Silent

Silent
Maksudnya



Benar-benar cantik, bahkan dengan sarung tangan putih yang dikenakannya. Tentunya lapisan dalamnya terdapat sarung tangan karet yang biasa digunakan dokter untuk melakukan operasi. Tidak ingin ada kesalahan sedikit pun, kesalahan yang akan membuat sang pinguin jantan murka.


Ini memalukan, benar-benar memalukan. Benar-benar canggung untuk hadir.


Sedangkan Meira menatapnya dari jauh. Dalam pernikahan seharusnya yang menjadi pusat perhatian adalah pengantin wanita bukan?


Salah satu kenalan Meira yang berasal dari kota, menatap wanita yang baru hadir.


"Itu tas Chanel keluaran terbaru kan? Baru diluncurkan di Paris. Aku pernah melihatnya di majalah berbahasa asing. Apa itu asli?" tanyanya yang memang bekerja sebagai translator artikel.


"KW, itu tidak asli," geram Meira. Mengapa tidak dirinya saja yang mendekati pemilik bangunan terbesar di desanya?


Menyesal? Tentu saja, dirinya hanya fokus pada Jovan yang telah memiliki karier yang bagus. Tidak menyadari, di dekat rumahnya ada konglomerat yang lebih dari segala sisi.


Andai waktu dapat diulang, dirinya akan membiarkan Jovan berakhir dengan Dora. Kemudian lebih fokus menggoda tuan pemilik villa. Hingga mungkin sekarang situasi akan terbalik.


Dirinyalah yang menjadi pusat perhatian, posisi yang terbalik dengan Dora. Daya saing? Jovan mungkin akan diangkat menjadi manager Bank bulan depan. Tapi jauh tidak sebanding dengan suami seorang Dora.


Ini tidak dapat diterimanya. Dora yang pas-pasan saja dapat menggait pengusaha kaya. Apalagi dirinya, mungkin dirinya mungkin akan mendapatkan yang lebih baik dari Jovan lagi, bahkan lebih dari suami Dora. Kembali menempatkan Dora di bawah kakinya seperti dulu.


Saswati berjalan mendekati putrinya, menghela napas kasar."Sudah ibu bilang, jangan setuju dengan permintaan Jovan untuk mengundangnya!"


"Ibu tahu? Dengan kecantikan dan karierku seharusnya aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari Jovan. Aku menyesal sudah menikah..." Kata-kata dari mulut Meira, yang belum ada 24 jam menyandang status sebagai istri Jovan.


"Apa maksudnya?" Jovan yang berdiri di samping istrinya menatap tajam padanya.


"Maksudku, kamu setidaknya harus melebihi suami Dora untuk pantas bersanding denganku," jawaban dari Meira yang tersulut emosi. Bagaimana tidak, dirinya merasa lebih cantik, memiliki karier yang lebih bagus. Tapi hanya memliki pasangan calon manager Bank?


Sedangkan Dora, yang tidak memiliki kelebihan apapun, dimanjakan dengan segala fasilitas oleh suaminya.


Karena itu, orang yang pantas bersanding dengannya hanya orang yang setara dengan suami Dora. Atau mungkin melebihinya.


Jovan mengepalkan tangannya, menahan diri. Ini adalah hari pernikahannya, tidak dapat membuat keributan di depan tamu undangan. Hanya bersabar yang dapat dilakukannya, matanya sedikit melirik menelan ludahnya sendiri menatap ke arah Dora.


Rambutnya sudah sedikit memanjang saat ini. Bagaimana kabarnya? Apa Yoka memperlakukannya dengan baik? Entah kenapa baru sekarang kenangan itu dirindukannya.


Namun mereka telah memiliki pasangan masing-masing.


"Aku mencintai Meira," batinnya meyakinkan dirinya sendiri. Namun, tubuhnya benar-benar ingin memeluknya, merindukannya, tetap tidak bisa tertawa bersamanya lagi. Kala menonton Indro Warkop di Komik 8, walaupun hanya di tempat kost dengan DVD bajakan. Tapi mereka tetap tertawa kala itu. Bahagia itu sejatinya sederhana bukan?


*


Plak!


"Dora ibu malu!" geram Vera memukul bahu putrinya.


"Aku juga malu!" ucap Dora masih menyembunyikan wajahnya terlihat canggung. Hingga istri kepala desa datang menghampirinya.


Ketika sang pemimpin group ibu-ibu memujinya, tentu saja yang lainnya juga akan datang.


