Silent

Silent
15 # Lula Hilang



Assalamualaikum temen temen, gak bosen bosen nana sapa kalian gak jawab salam dosa lohh.


.


.


Oke diwajibkan setelah baca kalau kalian suka silahkan vote dan komennya.


.


.


Yukkk langsung masuk aja ke bab 15


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Gak jadi karena satunya diambil kak Abram."


"Abram? Siapa?" Zara dibuat bingung oleh perkataan Raluna.


"Yah kak Abram, astaghfirullah Raluna lupa kalau Zara gak tau siapa itu kak Abram." Raluna terkekeh kecil.


"Sebenernya, kata kak Abram. Dia dikasih kucing 2 sama temennya, kebetulan temennya itu ada didesa Raluna, terus dua kucingnya jatuh. Untung Raluna nemuin 2 kucing imut ini jadi Raluna bawa pulang, gak sengaja ketemu sama kak Abram yang lagi cari kucingnya, awalnya Raluna gak mau ngasihin kucingnya, tapi Raluna kasih disuruh umi. Jadi deh Raluna punya satu kucing kecil lucu dan imut ini." Zara menganga, tak menyangka Raluna akan menjelaskannya panjang lebar seperti ini.


"Jadi kesimpulannya, kucingnya diambil lagi sama pemiliknya dan pemiliknya itu kak Abram, dan kamu dikasih salah satu kucingnya." Raluna mengangguk.


"Tapi gak papa, tunggu Lula besar. Nanti Lula hamil dan punya anak Raluna kasih ke Zara." Ucap Raluna bersemangat.


"Iyadeh iya."


Zara diduduk didekat Raluna yang tengah menggelitik Lula.


"Btw kak Abram itu ganteng gak?" Raluna menghentikan aktifitasnya.


Raluna menoleh kearah Zara, "Ryan, Bryan, Brendan kalah nyebelinnya dibanding kak Abram."


"Aku kan tanya gantengnya Raluna."


"Semua laki laki ganteng, yang gak ganteng perempuan."


Belum sempat melanjutkan obrolan hangat mereka berdua, bel masuk harus berbunyi tandanya pembelajaran akan segera dimulai. Disaat jam pelajaran Raluna menaruh tas dipangkuan nya, memasukkan Lula kedalam tasnya, dan sesekali mengelus kepala Lula.


Akhirnya bel yang ditunggu tunggu setiap murid yang sudah lapar, jenuh dan mumet akhirnya berbunyi. Bel apalagi jika bukan bel istirahat.


"Ayo kantin." Ajak Zara.


"Lula gimana?" Tanya Raluna.


"Gimana yah, bawa aja dulu aku punya tas kecil." Zara ingat bahwa dia membawa tas domba berbulu putih. Dia segera mengambilnya didalam tasnya.


Raluna sempat melihat piring dan wadah sendok juga garpu di tasnya Zara, entah untuk apa itu. Raluna heran setiap saat Zara membawa itu. Juga gelas yang selalu ia bawa.


"Nih, masukin muatkan." Raluna memasukkan Lula kedalam tas itu dan tidak me resleting tas nya agar Lula bisa bernafas.


Sampai dikantin mereka berdua duduk dibangku dekat tembok dipojok an. Sedangkan pojok satunya ditempati oleh Edgar dan kawan kawan.


Raluna meletakkan tas berisi Lula disampinya, secepat kilat Lula langsung keluar tanpa disadari oleh Raluna, saat Raluna mengambil mangkok bakso yang diantar Mak cik.


"Loh loh, kok ada anak cacing." Kata Bryan, salah menyebutkan kucing malah ke cacing.


"Anak cacing pala Lo segi lima!" Saut Ryan.


"Eh iya kucing." Ryan berjongkok dan mengambil anak kucing yang sangat lucu itu.


"Apakah ini yang disebut, Ryan akan menjadi seorang uncle dari anak Edgar." Tepuk kan keras mendarat dikepala Ryan. Bryan lah pelakunya.


"Gar, Lo mau gak adopsi kucing?" Tanya Deanno. Edgar menatap anak kucing itu, dan melihat kearah kalung yang dipakai kucing itu. Lula nama kucing itu, sebuah kalung buatan yang sangat indah.


Edgar mengangguk dan mengambil kucing itu dari tangan Ryan. "Ini anak gue."


Setelah mengatakan itu, Edgar melenggang pergi dari kantin entah mau pergi kemana dia. Disini menyisakan keempat cowok yang tengah menganga tak percaya.


"Ryan, Lo kasih mantra apa kok Edgar keturutan Lo?" Tanya Brendan.


