
Dora berusaha tersenyum menghela napas kasar. Memegang jemari tangan sang kakak.
"Aku baik-baik saja, aku mencintainya dan dia juga mencintaiku," ucapnya.
"Tapi kamu bisa menjadi ibu tunggal dapat menjadi wanita mandiri. Pengusaha? Kalangan mereka banyak yang mempunyai wanita simpanan. Coba fikirkan, meninggalkanmu ke luar negeri dalam waktu yang lama. Kebutuhan biologisnya siapa yang akan memenuhi. Tidak mungkin dia pergi ke kamar mandi sambil membawa fotomu, hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya kan?" Kata-kata tepat sasaran dari mulut Chery menyakinkan adiknya.
Memang aneh, mempunyai banyak uang, putra tunggal konglomerat. Menyewa wanita, bahkan tanpa disewa pun wanita akan menempel padanya. Apa Yoka akan berbuat hal yang serupa? Mengatakan pergi bekerja tapi bermain dengan wanita simpanan?
"Yang mana lebih masuk logika? Dia melampiaskan di kamar mandi atau mencari wanita yang lebih cantik dan lebih pandai bermain di ranjang?" tanya Chery kembali meyakinkan adiknya.
Dora mengenyitkan keningnya, yang dikatakan kakaknya benar-benar masuk akal. Tapi tetap saja, Yoka tidak dapat ditebak. Si bisu yang berubah-ubah. Apa suaminya setia? Sedangkan dirinya pada awalnya hanya pengganti. Pelampiasan obsesi Yoka pada Anggeline?
"Aku...aku dia setia..." ucap pinguin kecil plin-plan ragu-ragu.
Chery mengenyitkan keningnya."Kamu ragu kan? Apa dia mencintaimu sampai bersedia mengorbankan dirinya?"
Kali ini Dora mengangguk yakin. Mengingat semua yang Yoka lakukan padanya.
"Lalu kenapa dia yang sudah kaya tidak membawa istrinya ke luar negeri?" pertanyaan mematikan dari Chery.
"Aku masih kuliah, selain itu ada urusan rumit. Mungkin dia juga dalam bahaya jadi..." kata-kata Dora disela.
"Jika seperti itu keadaanmu lebih ada dalam bahaya. Kamu mengandung anaknya, jika ada musuh lewat maka kamu akan tewas. Bagaimana kalau tinggal dengan kakak sementara waktu, sebelum menemukan bukti perselingkuhan suamimu?" pinta Chery benar-benar berniat membawa adiknya.
Belasan tahun dirinya pergi, mulai dari bekerja ke daerah lain. Setelah mengumpulkan uang, mengikuti khusus menjadi bartender. Merantau ke luar negeri, bekerja di club'malam. Wanita tomboi yang pandai menjaga dirinya.
Berhemat sedikit demi sedikit, berinvestasi pada temannya. Perlahan mengumpulkan uang mendirikan kasino legal. Bela diri? Wanita itu tidak pandai beladiri, hanya memiliki hobi menembak, memiliki ijin kepemilikan senjata api.
Seorang wanita berambut pendek yang cantik, siapa yang sangka wanita itu dulu memeluk kedua adiknya di tengah guyuran hujan di emperan toko. Sosok anak kecil berambut panjang, yang begitu mencintai kedua adiknya. Kini tumbuh dengan cara yang berbeda, seorang kakak protektif yang keren.
"Dia tidak berselingkuh." Dora masih berusaha tersenyum, mengelus perutnya sendiri.
"Jangan terlalu mempercayainya. Pria jika sudah disentuh wanita akan kehilangan logikanya, menjadi tidak waras..." tegas Chery. Sedangkan Dora hanya kembali mengenyitkan keningnya.
"Aku mengalaminya sendiri ketika sampai di bandara. Aku hanya berusaha merebut kue yang aku beli, membuat otaknya kosong dengan menciumnya singkat. Tapi dia menghancurkan kue milikku. Dia menarikku, menciumku paksa di area sepi, tempat penyimpanan. Jika bertemu pria itu lagi aku akan menembaknya..." tegas Chery, benar-benar tidak adil baginya. Dirinya hanya ingin merebut kue miliknya, namun bukan hanya kue yang hancur. Namun dirinya dipaksa melakukan ciuman panas.
"Bagus! Tembak dia! Tepat di hatinya! Sudah saatnya kakak punya pacar..." ucap Dora antusias.