"Dora bertambah cantik saja, kamu pasti sibuk arisan, liburan, ikut gym seperti istri orang kaya yang ada di sinetron." Seorang wanita paruh baya yang dulu menjadi langganan kuenya ikut menimpali.


Tiba-tiba hal yang awalnya menurut Vera memalukan menjadi kebanggaan bagi Vera. Yang hadir adalah putrinya, istri dari pria yang menyumbang penuh pembangunan PLTA.


Hingga dirinya ikut menyela penuh senyuman.


"Dora tidak seperti anak lain yang suka bermain-main. Dia kuliah jurusan kedokteran, suaminya mendukung penuh. Dora juga ingin setara dengan suaminya nanti. Anak saya calon dokter lho..." tegas Vera menekankan kata calon dokter.


Untuk pertama kalinya dirinya dapat menyombong, ternyata cukup menyenangkan. Namun putrinya hanya dapat mengenyitkan keningnya, dirinya baru saja mulai kuliah sekitar 3 bulan. Apa yang dapat dibanggakan?


"Dora kuliah kedokteran? Nanti bisa jadi dokter spesialis. Suamimu pasti dukung, minta didirikan rumah sakit saja," saran dari salah satu tetangganya semakin menjadi-jadi.


"Iya, nanti kalau dia sudah jadi dokter spesialis, dan melahirkan sekitar empat anak. Aku akan membicarakan dengan menantuku," jawaban dari Vera, penuh tawa. Seakan mendirikan rumah sakit semudah meminta baju baru.


Sedangkan Dora berusaha tersenyum, membulatkan matanya menatap ke arah ibunya. Dokter spesialis? Empat anak? Bahkan mendirikan rumah sakit? Bicara memang mudah bukan.


Tapi tidak dengan Arsen yang melihat segalanya, menghela napas kasar tersenyum tipis. Yoka dapat mendirikan gedung teater untuk Anggeline. Mengapa tidak sebuah rumah sakit untuk istri yang dicintainya.


Tuan muda yang sekarang sudah tidak takut untuk keluar villa lagi. Mencari uang tiada henti, bahkan ada saatnya Yoka bergadang hanya untuk membuat rencana promosi.


Ingin merambah ke usaha lain, penuh perhitungan, beberapa kali meminta saran dari Martin. Pemuda yang berubah banyak, berusaha membahagiakan keluarga kecil yang baru dibentuknya.


Mungkin, rasa kasih Yoka pada Dora melebihi perasaannya pada Anggeline yang telah lama kandas. Wanita ini akan terus menjadi nyonya mudanya. Itulah harapannya, tidak ingin Anggeline kembali lagi dalam kehidupan tuan mudanya.


*


"Ibu..." keluh Meira pada ibunya. Tidak ingin Dora terlihat lebih baik darinya.


Saswati menghela napas kasar, walau bagaimanapun ini adalah hari pernikahan putrinya. Berjalan menghampiri Dora dan Vera.


"Selamat bibi," ucap Dora tersenyum ramah, dirinya sudah tidak emosional lagi. Seperti kata Yoka tidak boleh menangis atau sakit hati, karena kehidupannya saat ini memang terasa lebih baik.


"Em," jawab Saswati, tanpa senyuman sedikitpun di bibirnya."Kenapa tidak membawa suamimu kemari? Apa hubungan rumah tanggamu renggang?"


Dora menggeleng."Dia sedang ada urusan bisnis di luar kota, jadi tidak bisa datang."


"Jangan berbohong, kehidupan keluarga kaya memang seperti itu. Sangat wajar bagi pria kalangan atas memiliki istri simpanan di luar kota. Kamu harus berhati-hati. Ini hanya saran dari bibi." Kata-kata cibiran atau kutukan yang sangat jelas, itulah yang keluar dari mulut Saswati, tidak ingin hanya Dora yang dielu-elukan di acara pernikahan putrinya.


"Yoka tidak mungkin berselingkuh, aku tahu persis sifatnya." Dora benar-benar masih tersenyum, berusaha keras menekan emosinya. Saswati memang cukup sulit untuk dilawan beradu mulut.


"Tapi seekor kucing disuguhi ikan asin pasti tidak akan menolak. Kamu harus berhati-hati, apa lagi suamimu dari keluarga konglomerat, pelakor yang menjajakan tubuhnya ada banyak di luar sana." Kata-kata yang keluar dari mulut Saswati.


"Pelakor yang menjajakan tubuhnya? Maksud bibi seperti Meira yang tidur dengan Jovan?" Pertanyaan yang begitu lancar keluar dari mulut Dora. Masih senantiasa tersenyum.