Silent

Silent
Tidak Ada



🍀🍀🍀🍀 Kalau ada typo nanti aku revisi, masih di tempat kerja 🍀🍀🍀🍀


...Disaat hujan turun, saat itulah aku merindukanmu. Aku yang membuatmu pergi, aku juga yang tidak menginginkan kepergianmu....


...Jika bisa aku tidak ingin begini......


...Embun yang membasahi jendela kaca, apa kamu juga merasakan hawa dinginnya? Aku ingin memilih sebuah takdir....


...Jika bisa mengulangi waktu, aku ingin mati sebelum bertemu denganmu. Agar kamu bisa hidup, walaupun tidak mengenalku....


...Mungkin hanya sepintas melewati makam seseorang yang tidak kamu kenal....


...Saat hujan turun......


...Saat itulah aku menyadari satu hal, kamu telah berjalan ke tempat yang lebih tenang....


...Mendorong kepergianmu dengan tangan ini, membiarkan tubuhmu terpelanting ke jurang terjal....


...Wajah yang aku rindukan, terjatuh dalam tangis, tenggelam di lautan dalam....


...Hanya keinginan tubuh ini untuk mengikutimu....


Narendra.


Sudah mengetahui segalanya akan terjadi, perapian tidak dinyalakannya. Hujan salju turun dengan lebat, air matanya mengalir. Sebuah berita pada akhirnya terdengar, dering suara panggilan telepon internasional.


Kematian istrinya? Itulah yang akan didengarnya. Sudah di duga olehnya, wanita yang dicintainya mati di tangannya sendiri. Apa dirinya pantas hidup? Dirinya juga tidak pantas hidup. Namun, mati setelah kematian Yoka? Sebuah janji yang mengikat nyawanya.


Melda yang juga mengalami rasa bersalah yang mendalam mungkin juga diam-diam sering memikirkan kematiannya sendiri. Karena itulah mungkin menginginkan Narendra tetap hidup untuk menjaga putranya.


"Konyol..." gumam Narendra, dengan air mata yang tidak ada henti-hentinya mengalir di pipinya. Lengannya di perban, terlihat bekas luka disana, semalam pemuda itu menusuk lengannya sendiri dengan pena.


Terdiam dengan tatapan kosong, apa wajah istrinya telah mendingin? Apa telah meninggalkannya?


Hingga pada akhirnya panggilan itu diangkatnya.


"Tu... tuan akhirnya anda mengangkat panggilan!" suara Zou terdengar di seberang sana. Pemuda yang belum curiga, pada suami dari majikannya.


"Em?" hanya satu kata yang diucapkan Narendra, tidak sanggup mengatakan apapun.


"Nyonya Melda, ada perampok yang membunuhnya. Martin yang menemukannya, tuan muda juga tidak bicara hingga saat ini. Tuan muda melihat segalanya, nyonya Melda dilecehkan kemudian dibunuh..." kata-kata dari mulut Zou, membuat Narendra terdiam.


Menjatuhkan gagang teleponnya. Dilecehkan? Air matanya mengalir, mengemasi barang-barangnya. Bukan hanya membunuh, orang-orang itu juga melecehkan Melda?


"Aku salah...aku salah...aku salah..." gumamnya dengan tangan gemetar. Mengemasi semua barang-barangnya. Pemuda yang berlari ke luar dari hotel, setelah check out.


Bahkan sempat terjatuh di lobby. Tidak tahu harus bagaimana. Istrinya sudah tidak ada, mati di tangannya sendiri. Bahkan mengalami kematian yang menyakitkan.


"Argh!!" teriaknya dalam mobil taksi yang melaju menuju bandara.


Hujan salju masih turun, bagaikan mengantarkan perpisahan mereka. Kesalahan siapa? Apa Narendra?


"Ini salahku! Andai aku mati perlahan, andai aku tidak menerima permintaan Ghani. Kamu akan hidup..." sebuah tangisan kesia-siaan, segalanya telah terjadi. Hutan budi yang dibayar mahal olehnya, rasa sakit dan kesepian seumur hidup yang ditanggungnya.


Badai salju yang turun membuatnya tinggal di bandara selama lebih dari 24 jam. Pemuda yang hanya terdiam tanpa ekspresi, matanya menatap ke arah langit, salju putih yang benar-benar indah. Tapi terasa dingin, tangannya menadah, butiran yang terjatuh di tangannya, melebur menjadi air oleh hangat suhu tubuhnya.


*


Hingga pesawat pada akhirnya landing, bukan perjalanan singkat. Semua penumpang bahkan tertidur di pesawat. Kecuali dirinya, meraba pelan kaca jendela pesawat. Jalan ini yang terlanjur dipilihnya. Jika...jika...


