
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi. Gimana kabar temen temen semua?? Semoga sehat selalu ya.
.
.
Gimana kabar kalian semua?? Semoga sehat selalu ya aamiin...
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pak, yang sabar ya. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya." Fendi mengusap punggung Abram, umur mereka hanya selisih dua tahun.
Sholeh juga berada disitu, menguatkan abram. "Zein, itu nama kamu kan? tidak akan ada cerah sebelum mendung. Badai sebesar apapun pasti akan berhenti pada waktunya. Mungkin Allah tengah mempersiapkan sesuatu yang indah dibalik semua ini. kamu harus sabar zein."
Abram tersenyum, "Terimakasih, mungkin saya harus lebih sabar."
Abram duduk diatas gundukan tanah basah, berbagai macam bunga menutupi gundukan tanah itu. tangannya beralih menyentuh batu nisan bertuliskan Alex itu.
menarik nafasnya perlahan, "Pah, Zein ikhlas. Papah yang tenang disana ya." sorban Hitam yang ia kenakan sesekali digunakan untuk menyeka air mata yang turun.
Al-Qur'an hitam ia taruh didekapannya, menyampirkan sorban dipundaknya. setelah mengaji Abram berbicara diatas makan papahnya yang bersampingan dengan makam ibunya.
"Zein gak punya keluarga lagi, tapi masih ada Allah yang selalu disamping Zein."
"Assalamualaikum ibu, Pah. Zein pulang dulu. Zein akan sering mengunjungi kalian." Laki laki itu bangkit pelahan. Mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan nya perlahan, berbalik dan melangkah menjauh dari tempat tadi.
Ketiganya berjalan keluar dari area pemakaman, Zein menaiki motor Scoopy hitam nya, sedangkan Sholeh dan Fendi? Dia bawa motor juga.
Abram pulang ke desanya. Tak ada warga yang tau kalau dia kehilangan papahnya, karena memang tidak ada yang mengetahui kalau dia masih punya papah.
Abram duduk disebuah sofa biru di ruang tamunya. Bibirnya mulai membacakan tahlil dan doa doa untuk papah dan ibunya. Rasa sesak menyeruak didadanya, walau Alex tidak adil kepadanya tetap saja Abram menyayangi Alex seperti dia menyayangi ibunya.
Selesai dengan kegiatannya tadi, Abram membuka halaman Al-Qur'an nya. Tertulis nama -Zahra Abram mengingat siapa nama yang ia tulis di Al-Qur'an nya. Tulisan itu bahasa Arab, mengingatnya Abram melukiskan senyum tipis.
****
Hari demi hari berlalu, kini di SMA Bunga Bangsa dua gadis cantik tengah bercanda ria dibangku taman sekolahnya. Siapa lagi kalau bukan Raluna dan Zara. Mereka tengah menikmati brownis-
"Emmm, enak Zara." Raluna kegirangan, merasakan brownis buatan Balqis mamah Zara.
"Iya dong, mama sama aku yang buat."
"Tambah susu coklat enak gak ya?" Raluna mencoba bereksperimen dengan makanannya.
"Gatau, coba deh. Gak mungkin berubah rasa jadi jamu kan? Palingan tambah enak." Raluna kegirangan dan menuangkan susu coklat yang ia pegang tadi. Suapan kecil ia masukkan mulutnya, mengunyah pelan. Merasakan bagaimana rasa kuenya setelah diberi susu.
"Kayak-"
Raluna menggantung kalimatnya membuat Zara penasaran, "kayak?"
"Tambah enak!!" Suapan demi suapan lagi ia masukkan kedalam mulutnya, mantap perpaduan brownies dengan susu coklat.
"Zara, Raluna mau ngomong sesuatu. Tapi janji Zara jangan keceplosan, jangan bilang siapa siapa, jangan reflek oke?"
Zara mengangguk cepat, seketika ia penasaran apa yang akan disampaikan oleh Raluna. "Iya, ayo apa apa."
"Emmmm..."
"emm apa?" Zara menaikan sebelah alisnya.
"Emmm...."
