Silent

Silent
Return



"Apa maksudnya?" tanya Yuli dengan nada suara bergetar.


"Ikut saja," Jovan hanya tersenyum padanya. Rasa sakit selama dua tahun yang dipendamnya. Berharap dapat perlahan melupakan Dora, mencintai istrinya dengan tulus.


Namun, semua hanya tinggal harapan. Selama dua tahun ini dirinya sudah cukup jenuh. Sifat Saswati, mertuanya juga ikut menekannya untuk melebihi pemilik bangunan terbesar di desa tersebut. Ingin melebihi Vera yang sering disambut ibu kades setiap kedatangannya. Mengelu-elukan Dora, putrinya yang sebentar lagi akan menjadi dokter muda.


Membukakan rumah sakit? Itu memang kata bualan dari Vera, tapi cukup untuk membuat hati Saswati sakit. Tetap menekan menantunya agar melebihi Yoka yang memang kaya dari semenjak dilahirkan.


Tekanan yang dialaminya, membuat Jovan merindukan hidupnya yang bebas tanpa harus mengejar ambisi. Karena itu hari ini dirinya sudah cukup jenuh.


Pemuda yang melangkah diikuti dua orang petugas kepolisian yang memang dipanggilnya untuk membuat laporan tentang tindakan asusila. Melangkah diikuti Yuli dan dua orang petugas.


Pintu dibukakan karyawan hotel. Dan benar saja, semuanya terlihat. Tubuh pasangan yang masih dalam keadaan menyatu, menoleh pada mereka. Dengan cepat Meira turun dari atas tubuh atasannya. Menyelimuti tubuhnya.


Sang pemilik pabrik semen, memakai pakaiannya."Sayang..." panggilnya pada istrinya yang terdiam dengan air mata yang mengalir.


Lembur? Itulah alasannya hampir setiap hari. Yuli juga bekerja, memiliki toko pakaian, mengurus mengantar jemput ketiga anaknya. Bahkan hingga larut dirinya masih harus menemani ketiga anaknya hingga tertidur. Menunggu kepulangan suaminya dengan sabar.


Suami yang bekerja keras, hingga lembur untuk mengumpulkan uang rupiah demi rupiah. Menghangatkan makanan, menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya yang kerap pulang pukul satu dini hari.


Lembur? Suaminya memang lembur, bekerja keras menghangatkan ranjang bawahannya.


"Besok aku akan mengurus surat perceraian," kata-kata dari istrinya, tidak seperti istri yang lain lebih memilih mempertahankan rumah tangganya. Berkelahi mati-matian dengan pelakor.


Mengapa? Takut kehilangan sosok ayah? Anak-anaknya mengeluh tidak pernah bertemu dengan ayah mereka, yang berangkat pagi, pulang pukul satu pagi. Dirinya selama ini memang berperan ganda, menjadi ibu dan ayah yang baik. Bercerai? Apa bedanya?


Tidak ada perbedaan sama sekali. Mungkin ini lebih baik untuk psikologis anak-anaknya.


"Sayang! Dengar penjelasanku, Aku dan Meira..." kata-katanya gelagapan memakai celana panjangnya dengan cepat.


"Menikahlah dengannya. Aku tidak peduli. Tenang saja aku bisa menghidupi anak-anakku sendiri. Tidak memerlukan tunjangan darimu..." Yuli melangkah pergi, tatapan tanpa ekspresi penuh kekecewaan, benar-benar tidak ada pertengkaran berarti antara wanita itu dengan Meira.


"Jika kalian bercerai kita bisa menikah," ucap Meira menahan tangan atasannya.


"Kita hanya bersenang-senang! Anak dan istriku lebih berharga! Kamu dengar tidak?! Jika istriku menyuruhku untuk memecatmu pun, akan aku lakukan!" bentak sang pria yang berusia lima tahun lebih tua dari Meira. Menepis tangan wanita itu. Meraih kemejanya berniat mengejar istrinya.


"Pak bisa ikut kami ke kantor dulu untuk memberi keterangan?" salah seorang petugas kepolisian menghentikannya.


"Yuli!" teriak sang pria menatap punggung istrinya yang tidak berbalik sedikitpun. Punggung yang terlihat bergetar bagaikan tengah terisak dalam tangisannya. Seorang istri yang tidak pernah mengecewakannya.


