
Ketakutan? Dirinya benar-benar ketakutan saat ini. Hidup tiga tahun tanpa suami. Ada dua pasang mata (Arsen dan Zou) yang mengawasinya agar tidak mengkhianati Yoka. Dua pasang mata (Anggeline dan Salsa) terang-terangan membencinya setengah mati. Sedangkan dua pasang mata (Malik dan Narendra) lainnya entah apa yang ada di fikiran mereka, dua orang yang sulit ditebak.
Dirinya benar-benar seorang diri. Melarikan diri dari rumah mertua? Apa bisa? Jika bisa dirinya ingin melakukannya, melarikan diri dari rumah mertuanya. Tapi Dora sadar diri ini bukan novel online, dimana sangat mudah menyembunyikan diri dari orang berkuasa.
Jika dirinya melarikan diri, maka Arsen akan menangkap ibunya. Walaupun membawa Vera melarikan diri bersamanya, dirinya harus kuliah atau kembali bekerja. Data tentang dirinya akan dengan mudah ditemukan ayah mertuanya. Selain itu, dirinya tidak memiliki uang untuk melarikan diri. Jika menjual cincin pernikahan, Yoka tidak akan mengampuninya.
Jika menjual perhiasan, maka Arsen akan melaporkan pada kepolisian sebagai pencurian agar lebih mudah untuk menemukannya. Ini sulit, benar-benar sulit untuknya.
Wanita yang hanya dapat menunduk di sarang penyamun. Kembali melangkah menuju meja makan, duduk di tempatnya berpura-pura tidak terjadi apapun.
Hingga.
"Narendra! Yoka sudah mempunyai villa pribadi, bahkan lebih dari satu! Untuk apa membawa istrinya kemari!" bentak Salsa tiba-tiba.
"Malik sudah mempunyai penghasilan yang cukup untuk mencicil rumah. Kenapa masih tinggal disini?" satu pertanyaan mematikan dari mulut Narendra, membuat Salsa kembali duduk di tempatnya.
"Zou terlambat mengirimkan uang bulanan ke rekeningku. Seharusnya ayah menegurnya," keluh Malik.
"Usiamu beberapa bulan lagi 30 tahun, tapi masih meminta uang pada orang tua? Aku merasa rugi sudah membesarkanmu..." cibir Narendra meminum air putih di hadapannya.
Salsa mengepalkan tangannya, menghela napas kasar. Apa yang membuat Narendra berubah menjadi seperti ini?
Jemari tangannya mengepal, menatap ke arah Dora yang hanya terdiam. Wanita yang hanya menunduk, berusaha untuk memakan kembali makanannya.
Melampiaskan kekesalannya pada Dora memang lebih baik. Tangan Salsa meraih gelas di hadapannya, melempar minuman yang ada di dalamnya tepat pada wajah Dora.
Dora mengenyitkan keningnya menghela napas kasar.
"Hujan lokal..." batinnya meraih tissue, mengelap wajahnya sendiri.
"Wanita kampung..." umpat Salsa.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Salsa, tangan Dora masih gemetar saat ini. Untuk pertama kalinya dirinya menampar orang yang lebih tua darinya.
"Karena aku nyonya muda, jadi aku boleh menamparmu!" kata-kata dari mulut Dora membuat semua orang terdiam seketika. Kagum? Terkejut? Benci? Mungkin itu yang ada dalam benak mereka.
Hingga.
"Maaf, tolong jangan merasa tersinggung dan balas dendam..." Dora menunduk meminta maaf, kemudian melarikan diri dengan cepat ke kamarnya, menguncinya dari dalam.
*
Jam demi jam berlalu, dirinya terbangun tengah malam. Hendak mengambil air putih, berjalan mengendap-endap seorang diri matanya menelisik, tidak ingin ditemukan satu orangpun.
Hingga seorang pemuda menarik tangannya, memojokkannya ke dinding. Pemuda rupawan yang memegang dagunya menggunakan jemari tangan. Benar-benar pemain cinta profesional.
"Malik?! Aku Dora bukan Anggeline kamu salah orang," ucap Dora ketakutan.
"Aku tahu kamu Dora. Aku bisa memberimu segalanya, lebih dari yang Yoka berikan," bisik Malik, mulai memejamkan matanya, hendak mencium bibir wanita yang terperangkap dalam kungkungannya.
Matanya mulai terbuka, mengamati Dora yang berjalan, berjongkok, melepaskan diri dari dirinya yang memojokkan wanita itu ke tembok. Benar-benar bagaikan mahasiswa mengikuti ospek.
