Silent

Silent
Perceraian



Samy terdiam mendengarkan segalanya. Ayah kandung? Itulah status pria yang kini duduk penuh senyuman. Tersenyum, tapi setetes air matanya mengalir membasahi pipinya.


Ini adalah sebuah cerita dari pihak Narendra. Martin tidak begitu banyak mengetahui. Namun, meyakinkan Samy, Melda yang merawatnya tidak mungkin membunuh Viona, ibu kandungnya.


Melda? Sampai sekarang Samy tidak berani menanyakannya. Wanita yang pada akhirnya hanya akan meminum obat penenang setelah mengatakan dirinya pembunuh. Bahkan terkadang melukai dirinya sendiri.


Orang seperti itu dapat dengan tega menghabisi nyawa hanya karena rasa cemburu? Atau karena terlalu menyayangi Yoka?


Tidak, Melda tidak akan merawat dan menyelamatkan nyawanya. Ini benar-benar aneh, terasa ada yang ganjil. Haruskah dirinya mengatakan segalanya pada kakaknya? Menanyakan apa saja yang diketahui Yoka di masa kecilnya?


"Ayah mengatakan ibu membunuh? Bahkan ibu sendiri yang membawaku menemui psikiater karena membunuh burung flaminggo yang dibawa kakek dari luar negeri. Apa ibuku bisa membunuh empat orang termasuk adikku? Atau bisa aku bilang anak dari wanita yang ayah cintai..." cibir Yoka tiba-tiba. Memiliki seseorang selain ibunya, sesuatu yang baru diketahuinya.


"Aku menjaganya dengan cara menikahinya, seperti permintaan Ghani. Sudahlah, intinya aku membunuh Melda dengan tanganku sendiri. Bencilah aku, bahkan jika bisa habisi aku," ucapnya mulai bangkit. Sebuah hidup yang menjemukan baginya. Hanya 11 tahun, hanya 11 tahun kesempatannya untuk bahagia.


Waktu yang dirindukannya, berdebat dan tertawa dengannya. Sebuah waktu yang tidak akan dapat terulang.


Pria yang berjalan beberapa langkah, hingga langkahnya terhenti.


"Ibu mampu melakukannya? Setidaknya berikan aku bukti," Kata-kata dari mulut Yoka menatap tajam pada ayahnya.


Sebuah kalimat yang sejatinya juga ingin diketahui Samy. Apa yang membuat Narendra mempercayai segalanya.


"Semua bukti akan ayah kirimkan. Tapi selain itu masih ada dua saksi hidup. Pembantu yang dikirimkan ibumu untuk mengurus keperluan Viona dan perawat yang ayah sewa untuk menjaga kedua orang tua Viona. Nama mereka Siti dan Warka..." jawaban dari Narendra melangkah pergi.


*


Seperti kata-katanya semua bukti dititipkan Narendra pada supir yang mengantar Yoka. Satu-persatu kertas itu dibacanya.


Sebuah skenario pembunuhan yang sempurna. Bukti botol obat tidur serta sempel makanan yang pernah dibawa sang perawat ke laboratorium, karena rasa bersalahnya tidak dapat menyelamatkan dua orang lansia yang harus dijaganya.


Bukti yang setelah 11 tahun baru dicari dan ditemukan oleh Salsa. Fotocopy dokumen lama tentang penyuapan yang dilakukan Reksa. Semua bukti yang benar-benar sempurna, ditambah dengan kesaksian pembantu dan sang perawat. Pengakuan ibunya? Itu hanya memperkuat segalanya.


Secara logika ibunya memang tersangka tunggal walaupun tidak ada bukti langsung. Tapi ini masih belum dapat diterima olehnya. Bagaimana bisa ibunya yang terlalu baik melakukan pembunuhan? Baik hati, pintar dan cekatan di bidang pekerjaannya, apa ada orang yang menggambarkan sifat seperti ibunya? Dan apa rasa iri dapat membuat orang dengan karakter itu membunuh madunya?


Hingga pandangan matanya beralih menatap kearah istrinya.


"Orang ini," batin Yoka tersenyum.


"Dora jika aku menghamili dan menikahi wanita lain apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan dari Yoka ingin memastikan keputusan ibunya. Keputusan yang mungkin akan diambil Melda ketika masih hidup. Wajah yang benar-benar menatap penuh harap, menginginkan Dora berkata rela untuk dimadu.


Namun, memang sebuah dasar dari pertanyaan yang benar-benar berani membangunkan seekor harimau yang tengah tidur.


