
Tidak ada yang terjadi beberapa tahun ini. Melda rutin datang menemui Martin dan Samy yang dijaga baby sitter sepulang dirinya bekerja. Membelikan mainan, bahkan merek pakaian yang serupa dengan Yoka. Meskipun dalam asuhan Martin. Namun, Melda tidak membiarkan sahabatnya, membiayai Samy sedikit pun.
Uang deposit dalam jumlah yang cukup besar juga dipersiapkannya untuk pendidikan Samy nanti. Walaupun hal yang aneh baginya kedua putranya memiliki sifat yang hampir serupa.
Walaupun mereka tinggal terpisah, walaupun Yoka tidak mengetahui Samy adalah adiknya. Mungkin hanya Samy yang menganggap Yoka sebagai kakaknya. Seorang adik yang kagum pada sang kakak.
Disekolahkan di sekolah yang sama. Hal yang aneh mulai ditemukan Melda pada usia kedua orang anak itu mencapai 6 tahun, kecenderungan kepribadian psicopat, sesuatu yang dapat dicegah dari di usia dini, mereka.
Melukis hal-hal yang mengerikan dengan krayon menggunakan tangan kecil mereka, bahkan Samy pernah menangkap seekor katak membedah perutnya, hanya karena membaca sebuah buku praktek biologi di perpustakaan milik Martin. Berwajah rupawan, memiliki kecerdasan yang tinggi. Menakutkan? Berbagai ajaran kasih sayang, konseling khusus dilakukan pada mereka berdua.
Termasuk Yoka, mengapa? Anak itu terlihat cerdas dan pandai bicara, namun pernah ada kalanya sang anak membunuh flaminggo peliharaan neneknya untuk dimasak sang pelayan. Hanya karena berusaha menyerang ibunya.
Gejala yang cukup mengerikan, namun segalanya diketahui sejak dini, membuat prilaku mereka berubah, melalui terapi dan konseling rutin. Yoka yang seharusnya dingin menjadi lebih perasa, mudah merasa kesepian dan membutuhkan kehadiran orang lain. Kepribadian menyimpangnya sudah bisa dibilang dapat dibelokkan.
Sedangkan Samy, menjadi lebih ceria, memahami perasaan orang lain. Hingga usia 11 tahun, mereka tidak lagi memiliki kecenderungan psikopat.
Suasana yang cukup tenang 11 tahun ini, Narendra hanya memberikan waktunya untuk Melda dan Yoka. Hingga keluarga besar mereka memutuskan untuk liburan bersama di villa. Kedua orang tua Melda beserta kedua orang tua Narendra.
Menghabiskan waktu akhir pekan dengan cucu mereka, Yoka.
Berangkat dengan dua mobil, mobil Reksa dengan penumpang 4 orang, kedua besannya, serta istrinya. Sedangkan mobil Narendra, hanya Yoka dan Melda yang ada di dalamnya.
Tidak menyadari, rem mobil Reksa telah dirusak. Untuk apa? Bertahun-tahun Salsa hidup sebagai istri karyawan biasa. Hidup tanpa fasilitas apapun hanya berbekal sebuah mobil dan rumah sederhana dari kedua orang tua angkatnya, bercerai dengan suaminya pun dirinya tidak diijinkan kembali ke rumah utama oleh Reksa. Dengan alasan Salsa seharusnya sudah bisa hidup mandiri.
Benar-benar menjengkelkan bukan? Disaat Melda dan Yoka begitu dicintai, dirinya tidak mendapatkan apapun. Mungkin dengan kematian Reksa, harta warisan keluarga akan dapat dibagi dua untuk dirinya dan Melda. Mengingat dirinya juga berstatus putri Reksa, walaupun hanya putri angkat.
*
Suara tawa memenuhi mobil, istri Reksa membawa kamera digital keluaran terbaru, yang cukup mahal pada saat itu. Menunjukkan foto-foto Yoka yang mereka ambil secara khusus. Mobil yang mulai naik di jalan menanjak pegunungan.
Empat orang yang ada dalam mobil tersebut, tertawa. Akan enghabiskan waktu liburan mereka dengan anak, menantu dan cucu tunggal mereka.
Tidak menyadari segalanya, kala waktu akan memanggil mereka. Jalan menurun dengan tikungan tajam mulai terlihat, mobil Narendra mengikuti mobil Reksa dari belakang.
Pemuda yang tersenyum sembari menyetir mendengarkan lagu yang dinyanyikan putranya.
"Kamu mau jadi penyanyi?" Tanya Narendra pada Yoka, mendengar suara putranya yang bisa dibilang tidak buruk untuk anak yang baru belajar bernyanyi.
"Tidak! Aku mau menjadi anak ibu, menjadi penyanyi akan didekati banyak orang. Saat itu waktuku hanya sedikit untuk ibu," jawaban dari Yoka, membuat Melda menarik pipi putranya gemas.
