Silent

Silent
Keluarga



Malam semakin menjelang, Melda masih menggendong sang bayi prematur yang baru saja keluar dari rumah sakit menelan ludahnya sendiri berusaha tegar untuk menemui sahabatnya.


"Martin! Martin! Martin!" panggil Melda.


Hingga pemuda itu keluar dari kamarnya hanya dengan sehelai handuk yang melilit tanpa atasan.


"Bertanggung jawablah! Anakmu membutuhkanmu!" kata-kata dari bibir Melda, menunjukkan Samy yang tengah tertidur dalam gendongannya. Sementara Yoka masih ada dalam kereta dorong bayi, di samping Melda.


"Bertanggung jawab? Anakku?" gumam Martin terdiam, melihat tubuhnya sendiri yang baru saja selesai mandi. Tidak mengerti dengan segalanya.


Aku loncat baca berapa episode? Di episode ke berapa aku melakukannya dengan Melda hingga nona melahirkan bayi? Kalau ada yang ingat tolong beri tahu aku, agar aku dapat membaca ulang dan melakukannya dengan penuh penghayatan. Apa mungkin itu yang ada di fikiran Martin? Pemuda yang menatap Melda tanpa berkedip.


Melda mengangguk, kembali menunjukkan wajah Samy."Lihat! Hidungnya sepertimu, matanya juga jernih, dia tampan sepertimu," bujuk rayu Melda.


Tapi dengan cepat Martin menggeleng sejenak."Jika aku ayahnya, ibunya siapa?" tanyanya polos.


"Aku, Yoka adalah anak pertamaku dan Samy adalah anak keduaku." Jawaban santai dari Melda, tersenyum lebar, menampakan gigi putih bersihnya ala iklan pasta gigi.


"Jadi aku adalah ayahnya dan kamu ibunya?" Martin kembali memastikan, wajahnya tersenyum, memiliki anak dengan Melda? Siapa yang tidak mau?


Namun, itu hanya sejenak sebelum kesadarannya kembali. Pemuda yang mengenyitkan keningnya curiga.


"Ayo katakan perbuatan baik apa lagi yang kamu lakukan? Hingga membuatku harus bermain rumah-rumahan denganmu?" tanyanya.


Melda hanya tersenyum lebar, tertunduk, mulai mengoceh bagaikan burung murai yang mengikuti lomba. Segalanya dijelaskan olehnya termasuk kematian istri pertama Narendra.


Setelah sekitar satu jam, kini Melda meminum secangkir teh yang baru saja agak mendingin.


"Jadi kamu ingin aku merawat anak si br*ngesek?!" tanya Martin benar-benar berusaha tersenyum, memendam kekesalannya.


Melda mengangguk, menghela napas kasar dengan mementingkan nama baiknya. Martin mungkin tidak akan setuju.


"Kalau kamu tidak mau, mungkin aku akan membeli rumah, menyewa baby sitter di luar kota. Khusus untuk menjaganya," jawaban dari Melda.


Tangan Martin mengepal, mengapa Narendra begitu beruntung memiliki Yoka, anaknya dengan Melda. Mungkin ini petunjuk dari Tuhan, saatnya dirinya memiliki makhluk kecil sebagai pengikat agar Melda rajin menemuinya. Selayaknya keluarga.


Mulai hari ini bayi br*ngesek ini adalah putranya, dan Melda adalah ibu dari anaknya."Aku akan merawat anak si br*ngesek!" tegas Martin, mengambil keputusan.


"Kamu akan merawat Samy?! Terimakasih!" Dan benar saja, Melda meletakkan Samy yang telah tertidur di sofa, kemudian memeluk Martin erat.


Untuk pertama kalinya nona muda mengambil inisiatif untuk memeluknya. Martin menahan senyumnya, melirik pada sang bayi.


"Itu adalah anakku mulai sekarang. Wajahnya benar-benar mirip denganku. Akan mewarisi sifatku di bandingkan ayah kandungnya, kemudian aku dapat menjalani kehidupan dengan nona sebagai ayah dan ibu darinya..." batin Martin dengan imajinasi tingkat tinggi, dimana Melda memakaikan dirinya dasi, kemudian mengecup pipinya. Dirinya menghampiri anak mereka Yoka dan Samy. Benar-benar keluarga bahagia dalam imajinasinya, melupakan ke beradaan si brengsek.


"Narendra sebentar lagi akan pulang, aku sudah menyewa baby sitter. Semua perlengkapan bayi ada dalam tas. Aku dan Yoka harus kembali dulu agar Narendra tidak curiga dengan keberadaan anak kita." Kata-kata dari Melda yang polos, bagaikan tengah bermain rumah-rumahan dengan pemuda di hadapannya.


Martin mengangguk, dirinya terperdaya dengan kata anak kita. Pada akhir dirinya memiliki anak dengan Melda? Sungguh sesuatu yang membuat dirinya bahagia.


"Aku pulang dulu..." Melda bangkit menggendong Samy yang tertidur ke atas tempat tidur Martin. Kemudahan meletakkan beberapa botol ASI cadangan di lemari pendingin. Serta box susu formula yang harganya cukup mahal, di dekat rak.


"Hangatkan susu dalam botol, jika stoknya sudah habis, bantu sementara waktu dengan susu formula." Penjelasan singkat dari Melda.


"Yang ada dalam botol susu apa?" tanya Martin dengan polosnya.