"Gak tau gue, ngapa si Edgar begono."


"Yang gue liat beneran?" Tanya Deanno.


"It is real." Jawab mereka bertiga.


"Apa karena dikejar bencong kemaren itu." Tanya Bryan.


.


.


.


Flash Back On


Dimana kelima cowok itu dikejar bencong pasar. Deket lampu merah.


"Lo sih make acara bolos segala, tuh sepatu gue kena Eek ayam." Ryan menatap sedih kearah sepatu kesayangannya, yang tadi terkena tai ayam malah banyak lagi.


"Kan tinggal cuci yan, ribet amat si Lo." Jawab Brendan.


"Masalahnya siapa yang mau cuci, mami? yakali. Meja kena tai cicak aja udah mami suruh bersihin berkali kali."


"Bukan mami Lo tapi ke laundry Ryan." Balas Brendan.


Mereka merasa kasihan kepada Ryan yang bagaikan ditinggal separuh hatinya hanya karena sepatu kesayangannya terkena tai ayam.


Brendan dan Bryan punya ide mereka membeli air mineral dan langsung menyiram sepatu Ryan.


"Ajayy, ngapa Lo siramm!" Pekik Ryan, basah kuyup sudah sepatunya.


"Biar bersih." Jawab Bryan.


"No, secara gak langsung Lo masukin partikel kecil yang bau ke sepatu gue dan-" Brendan menyumbat mulut Ryan dengan tangannya, hampir saya Ryan berbicara panjang lebar. Kalau sudah begini pertengkaran percekcokan antara si higienis Ryan, dan Brendan si serabutan akan terjadi.


"Udah diem. Gak bakal bau. Nanti gue beliin parfum biar gak bau." Ucap Brendan.


"Kalo Lo gak mau gue punya caranya." Ucap Brendan.


Ryan langsung menendang betis Brendan, karena sepatu kesayangannya ditendang pergi entah kemana. Tak lama kemudian 3 banci berlari menghampiri mereka.


Merasa terancam kelima cowok itu ngacir, dan 3 banci itu masih mengikuti mereka.


Ketiga banci itu melihat bahwa Brendan lah yang menendang sepatu itu hingga mengenai kepala salah satu dari mereka.


"Anj*** kau ci!" Umpat Bryan.


"C*k, gara Lo sih!" Kata Ryan kepada Brendan.


"Sorry, gue gak tau kalau ada cici disana."


"Udah ah, bacot ae. Sekarang mikirin supaya tuh Cici takut sama kita bukan malah kita yang lari." Kata Bryan.


"Ya elah, otak goblok ngasih saran. Walau kita lawan dan kita menang kita tetep salah nanti!" Ucap Deanno.


"Mending kita lari aja, buat tu banci lelah. Cari tempat buat sembunyi." Usul Deanno.


"Okee!" Jawab mereka semua.


"Gar!, Are you okay." Ryan bertanya kepada Edgar basa basi, Edgar mengangguk kan kepalanya. Proses kejar kejaran itu masih berlangsung dan agak lama.


Kelima cowok itu akhirnya terbebas dari kejaran tiga banci itu, lebih baik ketemu hantu dari pada banci. Itu menurut Brendan. Siapa suruh nendang sepatu Ryan, hilang sudah harapan untuk mengambil sepatunya lagi.


"Gausah sedih Lo. Lo kan sultan beli lagi. Udah gue lem tinggal Lo aja biru nya." Semua menoleh kearah Brendan tak mengerti apa yang dibahas cowok ini.


Brendan menepuk kepalanya, lupa kalau Ryan lemot,"Udah gue lem itu lempar, tinggal Ryan aja birunya beli yang baru." Jelas Brendan, mereka pun mengangguk ngangguk.


Flash Back Of


.


.


Keempat cowok itu menyusul Edgar, dengan rasa penasaran mereka mencari Edgar.


Kembali ke Raluna, setelah menerima mangkok bakso dari Mak cik ia meraba tasnya, tidak ada gundukan di tas kecil itu. Raluna mengambil tas domba itu dan melihatnya.


"Astaghfirullah, Lula kemana." Panik Raluna. Lula tidak ada di tasnya, 'astaghfirullah Raluna kamu ceroboh sekali meninggalkan Lula' batin Raluna.


"Lula hilang?" Tanya Zara, Raluna mengangguk. Zara ikut panik dan mereka berdua mencari Lula seisi kantin tapi tidak menemukannya.


Raluna sangat khawatir, pergi kemana kucing kecilnya. Zara berusaha menenangkan Raluna yang tadi sempat menangis, ini salahnya karena membawa Lula kemari. Jika tidak maka nanti sepulang sekolah Lula masih ada dirumahnya.


