
Hanya sentuhan bibir yang singkat pada awalnya. Namun, Chery mencoba mendorong tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya.
"Ja..." kata-katanya kembali terhenti.
Rasa ingin tahu? Penasaran? Namun darahnya benar-benar berdesir hebat. Bagaimana bisa seperti ini? Memiliki rasa serakah ingin meraup tubuh itu.
Mulut yang sedikit terbuka akibat satu kata yang keluar, membuat rasa penasaran Samy semakin menjadi-jadi. Memasukan lidahnya, ini ciuman pertamanya bukan? Memang terasa kaku.
"Sial!" batin Chery, masih berusaha memberontak, mengigit bibir Samy. Tapi bukannya berhenti pemuda itu malah semakin brutal. Bibir Chery dihisapnya gemas, seolah tidak mempedulikan luka kecil di bibirnya sendiri.
Ini benar-benar gila! Pantas saja kakaknya ketagihan hingga bahkan melakukan hal yang lebih buruk di dalam mobil. Hingga Samy melepaskannya, menyadari dirinya sudah melecehkan wanita yang tidak dikenalnya.
Memasang wajah sedatar mungkin, padahal rasa bersalah menghinggapi dirinya. Namun seperti kata detektif Conan, selalu ada jalan untuk membenarkan tindakan. Maaf, salah kata-kata detektif Conan, kebenaran hanya ada satu.
"Ini hukuman untukmu karena berani-beraninya menciumku di depan umum! Jika kamu menciumku di depan umum lagi, berikutnya aku akan melemparmu ke tempat tidur! Kemudian menghamilimu!" tegas Samy menelan ludahnya sendiri, berusaha bersikap sedingin mungkin. Padahal diam-diam masih menginginkannya lagi.
Penasaran dengan setiap sentuhan yang dirasakannya. Bagaimana jika melakukan yang lain? Apa akan menimbulkan sensasi yang berbeda? Bagaimana jika berciuman dengan wanita lain, apa akan terasa sama saja?
Benar-benar diliputi rasa ingin tahu, tidak dipungkiri ini lebih nikmat daripada cheese cake yang diperebutkannya.
"Ini untukmu sebagai kompensasi!" Samy menyodorkan kue yang dibelinya sembarang sebelum menarik Chery. Sedangkan Chery masih terdiam mengenyitkan keningnya kesal. Menatap ke arah Samy yang mulai berjalan pergi.
Hingga baru tiga langkah berjalan, Samy kembali berbalik, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.
Benar-benar pria br*ngsek, ketagihan dengan sensasi yang dirasakannya."Kompensasinya terlalu banyak," ucapnya menarik tangan Chery, mengecup bibir Chery sekali lagi, kemudian melarikan diri dengan cepat.
"Dasar mesum! Sial! Br*ngsek!" pekik Chery, melempar kue ke arah Samy. Tapi dengan cepat pemuda itu menghindar.
*
Samy menghela napas kasar perlahan berjalan kembali mencari makanan mengingat perutnya yang lapar. Pemuda yang mengambil tab-nya, menemukan e-mail anonim saat membuka akun kakaknya.
Pemuda yang terdiam sesaat."Dia silumannya?" gumamnya tersenyum, membaca e-mail, tentang pelaku pembunuhan Reksa. Serta tindakan Reksa yang menutup kasus kematian Viona dengan cepat.
Sekarang sedikit masuk akal baginya, mengapa Melda mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya. Tapi siapa pengirim e-mail ini?
*
Seseorang pria yang tersenyum dalam ruangan gelap. Mengawasi segalanya setelah lebih dari lima tahun. Satu persatu foto tertempel di papan tulis kecil miliknya yang tergantung di dinding. Termasuk kamera milik almarhum Reksa yang seharusnya disimpan Arsen kini dimilikinya, disimpan dalam sekat kaca khusus.
Jemari tangannya mengepal pria yang tertawa, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Foto Salsa ada disana terletak di bagian paling tengah. Kapur diraihnya, menemukan satu ide lagi.
Metode untuk membunuhnya, tidak akan membiarkannya mati dengan mudah. Berikut juga dengan foto Siti yang kini telah menua, alamat tertera di sana. Tertulis di papan hitam menggunakan kapur.
Tak!
Kapur dijatuhkannya patah mengenai lantai marmer. Air raksa? Terkurung? Mati pelan-pelan? Ditenggelamkan? Tangannya terangkat tidak yakin, kembali menghapus penyebab kematian Salsa. Wanita yang akan mati ditangannya. Kembali memikirkan metode yang lebih menyakitkan. Dengan wajah tersenyum mengerikan.
Air matanya mengalir, sudah lima tahun dirinya menyelidiki segalanya. Hari ini akan tiba baginya, benar-benar akan tiba.
