira seketika pucat pasi, perlahan berubah menjadi sebuah senyuman.


Perut yang sudah jauh membesar mungkin kini usia kandungan telah memasuki bulan ke tujuh. Seorang mahasiswi jurusan kedokteran.


Jovan menyodorkan paper bag besar berisikan peralatan bayi padanya. Dora hanya tersenyum, kemudian tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. Wanita yang terlihat hanya bergurau.


Tapi dalam anggapan Meira berbeda. Dirinya pernah bertanya pada salah satu penjaga villa, tuan muda mereka sudah pergi ke luar negeri selama dua tahun lebih dan belum kembali hingga saat ini. Sedangkan nyonya muda mereka tinggal di kediaman utama.


Mengambil beberapa gambar, dengan handphone kameranya. Gambar yang tidak begitu jelas tertangkap. Tepatnya karena takut ketahuan, jadi dirinya hanya mendapatkan foto wajah Dora, sedangkan Jovan hanya bagian punggungnya saja.


Apa yang sebenarnya dua orang itu bicarakan di depan kampus? Tidak ada yang berarti hanya sekedar mantan yang kini telah berusaha menjadi teman. Tidak ingin ada rasa kekecewaan atau permusuhan.


"Jadi ini untuk anakku?" Dora mengenyitkan keningnya. Dengan cepat Jovan mengangguk.


"Ini untuk anakmu! Ingat! Kamu jangan memakainya, terutama dot dan kereta dorong bayi ini..." tegas Jovan, sedangkan Dora mengenyitkan keningnya.


"Siapa tahu saja isi otakmu itu menjadi kumat lagi. Memakai kereta dorong bayi untuk bermain seluncuran, lalu menjatuhkan diri seperti pinguin, berseluncur di atas lapisan es. Mengambil dot bayi mengisinya dengan juice buah, lalu meminumnya pelan-pelan agar tidak tumpah saat membaca buku pelajaran..." lanjut pemuda itu menjelaskan.


Plak!


Dora memukul punggungnya."Aku belum ingin viral sebagai ibu hamil terunik!" wanita yang menghela napas kasar melihat Jovan tertawa.


Tidak memiliki hubungan kekasih seperti dulu. Namun ini mungkin lebih baik.


"Bagaimana dengan Meira? Kalian berpisah baik-baik?" tanyanya.


Jovan mengangguk."Dia ingin berpisah dariku sejak lama. Hanya saja aku ingin berusaha mempertahankan pernikahanku. Bukan karena cinta, tapi karena janji yang aku ucapkan di hadapan Tuhan. Janji yang kini aku langgar, cukup menyakitkan bertahan dua tahun ini."


"Kamu akan menemukan jalan yang terbaik. Sekarang fokus pada karier, cepat atau lambat jodohmu yang masih dipinjam orang akan kembali..." cibir Dora meraih paper bag besar dan kereta dorong bayi yang telah dilipat.


"Apa Yoka yang meminjam jodohku?" tanyanya tertawa, sebuah candaan yang pahit baginya.


"Jodoh Yoka yang sempat kamu pinjam." Dora hanya tersenyum, pandangan matanya beralih ke arah mobil putih yang menjemputnya.


"Aku pulang dulu," lanjut Dora menatap ke arah Narendra yang meraih paper bag, serta kereta dorong bayi yang diberikan Jovan.


"Hati! Hati! Katakan pada suamimu jika dalam 10 tahun dia tidak pulang, anaknya akan memanggilku papa dan istrinya akan memanggilku sayang..." kembali sebuah celotehan candaan keluar dari mulut Jovan.


Bug!


Kepala pria itu dilempar menggunakan kaleng kosong oleh Narendra."Anakku akan pulang!" bentaknya.


Mobil putih itu mulai melaju, meninggalkan Jovan yang tersenyum. Mengusap-usap kepalanya yang sedikit terasa sakit.


"Apa Yoka akan pulang?" gumamnya tersenyum, mungkin berharap keajaiban terjadi pemuda itu berselingkuh.


Sedangkan di dalam mobil, Dora mulai memakan bakpao kacang hijau yang dibelikan Narendra.


Komat-kamit mulut Narendra mengomel merasakan aura tidak asing dalam diri Jovan.


"Aku pernah bertemu tipikal pria sepertinya. Dia itu memendam cinta tapi berkedok teman. Aku bertarung mati-matian, bersaing dengannya selama 11 tahun..." ucapnya yang sejatinya sudah mengomel dari 15 menit yang lalu. Entah apa yang dikatakannya. Bagaikan biksu Tong, yang tengah menasehati kera sakti. Maaf salah, biksu Tong yang menasehati pinguin kecil.


"Dia seperti Martin!" teriak Narendra penuh angkara murka.