Silent

Silent
Percaya Diri



Meira berjalan dengan kesal meninggalkan kantor polisi setelah memberi keterangan. Tangannya mengepal, benar-benar suami sialan.


Hal pertama yang dilakukannya adalah pulang ke rumahnya. Berpisah dengan Jovan? Masih merupakan suatu keberuntungan baginya. Hanya seorang manager Bank tidak berguna. Masih menjadikan hidup Dora sebagai patokan.


Jika Dora dapat menikah dengan putra tunggal konglomerat dirinya pasti akan dapat melampauinya. Itulah yang ada dalam fikirannya, satu pemikiran yang membuat dirinya dulu berusaha keras merebut Jovan.


Mendekati pemuda yang kini akan menjadi mantan suaminya itu. Mengapa? Saat itu Jovan lah yang menjadi patokan kesempurnaan baginya. Namun saat ini berbeda, Yoka lah yang menjadi patokan kesempurnaan dalam hidupnya.


Hingga pada akhirnya mobil taksi online yang dipesannya memasuki pekarangan rumahnya. Apa yang dimilikinya selama dua tahun ini? Tidak ada, mengikuti gaya hidup hedon dengan perawatan wajah dan pakaian bermerek, memaksakan diri memasuki pergaulan kalangan atas adalah penyebabnya.


Ingin mendekati bos pemilik perusahaan atau setidaknya putra konglomerat. Makan di restauran elite, hanya bertahap tidak sengaja bertemu pria mapan. Tapi pada akhirnya hanya dapat menjerat bos di tempatnya bekerja saja. Itupun hanya untuk menjadi partner ranjang, tidak lebih sama sekali.


Wanita itu mulai duduk di kursi panjang depan rumahnya. Menatap ke arah sepinya jalan desa. Hingga menatap kepulangan ibunya, sedangkan kini ayahnya sendiri pergi merantau ke luar pulau.


"Meira?" Saswati berjalan cepat mendekat ke arah putrinya.


"Ibu," Meira tersenyum membawa plastik putih berisikan martabak manis.


"Kenapa pulang sendiri. Dimana Jovan?" Tanya Saswati, matanya menelisik mencari keberadaan menantunya.


"Ibu, Jovan mempermalukanku. Dia menghubungi petugas kepolisian, menangkap ku tidur dengan bosku. Padahal ini salahnya, andai dia lebih mapan aku tidak akan melakukannya..." jawabnya memeluk tubuh ibunya.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu sudah menasehatinya?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak pantas ditanyakan oleh seorang mertua. Menasehatinya? Kesalahan saat ini ada di pihak Meira.


Namun tetap saja, seorang ibu yang benar-benar memanjakan putrinya.


"Aku sudah mengatakan ini kesalahannya sendiri. Tapi dia malah ingin bercerai denganku. Karena itulah aku tidak pulang. Aku ingin bercerai, membuktikan padanya bahwa tidak dia saja pria di dunia ini..." ucap Meira pada ibunya.


Saswati terdiam sejenak, TV, tempat tidur baru, bahkan lemari es, dan motor keluaran terbaru, semuanya masih dicicil oleh mematunya atas permintaannya. Dan sekarang bercerai? Sedangkan Meira sama sekali tidak peduli dengan kehidupannya. Bagaimana dengan cicilannya? Jika bercerai dengan manager Bank siapa yang akan membayar?


"Meira jangan berfikiran sempit. Jika masih bisa dipertahankan lebih baik pertahankan. Pesta pernikahan kalian adalah pesta terbesar di kampung ini. Jika tiba-tiba bercerai akan memalukan," Alasan dari Saswati berusaha menghentikan putrinya.


"Ibu menyayangiku kan? Aku benar-benar ingin bercerai. Aku berjanji akan menemukan pasangan yang lebih baik. Jika tidak, merebut suami Dora juga tidak apa-apa. Jovan dapat meninggalkan Dora demi aku. Yoka juga pasti akan melakukan hal yang sama..." Meira menyakinkan ibunya.


Sedangkan Saswati hanya dapat menghela napas kasar. Putrinya memang lebih baik dari segala sisi. Cantik, mempunyai pekerjaan yang tetap, tidak ada yang kurang. Benar-benar sempurna. Mungkin kata-kata Meira benar. Ini saatnya untuk melampaui Vera yang mulai sombong dengan statusnya.


