Silent

Silent
Pihak Siapa



Suasana yang benar-benar mendukung, mata Dora perlahan terpejam, seolah-olah kesadarannya dilumpuhkan oleh Yoka. Pemuda yang juga memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan bibir yang membalasnya.


Degup jantung gadis itu berdetak cepat, benar-benar terasa aneh. Tangannya terulur, mengalung pada leher Yoka. Perasaan yang sungguh sulit dielakkan, nyaman tapi terasa gelisah.


"Dora ini tidak boleh..." batinnya, ingin melawan, tapi syaraf-syarafnya seakan lumpuh kala bibir pemuda itu bermain di lehernya. Gadis yang melenguh menonggakkan kepalanya, memberikan akses pada sang pemuda, seakan merelakan segalanya.


Napas berat yang terasa di lehernya. Hingga segalanya terhenti sesaat.


"Mengapa berhenti?" fikir Dora membuka matanya, menatap Yoka yang menulis di papan putihnya. Benar-benar suasana romantis yang menghilang, entah dirinya harus marah atau bersyukur, karena pemuda ini yang tidak mampu untuk bicara.


'Boleh kita melakukannya?' satu pertanyaan yang terlihat pada papan putih Yoka.


Jika saja pemuda itu berbisik di leher Dora. Tidak menulis di papan putihnya, pastinya Dora hanya akan mengangguk pasrah. Tapi ini? Debaran jantungnya telah normal, dirinya tidak ada dalam pengaruh seorang Yoka lagi. Karena papan putih yang menghalangi mereka.


Plak!


Kepala Yoka dipukul menggunakan papan oleh Dora. Seorang gadis yang hampir saja menyerah pasrah pada seorang pria. Kini dirinya merasa malu hanya karena sebuah papan dan spidol.


Benar-benar jengkel, dengan cepat Dora bangkit, menatap tajam ke arahnya.


"Dasar bisu! Tidak ada wanita yang akan bisa kamu rayu untuk berhubungan! Jika ada berarti wanita itu sudah gila!" teriak Dora meracau sembarangan.


Brak!


Pintu ditutup dengan kencang, Yoka terdiam mengambil kembali papan putih dan spidolnya.


"Apa yang salah? Seharusnya dia bersedia kan?" batin sang pemuda polos, menatap ke arah papan putihnya.


Papan yang mungkin bagaikan penghalang dirinya dengan Dora. Namun, inilah satu-satunya caranya berkomunikasi. Matanya menatap cermin besar yang berhadapan langsung dengan tempat tidur.


Mulutnya mulai terbuka, ingin berbicara. Namun perasaan takut itu bagaikan mengingatkannya. Kala dirinya bersembunyi di bawah tempat tidur, melihat ibunya tergeletak bersimbah darah dengan pakaian terkoyak.


Yoka kecil yang menutup mulutnya, tidak ingin tangisannya terdengar saat itu.


"Apa aku harus bicara? Ibu, bolehkah aku bicara?" kata-kata yang tidak terucap dari bibirnya. Menatap ke arah jendela balkon yang tertutup.


*


Sedangkan Dora melangkah cepat berjalan di lorong kamar, turun ke lantai satu. Berakhir duduk seorang diri di sebuah ayunan besi. Kesal? Tentu saja dirinya memang hanya pajangan pengganti bukan? Lalu mengapa Yoka memberikan harapan padanya. Bagaimana jika suatu hari nanti Anggeline kembali pada Yoka? Apa yang harus dilakukannya.


Air matanya mengalir. Jemari tangannya mengepal. Lambat laun dirinya semakin peduli dengan si bisu yang terus melindunginya.


Menyakitkan? Sebuah perasaan yang sejatinya hanya sepihak. Hanya dirinya yang mencintai Yoka, namun Yoka tidak. Hanya Anggeline yang mungkin ada di hatinya.


Arsen perlahan mendekatinya duduk di ayunan lain yang terdapat di sebelahnya.


"Kenapa menangis?" satu pertanyaan dari bibir Arsen.


"Tidak," jawaban dari Dora menghapus air matanya sendiri.


