Silent

Silent
Berselingkuh



Adik ipar? Pemuda yang ada di bawah tubuhnya mengenyitkan keningnya."Aku hanya dokter. Tidak kenal dengan Dora," jawaban darinya.


Chery segera bangkit dari atas tubuh sang dokter. Malu? Tentu saja, dirinya tertunduk minta maaf beberapa kali pada sang dokter muda. Hingga pada akhirnya sang dokter pergi dengan langkah pelan memegangi pinggangnya. Bukan karena terlalu sering berhubungan, tapi karena menjadi korban amukan salah sasaran.


"Ibu..." Chery memeluk erat tubuh Vera.


"Baru ingat pulang?" Vera mengenyitkan keningnya.


"Maaf, tapi dimana Dora?" tanyanya, matanya terlihat menelisik. Mencari keberadaan adiknya.


"Istirahat dulu. Nanti ibu ceritakan bagaimana adikmu menjadi seorang nyonya muda," jawaban dari Vera, menuntun langkah putri angkatnya.


Sedangkan jemari tangan Chery mengepal, entah pria mana yang mempunyai nyali begitu besar menikahi adiknya.


*


"A...aa...aaa..." suara teriakan terdengar, hingga pada akhirnya roller coaster terhenti.


"Aku ingin lagi," pinta Dora. Namun diluar dugaan Yoka berlari memuntahkan seluruh isi perutnya.


Berkencan? Itulah yang mereka lakukan. Hingga pada akhirnya jemari tangan pemuda itu kembali ditarik oleh istrinya. Seorang pengamen memainkan biola. Beberapa orang menyaksikannya, melempar uang ke dalam tas biola yang terbuka.


Sedangkan Dora merogoh sakunya, mengeluarkan uangnya. Menatap kagum pada sang pemain biola.


Cemburu? Mungkin karena terlalu protektif, Yoka berjalan mendekat."Boleh aku pinjam?" Tanyanya pada sang pemain biola. Pria yang meminjamkan biolanya.


Suara alunan yang jauh lebih merdu terdengar. Semakin banyak orang yang berkumpul menyaksikannya terutama kaum wanita yang menatap kagum pada seorang pemuda rupawan yang terlihat menghayati setiap melodi yang dimainkannya.


Begitu juga dengan Dora, namun hanya sesaat. Benar-bebar sesaat, penyebabnya? Tidak ingin lebih banyak wanita yang kagum pada suaminya.


"Dasar playboy!" gumamnya berusaha tersenyum, menarik jemari tangan suaminya. Yang telah mengembalikan biola pada sang pengamen.


"Lain kali jangan merayu perempuan lain," ucap Dora benar-benar kesal.


"Aku hanya akan merayumu," jawaban dari Yoka, menatap wajah istrinya yang benar-benar menggemaskan ketika cemburu.


Dora terdiam menelan ludahnya sendiri. Suaminya begitu pandai merayu. Memiliki sifat berubah-ubah. Terkadang begitu lembut bagaikan malaikat pelindung berhati rapuh. Terkadang begitu menggoda bagaikan playboy sejati. Namun, sosok yang ditakutinya, kala Yoka menunjukkan senyuman tidak sukanya, bagikan iblis yang sulit dihentikan.


"Tunggu disini!" ucap Yoka padanya yang berlari entah kemana.


Sekitar 15 menit dirinya menunggu pada akhirnya pemuda itu datang, membawa beberapa jenis makanan. Duduk berdua dengan istrinya di kursi panjang taman hiburan.


"Gigit!" perintah Yoka pada istrinya, menyodorkan takoyaki. Dora hanya tersenyum, mengigit sedikit dengan ragu. Namun, diluar dugaannya Yoka memakan sisanya.


"Kenapa kamu memakannya? Tidak mengambil yang baru?!" Dora mengenyitkan keningnya.


"Kamu ingin seperti mereka kan?" tanyanya menatap ke arah beberapa pasangan yang melintas. Bergandengan tangan atau sekedar menyuapi dan berbagi makanan.


"Maaf, setelah hampir tiga tahun menikah, kita tidak pernah memiliki waktu seperti pasangan lain," ucap Yoka terdiam, kemudian menarik tengkuk istrinya. Mengecup dahinya.


Pemuda itu mendekat kemudian, menarik Dora. Kearah air mancur dengan lampu yang mulai menyala menunjukkan senja telah menghampiri.


