Silent

Silent
Secret



Sudah tengah malam, rumah yang sudah lama ditinggalkannya masih terlihat rapi seperti sebelumnya. Hanya saja debu kini menumpuk di semua tempat. Sapu diraihnya mulai membersihkan rumahnya.


Suaminya menghamili wanita lain? Benar-benar keterlaluan si bisu yang menyebalkan. Dirinya harus bercerai demi wanita lain yang dihamili suaminya. Keputusan itu sudah diambilnya.


Air matanya mengalir, mengapa dirinya dapat menikah dengan pemuda semunafik suaminya. Beberapa barang yang tertutup kain dibersihkannya, mengganti kain sprei kamarnya. Kemudian membaringkan tubuhnya, memikirkan kelanjutan pernikahannya.


Dirinya istri kedua? Lalu siapa istri pertama? Itulah pertanyaan yang ada di benaknya tidak dapat tidur sama sekali. Menangis terisak hingga air matanya membasahi kain sprei.


Tok... tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar."Dora, buka pintunya!" suara seseorang terdengar dari luar sana.


Masih kesal? Tentu saja, Dora segera menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. Berpura-pura tidak mendengar suara seorang pemuda yang kini tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Dora, buka pintunya! Jika tidak aku akan memanggil warga desa," Kata-kata dari mulut pemuda yang dulunya tidak dapat bicara.


"Sial!" umpat Dora kesal. Terkadang dirinya berharap Yoka kembali seperti dulu, pemuda yang kesulitan bicara. Tidak mendominasi sama sekali. Tapi kini? Pemuda bisu yang dulunya meringkuk ketakutan di depan pintu rumahnya kini mengancamnya akan memanggil warga desa.


Dora segera menghapus air matanya. Dirinya juga ingin tahu siapa sebenarnya madunya. Atau Yoka tidak sengaja meniduri Anggeline atau Amanda? Entahlah tapi karier Anggeline dan Amanda memang lebih baik darinya.


Body tubuh Amanda bahkan jauh lebih bagus darinya, ukuran Amanda lebih menantang di bagian depan. Apa Yoka benar-benar berselingkuh?


Pintu dibukanya dengan ragu."Mau apa?!" bentak Dora.


"Kamu masih datang bulan?" tanya Yoka, tersenyum mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Masih! Jika ingin berhubungan pergi cari istri atau calon istrimu yang lain!" teriakan memekik dari Dora hendak menutup pintu. Tapi tanpa diduga, Yoka menerobos masuk.


"Pergi! Aku masih bisa hidup tanpa fasilitas!" Suara bentakan wanita itu kembali terdengar.


Yoka mengenyitkan keningnya, mendekat ke arah istrinya. Kemudian memeluknya.


"Kamu kuliah, tinggal, makan, tidur di villa milikku, bahkan merebut keperjakaanku? Bercerai? Enak saja..." bisik pemuda itu di dekat telinga istrinya.


"A...aku benar-benar ingin bercerai! Aku tidak ingin mempunyai suami sepertimu!" bentaknya mencoba melepaskan pelukan Yoka, tapi tidak ada hasil sama sekali. Seorang pemuda protektif yang mendekap tubuhnya dengan erat.


"Apa kamu ingin meninggalkanku? Bisa tidak meninggalkanku? Memang tidak pernah ada yang menginginkanku," ucap Yoka dengan karakter yang bagaikan berubah. Bagaikan karakternya yang dulu, kesepian dan tidak ingin kehilangan.


"Ta...tapi..." Dora terlihat ragu. Terlalu baik? Mungkin itulah sifatnya hingga dengan mudah ditaklukkan.


"Aku mencintaimu." Dua kata dari mulut Yoka bagikan kalimat kutukan, menaklukkan Dora dengan mudah.


"Aku juga!" Pada akhirnya Dora ikut menangis memeluknya erat mencengkeram punggung pakaian suaminya.


"Ibuku mungkin memiliki sifat yang sama denganmu. Karena itu aku bertanya. Sebenarnya alasan ayahku merencanakan pembunuhan ibuku, adalah ibuku membunuh istri pertama ayahku yang tengah mengandung. Aku tidak dapat mempercayai orang sepertinya bisa membunuh, tapi semua bukti mengarah pada ibuku," jelasnya, melonggarkan pelukannya.


Dora terlihat jauh lebih tenang.


"Dasar!" ucapnya mengecup bibir suaminya.


Yoka mulai duduk di kursi rotan, memikirkan segalanya. Diikuti dengan Dora, mulai menyalakan kompor, membuat air hangat untuk membuat teh hangat.


