
Wajah wanita itu pucat pasi menatap ke arah suaminya. Pemuda yang mencium telapak tangannya.
"A...Aku," gumam Dora gugup.
"Kamu tidak merindukanku?" satu pertanyaan dari bibir Yoka, membuat bulu kuduknya benar-benar merinding.
"Kamu siapa?!" bentak Chery yang tiba-tiba datang mendekat.
"Kakak ipar." Wajah Yoka terlihat tersenyum namun jemari tangannya tengah menggenggam tangan Dora, posesif.
"Kamu suami adikku? Pantas saja adikku ketakutan. Suaminya seperti ini. Lepaskan!" Chery berusaha melepaskan jemari tangan Yoka.
Namun pemuda itu melawan, bergerak menarik istrinya. Kemudian memukul tengkuk kakak iparnya. Tidak pandai berkelahi? Itulah mungkin yang menjadi kekurangan Chery. Wanita yang rubuh dengan satu kali pukulan di titik lemahnya oleh sang adik ipar.
"Kakak!" teriak Dora, mendekati Chery yang berbaring di lantai. Perkelahian yang membuat orang-orang mulai mendekat.
"Maaf, dia kakakku, terjatuh karena lantai yang licin," ucap Yoka terlihat cemas, menggendong Chery di punggungnya.
"Kakak!" sedangkan Dora mengguncang tubuh sang kakak terus menerus. Tidak ada yang melihat dengan pasti saat Yoka memukul bagian tengkuk Chery. Sebagian besar baru mengetahui setelah Chery tidak sadarkan diri.
Pemuda yang membawa tubuh kakak iparnya hingga ke mobil. Diikuti dengan Dora yang sudah mulai menangis terlihat mengkhawatirkan Chery.
Tubuh itu diletakkan di kursi penumpang bagian depan. Yoka terdiam sesaat terlihat menghubungi seseorang, sedangkan Dora terlihat benar-benar panik.
"Antar kakak ke rumah sakit!" pintanya sesegukan.
"Dia tidak apa-apa, hanya tidak sadarkan diri selama beberapa jam." Yoka mematikan panggilannya, tersenyum menatap ke arah istrinya.
"Beberapa jam?! Kamu memukul bagian tengkuknya. Bagaimana jika..." kata-kata Dora disela.
"Dia tidak akan apa-apa, aku tidak memukulnya dengan keras. Hanya membuatnya tidak sadarkan diri sementara." Tegas Yoka.
Sebuah mobil berhenti di dekat pasangan suami-istri yang tengah berdebat. Samy menghela napas kasar turun dari mobil sport miliknya. Berjalan mendekati kakaknya.
"Ada apa? Aku baru saja tidur beberapa jam dan kamu sudah membangunkanku," geramnya, menatap ke arah sang kakak.
"Kamu urus wanita yang ada di dalam. Beri minyak kayu putih, minyak angin, atau minyak jelantah sekalian agar bangun. Jika dalam tiga puluh menit tidak bangun, hubungi aku!" perintah Yoka seenak jidatnya memberikan kunci mobilnya. Kemudian merebut kunci mobil milik Samy.
"Yoka! Antar kakak ke rumah sakit dulu!" pinta Dora menatap ke arah suaminya.
"Kamu ingin pergi dengan membawa anakku?!" Tanya Yoka tiba-tiba. Sedangkan Dora menunduk, pinguin kecil yang bingung harus bagaimana.
"Masuk ke mobil! Jika kakakmu tidak bangun, Samy akan membawanya ke rumah sakit!" Yoka membuka pintu mobil milik Samy. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran bandara.
Dalam perjalanan Dora hanya menunduk ketakutan. Mencemaskan keadaan Chery, hingga beberapa puluh menit perjalanan mereka sebuah pesan masuk ke phonecell Yoka. Pesan dari Samy yang menyatakan wanita itu sudah sadar.
"Kakakmu sudah sadar," ucap Yoka memecah kecanggungan antara mereka.
Sedangkan Dora menoleh padanya, air matanya tidak henti-hentinya mengalir."Kita bercerai saja!" ucapnya tiba-tiba, membuat Yoka menghentikan laju mobilnya di tepi jalan sepi pedesaan, jalan menuju villa miliknya.
"Kenapa?" satu pertanyaan dari Yoka, menyandarkan punggungnya di kursi pengemudi.
"Aku yang mendesain sendiri, lucu kan? Pinguin royal, setia pada pasangannya seumur hidupnya. Ini aku, kamu dan anak kita..." ucapnya tersenyum dengan wajah benar-benar lugu, tidak bersalah bagaikan malaikat pelindung yang baik hati.