Sudut yang gelap cukup sepi dari pandangan orang-orang. Air mancur mulai naik, dengan sinar lampu khusus di bagian bawahnya. Menutup pandangan dari sepasang suami-istri dengan bibir mereka yang semakin mendekat. Saling menatap beberapa detik, Yoka mulai sedikit menunduk, sedangkan Dora mengalungkan tangannya sedikit berjinjit. Menyatukan bibir mereka dalam ciuman perpisahan.


Meresapi setiap gerakan, air mata mereka mengalir. Kala ciuman itu terlepas.


"Aku hanya pergi setahun, mungkin kurang akan aku usahakan pulang dalam waktu 6 bulan..." ucap Yoka.


"Boleh jangan pergi?" pertanyaan dari Dora penuh harap.


Yoka menggeleng."Jadilah istri yang baik, jangan berselingkuh, jaga dirimu,"


Pemuda yang kembali mengecup kening istrinya. Berjalan pergi seorang diri, melepaskan jemari tangan mereka.


Dora hanya terpaku diam sesaat."Apa kamu mencintaiku? Dia (Anggeline) berkata akan kembali padamu?"


Sang pemuda tidak berbalik sama sekali. Hanya satu kalimat yang diucapkannya."Aku mencintaimu,"


Dora menutup mulutnya dengan tangannya. Entah kenapa air matanya mengalir tidak dapat dihentikan olehnya. Mengapa dapat seperti ini? Entahlah dirinya merasa benar-benar cengeng. Tapi tetap terasa menyakitkan.


Hanya tiga hari, hanya tiga hari menghabiskan waktu dengan suaminya setelah ditinggalkan selama dua tahun dalam tempat yang begitu mengerikan. Tidak ada yang benar-benar berpihak padanya kecuali Narendra.


*


Dua bulan berlalu setelahnya, Dora menjalani hari-harinya seperti biasanya. Chery belum datang mengunjungi atau menghubunginya. Alasannya? Sejatinya kakaknya tengah membeli rumah dan menyiapkan perabotannya untuk tinggal dengan adiknya yang manis.


Pagi ini Dora terbangun dengan kepala yang terasa berat. Berjalan menuju meja riasnya. Beberapa peralatan untuk kuliah disiapkannya.


Hingga membuka laci paling bawah. Tumpukan pembalut wanita terlihat disana. Arsen memang mempersiapkan segalanya, termasuk pembalut sesuai jadwal tanggal yang diberikan Yoka dua tahun yang lalu.


Dora terdiam sesaat bulan lalu dirinya melewatkan siklusnya. Apa bulan ini juga? Tidak mungkin kan? Wanita yang segera berjalan cepat menahan rasa sakit di kepalanya, membersihkan dirinya.


Terdiam sesaat menatap ke arah cermin kamar mandi dala derasnya air shower. Kejadian dua bulan lalu bagaikan terulang di memorinya. Kala dirinya memeluk Yoka di kamar mandi rumah sakit, mereka melakukannya. Kemudian setelah membersihkan diri, kembali melakukannya di tempat tidur.


Bilik kamar mandi kampus, bahkan di pagi hari dalam ruang rawat dirinya masih sempat-sempatnya melakukannya dengan Yoka.


"Apa si bisu menghamiliku? Aku hamil anak si bisu?" gumamnya melompat-lompat sembari tersenyum. Melupakan suaminya yang saat ini sudah bisa bicara.


Dora mengepalkan tangannya, dirinya harus memeriksakan diri ke rumah sakit. Selain itu membuat strategi agar anaknya dapat selamat di rumah yang bagaikan hutan Amazon ini.


Wajahnya tersenyum, tidak ada yang tahu kepulangan Yoka selain dirinya dan mungkin Narendra yang pura-pura tidak tahu. Jika ini anak Yoka, Anggeline dan Salsa tidak akan tinggal diam. Lain halnya jika ini anak hasil perselingkuhan.


Mereka akan membiarkannya hidup, bahkan tidak mengusiknya, menunggu kepulangan Yoka untuk mengusir istrinya yang dihamili pria lain.


Hanya ini strategi yang dapat difikirkannya. Membuat dirinya menjadi istri hina yang bersenang-senang dengan pria lain hingga hamil. Arsen dan Zou? Apa mereka dapat diajak bekerja sama? Mungkin memang harus membicarakan segalanya dengan mereka jika dirinya benar-benar hamil.


Foto-foto dirinya dan Yoka dua bulan lalu di ruang rawat rumah sakit masih tersimpan di galery phonecellnya. Sebagai bukti pada Zou dan Arsen bahwa dirinya tidak mengkhianati Yoka.