"Sensitif? Hanya sensitif? Dia bahkan tidak mengijinkanku keluar dari villa! Aku hanya pengganti! Pengganti wanita sempurna seperti Anggeline! Tapi dia juga tidak boleh mempermainkan perasaanku! Menciumiku dengan membayangkan dia mencium mantannya! Bahkan ingin meniduriku seperti dia meniduri Anggeline!" teriak Dora murka, air matanya mengalir, mengeluarkan tissue dari sakunya kemudian mengeluarkan ingusnya.


"Tuan muda tidak pernah tidur dengan Anggeline. Jika berciuman aku tidak selalu ada di samping tuan muda. Jadi aku tidak tahu. Tapi satu yang pasti, tuan muda tidak pernah meniduri seorang wanita pun. Apa tuan muda merayumu untuk berhubungan dengannya?" tanya Arsen, dijawab dengan anggukan polos oleh Dora.


"Dia serius ingin memilikimu. Aku hanya bergurau memancingnya. Mengatakan ada satu cara instan agar kamu tetap tinggal di villa ini. Membuatmu mengandung anaknya, jika di perutmu ada tuan kecil, kamu tidak akan pernah meninggalkan villa ini," jawaban dari Arsen. Dengan cepat Dora menarik rambut pendek pria yang berusia lebih tua darinya itu.


"Sakit!" pekik Arsen, menghentikan tangan Dora. Pria itu menghela napas kasar, menatap ke arahnya.


"Maaf, tapi bersiaplah, mulai sekarang tuan muda akan melakukan segala upayanya agar kamu mengandung anaknya. Mungkin saja, tuan muda akan menyusup di malam hari, melakukan membuahi sel telurmu saat kamu tertidur..." Arsen melangkah pergi, menahan tawanya. Mengingat wajah Dora yang ditinggalkannya dalam keadaan pucat pasi.


Dora terdiam sejenak, dirinya tidak boleh berakhir tidur atau menikah dengan si bisu. Itulah tekadnya, tapi apa benar demikian?


*


Suara sendok dan garpu yang tengah beradu dengan piring keramik terdengar. Dora hanya dapat menghela napas lega menatap ke arah Amanda yang duduk di samping Yoka. Berusaha menyuapi si bisu yang menolak.


Dora mengepalkan tangannya, dirinya tidak boleh cemburu, tidak mungkin cemburu. Melangkah hendak duduk di samping Samy.


Tapi dengan cepat Yoka menarik tangannya hingga duduk di pengakuan sang pemuda.


"Aku menginginkannya sebagai sarapan pagi," batinnya menahan tengkuk Dora menciumnya di hadapan semua orang.


Samy yang tengah makan bahkan menjatuhkan garpumya. Apa yang terjadi pada Yoka yang polos? Otaknya seakan telah dicemari adegan dewasa. Menelan ludahnya sendiri, menatap bibir Yoka yang bergerak liar, tidak membiarkan wanita yang ada di pangkuannya memberontak sedikitpun.


Hot kiss? Mungkin itulah yang dilakukannya saat ini, lidah yang bermain tidak mempedulikan apapun.


Sedangkan Amanda mulai bangkit, meninggalkan kursinya dengan cepat, menahan semua amarahnya.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan dari Samy, membuat Yoka menghentikan aktivitasnya. Dengan cepat Dora melepaskan diri, turun dari pangkuan sang pemuda.


"Siapa yang mau menikah?! Mungkin hanya Yoka dan Amanda!" geram Dora memilih duduk di samping Samy.


Mulai mengambil nasi dan lauk, tidak mengetahui Yoka yang memasak segalanya. Benar-benar pemuda yang menyesuaikan makanan dengan selera Dora.


'Aku mencintaimu,' satu kalimat yang ditunjukkan Yoka pada papan putihnya.


Jantung Dora berdegup cepat menelan ludahnya sendiri. Apa benar dirinya harus berakhir menikah dengan Yoka?


"Aku juga," jawaban yang dikatakan Samy pada Yoka. Membuat semua orang menoleh padanya.


Pemuda yang makan tanpa rasa bersalah. Tersenyum pada mereka.


"Nanti malam kamu tidak akan perjaka lagi. Aku akan mengawasi segalanya. Memastikan kamu akan meracau di tempat tidur, bahkan meminta berulang-ulang kali," batin Samy penuh senyuman.


Apa pilihan Samy? Entahlah, wajah tengil yang mulai memakan permen rasa kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.