Zara memegang pundak Raluna, "Kalau masih belum siap cerita diem dulu, nanti kalau udah siap baru cerita. Aku gak kemana mana kok."
Raluna menggeleng cepat, "Ehh. Enggak Raluna siap Zara, tapi Raluna malu."
"Sebenarnya, kak Edgar waktu itu ngelamar Raluna."
"What!! Demi apa?! Seriusan ng-" hampir saja Zara membocorkan omongan Raluna, yahh seperti biasa Zara tetaplah Zara. Jika reflek akan seperti ini. Untung Raluna dengan sigap menutup mulut sahabatnya.
"Astaghfirullah, Zara. Kan udah Raluna bilang, jangan keceplosan."
"Eh iya, maaf. Lagian aku kan kaget. Tapi yang tadi itu beneran?" selidik nya, melihat kearah Raluna.
Raluna mengangguk pelan, lantas kepalanya dibelok paksa oleh Zara. Membuat manik mata Raluna menatap manik mata Zara. "Raluna, kamu terima?"
Raluna menggeleng pelan sebagai jawaban.
"bagus! Jangan terima. karena nih ya, otak kak Edgar tuh kayak gimana gitu. Mending jangan."
Bukan Zara namanya jika tidak heboh sendiri. "Oh iya!, aku saranin nih ya. Mulai saat ini jangan deket deket dia lagi, karena-" Zara menggantung kalimatnya. Bukan Zara namanya kalau tidak membuat Raluna penasaran.
"Karena?" Raluna mengulangnya.
"Karena-" Zara mendekat dan membisikkan sesuatu, reflek Raluna melototkan matanya dan menggeplak pelan Zara.
"Kirain apa Zara." siapa tidak kesal, alasan Zara yakni, karena Edgar cold boy, roti sobeknya cuma enam, dan satu lagi, masih gantengan Abram. Astaghfirullah Zara tetaplah Zara.
"Bercanda Raluna. Lagian kamu masih sekolah kan, masa sudah mau-" Raluna nyumbat mulut Zara lagi. Hampir Zara keceplosan semoga saja siswi tadi yang lewat tidak mendengar ucapan Zara.
"Jangan keras keras Zara."
"I-ya maaf." Ada sebuah alasan yang Zara ketahui namun tak harus dibicarakan dengan raluna.
.
.
Flash Back On
.
.
Empat orang, yang bernama sebuah keluarga itu kini tengah makan malam disebuah restoran. Yahh, salah satu diantara mereka adalah papah Edgar, mami Edgar, dan kakak laki laki Edgar.
Zara duduk didekat mereka, namun kehadiran Zara sama sekali tidak disadari oleh keluarga itu.
"Emm.. Pah, aku mau ngomong." Ucap Edgar, memberanikan diri.
"Ngomong aja."
"Aku mau ngelamar seseorang boleh?"
"Pftttt.. hehh pagar tembok! Lo modelan begini emang ada yang mau? Udah dingin, cuek. Kasian gue sama cewek yang mau Lo lamar." Ucap kakak Edgar yang berusaha menahan tawanya.
"Apaan? ikut campur aja. Stay halal bro." Edgar menepuk pundak zano kakak laki lakinya.
"Matamu, gue selalu stay halal."
"Minus otak lo, stay halal dari mana. Pacar lo aja diciumin sampai-" hampir saja bocor, memang mulut Edgar terlalu jujur.
"Bacot Lo pagar tembok."
"Apa Lo, pintu wc." lengkap sudah berbagai kata yang bermakna makian, mereka adukan satu sama lain.
Kenapa Edgar memanggil zano kenop pintu wc? Yah karena feno sangat welcome dengan para gadis yang sedang merana ingin membuang masalah. (Dalam artian feno tidak sadar telah menjadi BaDUt!! Broo!!). Zano terbuka untuk siapapun, berbeda dengan Edgar yang hanya bisa diam sekali jatuh cinta bisa sedalam sepetitank.
"Dasar, pagar tembok." balas feno tak terima.