"Kamu ingin menikah lagi? Dasar br*ngsek! Apa satu tidak cukup untukmu? Mulai besok aku mau pulang ke rumah lamaku! Bawa wanita yang kamu hamili ke villa! Lebih baik aku kembali menjual buah-buahan keliling!" teriaknya dalam tangisan. Sedangkan Yoka menutup telinganya dengan kedua tangannya, tidak menemukan jawaban yang dicarinya dari Dora.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, jika dijemur pun tidak akan menjadi nasi aking. Mobil diberhentikan sang supir di jalanan desa yang berjarak sekitar 1 km dari rumah lama milik Dora. Rumah sederhana warisan almarhum ayah angkatnya.


Dora membuka pintu mobil, turun dari mobil tersebut. Wanita itu benar-benar marah, sedih dan kecewa. Namun, tangan Yoka memeluknya dari belakang.


"Aku hanya sekedar bertanya. Jangan marah..." ucap kecebong, maaf salah, ucap Yoka yang tidak ingin kehilangan jatah satu malam pun sebelum keberangkatannya ke luar negeri.


"Aku tidak menghamili wanita lain." Kata-kata dari suaminya membuat Dora lebih tenang, menatap ke arah Yoka.


"Benar tidak menghamili wanita lain?" tanya Dora lagi, dengan cepat Yoka mengangguk.


Wanita itu mulai tersenyum, terlihat lebih tenang menghapus air matanya sendiri.


Tapi memang mencari penyakit, rasa penasaran pemuda itu lebih tinggi dari pada ketinggian menara Rapunzel.


"Tapi ini pertanyaan serius, ini hanya jika. Jika kamu mengetahui kamu adalah istri keduaku. Kemudian kamu hamil bersamaan dengan istri pertamaku. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Yoka menelan ludahnya, benar-benar mematikan kata-kata yang terucap dari bibir istrinya.


"Aku ingin bercerai! Entah aku hamil atau tidak! Aku tidak mau menjadi orang kedua! Puas?!" bentak Dora meninggalkan Yoka yang tertegun, menghampiri beberapa tukang ojek pangkalan yang memang sering nongkrong di warung kopi.


Meninggalkan suaminya yang masih berfikir tentang sifat sebenarnya dari Melda. Hingga motor ojek melaju pun Yoka masih terdiam terlalu fokus dan konsentrasi pada pemikirannya sendiri.


"Bercerai? Jika yang dipilih bercerai berarti ibu tidak mungkin memiliki rasa iri atau ingin memiliki ayah. Jika bercerai berarti ibu tidak serakah, tidak menginginkan apa yang akan dimiliki, si calon anak dari istri pertama. Kepribadian ibu sedikit mirip dengan Dora,"


"Pernikahan yang diatur, penyatuan dua perusahaan. Bercerai? Ibu tidak akan menyusahkan kakek dan nenek dengan bercerai. Jadi ibu lebih memilih menyerahkan ayah pada istri pertamanya. Tidak memiliki sifat iri, bertahan tidak bercerai, karena kakek dan nenek," sebuah kesimpulan yang diambil Yoka. Mengambil deduksi menggunakan sifat istrinya sendiri.


"Jika dalam hatinya ibu memilih bercerai maka ibuku tidak mungkin membunuh,"


"Jika dalam hatinya ibu memilih bercerai maka ibuku tidak iri atau ingin merebut perhatian ayah,"


"Jika bercerai maka..." kali ini gumaman Yoka terhenti. Imajinasinya jika sifat Dora dan ibunya serupa, terhenti. Baru menyadari makna kata bercerai yang diucapkan istrinya.


"Jika bercerai maka... Mampus!" ucapnya baru mencari keberadaan istrinya. Hingga pada akhirnya kembali ke mobil dalam kepanikan.


"Apa Dora kembali ke mobil?!" tanyanya pada sang supir. Tidak menemukan istrinya di area sekitar.


"Dora pergi setelah berteriak di pinggir jalan mengatakan kata bercerai. Apa tuan muda akan bercerai?" pertanyaan dari sang supir penuh rasa penasaran.


Plak!


Satu pukulan mendarat di bahu sang supir.


"Siapa yang akan bercerai?! Ke arah mana dia pergi?! Berani-beraninya mengatakan akan bercerai dariku! Aku akan mengurungnya di villa seperti Rapunzel!" teriakan Yoka, benar-benar murka.