Silent

Silent
21 # Zara Kenapa



Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah udah bisa up lagi nihhh. Nana lagi gabuszzzzz banget, aneh sekali bilang gabuszzz padahal lagi ujian wkkwkwkwk.


.


.


Gimana niiii kabar kaliannn??? Semoga sehat selalu ya. Oh iya puasa kalian gimana??? Semoga masih lancar ya. Yuk scroll kebawah yang udah gak sabar ketemu sama Raluna.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Raluna terbangun, melirik jam weker digital disampingnya menunjukkan jam 02.54. Raluna bangkit dan masuk kedalam kamar mandi dikamarnya untuk mengambil wudhu. Raluna membasuh wajah cantiknya. Kemudian dia berjalan menuju musholla kecil dirumah ini tadi dia sudah membangunkan Zara, Raluna menunggu Zara dengan duduk di musholla. Tak lama kemudian Zara datang, Raluna dan Zara sholat tahajjud.


Pagi hari Raluna dan Zara sudah siap dengan seragam khusus SMA Bunga Bangsa, tadi mereka sudah membantu saidah memasak, kemudian Saidah menyuruh mereka untuk segara bersiap siap berangkat sekolah. Mereka berdua menuruni tangga untuk menuju ruang makan.


"Assalamualaikum, umi Abi." Sapa Raluna dan Zara.


"Wassalamu'alaikum, sini duduk." Raluna dan Zara duduk dimeja makan. Kini kegiatan sarapan itu berjalan dengan hangat.


Saidah memberikan paper bag kepada Raluna dan Zara. "Raluna, Zara ini bekal buat kalian. Nanti istirahat kalian jangan lupa makan ini ya, didalam sudah umi buatkan coklat panas."


"Iya, umi makasih."


"Raluna Zara!" Panggil Usman, Raluna, Zara dan Saidah menolehkan kepalanya.


"Iya Abi?"


"Kamu jangan naik sepeda lagi ya kesekolah." Raluna bingung biasanya juga Raluna memakai sepeda pancal kesekolah.


"Abi gak mau kamu kenapa kenapa lagi, mulai hari ini kamu akan diantar jemput oke."


"Tapi abi-"


"Jangan nolak ya sayang, Abi tau kamu masih belum terbiasa dengan semua ini. Tapi Abi lebih khawatir sama kamu, takut peristiwa seperti waktu itu terulang lagi." Raluna mengulas kan senyuman dibibirnya, abinya sangat perhatian dan menyayanginya.


"Iya Abi. Kalau gitu Raluna sama Zara berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Dua gadis itu secara bergantian mencium punggung tangan Saidah dan Usman.


"Waalaikumsalam. Hati hati nak."


Raluna dan Zara masuk kesebuah mobil Alphard putih, mobil itu kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian mereka sampai di halaman SMA Bunga Bangsa.


Raluna dan Zara keluar, banyak pasang mata yang kini melihat mereka. Kini lima cowok yang baru saja sampai satu diantara mereka terfokus ke arah Raluna. Siapa lagi kalau bukan Edgar si jones.


Perlahan Raluna melangkahkan kakinya bersama Zara, tutup telinga ketika masih ada yang mengatai mereka.


Dikelas saat jam istirahat, Zara tadi sempat bilang pusing itu sebabnya dia tidak kekantin. Raluna menemani Zara dikelas, membujuk gadis itu agar membuka mulut untuk raluna suapi.


"Aaaaa... Ayo Zara, nanti kamu sakit."


Dengan terpaksa Zara membuka mulutnya, melihat usaha yang Raluna lakukan. Walau lupa ingatan, Raluna tetep Raluna perhatian, baik, sabar dan telaten. Zara menyambar suapan nasi dari Raluna mengunyahnya sampai habis. Hingga disuapan terakhir mata Raluna yang tadinya biasa saja kini lolos melotot kearah Zara.