"Udah Raluna, Lula gak akan kemana mana pasti ada disekitar sini. Kita cari di jam istirahat kedua ya." Raluna pun mengangguk.


Bel istirahat sekolah berbunyi, Raluna dan Zara bergegas mencari Lula yang hilang disetiap penjuru sekolah mereka cari namun nihil tak mereka temukan.


Raluna berjalan lemas, Zara mencoba membujuknya karena Raluna sangat sedih. Raluna sendiri sangat merasa kehilangan, harus ia cari kemana Lula.


Saat lewat ditembok pembatas antara sekolah dan area luar Raluna mendengar suara anak kecil, Raluna yakin sekali bahwa itu adalah Lula. Pasti dia ketakutan kasihan Lula kecil.


"Zara denger gak?" Zara mengangguk, mereka berdua mencari sumber suara anak kucing itu namun tak mereka temukan.


"Kayaknya gaada didalam sekolah deh, suaranya diluar pagar."


Mereka berdua ada ide, Zara mengumpulkan bangku dari dalam gudang dan mereka melihat keadaan diluar pagar, benar saja Edgar dan kawan kawan sedang bermain dengan Lula. Raluna melototkan matanya.


Edgar menoleh kearah Zara dan menaikkan sebelah alisnya.


"Gar kayaknya mereka mau bicara." Deanno berdiri dan mengajak kelima cowok itu sambil membawa kucing yang Edgar pegang.


Dengan lihainya kelima cowok itu melompati pagarnya dengan santai, jika Raluna yang melakukannya sudah pasti tulangnya akan retak. Mengingat tinggi tembok itu sekitar 2 meteran.


"Apa?" Tanya Edgar.


"Itu kucing Raluna, namanya Lula." Edgar ingat kalung di kucing yang ia temukan bertuliskan Lula.


"Nih, gue udah tau. Gue gak mau kucing Lo dinistain sama temen gue, makanya gue pegang." Reflek Deanno, Bryan, Ryan, dan Brendan menolehkan kepalanya. Sungguh tidak menyangka keempat cowok itu, pantas saja Ryan tadi ingin memegang kembali kucing itu tapi malah mendapat tatapan tajam dari Edgar.


"Makasih, kami permisi." Raluna menarik tangan Zara agar segera pergi dari mereka. Edgar menatap kepergian mereka berdua, ada rasa lega dihatinya Raluna sudah mendapatkan kucingnya.


"Ekhem, pak ketu jatuh cinta nih?" Ejek Ryan.


"Kayaknya ia nih, kawal gak?" Tanya Bryan.


"Kawal lah, sampe nikah kalo bisa." Jawab Brendan.


Edgar tak mengindahkan ucapan konyol mereka, dia memilih untuk meninggalkan keempat cowok yang menjelma sebagai temannya itu.


Didalam kelas Raluna dan Zara kini tengah bermain dengan Lula, mencubit pipi hingga menggelitik Lula.


"Raluna, aku lama gak kerumah kamu. Nanti aku ikut ya." Pinta Zara.


"Iya."


Bel masuk berbunyi, dan mereka melanjutkan pembelajaran hingga selesai. Seharian pembelajaran telah usai, Raluna dan Zara kini menuju parkiran untuk mengambil sepeda. Zara tadi menyuruh bodyguard nya untuk mengambilkan sepeda untuknya.


Mereka berdua mengayuh sepeda dan membelah ramainya jalan, Lula masih Raluna simpan di saku tas nya.


"Assalamualaikum, umi." Raluna mengetuk pintu rumahnya.


"Wassalamu'alaikum. Raluna Zara. Ayo masuk." Mereka berdua masuk. Setelah itu mengganti baju, dan makan. Setelah itu Raluna dan Zara bermain di kamar Raluna.


"Assalamualaikum. Bu saidahh." Seseorang mengetuk pintu rumahnya, Saidah yang tengah duduk di kursi beranjak membukakan pintu.


"Wassalamu'alaikum, Bu Nanik. Mari buk masuk."


"Mari duduk saya buatkan teh dulu."


"Enggeh bu saidah."


Tak berselang lama Saidah datang dengan nampan dan segelas teh diatasnya, menaruhnya di depan Bu Nanik.


"Diminum Bu."


"Terimakasih Bu, jadi ngerepotin."


"Enggak kok Bu. Oh iya Bu terimakasih sudah bersilaturahmi kesini." Ucap Saidah.