"ASI, aku harus memompanya lagi," jawaban dari Melda membuat Martin menelan ludahnya. Melihat ke arah lain, bayangan tentang benda penghasil ASI membuatnya tidak konsentrasi.


Hingga pada akhirnya Melda pergi bersama Yoka. Barulah kesadaran Martin kembali sepenuhnya. Berjalan mendekati Samy yang baru terbangun di atas tempat tidur miliknya.


Samy tersenyum, bahkan tertawa, jemari tangan kecilnya naik membelai wajah Martin. Tangan kecil dengan mata yang jernih tanpa dosa.


"Anak papa!" teriak Martin, tiba-tiba, mengecup pipinya gemas. Samy kembali tertawa, bayi mungil yang seolah merayu Martin untuk bersedia merawatnya.


"Aku akan membelikanmu mainan! Membesarkan putraku ini agar mirip denganku dan Melda! Kamu bukan anak Narendra dan wanita kampung tidak jelas. Kamu adalah anak seorang Martin dan Melda..." benar-benar ajaran buruk pada sang bayi, disambut dengan gelak tawa dari sang bayi mungil.


Seorang anak yang mendapatkan kasih sayang penuh dari Martin. Mungkin anak yang sejatinya lebih beruntung daripada Yoka, kakaknya.


*


Narendra benar-benar langsung kembali, setelah mendengar kebakaran yang terjadi di rumah yang dibelikannya untuk istri pertamanya. Air matanya mengalir, dirinya gagal menjaga kepercayaan almarhum Ghani, bahkan putranya yang ada di dalam kandungan Viona ikut mati.


"Ini mungkin kehendak Tuhan, kita sebagai umat-Nya hanya harus menjalani kehidupan dengan baik..." Melda menepuk bahu suaminya, berusaha menegarkan. Padahal dirinya sendiri yang harus kembali datang ke pemakaman Viona, telah menangis terisak hingga mengeluarkan ingus tanpa henti.


"Kamu kenapa menangis, kalau kita harus tegar! Dasar wanita plin-plan! Viona! Ghani! Maaf!" racauan Narendra dalam tangisannya, masih sempat-sempatnya berdebat dengan istrinya.


"Kamu pasti sangat mencintainya!" Melda kembali menangis lebih kencang.


Narendra menghela napas kasar memegang dada kirinya. Apa ini akhir dari balas budinya? Namun mengapa Viona harus pergi, bahkan membawa putranya dan kedua lansia yang dikasihinya.


Menyakitkan? Kematian hanya membawa rasa duka, ketika sebuah pertemuan berakhir dengan perpisahan yang kekal. Mungkin hanya Melda yang dimilikinya kini, matanya menatap ke arah Melda yang masih menangis mengeluarkan beberapa helai tissue.


Rasa iba ada dalam dirinya, walau bagaimanapun hubungan Viona dan Melda sudah seperti sahabat. Mengingat kehidupan Melda yang dikekang kakek dan kedua orang tuanya.


"Viona! Tidak seharusnya kamu mati!" Benar saja, Melda menangis lebih kencang darinya, bahkan wanita itu berteriak. Padahal seharusnya Narendra yang paling sedih saat ini kehilangan calon anak dan istri pertamanya.


Pemuda yang tiba-tiba berhenti menangis, menatap ke arah istrinya, penuh rasa iba. Padahal ini bukan pertama kalinya Melda mengunjungi makam Viona.


Hingga satu kalimat terucap dari bibir wanita itu.


"Viona, lalu bagaimana dengan rencana perceraianku dengan si br*ngsek? Aku tidak mau menggantikanmu menghadapi makhluk kaku sepertinya, bahkan jabatan wakil CEO juga belum diberikannya padaku..." Melda menangis semakin kencang.


Hidung Melda ditarik ke atas, hingga menyerupai b*bi oleh suaminya.


"Jadi kamu masih ingat jabatan wakil CEO?" tanya Narendra yang benar-benar tidak dapat berduka sedikit saja didepan istri keduanya.


"Iya! Kamu sudah janji! Melahirkan itu sakit! Katanya jika aku melahirkan anak untukmu, jabatan wakil CEO untukku..." Melda tidak mau kalah, menarik telinga suaminya, di tengah hujan gerimis yang mulai turun, membasahi pepohonan yang ada di sana.


Pasangan yang tidak dapat berhenti bertengkar. Tidak dapat diam di hadapan tiga batu nisan di hadapan mereka.


Tapi apa benar almarhum Viona mengawasi segalanya? Entahlah.


Sekuntum bunga kamboja basah, mirip dengan yang ada di dekat makam Viona ada di atas tempat tidur Salsa.


Wanita yang baru saja memasuki kamarnya, menghela napas kasar.


"Pelayan!" teriaknya.


Seorang pelayan memasuki kamar, menatap ke arah majikannya.


"Kenapa kamu meletakkan bunga basah di tempat tidurku?!" bentak Salsa murka, wanita yang temperamental, menginginkan segala kesempurnaan.


"Saya tidak meletakkannya," ucap sang pelayan tidak mengerti, menyingkirkan sekuntum bunga kamboja di atas tempat tidur, membuangnya ke dalam tempat sampah.


Mengawasi pelaku seumur hidupnya? Entahlah, namun mata yang terbuka, tidak rela dengan kematiannya. Bagaimana perasaan seorang ibu tidak bersalah harus melihat kematian kedua orang tuanya, harus meninggalkan putranya. Menyakitkan? Penuh dendam?