"Sayang...aa...aaang..." teriaknya lagi, dalam penyesalan, hanya karena napsu menyakiti hati wanita yang mengorbankan segalanya untuknya. Dirinya masih dihalangi dua orang petugas kepolisian untuk menyusul kepergian istrinya. Tertunduk diam dalam tangisannya.


Jovan yang menatapnya hanya terdiam memasuki pintu kamar hotel yang masih terbuka. Dengan Meira yang berusaha mengenakan pakaiannya dengan cepat.


"Ini pasti ulahmu kan?! Suami tidak berguna! Kita bercerai saja..." bentak Meira dengan tangan terangkat hendak menampar suaminya. Namun, dengan cepat Jovan menghentikan tangannya.


"Aku ingin bercerai, aku yang akan menggugatmu," jawaban dari Jovan sudah jenuh dengan segalanya.


"Aku setuju! Kamu memang tidak pantas bersanding denganku. Aku seorang wanita karier, lebih pantas mendapatkan pemilik perusahaan besar atau anak konglomerat. Seharusnya aku mendekati pemilik villa, hingga tidak berakhir dengan suami tidak berguna sepertimu!" Suara Meira dengan intonasi tinggi. Mungkin yang ada dalam fikirannya saat ini Dora yang bukan apa-apa mendapatkan putra tunggal seorang konglomerat. Mengapa dirinya harus berakhir dengan manager Bank?


"Tidak pantas? Kamu memang tidak pantas untuk menikah denganku. Tahu berapa klien yang menawarkan putrinya untuk dijodohkan denganku. Tapi aku menunjukkan cincinku dan mengatakan sudah menikah. Anak pejabat, bahkan wanita yang memiliki perusahaan sendiri. Aku masih menganggap pernikahan adalah ikatan suci. Karena itu aku bertahan dengan wanita yang selalu membanding-bandingkanku." Jovan menghela napas sejenak berusaha bersabar menekan emosinya.


"Kita bercerai, aku menyesal sudah menyia-nyiakan Dora untuk bermain denganmu. Menganggap permainan itu adalah sebuah keseriusan." lanjutnya menatap pria yang masih tertunduk, dengan air mata mengalir.


"Baik kita bercerai! Dasar suami tidak berguna!" bentak Meira, bersamaan dengan Jovan menutup pintu. Membiarkan Meira mengenakan pakaiannya.


Matanya menelisik, menghela napas kasar. Berucap pada sang pemilik pabrik semen. Atasan sekaligus selingkuhan istrinya."Kamu masih memiliki anak, ada yang akan mengikat istrimu. Setelah ini pulang dan bujuklah dia sebelum terlambat..."


Jovan melangkah menelusuri lorong, hingga kata-kata pemuda itu menghentikannya."Kamu tidak akan mengerti! Tidak pernah mengalaminya! Yuli tidak akan memaafkanku,"


"Istrimu akan memaafkanmu. Jika kamu berbalik meminta maaf padanya sebelum ada seseorang yang mengisi hatinya. Aku, melewatkan waktu itu....Aku juga tidak memiliki anak yang mengikat. Hingga dia (Dora) berakhir mencintai pria lain," gumamnya dalam air mata yang mengalir. Berjalan meninggalkan hotel tidak berbalik sedikitpun.


*


Pemuda yang berkali-kali menghela napasnya, menyetir mobilnya menuju lapangan kosong belakang sekolah dulu. Terdiam seorang diri, menatap jutaan bintang yang terlihat di langit.


Ilalang kecil diraihnya, menjalinnya perlahan membentuk cincin. Cincin yang terlihat indah baginya, tangannya terangkat melempar cincin pernikahannya dengan Meira.


Hati yang terasa begitu sakit, mengenakan kembali cincin ilalang seorang diri. Berbaring diatas rumput yang dibasahi oleh embun.


Keadaan yang benar-benar berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Sepasang remaja yang bertukar cincin ilalang, mengenakan seragam SMU lusuh. Berbaring bersama menatap ke arah cerahnya langit siang saling tersenyum. Menceritakan tentang hari mereka yang melelahkan.


Kini hanya seorang diri, wanita berambut pendek, kekasihnya tidak didampinginya lagi."Aku ingin kembali..."


Ucap dari seorang pemuda yang kini memakai jas rapi, bukan seragam yang telah menguning. Merindukan saat tidak ada tokoh proklamator berjejer di dompetnya. Hanya mungkin Pattimura, membawa pedang panjang.


Namun itu cukup, untuk membeli es lilin bersama kekasihnya.