Benar-benar sudah tidak ada kata jika. Melda sudah tidak ada, mungkin benar-benar membencinya saat ini. Apa dirinya dapat mengantar kepergiannya?


"Cuaca dingin, jaga kesehatanmu," kata-kata Melda yang terdengar. Ini adalah hari kedua, bagaimana dengan hati-hati lainnya. Hari-hari melelahkan yang akan dijalinnya seorang diri.


Menarik kopernya di area kedatangan penumpang. Memesan taksi dengan cepat, apa dapat melihat wajahnya? Atau setidaknya melihat makamnya?


"Aku merindukanmu," hanya itu kata yang tersisa.


*


Namun, satu pukulan didapatkannya kala mendatangi rumah sakit tempat Martin berada.


"Aku sudah mengkremasi jenazahnya! Dia mati dengan benar-benar dipermalukan! Karena itu, aku tidak ingin kamu meminta maaf padanya! Abunya sudah aku sebarkan di laut! Kamu puas?!" Kata-kata dari mulut Martin saat itu, menatap Narendra yang terdiam dengan pandangan kosong.


Terdiam beberapa saat, matanya menelisik wajah putranya terlihat sedang mendapat konseling dari psikiater. Tidak ada senyuman di sana.


"Kapan?" tanya Narendra.


"Pagi ini aku sudah menebar abunya di laut. Jangan pernah meminta maaf padanya. Simpan rasa bersalahmu seumur hidupmu." Air mata Martin mengalir, kembali ke tempat psikiater. Berharap Yoka dapat meredakan trauma psikologis yang dialaminya.


*


Hanya mempercayai kata-kata Martin. Angin menerpa rambutnya, menatap ke arah laut.


Tidak ada yang dapat dikatakannya. Mati dalam penderitaan? Itu bukanlah keinginannya.


"Apa jika aku mengancam akan lebih menyakitimu, kamu akan menemuiku sekali saja?" tanyanya menatap ke arah laut.


Tidak ada jawaban, hanya hujan yang perlahan turun menerpa tubuhnya. Semua hari-hari cerah telah memudar, dalam derai air hujan yang turun. Menuangkan red wine ke atas air laut kemudian baru meminumnya. Seakan menyuguhkannya pada Melda.


Tangannya terangkat, menarik pelatuk senjata api berukuran kecil.


"Karena itu, berjanjilah tetap hidup, untuk Yoka. Sebelum putra kita mati. Kamu tidak boleh mati, karena aku terlalu bodoh untuk menjaganya..." Kalimat yang diucapkan Melda sebelum keberangkatannya, terngiang bagaikan suara wanita itu terdengar.


Enggan untuk hidup, matipun tidak bisa. Pemuda yang menjatuhkan senjata apinya. Kembali meminum red wine seorang diri sembari menatap dengan tatapan kosong ke arah laut.


*


Semua dilakukannya, tidur dengan Salsa dalam keadaan mabuk berat? Berakhir menikahinya, menyakiti dirinya sendiri. Kadang kala dirinya berfikir, satu-satunya pengikat dirinya untuk tetap hidup adalah putranya.


Seorang pelayan disusupkannya ke villa hanya untuk mengetahui keadaan putranya. Membiarkan Salsa mencoba mencelakainya?


Sisi hitam dan putih, membayar pelayan salah satu untuk melindunginya. Namun juga, terkadang mengikuti kata-kata Salsa mendorong Amanda mendekati Yoka. Seseorang yang dikirim untuk mencelakai putranya.


Anggeline? Mengapa mendukung hubungan Malik dengan Anggeline? Apa karena tidak mencintai putranya lagi? Pelayan yang dibayar Narendra mengatakan segalanya. Perilaku dan sifat Anggeline pada putranya. Karena itulah ketika Anggeline menjalin hubungan dengan Malik dirinya hanya diam, tidak mengatakan Malik bukan anak kandungnya.


Mengangguk setiap Anggeline menanyakan tentang keuangan Malik sebagai anak tertua, yang dibatasi. Memberikan sampah lumpur pada anak sambungnya.


Tapi ada kalanya sifat terapuh dalam dirinya. Mungkin jika Yoka mati, maka dirinya juga dapat mati. Kehidupan yang benar-benar menyakitkan terjerat rasa bersalah, merindukan, kesepian, segalanya bercampur jadi satu. Hanya berusaha untuk tersenyum, atau lebih tepatnya berpura-pura tersenyum. Menjadi makhluk paling keji.