
Canberra, Australia.
"Jangan kembali," Samy menghentikan langkah Yoka. Merentangkan tangannya menjadikan tubuhnya sebagai perisai.
"Bagaimana jika dia mati?!" teriak Yoka memegang kerah kemeja yang dikenakan Samy.
"Ayahku mungkin sudah mengubur atau mengurus pemakamannya. Nanti kamu tinggal membeli bunga saja..." senyuman terlihat dari wajah Samy.
"Aku serius, aku tidak seperti ayahku yang bahkan tidak peduli pada istrinya sendiri. Aku bukan monster sepertinya!" bentaknya emosional.
Samy menghela napas kasar."Jangan sampai kehilangan akal sehat. Kita aman disini, tapi tidak dengan diluar sana. Jika ingin kembali hanya boleh tiga hari saja tidak lebih. Aku akan menyembunyikan informasi tentang kepulanganmu. Bersabarlah beberapa proyek investasi masih dalam proses pembangunan. Kamu ingin membahagiakan Dora kan?"
Yoka terdiam sejenak mencoba untuk berfikiran lebih jernih.
"Aku harus pulang, walaupun hanya sebentar," hanya itu kata-kata yang terucap dari mulutnya.
"Pulanglah! Tapi ingat batas waktu. Aku hanya dapat menyembunyikan informasi kepulanganmu paling lama tiga hari," ucapnya dijawab dengan anggukan kepala oleh Yoka.
Cukup lama memang, mempersiapkan kepulangannya. Hingga pada hari kedua istrinya dirawat di rumah sakit dirinya baru dapat sampai.
*
Perlahan masker dibukanya, tidak ada jarum infus yang melekat atau tanda-tanda keracunan ular. Yoka menghela napas kasar, kali ini dirinya benar-benar tertipu.
Pemuda yang berbalik, kembali memasukkan kunci kamar rawat yang dicurinya ke sakunya. Hendak berjalan pergi, berniat membuka kembali pintu yang dikuncinya dari dalam.
Namun.
Dua tahun? Apa Yoka setia selama dua tahun ini? Istri yang sudah berani-beraninya menunjukkan pesonanya di hadapan pria lain.
Apa istrinya berselingkuh? Itulah pertanyaan pertama yang ada di benaknya.
Yoka yang masih memakai pakaian dokter menghela napas kasar. Berbalik kembali, ingin memeriksa apakah istrinya masih setia?
Kancing baju pasien yang dikenakan Dora dibukanya. Mengamati baik-baik apa ada bekas tanda keunguan disana. Tapi hanya modus dari fikiran kotornya sebenarnya.
Sudah dua tahun, terakhir kali dirinya melakukannya. Kancing baju pasien pada akhirnya terbuka sempurna, tidak ada satu tandapun.
Sedangkan Dora yang sejatinya sudah terbangun, sejak dalam satu kancing kemeja pasiennya dibuka sedikit mengintip. Suaminya benar-benar pulang, tapi apa yang dilakukannya? Dora kembali pura-pura tertidur.
Yoka mengenyitkan keningnya, menelan ludahnya sendiri. Tidak napsu dengan wanita lain? Mungkin itulah sifatnya. Tapi dengan istrinya? Wanita yang merenggut keperjakaannya? Dengan mudah dirinya takluk.
Melepaskan pakaian Dora dengan alasan yang ada di otaknya. Memeriksa luka istrinya atau istrinya mengalami kekerasan atau tidak. Alasan klise, untuk membuka semua pakaian wanita yang tengah tertidur. Lebih tepatnya pura-pura tertidur. Menikmati kala tangan itu merayap di tubuhnya.
Yoka terlihat ragu, kembali bangkit, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sudah dua tahun dirinya bagaikan ikan kehausan, mungkin sudah kering.
Apa Dora tidak akan sadar seperti sebelumnya, saat dirinya pura-pura marah? Entahlah, semua fikiran buruk terbayang di benaknya. Haruskah dirinya ke kamar mandi saja? Atau melecehkan istrinya?
Hingga satu keputusan diambilnya, menghela napas dalam-dalam."Aku ke kamar mandi saja," gumamnya ingin menuntaskan segalanya, berjalan menuju kamar mandi yang masih ada dalam satu ruangan.
Sedangkan Dora mulai bangkit. Jika dirinya memuaskan suaminya di ranjang, maka suaminya tidak akan berselingkuh. Prinsip Vera yang masih dipegangnya. Hingga menanggalkan seluruh pakaiannya.
