Silent

Silent
Berselingkuh



Jadwal kuliah yang padat dari pagi hingga sore menjelang, dirinya bahkan mengganti pakaian dan membersihkan dirinya di kampus. Dora menghela napas kasar, merasa bagaikan wanita simpanan yang menumpang hidup. Hidup ketergantungan bukanlah kepribadiannya. Namun, bahkan sabun cuci mukanya disediakan.


Lotion berharga 8000an di warung juga sudah tidak ada lagi, berganti dengan lotion mahal, dilengkapi tabir surya. Dirinya bertekad akan mengganti uang Yoka, suatu hari nanti.


Mengapa demikian? Bukankah Yoka suaminya? Namun, ini masalah prinsip dan kepribadian, dirinya cukup malu telah dibiayai uang kuliah yang cukup tinggi. Dan kini bahkan di tasnya ada bekal berisikan sandwich, dengan botol kaca berukuran sedang berisikan cairan putih.


Cairan putih? Isinya susu yang mengandung asam folat, mempersiapkan wanita yang mungkin akan mengandung. Benar-benar protektif, Dora menghela napas kasar.


"Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta padanya!" teriaknya tersipu di dekat tempatnya berganti pakaian, menatap susu yang dibuatkan sendiri oleh suaminya.


Dua kepribadian? Kita anggap saja kepribadian warna warni. Dora yang terkadang galak, mengelak perasaannya tapi dalam hatinya berjingkrak-jingkrak, bahkan berguling-guling bahagia mendapatkan perhatian dari Yoka.


Dan Yoka yang terkadang terlihat mendominasi namun sejatinya memiliki hati yang rapuh. Takut akan kehilangan satu-satunya wanita yang mulai dianggapnya keluarga.


Tidak menggunakan riasan, hanya produk perawatan kulit yang juga ada di tas ranselnya. Kulitnya terlihat jauh lebih terawat, rambut hitam yang sekarang panjangnya sudah melewati bahu, poni yang tegak lurus bagaikan anak kecil, kini ditata menyamping. Benar-benar terlihat cantik alami, namun memberi kesan manis dan sedikit dewasa.


Berjalan cepat, masih menggendong tas ransel besarnya. Bibirnya tersenyum, menemui teman satu jurusannya, Tia itulah namanya.


"Aku bawa pacarku, tidak apa-apa kan? Dia dari jurusan akuntansi," ucap Tia tersenyum merangkul seorang pemuda, bernama Aldo.


"Aku Aldo, maaf tidak mengulurkan tangan, Tia posesif." Aldo tertawa kecil, mencubit pipi pacarnya.


"Dia memang posesif, namaku Dora." Dora ikut tertawa, memperkenalkan dirinya menatap sepasang kekasih di hadapannya. Namun, hanya beberapa saat, phonecell Aldo berdering.


"Aku angkat dulu ya?" ucapnya tersenyum, berjalan agak menjauh mengangkat panggilan. Meninggalkan dua orang sahabat yang berbincang.


"Sekitar 30 menit lagi kami sampai di cafe, tunggu saja. Kami harus ke toko buku dulu," ucapnya pada seseorang di seberang sana.


Seorang pemuda yang tengah duduk di cafe menghela napas kasar, menatap ke arah jam tangannya.


"Aku tunggu," jawabnya, mematikan panggilan sepihak.


Wajah Aldo tersenyum, sedikit melirik ke arah Dora. Menipiskan bibir menahan tawanya. Apa yang ada di fikirannya? Entahlah.


*


Tidak ada yang menyimpang dari kegiatannya. Hanya membeli beberapa buku untuk materi kuliah, namun selain itu perlahan Dora mencuri pandang ke arah Tia dan Aldo. Tidak ingin dirinya ketahuan mengambil buku dengan sampul yang aneh.


Kiat menaklukkan hati pria, cara mendidik anak yang baik, lengkap dengan dua buah novel romance dewasa dengan banyak adegan ranjang. Menyukai Yoka? Dirinya memang menyukainya walaupun masih terlalu gengsi untuk mengaku secara terang-terangan.


Takut pemuda itu akan meninggalkannya jika suatu saat nanti Anggeline kembali padanya. Wanita itu mulai berjalan mendekati meja kasir membawa beberapa buku materi kuliah yang diperlukannya.


Kartu Debit kembali dikeluarkannya. Ini adalah uang Yoka, milik suaminya, dirinya harus menggunakan sebaik mungkin.


Dora perlahan berjalan mencari keberadaan Tia dan Aldo yang keluar dari toko buku lebih awal. Berjalan beberapa langkah, hingga di gang sepi dekat toko buku dirinya menghela napas kasar menatap sepasang kekasih berciuman.


"Kenapa mereka tidak sekalian menikah saja?" batinnya menatap kelakuan Tia dan Aldo.


"Maaf!" Tia segera mendorong kekasihnya menyadari keberadaan Dora disana.


"Tidak apa-apa, ayo kita makan..." Dora menghela napas kasar menatap Tia merapikan roknya yang tersingkap. Dan Aldo menaikan resleting celana panjangnya.


Apa yang mereka lakukan di tengah gang gelap? Kita anggap saja, sedangkan meminum kopi hitam hangat ditemani singkong rebus dan kue cubit.