*
Membeli tanah perkebunan yang cukup luas. Anak-anaknya menggarap lahan miliknya. Wajah keriput yang telah menua itu, siapa sangka menjadi penyebab kematian seluruh anggota keluarga Viona.
Dirinya berjalan di pematang sawah, memukul kepala cucunya."Ayahmu kerja di ladang! Kamu malah sekolah! Sadar diri!" bentak sang nenek, seakan tidak puas dengan apa yang dimilikinya.
Tidak ada satupun dari anak-anaknya yang kuliah. Bahkan tiga dari empat anaknya hanya lulusan SMP. Bukan karena biaya tapi, Siti lebih ingin anak-anaknya membantunya menggarap lahan.
Mengapa? Itu akan lebih berguna, lebih menghasilkan. Sekolah juga belum tentu mendapatkan pekerjaan. Padahal anak-anaknya terbilang cukup cerdas. Dan kini cucunya juga diperlakukan serupa.
Ada rasa geram dari beberapa menantunya yang juga menggarap lahan. Mereka dianggap benalu oleh sang mertua, dianggap menumpang makan. Padahal mereka tidak ingin bekerja di ladang, mencari pekerjaan lain agar tidak dianggap benalu. Namun Siti tidak mengijinkan.
Tidak memberikan uang pada anak dan menantunya. Tapi menginginkan tenaga mereka, membeli semua kebutuhan rumah tangga. Namun, dirinya akan ribut mengatakan kemana-mana bahwa dirinya tulang punggung keluarga dari anak dan menantunya yang tidak berguna.
Itulah hidup yang dijalani Siti, merasa angkuh tapi tidak satupun keluarga yang benar-benar mencintainya. Hanya mengikuti bakti mereka pada orang tua. Tidak ada dari anak-anaknya yang berani melawan kata-kata sang ibu, menahan sakit hati mereka.
Namun, hasrat dan keinginan manusia untuk mendapatkan lebih, keserakahan mungkin itulah yang akan menghancurkan.
Seorang pria tersenyum, berjalan mendekati Siti, setelah mengunjungi rumahnya.
"Maaf, apa anda ibu Siti?" tanyanya tersenyum, pakaian rapi, wajah yang dapat dibilang rupawan. Pria ini mungkin dari kalangan menengah keatas.
"Kamu siapa? Apa orang suruhan nyonya Salsa?" tanyanya dengan tatapan mata menyelidik.
Sang pria mengangguk wajahnya masih setia tersenyum."Iya, nyonya memanggil anda untuk kembali ke kota. Katanya akan memperkejakan anda lagi. Rumah serta fasilitas sudah disiapkan,"
"To, kamu jaga ladang! Ibu pergi beberapa hari! Ingat jaga yang gagal panen atau dimakan hama! Capek-capek ibu memenuhi kebutuhan kalian! Kalian seharusnya bersyukur, kalau tidak ada ibu kalian sudah mati kelaparan!" bentaknya pada putranya sendiri.
"Iya..." anak yang hanya menunduk, mengepalkan tangannya dengan air mata tertahan.
Sang pria menuntun Siti menelusuri pematang sawah. Hingga membantu wanita tua itu berkemas. Tiga ada kecurigaan sama sekali, pria ini adalah pria baik. Bahkan membawakan tas jinjing milik Siti yang cukup berat.
Hingga mobil melaju melewati area persawahan, memasuki area hutan yang cukup rimbun.
"Kenapa nyonya Salsa memanggil saya?" tanyanya, menatap ke arah sang pemuda yang tengah menyetir.
"Ada orang yang ingin memberi kalian hadiah. Omong-ngomong, berapa nyonya membayarmu? Maaf, aku orang baru, aku hanya ingin tahu..." tanyanya tersenyum lugu.
"Ikuti saja perintah nyonya. Lama kelamaan kamu juga akan mendapatkan bayaran besar. Dasar! Memang hanya aku yang dapat diandalkan, dibandingkan anak muda bodoh sepertimu," ucap Siti menatap jenuh pada pria yang duduk di sampingnya.
Pria yang tersenyum, menyembunyikan alat setrum, palu, tali dan pisau kecil di mobilnya. Menyembunyikan rupa sebenarnya dalam senyuman ramah.
Bukankah memang begitu? Mungkin Reksa dan Viona benar-benar akan menarik mereka ke neraka. Walaupun tidak menggunakan tangannya sendiri.
Mengikuti para pelaku sebenarnya, bukan roh. Lebih tepatnya sebuah dendam dan dosa. Mungkin memang semua akan berjalan semestinya. Tidak akan ada yang dapat menghindar kala pertanggungjawaban dari dosa itu tiba.