Malik mengenyitkan keningnya, sifat yang benar-benar berbeda dengan Anggeline. Jika Anggeline terlihat cenderung lebih dewasa dan agresif. Sedangkan wanita ini seperti pinguin kekanak-kanakan yang lucu.
"Mau kemana?" tanya Malik, berjalan cepat, tiba-tiba berada di hadapannya. Dora menonggakkan kepalanya.
"Aku mau mengambil air kemudian kembali tidur," jawaban dari Dora tersenyum memperlihatkan gigi putihnya ala iklan Pepsodent.
"Tidur? Perlu aku temani? Anggeline hanya menyukai Yoka, dan Yoka hanya peduli pada pekerjaannya. Kita sama-sama kesepian jadi..." kata-kata Malik dipotong.
"Jadi apa?!" Zou tiba-tiba muncul entah dari mana, bagikan mencium aroma perselingkuhan.
Dora segera bangkit, mengambil air, kemudian menatap ke arah Zou."Ini bukan kesalahanku! Dia yang bilang, jangan apa-apakan aku." pinta sang kelinci pengecut, menunduk pada Zou. Kemudian pergi melarikan diri secepat mungkin.
Sedangkan selepas kepergian Dora suasana lebih canggung lagi terlihat.
"A...aku...aku, kamu hanya kepala pelayan! Apa hakmu mencampuri urusan majikanmu?!" bentak Malik pada pria di hadapannya.
"Aku punya hak. Lebih dari setengah yang dimiliki keluarga ini adalah milik almarhum tuan Reksa. Ibumu sudah mengambil bagian warisannya, jadi tidak memiliki apapun. Aku berhak tinggal di tempat ini sesuai kontrak kerjaku. Selain itu, apa kamu tahu, gajiku dan gajimu besarnya sama. Direktur? Kamu sama rendahnya dengan kepala pelayan..." senyuman terlihat di bibir Zou, berjalan pergi penuh senyuman.
Tidak ada yang dapat dilakukan Malik. Anak sambung? Hanya itu statusnya, status yang dibencinya. Hingga terobsesi ingin merebut semua yang Yoka miliki.
Meniduri Dora? Itulah tujuannya saat ini. Menunjukkan dirinya lebih dari segalanya dibandingkan dengan Yoka.
Sedangkan di dalam kamarnya, Dora bersembunyi di balik selimut. Tempat ini dipenuhi dengan orang-orang aneh. Orang-orang yang tidak bisa ditebak jalan fikirannya.
Hingga dirinya terdiam sejenak, meraih phonecellnya menatap wajah suaminya yang menjadi wallpaper phonecellnya. Apa dirinya akan dapat menjalani semua ini? Entahlah, namun mungkin saat suaminya kembali akan dengan bangga memuji dirinya sebagai dokter muda.
*
Dua tahun berlalu, dari hari pertamanya tinggal di kediaman utama. Banyak hal yang terjadi dua tahun ini. Termasuk kekecewaannya karena tidak berhasil mengandung, namun segalanya telah dilupakan olehnya.
Wajah suaminya? Semuanya telah dilupakan olehnya. Foto pria br*ngsek itu telah dihapusnya dari phonecellnya.
Mengapa? Tentu saja karena sudah satu setengah tahun dirinya tidak dihubungi lagi. Pria yang mungkin sedang bersenang-senang di luar negeri sana dengan wanita lain.
Memakai setelan putih, wajah yang semakin rupawan saja. Rambut panjang sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Memakai makeup tipis. Inilah Dora, wanita yang menjadi incaran para mahasiswa dan dosen di kampusnya.
Siapa yang sangka wanita ini sudah menikah, bagi sebagian orang menganggap mungkin cincin berlian yang tersemat di jari manisnya hanya aksesoris.
Melangkah menggunakan sepatu hak yang tidak begitu tinggi, melewati lorong kampus. Bahkan ada mahasiswa baru yang sampai menabrak tiang penyangga akibat kurang fokus menatap ke arah seniornya.
Dora menghentikan langkahnya, bibirnya tersenyum menatap ke arah seorang dosen muda di hadapannya. Seorang dosen yang juga bekerja di sebuah rumah sakit besar.
"Mau makan malam denganku?" tanyanya tersenyum.
Dora merapikan anak rambutnya."Aku tidak ingin dibunuh oleh suamiku. Maaf dok..." ucapnya mengedipkan sebelah matanya.
Membuat jantung sang dokter sekaligus dosen itu bagaikan ingin keluar dari tempatnya.