
Cukup melelahkan, benar-benar melelahkan. Wanita itu kini tengah memegang sebuah paper bag. Menghela napas berkali-kali, setidaknya suaminya kembali menyiapkan susu dan bekal untuknya.
Untuk pertama kalinya Yoka mengacuhkannya, begitu menyakitkan. Walaupun sifat protektif Yoka kini sedikit kembali, namun dirinya harus berusaha lebih banyak lagi. Mengembalikan kasih sayang suaminya seperti semula, dengan memegang teguh prinsip dari ibunya. Asalkan suami puas di ranjang maka tidak akan pernah berselingkuh.
Benar-benar wanita naif, tidak menyadari Yoka yang telah melajukan mobilnya cukup jauh kini tersenyum-senyum seorang diri. Mencintai karena urusan ranjang? Bukan itu intinya, dirinya benar-benar mencintai Dora, bukan karena sebuah napsu belaka. Namun, karena benar-benar membutuhkan Dora dalam hidupnya. Seseorang yang dapat membuat perasaannya campur aduk. Nyaman, terkadang pula membuat dirinya kesal setengah mati.
Hingga Yoka melajukan mobilnya menuju restauran bergaya Eropa, salah satu aset milik almarhum ibunya. Status sosial? Keluarga Melda memang memiliki status sosial lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga Narendra.
Hutang budi di masa penjajahan menjadi alasan mengapa almarhum kakek Melda bersikeras menjodohkan cucu tunggalnya dengan Narendra. Hutang budi? Almarhum kakek Melda adalah seorang prajurit pada masa penjajahan, dirinya diselamatkan oleh almarhum kakek Narendra. Bahkan mendorong dirinya untuk melarikan diri ketika mereka terkepung. Naasnya almarhum kakek Narendra gugur, kala menjadi pengalih perhatian musuh.
Hutang budi yang selalu diingatnya. Menjodohkan putranya? Tapi putra mereka sama-sama laki-laki. Tidak mungkin akan bermain pedang-pedangan kan? Bisa putus keturunan keluarganya.
Hingga putranya menikah dan memiliki anak perempuan, bernama Melda. Sedangkan cucu dari sahabatnya laki-laki, bernama Narendra. Dari sanalah ambisi sang kakek untuk menjodohkan cucu perempuannya.
Perjodohan yang diatur sejak dini, namun mereka tidak pernah bertemu sama sekali. Kala perusahaan keluarga Narendra terpuruk, saat itulah pernikahan terjadi. Kedua orang tua Narendra yang ingin menggunakan perjanjian perjodohan untuk menyelamatkan perusahaan mereka.
Jelas saja aset yang kini dimiliki Yoka tidak sedikit, walaupun dirinya tidak masuk ke dalam perusahaan ayahnya.
Pemuda kaya sesungguhnya? Apakah Malik yang hanya bergantung pada perusahaan? Menjadi seorang direktur yang dielu-elukan akan menduduki jabatan CEO, mewarisi seluruh aset Narendra? Atau seorang pemuda yang dianggap anak tidak berguna, si bisu benalu, pengangguran yang tinggal seorang diri di villa? Setidaknya itulah pertimbangan Anggeline untuk memilih Malik.
Mengira Yoka dan Malik adalah saudara kandung satu ayah dan satu ibu. Malik, sang kakak yang sempurna, dibandingkan dengan Yoka yang tidak dicintai keluarganya dan tidak dapat bicara. Wanita yang memiliki radar uang tingkat tinggi tentu akan memilih Malik.
Tidak menyadari cangkang kosong yang dipilihnya. Anggeline memang cukup pintar kan?
Yoka melangkah memasuki area restauran, duduk di tempat yang dekat dengan jendela.
"Tuan?" sang manager menunduk memberi hormat pada pemilik dari restauran yang dikelolanya.
"Pesankan aku satu porsi spaghetti carbonara, tiramisu, minumannya air putih dingin. Satu lagi, cup cake, take away untuk istriku. Bawa laporan rencana pengembangan cabang baru kemari. Aku akan memeriksanya sambil makan siang," perintahnya, menghela napas kasar, tidak terbiasa memakan-maknan lengkap ala orang Eropa.
Soup, apartaisezer, dan banyak lagi rangkaiannya dalam porsi yang sedikit. Dirinya mendapatkan porsi lebih banyak ala orang Indonesia. Memakan makanannya sambil membaca dan menandatangani beberapa berkas, menghubungi perusahaan kontraktor kepercayaan Arsen.
Semua dilakukannya sambil makan. Bukan gaya makan yang terburu-buru tapi terlihat lebih pelan bagaikan penuh estetika. Benar-benar tuan muda yang kini giat bekerja untuk istri dan kecebong. Maaf, salah calon anaknya.