Plak!
Chery memukul pundak adiknya."Orang itu bukan tipeku,"
"Tipe kakak seperti apa?" pertanyaan dari Dora.
"Aku menyukai pria humoris, baik hati, pandai beladiri, wajahnya harus tampan, setia dan yang paling penting usianya lebih tua dari usiaku. Omong-ngomong kamu sudah membeli peralatan bayi?" tanya Chery menghela napas kasar.
"Belum, baru tiga bulan terlalu cepat untuk membeli peralatan," jawaban Dora meminum minuman yang baru disuguhkan penjaga kantin kampus.
"Ibu? Kakak melupakan ibu?" tanya Dora masih mengira Vera ibu kandungnya.
"Kita akan membawanya juga jika kamu menginginkannya," Chery menghela napas kasar.
"Kamu lebih berharga dari pada ibu (Vera). Hanya kamu satu-satunya anggota keluargaku yang tersisa..." batinnya.
*
Canberra, Australia.
Kamar hotel yang begitu luas, seorang pemuda rupawan duduk di sofa. Perlahan seorang wanita memakai pakaian tipis menggoda memasuki kamar.
Sang pemuda memijit pelipisnya sendiri. Apa ini harus dilakukannya? Tapi memang terasa menyenangkan. Apa dengan wanita yang berbeda akan terasa sama?
Perlahan seorang wanita berambut pirang bermata biru indah, bagaikan laut dalam yang dapat menenggelamkan siapapun yang menatapnya. Naik ke atas pangkuan Samy, meraih dagu sang pemuda, bibir yang semakin mendekat, mata sang wanita sudah semakin sayu.
"Tunggu!" Samy yang tidak merasakan apapun, mencegah bibir wanita itu mendekat.
"Buka mulutmu!" perintah dari Samy, sang wanita yang sudah benar-benar kesal, menurut saja. Membuka mulutnya lebar-lebar, apa seperti pelanggan lainnya yang ingin langsung dipuaskan dengan mulut?
Suara semprotan pengharum mulut terdengar. Pemuda yang ingin merasakan hal yang sama seperti saat di bandara, menyemprot mulut sang wanita sewaan.
Sang wanita mengenyitkan keningnya, benar-benar pelanggan yang aneh. Mulut mereka kembali mendekat hendak berciuman. Namun tidak ada perasaan atau sensasi apapun dalam diri Samy.
"Tunggu! Apa posisinya yang salah ya?" gumam Samy, mendorong sang wanita bangkit dari pangkuannya. Menarik sang wanita kemudian memojokkannya di dinding, dengan posisi yang sama saat dirinya mencium Chery.
Sang wanita penghibur memejamkan matanya. Bersiap bibirnya akan dinikmati, sedetik, dua detik, hingga detik ke sepuluh tidak terjadi apapun.
Mata sang wanita yang tertutup mulai terbuka. Menatap pelanggannya yang aneh, memijit pelipisnya sendiri.
Apa yang salah? Mungkin itulah yang ada di fikiran Samy. Darahnya tidak berdesir sama sekali, jantungnya tidak berdegup lebih cepat, dirinya juga tidak kehilangan logikanya.
"Ini uangmu, aku perlu berfikir lebih banyak lagi..." gumam Samy, merogoh dompetnya, memberikan sejumlah uang.
"Dasar impoten..." batin sang wanita berusaha tersenyum, menerima uang kemudian pergi.
Seorang wanita yang menghela napas kasar, meraih jas panjang yang dipakainya, berjalan keluar dari kamar. Membuang sekotak alat pengaman yang masih tersegel ke tempat sampah.
Sedangkan Yoka yang berpapasan dengan sang wanita penghibur segera memasuki kamar yang disewa Samy. Membuka pintu dengan cepat, mendapati pemuda itu berbaring di atas sofa, melihat ke arah langit-langit ruangan.
"Katanya akan bersenang-senang?" Yoka mengenyitkan keningnya.
Samy mengangguk,"Aku kira akan bersenang-senang tapi ternyata itu sulit. Beberapa bulan yang lalu, aku berciuman dengan seorang wanita di bandara. Aku ingin merasakannya lagi. Tapi setelah aku mencoba dengan wanita lain, rasanya berbeda, aku tidak ingin,"
Yoka menghela napas kasar."Kamu impoten?"