"Rem... remnya tidak berfungsi..." gumamnya dalam kepanikan. Berkali kali, mencoba menghindari kendaraan yang melaju pelan di depannya. Hanya berselisih sekitar 80 detik, dari Reksa menyadari rem mobilnya tidak berfungsi. Mobil itu menghantam pembatas jalan. Terjatuh ke dalam jurang, dalam kondisi mobil yang remuk.
Narendra yang baru menyadari segalanya menghentikan laju mobilnya. Para warga sekitar, serta beberapa pengguna jalan, mulai mengerumuni bibir jurang. Guna menghubungi kepolisian serta ambulance, untuk menyelamatkan orang-orang yang ada di dasar jurang terjal.
Mungkin tidak ada yang selamat, sebagian mobil yang menghantam bebatuan remuk. Bahkan beberapa tubuh terhimpit badan kendaraan. Tubuh Reksa berlumuran darah, menatap ke arah atas jurang memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Segalanya masih diingat olehnya kala Salsa, semalam meminjam mobilnya dengan alasan mobil miliknya sedang di bengkel. Ini benar-benar perbuatan Salsa, putri angkatnya tidak berubah sama sekali, setelah membunuh Viona dan keluarganya.
Lalu bagaimana dengan nasib Melda dan Yoka? Mereka harus mengetahui segalanya. Kamera digital milik istrinya diraihnya, semua foto keluarganya di hapus olehnya. Kecuali foto Salsa. Berharap akan ada orang yang mengerti dengan pesan kematiannya.
Hingga suara tangisan, teriakan, anak dan menantunya terdengar dari bibir jurang. Reksa menonggakkan kepalanya, merasakan cahaya matahari terakhir yang menerpa kulitnya.
"Aku akan membawamu ke neraka bersamaku." Kata-kata terakhir, tidak satu orang pun mendengar, kata-kata yang tertuju pada putri angkatnya. Reksa menyesali segalanya, mengapa dirinya menganggap Melda akan kesepian, hingga mengadopsi seorang anak yatim-piatu, anak salah satu almarhum pelayannya.
Berharap Salsa akan seperti Martin. Setia dan mengabdi pada putrinya. Dendam yang tersimpan di hatinya. Tergelak tidak bernyawa dengan tubuh yang tidak utuh di dasar jurang.
Dirinya harus meninggalkan putri dan cucunya seperti ini? Tidak akan, ada saat untuk Reksa menarik kaki putri angkatnya ke neraka. Mengawasi seorang wanita yang hidup tanpa rasa bersalah, setelah entah berapa nyawa yang dihabisinya hanya karena keegoisan dan rasa iri.
Seorang pria yang berlumuran darah segar, memakai kemeja putih, mata yang terbuka masih menatap ke arah foto Salsa yang menjadi pesan kematiannya.
*
Kala pemakaman diadakan, jerit tangis terdengar dari keluarga yang ditinggalkan. Begitu juga dengan Salsa yang sempat tidak sadarkan diri kala mendiang orang tua angkatnya dimakamkan. Membuat rasa iba semua orang padanya. Tidak pernah ada yang mencurigainya, termasuk pihak kepolisian.
Kamera? Semua barang peninggalan dikembalikan pada keluarga. Arsen yang menyimpannya, mengingat kebaikan almarhum majikannya.
Pada hari ketiga, surat wasiat mulai dibacakan mengingat semua aset harus diurus oleh penerima waris.
Salsa mendekap Malik putranya dalam tangisan, bersiap kembali ke kehidupannya yang dulu. Tinggal di luar negeri, mungkin menjadi wanita karier seperti Melda. Memiliki perusahaan yang besar, kemudian menikah dengan pria rupawan yang sempurna. Hidup tenang mendengar banyak pujian, bersenang-senang ke club' malam seperti hal yang dia lakukan ketika muda.
Namun wajah duka itu terlihat jengkel kala semua milik almarhum Reksa diberikan pada Melda. Dengan alasan Reksa hanya ingin menyekolahkan Martin, hingga sukses dan itu sudah terwujud. Sedangkan Salsa, dirinya telah membiayai pendidikan wanita itu di luar negeri, seperti putrinya Melda. Seharusnya mobil dan rumah yang diberikan sebagai hadiah pernikahan untuk Salsa sudah cukup. Mengingat seharusnya Salsa dapat mencari pekerjaan yang sesuai dengan strata pendidikannya seperti Martin.
Tidak ada warisan untuknya? Percuma saja dirinya membunuh Reksa. Jemari tangannya mengepal menatap ke arah Melda yang mulai menandatangani surat peralihan semua harta keluarga pada dirinya.
Perlahan wajah Salsa tersenyum, dari awal memang yang dibencinya adalah Melda. Sebuah rencana yang disusunnya 11 tahun lalu. Rencana yang digagalkan oleh almarhum Reksa. Kini siapa yang dapat menghalanginya?