*
Tidak mengetahui pemilik restauran? Tentu saja, Malik menganggap dirinya yang masuk ke perusahaan berada di atas awang. Jauh jika dibandingkan dengan Yoka. Sedangkan Anggeline mengira uang yang dinikmatinya ketika menjadi kekasih seorang Yoka adalah pemberian Narendra.
Sedangkan untuk saat ini Malik sang kakak yang juga anak kandung Narendra tengah dididik untuk menjadi pewaris tunggal hingga keuangannya dibatasi. Setidaknya itulah yang ada dalam fikiran Anggeline, fikiran yang didapatkannya dari kebohongan Malik.
Mobil Lamborghini keluaran terbaru, yang dibeli secara cicil mengambil pinjaman di bank. Mengingat gaya hidup Malik yang hedon, menghamburkan uang bagaikan daun nangka. Gaji sebagai direktur tidak akan cukup untuknya. Sedangkan Narendra tidak memberikan uang sepeser pun, kecuali gajinya dan uang bulanan yang terbatas. Bukan anak kandungnya? Sifat sombongnya? Narendra tentu sejatinya tidak begitu menyukai Malik.
Anggeline benar-benar pintar, membuang tuan muda untuk tuan ngutang.
Kartu khusus berlangganan VIP ditunjukkan Malik pada karyawan. Matanya menelisik menatap keberadaan Yoka disana. Membully? Itu memang menjadi hobinya kan?
"Kita duduk disana," ucap Malik menunjuk meja kosong dekat dengan Yoka. Anggeline hanya tersenyum mengikuti langkah suaminya. Kesal pada Yoka? Tentu saja, apa hak si adik yang dari dulu bisu, tiba-tiba mengatakan setengah saham perusahaan adalah miliknya? Dan dirinya adalah anak tunggal?
Syukur Malik terlalu baik pada adiknya hingga tidak melaporkan Yoka atas pencemaran nama baik. Matanya melirik sinis pada Yoka yang tengah membuka beberapa map yang sebelumnya diberikan manager restauran padanya.
"Wah adikku ternyata ada disini," ucap Malik merangkul pinggang Anggeline. Kemudian duduk di kursi meja yang lumayan dekat dengan Yoka.
"Em..." jawaban dari Yoka acuh lebih memilih konsentrasi pada pekerjaannya. Memakai pakaian santai sweater putih dan celana jeans hitam, sangat kontras dengan para pengunjung restauran yang bisa dibilang semuanya mengenakan pakaian resmi. Gaun mewah atau setelan jas. Siapa yang menyangka pemuda ini adalah pemilik restauran.
"Tidak beretika, langsung memesan menu utama dan desert..." cibir Malik, yang baru saja diberikan daftar menu oleh karyawan restauran.
"Adikku sebagai kakakmu aku hanya menasehatimu agar tidak mempermalukan diri sendiri. Seharusnya setelah hidangan utama habis, baru dessert (hidangan penutup) akan datang. Apa kamu jangan-jangan tidak memesan apartaisezer (hidangan pembangkit selera) dan soup terlebih dahulu?" tanya Malik pada Yoka yang duduk di meja yang lain dengannya. Dengan sengaja ingin menyindir dan mempermalukannya.
"Sayang, jangan begitu dia kan tinggal di villa yang dekat dengan kampung. Sifatnya jadi agak kampungan. Bahkan menikah hanya sekedar mencari pengganti..." ucap Anggeline pada Malik. Benar-benar ingin membully mantan.
Yoka masih hanya diam, dirinya hanya memiliki waktu satu jam di restauran ini. Selebihnya harus kembali ke tempat beberapa aset bergerak milik ibunya lagi. Berusaha mengumpulkan uang lebih banyak, mengingat entah kapan dirinya akan menjadi seorang ayah.
Hingga, kata-kata hinaan terlontar dari mulut Malik.
"Pengganti? Maksudmu istrinya yang wajahnya mirip denganmu? Entah dari m*cikari mana dia mendapatkannya." Kata-kata yang diucapkan Malik pada Anggeline, membuat Yoka mengalihkan perhatiannya pada pasangan yang duduk di dekatnya.
"Adikku tersayang, aku hanya mencemaskanmu. Mungkin saja kamu dikhianati nantinya oleh wanita kampungan yang materialistis. Jadi jika dia hamil lebih baik tes DNA saat dalam kandungan, dia tidak jelas asalnya dari mana, jadi mungkin saja melayani berbagai pria..." nasehat dari Malik penuh senyuman. Nasehat yang sejatinya hanya berusaha menghina adiknya.
Wajah Yoka tersenyum, sifat dan perilaku yang jauh berubah beberapa bulan ini. Kesal? Tentu saja, mereka bagaikan membangunkan naga yang sedang tidur.