Dirinya benar-benar malu saat ini, memasuki kamar mandi. Kemudian menutup pintunya, kelakuan suaminya ditatapnya. Pemuda yang berada di bawah guyuran shower air dingin pakaiannya telah tanggal.
Dengan ragu Dora memeluknya dari belakang.
"Kamu pulang?" tanyanya.
Sedangkan Yoka membulatkan matanya, menahan rasa malunya, telah membuka pakaian istrinya yang tengah tertidur.
Namun, Dora menyandar di punggungnya."Apa kamu menyukai wanita lain? Jika iya sebaiknya kita berpisah,"
"Aku ingin anak darimu, aku ..." kata-kata Dora dihentikan. Yoka kembali memperdalam ciumannya. Taukah kalian jarak nol centimeter antara pria dan wanita? Sentuhan kulit yang hangat membuat keduanya melupakan segalanya.
Menekan jarak nol centimeter menjadi minus. Pemuda yang seolah-olah dahaga tidak ada henti-hentinya, menuntut kepuasan, mulut yang terus bergerak.
Jarak minus? Itulah yang terjadi saat ini, kala meraup apa yang mereka inginkan.
"Dora..." ucapnya lirih, menghentikan gerakan mulutnya sejenak. Ini begitu sulit, sekaligus begitu berarti baginya.
Dora hanya terdiam, menatap lekat matanya. Bibir yang kembali menyatu. Tubuh sang wanita kini benar-benar melayang, hanya bertumpu pada sekat dinding yang terbuat dari kaca.
Itulah jarak minus antara pria dan wanita. Sebuah jarak yang memungkinkan keberadaan jemari tangan kecil berkembang dalam rahim sang ibu. Bayangan berkabut masih terlihat, suara racauan yang masih terdengar.
*
Hingga malam semakin larut, dua orang yang saling memeluk hanya berselimutkan selimut putih tebal. Lebih dari sekali? Mungkin saja, tanda keunguan bertebaran di tubuh istrinya.
Dora hanya miliknya, bukan milik orang lain. Itulah yang ada di benak Yoka. Mengeratkan pelukannya, tidak ingin Dora meninggalkannya sama seperti Melda.
"Aku ingin bercerai," ucap Dora tiba-tiba.
"Tidak boleh." Dua kata tegas dari Yoka yang membuat Dora terdiam.
"Tapi..." ucapnya lagi.
"Aku bilang, aku mencintaimu," Yoka mengecup bibir istrinya mengeratkan pelukannya.
Dora terdiam sejenak dengan mudahnya dirinya luluh. Bodoh bukan?
"Aku hanya pulang sebentar, masih ada urusan di luar negeri yang..." Kata-kata Yoka terhenti.
"Jangan pergi," pinta Dora.
"Ini demi kebaikan kita, aku..." kalimat Yoka kembali disela.
"Aku putus asa, tidak ada kabar sama sekali, jadi aku fikir kamu melupakanku. Jangan pergi..." pintanya lirih.
Yoka mengangguk,"Aku akan disini selama tiga hari,"
"Aku ingin anak darimu," pinta Dora ingin mengikat suaminya.
Yoka kembali mendekatkan bibirnya."Kamu tidak lelah?" tanyanya berbisik di leher istrinya.
Dora menggeleng, menikmati bibir suaminya. Ini sungguh gila, rasa rindu dan hasrat yang menyatu. Rasa serakah bagaikan dahaga, menonggakkan kepalanya menikmati apapun yang diberikan.
*
Hingga langit sudah mulai terang. Mereka telah membersihkan tubuhnya. Berpelukan dalam tempat tidur pasien yang luas, bagaikan ranjang penginapan.
"Apa kamu berselingkuh?" pertanyaan dari Yoka tiba-tiba.
"Tidak, aku sudah berusaha untuk tidak berselingkuh. Apa kamu berselingkuh?" tanya Dora kembali.
"Tidak, aku tidak bisa menyentuh wanita lain. Mereka hanya seperti seonggok daging yang memiliki nyawa bagiku," jawaban dari Yoka mengeratkan pelukannya.
Hingga suara ketukan pintu terdengar.
"Dora! Kamu tidak apa-apa? Kenapa pintu ruang rawatmu terkunci?!" suara Tantra yang memang kali ini praktek di rumah sakit itu terdengar. Membuat Yoka tersenyum, mulai bangkit dari tempat tidur.