Silent

Silent
Kata Yang Tertahan



Seorang selebriti yang cukup terkenal, bertubuh menggoda itulah Amanda Karin. Wanita yang pernah diusir oleh Yoka. Dan kini bagaikan tidak kenal menyerah Salsa kembali membawa Amanda. Tapi kali ini Narendra berada di sampingnya.


Perlahan Yoka masuk, diikuti dengan Dora dan Samy. Melangkah duduk berhadapan dengan mereka.


"Anggeline?" Salsa mengenyitkan keningnya menatap keberadaan menantunya disana.


"Dia bukan Anggeline nyonya besar, namanya Dora. Pelayan pribadi tuan muda," ucap Samy penuh senyuman.


"Bukan Anggeline?" tanya Salsa menipiskan bibir menahan tawanya.


"Kamu mencari wanita yang mirip dengan Anggeline untuk menggantikannya? Benar-benar bodoh, entah wanita penghibur dari mana, tidak jelas asal-usulnya. Berapa kamu menyewanya untuk menghangatkan ranjangmu?!" cibir Salsa menertawakan putra sambungnya.


Kata-kata yang membuat Dora tertunduk, mengepalkan tangannya. Air mata yang tertahan, tersenyum miris. Wanita bayaran? Itukah statusnya saat ini?


'Jika tujuan ayah kemari hanya untuk kembali merebut segalanya untuk Malik, sebaiknya segera pergi dari sini. Aku tidak menggangu kehidupanmu, jadi jangan mencampuri kehidupanku lagi,' kata-kata yang tertulis di papan putih yang ditunjukannya.


Narendra menghela napas kasar. Meminum secangkir teh di hadapannya.


"Kita sudah lama tidak bicara dan bertemu seperti ini. Apa kamu tidak merindukan ayah?" tanyanya, tersenyum miris. Sesuatu yang telah lama disimpannya, ingin memeluk putranya namun tidak bisa. Sebuah kebahagiaan yang tidak pantas didapatkannya, Melda maupun Yoka.


Yoka menghapus papan putihnya, jemari tangan yang bergerak cepat. Sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan papannya.


'Tidak, aku merindukan ibu yang berjanji membawaku ke kebun binatang jika mendapatkan peringkat pertama. Pergi bersama suaminya yang menyayanginya dan menyayangiku,' Dua kalimat pada papan putih yang membuat Narendra tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.


"Begitu? Anak bodoh, Melda sudah lama mati. Apa yang kamu rindukan dari orang mati?" tanya Narendra penuh senyuman, bibirnya bergetar. Sebuah perasaan sakit yang dipaksakan.


'Aku merindukan kasih sayangnya. Aku merindukan ibu yang memarahiku dan ayah karena mencuri cup cake yang baru matang buatannya. Aku merindukannya, ibu yang aku dan ayah bangunkan tengah malam hanya untuk sekedar merayakan ulang tahunnya. Karena aku mencintainya,'


Narendra terdiam sejenak, membaca tulisan tangan putranya. Wajahnya tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum. Dirinya, Melda dan Yoka, tidak ada yang boleh bahagia.


Salsa menyender di lengannya, wanita yang dinikahinya untuk menyakiti putranya sendiri. Mengapa tidak mati bersama saja 16 tahun lalu? Mungkin kematian yang lebih terasa indah. Dari pada dirinya dan putranya hidup dalam ketidak bahagiaan.


Hingga keputusan ini diambilnya, mati setelah kematian Yoka. Mungkin almarhum Melda akan menyimpan dendam padanya. Apa keluarganya dapat bahagia setelah berada di sisi-Nya? Mungkin tidak, tangan Melda yang berlumuran dosa, serta tangannya yang penuh dendam dan rasa bersalah hingga membunuh Melda dan menyakiti hati putranya, tidak membiarkan senyuman terlihat di wajah putranya sedikitpun.


Samy mengepalkan tangannya, mengetahui segala yang terjadi. Tapi apa tujuan pria ini kemari? Itulah yang tidak dimengertinya. Pria yang bagaikan tidak takut mati, tidak mendengarkan peringatannya sama sekali.


"Tuan apa tujuan anda kemari? Maaf tuan muda saat ini sedang sibuk. Ada beberapa persetujuan dari pengelolaan aset yang harus ditinjaunya..." ucap Samy berusaha menekan kepribadiannya.


"Ayah ingin kamu menikah dengan Amanda. Dia wanita yang cukup baik, bukan dari kalangan bawah. Anggap saja ini kompensasi karena Malik sudah menikahi Anggeline,'' ucap Narendra terlihat tenang. Pria yang diam-diam mengetahui tujuan dari Salsa untuk membunuh Yoka. Dengan jalan memasukan Amanda ke villa.