"Kenapa kalian tidak menikah saja?" tanya Dora berjalan di depan mereka. Sebagai wanita yang telah laku.


"Orang tuaku seorang dosen dan dokter, mereka tidak akan setuju jika Aldo belum menemukan pekerjaan. Sebentar lagi Aldo wisuda, asalkan mendapatkan pekerjaan yang bagus, mungkin tahun depan kami akan menikah."Tia menghela napas kasar, tersenyum ke arah kekasihnya.


"Sebenarnya, ada yang mau aku katakan. Dora ada temanku yang ingin aku menjodohkannya denganmu. Dia berjanji akan membantuku mendapatkan pekerjaan setelah wisuda nanti jika dia dapat makan malam denganmu." Kata-kata yang terucap dari bibir Aldo membuat langkah Dora terhenti.


"Aku bukannya tidak mau, aku sudah menikah," Dora menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Tolong! Demi kami hanya bertemu. Setelah itu jika kamu tidak ingin melanjutkannya ya sudah..." pinta Tia putus asa, dirinya masih mahasiswi semester satu, tidak memiliki koneksi sama sekali. Mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, jadi saat ada mantan ketua senat, alumni kampus, yang memberikan penawaran cuma-cuma mereka tidak akan menyia-nyiakannya.


Dora memijit pelipisnya sendiri, dirinya benar-benar dijual.


"Suamiku protektif, posesif, jika ketahuan maka aku dan kalian akan habis!" tegas Dora, menatap penuh keseriusan.


"Pria yang bermain piano semalam di TV kan? Dia terlihat baik hati, aku yang akan meminta maaf padanya, sudah meminjam istrinya. Hanya makan malam selama 30 menit. Aku mohon ini demi Tia," pinta Aldo.


"Hanya 30 menit, karena 30 menit lagi aku akan dijemput." Pada akhirnya wanita itu tidak tega, menatap sepasang insan yang tersenyum padanya. Inilah kelemahan terbesarnya, mudah tidak tega pada orang lain. Sekaligus kelebihannya, wanita yang sejatinya menyelamatkan Yoka dari percobaan bunuh diri usai menghadiri pernikahan Anggeline.


*


Namun, kali ini nasib sial didapatkannya dirinya benar-benar akan mampus, termasuk ke dua orang sahabatnya.


"Dora," pemuda itu kini terlihat lagi bagaikan jelangkung, yang datang dan perginya tidak dapat ditebak.


"Apa?! Menikah sana! Aku saja sudah menikah!" ucapnya sombong pada mantan, memperlihatkan cincin di jari manisnya.


Ini adalah kebohongan Jovan pada Aldo, dengan mengatakan dirinya ingin mendekati Dora. Aslinya? Mereka adalah mantan kekasih. Ingin bertemu dengan Dora, walaupun hanya di kampus, cukup sulit bagi Jovan, mengingat Arsen yang selalu menjemput nyonya mudanya tepat waktu.


Sedangkan Tia dan Aldo tidak begitu mengerti dengan situasi saat ini. Hanya melihat dari jauh, pembicaraan dua orang yang terlihat intens.


"Mereka serasi," Tia menghela napas kasar.


"Kamu tidak melihat acara TV kemarin malam? Suami Dora putra tunggal seorang konglomerat, Jovan tidak ada apa-apanya," Aldo meraih phonecellnya, menunjukkan foto Yoka yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial.


"Melihat wajah kak Jovan disandingkan dengan wajahmu saja, aku seperti melihat wajah ubur-ubur. Sekarang kamu seperti cacing saat disandingkan dengan wajah suami Dora." Kata-kata yang terucap dari bibir Tia, membuat Aldo menarik telinga kekasihnya.


"Tolong, KDRT..." gumam Tia, melepaskan tangan kekasihnya dari telinganya.


Pasangan yang tidak menyadari situasi kini lebih tidak kondusif lagi.


"Jangan mencampuri kehidupanku," tegas Dora.


"Hentikan ini, aku tahu kamu tidak benar-benar menyukai Yoka. Hanya menginginkan biaya untuk kuliah. Aku akan membuat acara pernikahan yang sederhana dengan Meira. Hingga dapat menyisakan sedikit uang untuk biaya kuliahmu. Kamu tidak perlu, menjual dirimu..." kata-kata Jovan, yang sejatinya tidak ingin Dora dimiliki oleh pria lain.


Video yang semalam dilihatnya berulang kali, entah kenapa dirinya membenci sosok Yoka. Ingin menginjak-injak wajahnya.


"Kita ada disini untuk makan malam! Jadi setelah makan, aku akan langsung pulang!" Dora mulai mengambil sendoknya, hendak menikmati mie pedas khas cafe tempat mereka berada saat ini.


Namun, piringnya tiba-tiba direbut, mie setan level 10 dengan tumpukan daging ayam geprek super pedas yang langsung dibuang.


"Kamu berkencan dengan mantan pacarmu, kemudian ingin membunuh anak kita?"


Kata-kata menusuk dari seorang pemuda menatap ke arah istrinya. Wanita yang gemetaran, menjatuhkan garpu di tangannya.