*


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kampus. Chery sama sekali tidak ingin menemui adiknya di kediaman yang bagikan istana. Lagi pula kedatangannya kali ini adalah untuk membawa adiknya pergi tinggal bersamanya.


Terlalu terikat dengan Dora, menginginkan segala yang terbaik untuk satu-satunya wanita yang dianggap saudari olehnya. Memakai tang top, dengan celana pendek, rambut yang dicukur pendek bagaikan laki-laki, lengkap dengan poni. Kini Chery terlihat bagikan agen mata-mata khusus di film-film.


Berjalan dengan cepat mencari keberadaan Dora. Hingga primadona kampus itu terlihat makan dengan tenang di area cafetaria. Mengenali adiknya sekali lihat? Tentu saja, namun satu hal yang membuatnya kecewa kini rambut Dora dibiarkan panjang terurai.


Hingga pada akhirnya Chery duduk menghadap adiknya."Boleh berkenalan?" tanyanya pada adiknya, mengulurkan tangannya.


"Kak Chery?" Dengan cepat Dora segera mengenali kakaknya. Bangkit memeluk tubuh Chery.


"Dasar! Kenapa bisa mengenaliku?" tanya Chery penasaran.


"Tentu saja, dari kebiasaan kakak, mengenakan cincin di jari jempol dan senyuman genit kakak..." jawaban Dora mengeratkan pelukannya.


"Memang kamu tidak genit?" Chery mengenyitkan keningnya.


"Kita sama-sama genit, bahkan ukuran kita sama-sama 36B." Sang adik cengengesan, menuntun kakaknya untuk duduk.


Chery memesan dua buah minuman, menghela napas kasar menatap ke arah adiknya yang benar-benar cantik bagaikan pinguin kecil.


"Ukuranmu lebih besar," ucap Chery tiba-tiba.


Dora mendekat, sedikit berbisik dengan suara pelan."Ini karena aku hamil,"


"Hamil?" Chery mengepalkan tangannya, berusaha tetap tersenyum. Entah anak konglomerat mana yang merasa cukup pantas menjadi suami dari adiknya tersayang.


Pinguin kecil yang tengah mengerami telur. Sang kakak yang masih berusaha bersabar kembali bertanya."Suamimu dimana? Aku ingin bertemu dengannya,"


"Dia sudah pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis selama dua tahun. Beberapa bulan yang lalu dia sempat pulang selama tiga hari, saat itulah kami..." kata-kata Dora terhenti terlalu malu untuk mengucapkannya.


Rupanya si br*ngsek meninggalkan adiknya? Benar-benar pria tidak bertanggung jawab. Sebagai spesies pinguin seharusnya mengerami telur adalah tugas pejantan. Tapi untuk kasus Dora memang Dora yang hamil, harus ditemani dan dijaga suaminya.


Apa adik iparnya memiliki simpanan di luar negeri? Itulah hal pertama yang ada di fikiran Chery.


"Bercerailah..." ucapnya tiba-tiba dengan kedua tangan memegang bahu adiknya.


"Kenapa?" Dora menatap tidak mengerti ke arah kakaknya.


"Semua pria sama saja. Aku tinggal di las Vegas memiliki kasino legal, berbagai macam pria sudah pernah aku temui. Termasuk para anak konglomerat yang manja. Mereka menyewa dua atau tiga wanita untuk bermain judi. Meninggalkan istri dan anak-anaknya di rumah. Karena itu bercerailah, suamimu akan melakukan hal yang sama." Chery menyakinkan.


Dora mengenyitkan keningnya berusaha tersenyum."Kakak, aku hamil, jika bercerai akan menjadi orang tua tunggal. Lagi pula aku masih kuliah,"


"Di USA ada banyak universitas kedokteran. Kamu tinggal disini sementara, setelah semuanya siap aku akan membawamu ke las Vegas..." kata-kata dari kakaknya membuat Dora semakin penasaran.


"Apa kakak tidak pernah pacaran? Atau tidur dengan pria? Di luar negeri pergaulan bebas bukannya lumbrah?" tanyanya.


"Tidak, tidak ada pria yang bisa menaklukkanku hingga ke ranjang..." jawaban dari Chery penuh rasa percaya diri.