"Maaf..." batin Narendra menatap ke arah putranya. Pemuda yang tidak mengetahui apapun, tidak mengetahui bagaimana kejamnya sifat yang disembunyikan Melda. Hingga membuat Narendra seperti ini.


"Setidaknya biarkan Amanda tinggal di villa ini. Jika kalian saling mengenal mungkin perlahan perasaan itu akan tumbuh," Salsa meyakinkan.


"Biarkan Amanda tinggal, maka ayah akan memberikan rumah kecil peristirahatan milik almarhum Melda," ucap Narendra, memberikan kenang-kenangan terakhir dari istri yang dibunuh olehnya.


Sebuah rumah pondok kecil di pinggir danau. Rumah yang selalu menjadi tempat liburan mereka sebelum sifat Narendra mulai berubah. Memancing bersama, bahkan membakar ikan. Hanya kenangan tentang senyuman dan tawa yang ada di sana. Sebab Melda sang pemilik telah meninggal di tangan suaminya sendiri. Suami yang begitu menyayanginya saat sebelum Yoka berusia 11 tahun.


'Aku akan mengijinkan Amanda tinggal di villa ini, asalkan ayah menjawab satu pertanyaanku.' Syarat yang ditulis Yoka pada papan putihnya.


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Narendra.


'Apa ayah tidak sempat berbalik dari bandara kembali ke rumah di hari kematian ibu?' Satu pertanyaan yang dilayangkannya. Pertanyaan yang terus menerus menghantuinya. Dirinya sempat melihat ayahnya yang menangis di pintu belakang, beberapa jam sebelum kedatangan para perampok. Entah itu ilusi atau bukan, mungkin ingatannya yang salah.


Narendra menatap pantulan bayangannya sendiri pada teh di hadapannya.


"Tidak, saat itu ayah memang langsung pergi. Sama sekali tidak memiliki keinginan atau melangkah kembali," Kata-kata yang terucap dari mulutnya, penuh senyuman.


"Aku kembali, aku ingin menghentikan orang-orang yang aku bayar. Tapi apa gunanya? Pada akhirnya aku menahan diri kembali ke bandara. Membiarkan Melda mati, bahkan mayatnya pun tidak sempat aku lihat. Saat aku kembali Martin sudah mengadakan pemakaman untuknya, bahkan mayatnya di kremasi. Martin tidak ingin aku melihat mayatnya, tidak ingin aku meminta maaf padanya. Tapi memang tidak akan meminta maaf, kecuali nanti aku dan Yoka telah menyusulnya," batinnya menyembunyikan segalanya.


Samy tersenyum, benar-benar membenci Narendra. Satu-satunya manusia yang paling buruk baginya.


'Arsen siapkan kamar untuknya!' perintah Yoka menunjukkan papan putihnya.


Sedangkan Dora terdiam menatap segalanya, dirinya benar-benar pajangan yang bertahan hanya untuk biaya kuliah. Entah itu Amanda ataupun Anggeline, semua bukan saingannya. Dirinya tidak ada apa-apanya, hanya seorang pemeran pengganti dari wanita yang dicintai Yoka


Tapi tanpa diduganya Yoka tiba-tiba bangkit, meraih jemari tangan Dora. Pemuda yang tiba-tiba tersenyum di hadapannya. Wajah rupawan yang menatap tajam padanya.


"Ke... kenapa kamu..." kata-kata Dora terhenti, lebih tepatnya dihentikan. Seorang pemuda yang tiba-tiba menciumnya di hadapan semua orang. Menahan tengkuknya, seolah-olah kehausan yang hanya terobati oleh Dora.


"Sebuah status tanpa kata yang aku berikan padamu. Kamu yang berkuasa, entah menendangnya, menyuruhnya bekerja kasar, adalah hakmu. Ini hadiah untukmu yang kembali ke villa ini," batin Yoka, melanjutkan ciumannya. Seolah-olah tidak peduli dengan keberadaan orang lain.


"Yoka apa maksud semua ini?!" bentak Salsa geram.


Yoka tersenyum acuh, mengecup pipi Dora kembali. Pemuda yang kembali meraih papan putihnya.


'Ini artinya Amanda hanya seseorang yang menumpang hidup. Lebih rendah dari pelayan, sedangkan Dora dia wanita yang dicintai pemilik villa,'


Kalimat yang tidak dapat dibantah, Dora masih tertegun mencerna segalanya. Hingga tangannya di tarik ke lantai dua. Entah apa yang ada di fikiran Yoka saat ini. Apa mungkin karena memangku Dora terlalu lama di mobil dirinya ingin segera membawanya ke kamar?