"Lanjut debatnya, papah dengerin kok." seketika dua cowok yang terpaut umur setengah tahun itu langsung kicep.
"Lo sih, dasar tembok pagar."
"Apaan pintu wc. Jelas jelas Lo dulu yang mulai." Balas Edgar tak terima.
"Udah, siapa memang perempuan yang mau kamu lamar?" Papah Edgar menghentikan perdebatan dua putranya. Sudah muak dirinya.
"Aku gak tau dia anak siapa Pah, tapi aku tau rumahnya."
"Dimana?"
"Di jalan........."
Papah Edgar diam sejenak, mengingat ngingat kembali alamat itu, ternyata alamat itu adalah kediaman Usman. Tapi apa Usman sudah kembali? Atau ada orang yang membelinya? Akhhh sudahlah.
"Kamu yakin?" Edgar mengangguk mantap.
Papah Edgar terdiam sebentar -'anakku, anakku. Pintar sekali memilih gadis, dengan begini perusahan saya akan berada dibawah naungan perusahaan besar seperti Ahkam groups.' dia kemudian menatap Edgar,
"baiklah. Kapan kita akan kesana?"
Mata Edgar berbinar, "beneran Pah?"
"Iya."
"Mamiii, aku seneng!!"
"Jijik gue liat Lo pagar tembok. Kayak bocah." Cibir zano.
"Iri bilang nj**g."
"Hehh, Edgar gaboleh gitu ngomongnya." Tegur mamahnya.
"diajarin Zano gila mi."
"sembarangan! congor lo sabi lah gue jadiin rujak." balas Zano tak terima.
"hehh, anak anak mami kok begitu ngomongnya? nanti mami sita semua aset kalian kalau ngomong seperti itu lagi." ancam mami Edgar.
"Maaf mi, lagian mulut feno minta di ampelas."
"Kalau gitu papah telfon dulu ya, tadi lupa soalnya ada sesuatu penting." Papah Edgar bangkit, dan hendak meninggalkan meja mereka.
Zara yang melihat keanehan saat Edgar menceritakan soal Raluna, Zara menjadi curiga. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti papah Edgar.
Diluar papah Edgar tengah menelfon seseorang, "hallo. Heyy putraku sangat brilian." Pujinya kepada orang yang di telfonnya.
"Hahaha, kau benar sekali. Setelah aku menjadi besan Usman, perusahaan saya pasti akan semakin terkenal. Dan akhirnya putraku yang akan menjadi pewaris Ahkam groups."
Zara membelalakkan matanya, dia segera merekam pembicaraan papah Edgar di hp nya. Sungguh jahat sekali papah Edgar. Hal ini terjadi sebelum Zara masuk rumah sakit. Lebih tepatnya saat Raluna hilang ingatan. Waktu itu dia ingin makan diluar, tapi tak sengaja menemukan seperti ini.
.
.
Flash Back Of
"Pokonya jangan terima. Oke." Raluna mengangguk dua gadis itu kembali melanjutkan pembicaraannya.
..🌼..
Hari hari berlalu, hari ini dua gadis bernama Raluna dan Zara tengah bersiap siap untuk pergi ke desa tempat tinggal Raluna dulu. Berbagai hal sudah mereka siapkan, bahkan Zara membawa kamera untuk berfoto nanti.
Dua gadis itu mulai berpamitan, dan bertemu di sebuah tempat sesuai perjanjian mereka. Kini dua mobil Alphard putih berjalan menuju tempat tinggal Raluna. Perjalanan terasa begitu singkat, hingga tak terasa mereka sudah sampai saja.
Mereka turun, dan mengendarai sepeda pancal untuk menuju suatu tempat, yang Zara bilang waktu itu.
"Zara, dimana tempatnya kok gak sampai sampai?"
Zara menoleh, "bentar lagi. Mudah mudahan kamu bisa ingat lagi tempat itu, sama kenangan yang pernah kamu lakuin disini. Entah sama nenek kakek kamu, atau sama aku."
Raluna tersenyum, "iya semoga raluna bisa ingat kembali. Aamiin."