Cairan keluar dari hidung Zara, bukan ingus namun sesuatu berwarna merah yang bernama darah. "Astaghfirullah, Zara kamu mimisan." Raluna segera menyeka darah yang mengalir dihidung Zara tanpa diketahui sang pemilik.


"Masa sih Raluna." Tak percaya Zara malah menyentuhnya. "Astaghfirullah." Melihat tangannya menuju dengan darah Zara langsung menyambar bungkus tisu diatas meja.


Setelah mengelapnya dengan bersih kini tinggal Raluna yang sibuk dengan pertanyaan nya yang menghawatirkan Zara, "Zara kenapa bisa mimisan? Zara kecapean ya? Zara kalau malam jangan begadang, kalau Zara sakit Raluna sedih."


"Enggak kok, ini cuma mimisan biasa. Palingan karena efek waktu itu kena jotos, jadi sering mimisan." Berat rasanya Zara berbohong, tapi dia tidak ingin membuat Raluna sedih.


"Astaghfirullah, Zara di jotos siapa? Kalau ketemu sama Raluna udah Raluna masukin ke got tuh orang." Raluna mengepalkan tangannya tak terima, tapi ia harus sabar.


"Udah, itu sudah lama."


"Sakit kepala Zara udah sembuh?" Tanya Raluna. Zara mengangguk sebagai jawaban meski sekarang kepalanya sedang dugem karena sangat puyeng.


Pulang sekolah, Zara sudah seperti zombie berjalan pelan, lemas dan wajahnya yang pucat. Raluna heran dengan Zara, Raluna terus saja menompa tubuh Zara agar tidak abruk. Saat mereka lewat dilorong lima cowok tampak berjalan kearah mereka.


"Haii, dek Raluna Zara." Sapa Ryan.


"Mau kemana nih? Eh bentar bentar itu dek Zara kenapa kok lemes?" Tanya Ryan lagi.


"Enggak tau kak, makanya Raluna bantu biar tidak jatoh."


Deanno melihat Zara seperti ada yang aneh, "sini biar gue bantu." Ucap Deanno.


"No, kakak bukan mahram gak boleh pegang pegang Zara." Tolak Raluna, lantas Deanno mengurungkan niatnya.


"Kalau gitu bawa Zara kerumah sakit, kayaknya dia gak baik baik aja." Usul Deanno. Dia sangat khawatir melihat keadaan Zara yang lemas seperti ini. Akhir akhir ini Deanno agak aneh, dia menjadi pendiam dan sesekali teman temannya menemukan Deanno tersenyum sendirian. Akhhhh jangan jangan Deanno gila!?


"Ini mau Raluna bawa. Kalau gitu Raluna permisi, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Lima cowok itu melihat kepergian Raluna dan Zara, dua gadis itu masuk ke sebuah mobil Alphard.


"Pak, bawa kami kerumah sakit terdekat ya. Nanti Raluna bilang sama Abi, umi kalau Raluna ada dirumah sakit nganterin Zara."


"Siap non."


Mobil itu melaju menuju rumah sakit yang Raluna maksud, sampai di IGD Zara langsung ditangani oleh dokter. Zara yang kala itu sadar mencegah sang dokter untuk membicarakan sesuatu kepada Raluna.


"Dok." Tangan Zara menghentikan dokter wanita yang hendak melangkah, dia berbalik dan menatap Zara.


"Dok saya minta tolong." Dokter itu mengangguk setuju.


"Keluarga Zara?" Panggil dokter itu, Raluna berdiri dan menghampiri dokter wanita yang berdiri dengan jas putihnya.


"Saya adiknya dok. Bagaimana keadaan pasien dokter?" Tanya Raluna.


"Pasien sudah sadar, saya minta tolong ya. Hubungi keluarganya ada yang harus saya bicarakan mengenai resep obat." Tutur dokter itu.


Raluna menganggukkan kepalanya perlahan, "iya dok. Saya bisa bertemu dengan kakak saya dok?"


"Iya boleh."


"Terimakasih dokter."