Hingga wanita itu mulai duduk di samping suaminya. Pemuda yang terdiam dengan banyak pemikirannya.


Yoka berusaha tersenyum menghela napas kasar.


"Ayahku menikahi istri pertamanya karena sebuah hutang budi. Lalu menikah dengan ibuku karena sebuah perjodohan, penyatuan dua perusahaan. Dari rentan waktu yang dikatakan ayah, ibuku dan istri pertama ayahku hamil di waktu yang hampir bersamaan. Dia bilang calon adikku, berarti janin yang dikandung istri pertama ayahku usianya lebih muda dariku,"


"Rumah istri pertama ayahku mengalami kebakaran. Semua penghuninya meninggal, terjebak kobaran api. Setelah 11 tahun berlalu, Salsa, adik angkat ibuku memberikan bukti dan saksi yang kuat. Bahwa dalang di balik pembunuhan istri pertamanya adalah ibuku." Kata-kata dari mulut Yoka terdiam sejenak.


"Ibuku mengakui segalanya, di hadapan ayahku. Aku bingung..." gumamnya dengan air mata yang mengalir. Bukti-bukti tanpa celah, bahkan saksi, tidak ada yang salah sama sekali. Jika diserahkan pada detektif atau kepolisian pun ibunya adalah tersangka tunggal. Orang terakhir yang mengunjungi rumah Viona.


"Jika bukan aku..." Dora mengenyitkan keningnya. Yoka menoleh padanya, terdiam sejenak.


"Bukan aku?" tanya Yoka tiba-tiba.


"Aku merasa tersinggung dan terganggu kamu menyamakanku dengan pembunuh! Siapapun pembunuhnya aku tidak peduli! Tapi jangan samakan aku dengan pembunuh yang membakar ibu hamil!" bentak Dora tiba-tiba, mungkin karena perubahan hormon ketika tamu bulanannya tiba hingga membuatnya lebih sensitif.


Yoka terdiam sejenak, mungkin dirinya memang terlalu fokus membuktikan ibunya tidak bersalah. "Jika bukan aku..." batinnya, terdiam memikirkan segalanya dari awal.


*


Sedangkan di tempat lain, sinar bulan melewati jendela kamar Narendra. Pria yang tengah tertidur seorang diri di dalam kamar terbesar di rumah utama.


Seorang pemuda menatap dengan tatapan kosong. Mungkin jika Narendra mati, ibunya dapat sembuh dari rasa trauma. Sebuah anggapan yang menggelapkan matanya, tapi ini memang tujuannya dari awal, menangkap dan membunuh para siluman.


Tangannya masih memegang pisau belati. Segera sedikit disembunyikannya kala berpapasan dengan seorang pelayan di lorong.


Hingga pintu besar itu terlihat. Pintu yang tidak terkunci dibuka olehnya. Membunuh ibu kandungnya? Apa Melda tega melakukannya? Tapi bagaimanapun dirinya hanya akan berpihak pada Melda.


Pintu dibukanya, wajah ayah kandungnya terlihat. Samy terdiam menatap wajah itu sekali lagi. Ingatan lamanya terbayang, mengingat tubuh Melda yang hampir tidak mengenakan pakaian. Dengan luka tikaman di bagian perut, bahkan Melda harus menjalani operasi, karena organ hatinya tergores tajamnya pisau.


Wajahnya perlahan tersenyum, siluman pertama akan mati hari ini. Air matanya mengalir, memegang pisau dengan erat, perlahan gemetar.


Apakah ibunya (Melda) akan kembali tersenyum jika pria ini mati? Mungkin iya... mungkin iya...


Tang!


Pisau dijatuhkannya, membentur lantai marmer. Tangisan pemuda itu semakin menjadi-jadi, menutup mulutnya sendiri. Tangannya masih gemetar hingga saat ini.


Inilah orang yang dicintainya oleh ibunya, Melda. Seseorang yang sudah membuat ibunya takut akan kegelapan, seseorang yang membuat ibunya mengalami trauma psikis yang mendalam.


Namun, dirinya tidak dapat melakukan ini.


"Aku ternyata bukan monster, kamu selamat sekarang...ayah..." kata-kata dari mulut Samy.


Pemuda yang tidak menyadari, Narendra hanya berpura-pura tertidur. Mengetahui nyawanya akan berakhir saat ini.


Namun...


Ayah? Satu kata yang membuatnya tertegun dengan mata terpejam. Setetes air matanya mengalir dalam ruangan minim penerangan tidak disadari Samy.


"Melda menyelamatkan putranya?" satu kata yang tidak terucap dari bibir Narendra. Yang masih berpura-pura tertidur.