Mereka berdua menaruh sepedanya didekat rerumputan, kemudian dua gadis itu berjalan menuju sebuah gubuk. Duduk diatas gubuk itu, melihat pemandangan asri didepannya, hal yang selanjutnya zara lakukan, berlari menuju mata air jernih disana.
"Zara mau kemana?!" teriak Raluna melihat Zara yang berlari menjauh darinya, akhirnya Raluna juga mengikuti Zara.
Mereka berdua akhirnya berhenti didepan mata air yang mengalir jernih, Zara langsung membasuh mukanya dengan air itu. "Masyaallah, seger." Raluna yang penasaran mengikuti apa yang Zara lakukan.
"Masyaallah, seger Zara." Raluna kegirangan, tempat ini bagus sekali. Sejuk dengan pemandangan yang indah, ditambah banyak mata air yang jernih dan bersih.
"Dulu kamu pernah tunjukkin tempat ini dengan cara aku tadi."
Zara menarik tangan Raluna untuk mendekat ke hamparan bunga yang ada disitu, masih ingat mahkota bunga yang mereka buat dulu? Ya Zara ingin melakukannya. Mengajarkan Raluna membuat bunga seperti itu.
Mereka memetik bunga itu hingga banyak, kemudian Zara membawa Raluna duduk di rerumputan sana. "Sini aku ajarin buat mahkota bunga."
"Ini diginiin, abis itu---"
Raluna dan Zara menatap kagum dengan apa yang Zara buat, tak percuma Zara diajari, untung ingatan Zara masih kecantol untuk merangkai bunga ini.
"Wahhh, bagus Zara."
"Iyadong, dulu kamu yang ngajarin ini."
"Masa sih?"
"Iya."
"Kalau gitu Raluna mau coba buat." Raluna mengambil setumpuk bunga itu, kemudian merangkainya kembali. Anehnya Raluna langsung dengan tepat merangkai bunga itu, hanya ada dua kemungkinan.
Yang pertama, Raluna sangat cepat tanggap. yang kedua, Raluna masih ingat cara merangkai bunga ini. Bagaimana Zara tidak heran, Raluna bisa dengan cepat membuatnya. Bahkan waktu nya lebih cepat darinya tadi membuat mahkota bunga ini.
Raluna melihat dari dengan senyum menggoda, kedua alisnya naik turun, "bagus kan punya Raluna."
"Iya bagus raluna."
"Marimas rasa taro, mari kita berfoto." Zara mengeluarkan kamera dari sakunya.
Jebret, jebret, jebret. Wkwkwkwk, kira kira bunyinya kaya gitu lah.
"Masyaallah, bagus fotonya Zara." Puji Raluna.
"Nanti buat polaroid, taruh dikamar aku sama kamu."
"Iya iya."
Keduanya bermain disana, tak sengaja mata Raluna menangkap sebuah pohon pisang menjulang tinggi, buahnya pun sangat menggoda besar dan warna kuning.
"Zara, pohon pisang itu punya siapa?"
Zara menoleh kearah telunjuk Raluna, "enggak tau. Kenapa? Mau pisangnya ya."
"Iya." Raluna menyengir.
Zara mengambil hp nya dan menghubungi bodyguard yang tadi ikut bersama mereka. Tak lama kemudian dua pria bertubuh besar datang, dengan menggunakan lokasi yang tadi dikirim Zara.
"Assalamualaikum, non ada apa?"
"Waalaikumsalam. Om, aku minta tolong boleh?"
"Boleh boleh boleh."
"Carikan siapa pemilik pohon pisang itu, soalnya Raluna mau buahnya."
"Baik non, kami permisi dulu. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, makasih omm!"
Raluna melihat Zara tak percaya, bisa bisanya Zara menyuruh mereka mencari pemilik pisang ini.
Tak lama kemudian, mereka datang lagi dengan seorang pria tua. Zara mendekat dan bertanya kepada pria tua itu, "assalamualaikum pak, pohon pisang ini punya kakek?"
Pria yang mendekati umur kakek kakek itu mengangguk pelan, "Waalaikumsalam. I-iya, kenapa nak?"