Dora terdiam menghapus air matanya sendiri, bandul kalung yang dikenakannya di tatapnya. Dua ekor pinguin kecil dengan telur mereka berada di bagian tengahnya. Sebuah telur yang dibuat dengan teliti oleh pengerajin perhiasan. Berlian yang tersemat di bagian telur berada.
"Aku..." kata-kata Dora ragu, jantungnya berdegup cepat saat ini.
"Kamu ingin bercerai dariku?" satu pertanyaan dari Yoka."Aku mencintaimu..."
Satu kalimat yang menjadi ujung dari segalanya. Dora membulatkan matanya. Menatap kearah suaminya. Wanita mana yang tidak akan luluh oleh pemuda berwajah rupawan ini. Benar-benar sulit, terlalu pandai menggoda.
"Aku ...aku bukannya tidak mencintaimu, tapi," ucap Dora tergagap.
"Tapi apa?" pertanyaan dari Yoka meraih tengkuk istrinya. Dengan tatapan mata mulai sayu.
"Tapi aku," kata-kata Dora terhenti, Yoka mengecup bibir istrinya. Hanya sebuah kecupan singkat.
Wanita yang benar-benar menikmati perasaan berdebar yang tercipta. Tapi Yoka hanya mengecupnya? Menjauhkan wajahnya? Ini tidak dapat diterima olehnya. Wanita yang meraih tengkuk suaminya melanjutkan ciuman mereka.
Manipulatif? Itu salah satu sifat suaminya saat ini. Pemuda yang tersenyum tanpa disadari Dora mulai memejamkan matanya, menikmati bibir istrinya. Lidah yang bergerak perlahan saling menyapa, seakan benar-benar merindukan.
"Aku mencintaimu," ucap Dora di sela-sela ciumannya. Benar-benar wanita plin-plan. Saat suaminya tidak ada berkata dengan lantang, akan melarikan diri dari pria keji. Tapi saat pemudanya ini ada di hadapannya, dirinya hanya bisa pasrah.
Hingga pada akhirnya ciuman itu terlepas, jemari tangan Yoka membelai perut istrinya yang membuncit."Ini anak kita?" tanyanya meletakkan tangannya merasakan adanya pergerakan. Dengan cepat Dora mengangguk.
"Ayah sudah pulang..." ucap Yoka tersenyum, mendekatkan telinganya ke perut istrinya.
Benar-benar terlihat seperti pria penyayang. Yoka tidak mungkin akan berbuat jahat, itulah yang ada di fikirannya, menatap senyuman lugu nan teduh dari suaminya.
"Usia kandunganku sudah ada di bulan ke delapan sekitar satu minggu lagi. Jadi aku memerlukan bantuanmu," ucap Dora mencari alasan. Pinguin kecil yang benar-benar melupakan kekejaman suaminya.
"Bantuan apa? Apa ada yang mengganggumu?" pertanyaan dari Yoka, kini menatap mata istrinya.
"Tidak, tapi cepat atau lambat kita harus membuat jalan lahir." Sebuah alasan yang sangat masuk akal. Benar-benar luar biasa, membuat jalan lahir agar disentuh suaminya.
Namun, suaminya masih cukup awam untuk hal ini."Membuat jalan lahir? Bagaimana caranya? Apa kita perlu ke dokter kandungan melakukan operasi?"
Dora memijit pelipisnya sendiri, menghela napas berkali-kali. Apa dirinya harus mengatakan secara blak-blakan?
"Hanya kamu yang bisa membantuku. Tidak perlu dokter jadi..." Dora masih ragu-ragu mengucapkan ingin menghabiskan malam yang hangat dengan suaminya.
"Membuat jalan lahir, apa aku perlu mencari tutorial caranya di google?" tanya Yoka dengan raut wajah serius. Meraih phonecellnya ingin mengetahui apa yang disebut dengan mencari jalan lahir.
"Ketika mempunyai pasangan yang terlalu lancar mengetahui urusan ranjang maka mungkin dia adalah playboy sejati. Tapi ketika mempunyai pasangan yang awam dengan urusan ranjang, maka akan menjadi malu sendiri untuk meminta jatah..." batin Dora berusaha untuk tersenyum, kala Yoka mulai mengetahui apa yang dimaksud mencari jalan lahir. Istilah lainnya menanam jagung.
*
Bandara, setelah kepergian Yoka dan Dora.
Samy membuka kunci mobil milik Yoka, ingin memeriksa keadaan gadis yang harus dibangunkan olehnya.