"Iya sama sama." Raluna berlari menghampiri Zara, pakaian mereka masih seragam khusus SMA Bunga Bangsa. Kenapa dibilang khusus ada lambang bunga dilengan sebelah kiri, dan juga jas yang harus digunakan yang berwarna putih. Namun lambang bunga itu tidak terlihat karena kerudung yang dikenakan Raluna dan Zara panjang.


"Zara udah sadar? Gimana ada yang sakit? Zara masih pusing? Atau mau Raluna oleskan minyak kayu putih? Biar sakitnya mendingan. Raluna kalau pusing dioleskan minyak kayu putih mendingan."


Zara tersenyum melihat Raluna, "aku udah gak pusing kok. Sekarang kita bisa pulang."


"Zara kok main pulang aja. Raluna khawatir mending Zara disini dulu, Raluna udah telfon papah David sama mamah Balqis."


"Astaghfirullah, kok Raluna telfon?"


"Yahh, abisnya Raluna bingung mau telfon Abi atau umi. Terus Raluna tau telfon orang tua Zara."


"Iyadeh, tunggu mereka aja." Beberapa saat hening, Raluna melihat wajah Zara dengan tatapan menyelidik.


Merasa diperhatikan Zara menolehkan kepalanya, "ada apa Raluna? Kok liatin aku terus dari tadi Cantik aku ya?"


"Iya Zara emang Masyaallah cantik. Tapi yakin? Gaada yang Zara sembunyiin kan dari Raluna?" Dep bagai orang disetrum lidah Zara kelu. Ia harus bilang apa.


"E-nggak kok, aku gak bohong sama kamu."


"Beneran nih???"


"Iya Raluna, aku gak bohong."


"Zara." Panggil David dan Balqis, dua gadis itu menolehkan kepalanya kesumber suara.


"Kenapa kamu bisa begini nak?" Tanya Balqis memeluk putrinya.


"Aku gak papa mah, cuma kecapean aja."


"Gak bohong nih?" Selidik David.


"Enggak Pah." David pergi, mereka tak tau kemana David akan pergi. Kembali lagi ke dua Balqis, Zara dan Raluna.


"Raluna, Zara tadi malam begadang?" Tanya Balqis.


"Enggak kok. Malah tadi malam Zara tidur lebih awal katanya capek."


"Kalau Zara begadang buang aja novel yang Zara bawa kesana. Soalnya salah satu penyebab utama Zara suka begadang dia baca novel." Kata Balqis.


"Yahh mah, Zara janji deh gak bakal begadang lagi. Tapi jangan buang novel Zara dong."


Balqis terkekeh begitu juga Raluna. "Mah, Raluna pamit dulu ya, mau belikan makanan buat Zara."


"Yaallah, gausah repot repot Raluna. Bentar lagi juga Zara mau pulang."


"Enggak repot kok, yaudah Raluna cari makanan dulu ya buat Zara. Biar gak lemes."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Raluna berjalan dilorong rumah sakit, Green Flower Hospital.


"Pak, anterin Raluna ke mini market ya. Mau belikan makanan buat Zara."


"Siapp non."


Dering ponsel berbunyi membuat Raluna menghentikan langkahnya, Raluna membuka tas dan mengambil hp merek Samsung Z flip yang baru dibelikan Usman berbunyi di tasnya. Astaghfirullah Raluna lupa mengabari umi nya sendiri kalau Raluna tidak langsung pulang.


"Waalaikumsalam. Raluna kamu sekarang dimana? Umi nungguin kamu loh. Kok masih belum pulang?"


"Itu umi, tadi Raluna bawa Zara kerumah sakit. Sekarang Raluna mau belikan makanan buat Zara."


"Astaghfirullah, Zara kenapa Raluna? Kenapa bisa masuk rumah sakit?"


"Tadi zara lemas, pas jam istirahat zara juga pusing abis itu Raluna suapin terus Zara mimisan. Pulang sekolah tadi Zara keadaannya memburuk, kesadaran mulai hilang makanya Raluna bawa kerumah sakit."