Zara tersenyum, "Raluna, dia mau pisang. Jadi kami mau beli pohon pisang punya kakek."
Kakek itu mengerutkan keningnya, mengingat ngingat nama itu, "Raluna? Anaknya pak Usman?"
Kini Raluna juga menjawab, "iya kek, boleh pisangnya Raluna beli?"
"B-boleh. Silahkan."
"Harganya kek?" Tanya Zara.
"Se ikhlas kalian saja." jawab kakek itu.
"Masyaallah kakek baik sekali, pak Dul. Raluna minta tolong, ambilkan dus dibagasi mobil yang Raluna bawa tadi itu, kasihkan ke kakek ini. Oh iya, nanti kalian antarkan lagi kakek ini."
"Siap non Raluna."
Raluna mengeluarkan uang cash dari tas Flaminggo nya, mengeluarkan sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu. "Ini kek, terimakasih kek, sudah menjual pohon pisang ini."
"Astaghfirullah, nak ini banyak sekali. Biasanya kakek jual pisang seharga delapan puluh ribu sampai seratus lima puluh nak. Ini kebanyakan." kakek itu kembali menyodorkan uang itu.
"Kek, ini rejeki titipan dari Allah, kami hanya perantaranya. Diterima ya kek."
Kakek itu menatap uang ditangannya tak percaya, "beneran nak?" Raluna dan Zara kemudian mengangguk.
"Alhamdulillah, terimakasih yaallah. Semoga rejeki kalian lancar selalu, diberi umur panjang yang berkah. Ramadhan sudah sebentar lagi, uang ini akan saya gunakan untuk membeli baju untuk cucu saya."
Raluna tersenyum melihat kebahagiaan di muka kakek ini, "semoga uangnya bermanfaat ya kek."
"Aamiin, terimakasih nak."
"Mari pak saya antar pulang." Mereka pergi mengantar kakek itu pulang kerumahnya, perihal dari mana mereka tau alamat rumah kakek itu tak perlu Zara dan Raluna pusingkan, yang terpenting pisang sudah menjadi hak mereka untuk mereka makan.
Mereka tak perlu khawatir salah orang karena kawasan ini semua orang tau, jika pohon pisang seribu yang ada di tempat ini adalah milik seorang kakek. Jadi mereka hanya tinggal bertanya saja perihal pohon pisang itu, maka semua orang akan tau karena hanya ada satu pohon pisang disana.
Tak lama kemudian, pisang besar berwarna kuning sudah berada dihadapan dua gadis itu, Raluna tak sabar untuk menikmati pisang itu. Raluna mengambil satu pisang dan memakannya.
"Eumm, enak ya Zara."
"Hmm, enak Raluna."
Raluna menoleh dua bodyguard dan satu sopir itu tengah duduk jauh dari mereka. " Pak Dul!" Panggil Raluna.
Sopir itu mendekat, Raluna memberikan dua ikat pisang kepada pak Dul. "Assalamualaikum, non ada apa?"
"Waalaikumsalam, ini buat pak Dul sama teman pak Dul. Maaf ya Raluna merepotkan kalian."
"Tidak sama sekali non, non gak merepotkan kami. Karena ini memang tugas kami, dan amanah dari pak Usman. Untuk pisangnya terimakasih non."
"Iya, sama sama." Pak Dul itu kembali menuju dua bodyguard itu sembari membawa pisang ditangannya.
"Ini buat pisang susu es enak nih pasti." Gumam Raluna.
"Apa?" Zara menoleh kearah Raluna.
"Ahh itu, buat pisang susu es yuk."
"Apa itu?" Tanya Zara.
"Udah kita bikin aja." Raluna menarik tangan Zara untuk mendekat ke sepeda mereka berdua.
"Pak Dul! Kita pergi beli es batu sama susu dulu ya, Raluna minta tolong jagain pisang Raluna! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam siap non!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, udah nyampe di ujung aja nih. Gimana bab ini?
.
.
Jangan lupa vote sama komen ya, see you next bab babayyyyyy!!!
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
2 Mei 2022