"Astaghfirullah, kenapa kamu gak kabarin umi dari tadi nak. Sekarang Zara ada dirumah sakit apa? Abi sama umi mau kesana."


"Green Flower Hospital mi. Oh iya, Raluna minta tolong bisa umi?"


"Bisa minta tolong apa nak?"


"Tolong bawakan Raluna baju ganti, soalnya Raluna gak enak pakai seragam sampai sekarang."


"Yaudah umi bawakan, tapi Zara nanti bagaimana?"


"Raluna mau belikan baju aja buat Zara."


"Kenapa gak sekalian kamu beli juga nak?"


"Gak ah, Raluna sayang semua sama baju Raluna. Raluna belum siap Nerima baju baru lagi, nanti kasih sayang Raluna gak adil sama baju baju Raluna."


Saidah tersenyum mendengar penuturan anaknya, "iya, umi bawain nanti."


"Kalau gitu Raluna tutup dulu ya umi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."  Sambungan telfon itu ditutup dengan salam hangat antara ibu dan anak. Kini Raluna memasuki mobil dan mobil itu segera melaju. Tanpa disadari saat mobil berhenti mereka sudah berada didepan sebuah mall besar.


"Pak, Raluna kan gak minta ke mall."


"Eh, maaf non saya kira non Raluna mau ke mall."


"Yaudah deh gak papa. Tungguin Raluna, awas aja ditinggalin Raluna aduin sama Abi."


"Iya non. Yakin gak mau putar balik aja kalau non gak mau?"


"Kasian pak Dul, nyetir udah dari tadi."


"Kalau gitu Raluna masuk dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Raluna berjalan hendak masuk ke mall, rok SMA Bunga Bangsa tidak seperti rok SMA pada umumnya. Potongan rok bawahnya mekar dan tidak seperti span. Itupun juga di lipatan kecil.


Lebih rincinya seragam SMA Bunga Bangsa seperti ini : (Rok bawahnya mekar tidak seperti rok SMA pada umumnya juga ada lipatan kecil kecil, warna abu muda dengan kemeja putih, dan jas putih seperti jas anak kedokteran. Ditambah lagi, sepatu yang sama se Antero bunga bangsa, sneaker Putih. Dengan kaos kaki putih. Eits lupa dasi abu abu tua senada sama roknya.) Bayangin sendiri gih, Nana males mau buat gambarnya wkwkwkkw.


Raluna sadar, rok nya miring dan tidak rapi seperti sebelumya. Raluna berlari ke parkiran dan membenarkan roknya yang miring. "Raluna!" Panggil seorang laki laki, mampus malu Raluna. Apa dia lihat Raluna membenarkan roknya? Walau tidak membukanya Raluna memutar rok itu dengan tangannya hingga benar.


Raluna berbalik, "iya?"


"Kenapa Lo ada disini? Bukannya lo tadi mau nganterin Zara ke rumah sakit. Terus kenapa Lo belum ganti baju." Tanya cowok itu.


"Tunggu, kenapa kakak tanya seakan akan raluna diintrogasi?"


"Yah karena gue pengen nanya."


"Rok Lo tadi miring?" Cleper sekali ni mulut cowok. Tidak usah diperjelas kali, Raluna merutuki dirinya ohh sudahlah malu dia sekarang.


Cleper (kalo ditempat Nana cleper itu ceplas ceplos ngomongnya gak di saring.)


"Gausah diperjelas." Sewot Raluna. Pipinya sekarang sudah merah, ia harus cepat cepat pergi sebelum ni spesies mengajaknya bicara lagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Edgar tersenyum melihat Raluna yang kikuk. Dia mengekori Anaya masuk ke mall. Sebelum akhirnya empat curutnya datang.


"Heyy, brader. Where are you pren?" Tanya Bryan.


"Kita kesini bebarengan masseh. Terus Lo tadi ninggalin kita." Balas Brendan.


"Tau tuh si pagar, mau kemana sih ngejar bidadari?" Tambah Ryan.


"Seratus buat Lo yan. Kalo mau ngikut gue ya ikut aja gausah bacot." Edgar melangkahkan kakinya mengejar seseorang yang ia tadi berbicara padanya.


"Dih sewot pagar, yaudah ngikot aja. Nanti makan dibayarin pak pagar."


"Yoi!" Balas Edgar.


"Yeyyy!! Makan gratis!!!"


"Dasar, sultan suka makan gratisan!" Umpat Edgar.


"Biarin, sultan enggaknya. gak ada orang yang gak suka makan gratis ya gakk?!!!"


"Nahhh, pinter amat nih Ryan."


Lima cowok itu memasuki mall seperti kereta keretaan. "Malu gue bawa kalian, kayak bocah aja." Edgar menepis tangan Bryan yang memegang pundaknya.


Lama lima cowok itu berkeliling, akhirnya gadis yang Edgar cari kini tengah berada di dalam pakaian muslim perempuan.


"Raluna." Raluna menolehkan kepalanya ketika mendengar namanya. Dihh ni orang ngapain sih. Raluna masih malu!


"Beli apa?" Tanya Edgar basa basi.


"Baju."


"Baju apa?"


"Baju bayi."


"Lah kok cari disini, kan disini bajunya orang dewasa." Bingung Edgar.


"Kak Edgar Raluna beli baju buat Zara. Jelas?"


"Cukup jelas."


"Mau gue bantuin bawa barangnya?" Edgar melihat Raluna kesusahan bawa barang yang ia beli. Raluna membeli dua set baju untuk Zara, satu gamis yang kedua atasan sama bawahan. Tak lupa pula ada kerudung yang juga sudah ia beli tadi.


"Gausah." Balas Raluna.


"Gak papa gue ikhlas lahir batin Raluna." Sebenarnya memang berat, berhubung Raluna tidak ingin banyak bicara dengan lawan jenis ia memilih meninggalkan si pagar. Eh salah Edgar.


"Total semuanya dua juta Tujuh ratus dua puluh lima ribu dek." Ucap kasir itu, emang se kecil apa sih Raluna kerap dibilang adek? Bahkan dibilang masih anak SMP mungkin karena suaranya yang seperti anak kecil.


Raluna mengambil sesuatu di tepak pensil Flaminggo pink miliknya. Mata Raluna melihat ada banyak jejeran kartu warna warni bahkan ada yang berwarna hitam. Abi nya bilang ini khusus untuk raluna.


Berhubung Raluna suka warna hitam, jadinya dia memilih kartu Black Card dan memberikan itu ke kasir perempuan didepannya. Jujur saja Raluna tidak tau menahu tentang black card.


"Terimakasih." Raluna mendapatkan black card nya kembali dan berjalan keluar mall. Berjalan keluar mall, dengan riang pasalnya Raluna tadi melihat boneka Flaminggo besar dan kegirangan akhirnya dia kembali lagi untuk membeli boneka itu untuknya dan boneka Shawn De sheep untuk Zara.


Raluna kesusahan masuk kemobil karena bonekanya terlalu besar, untung nya pak Dul membantu Raluna menaruh dua boneka itu. Dari kejauhan seorang cowok memperhatikan Raluna, tersenyum simpul melihat Raluna.


"Gue tau. Lo gak pantes gue dapetin dengan cara pacaran. Tapi gue akan datang dengan cara gue." Senyum kembali terbit dibibir cowok itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, uhhhh sedihhh udah di ujung aja. Perasaan baru tadi Nana ngetik eh udah nyampe bawah.


.


.


Siapa sih orang itu! Bikin kesel aja.


.


.


Mana nih pak Abram!!! Suruh cepat buat lamar Raluna! Ishhh nanti disalip orang baru tau rasa. Nana sih kesel. Tapi ikuti alur aja wkwkwkkw.


.


.


Yo wes, gimana mau lanjut gak!???, Vote dulu lah buat Nana akan semangat 45 suer.


.


.


Oke gitu aja, sampai ketemu di next bab babayyyyyy!!!!!


.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


10 April 2022