"Iya Bu sama sama, oh Iya Bu saya mau ngundang dan minta tolong sama Bu Saidah. Kira kira kurang lebih satu Minggu lagi saya ngundang pengajian 1000 harinya, almarhumah nenek saya." Jelas Nanik.


"Bu Saidah dan anak bu saidah kerumah saya, nanti bantu bantu bagikan makanan buat jamaah pengajiannya nanti." lanjutnya.


"Ohh, begitu. Terimakasih sekali Bu Nanik sudah mengundang saya dan anak saya. Saya sangat bahagia bantu Bu Nanik nanti."


"Pengajiannya nanti hari apa Bu nanik?" Tanya saidah.


"Alhamdulillah, tanggal 11 hari Sabtu."


"Baik Bu Nanik, sekali lagi terimakasih sudah mengundang kami."


"Iya Bu, saya banyak berterimakasih sama Bu Saidah sudah lapang dada menerima undangan saya."


Saidah tersenyum, "iya Bu."


Mereka terus berbincang hingga pada akhirnya Bu Nanik harus pamit pulang karena takut kemalaman.


Didalam kamar Raluna, kini Zara dan Raluna sedang melukis sesuatu. Ya melukis Lula. Kucing kecil yang sangat lucu itu, dari tadi bermain dengan dua gadis itu.


.


.


.


🏃🏃


Hari dimana umi dan dirinya diundang untuk kepengajian tiba, kini Raluna dan Zara masih disekolah. Zara ngotot ingin ikut Raluna kerumahnya.


"Plisss, ya Raluna aku ikutt.... Plisssss" rengek Zara.


"Iya. Raluna lupa, nanti malam dirumah Bu Nanik ada pengajian, Raluna sama umi diundang Raluna mau ikut? Ceritanya Raluna yang undang Zara. Mau gak?"


"Mau lahh!!" Zara girang dan langsung memeluk Raluna.


.


.


.


Zara dan Raluna melihat bayangan mereka di cermin, sungguh cantik. Dengan gamis dan kerudung serba hitam membuat mereka tampak lebih elegan.


"Sayang, Raluna Zara ayo nak!" Panggil Saidah. Kini sudah selesai azan isya mereka juga sudah sholat. Saatnya berangkat kerumah Bu Nanik jalan kaki.


Diperjalanan Zara bertanya, mereka disana akan melakukan apa?


"Nanti disana, kita tinggal duduk dengerin ceramah. Dan Raluna, Zara sama umi bantu Bu Nanik bagiin makanan buat para jamaah." Jelas Raluna.


"Ohhh gitu." Sekejap mereka sampai. Mereka sudah ditunggu oleh Bu Nanik.


"Assalamualaikum, Bu Saidah Ini anak anaknya Bu?" Tanya Bu Nanik.


"Waalaikumsalam, ini anak saya dan ini teman anak saya Bu. Sebelumnya apa ibu tidak keberatan saya mengajak teman anak saya?"


"Waahhh tidak papa dong Bu Saidah. Malah saya senang, cantik cantik semua." Raluna dan Zara tersenyum kepada Bu Nanik.


"Yasudah Bu saidah, saya minta tolong ya. Nanti kalian bagikan makanan sama jamaah wanita nanti yang hadir."


"Iya Bu."


Tak berselang lama, para jamaah pengajian datang dengan jumlah yang banyak, Saidah Raluna dan Zara membagikan makanan seperti yang Bu Nanik bilang.


"Terimakasih nak." Ucap jamaah yang sudah sepuh kepada Raluna.


Raluna mengangguk, "iya nek."


Saat para jamaah sudah jarang berdatangan Zara mengakan sesuatu. "Wahh gak nyangka ya, aku liat liat banyak jamaah yang sudah sepuh sepuh. Tapi mereka semua semangat ke pengajian walau dengan kondisi berjalan sudah sangat pelan." Kagum Zara.


Raluna tersenyum, "kalau pahala hadir diacara agama, pengajian seperti ini bisa dilihat. Tempat ini pasti sangat penuh dengan orang orang. Berhubung tidak terlihat, jadi kita tetap istiqamah dan selalu hadir saja. Disaat semua orang menggelar selimut dan tidur, kita rela duduk berjam jam bahkan sampai lima jam untuk mendengar ceramah agama. Raluna juga salut sama jamaah yang sudah sepuh sepuh. Semoga nanti kita tetap istiqamah mengikuti ceramah agama seperti ini." Jelas Raluna.


"Awalnya Raluna jarang kepengajian seperti ini, setelah Bu Wulan ngajak Raluna waktu itu. Jadi Raluna pengen istiqamah hadir ke pengajian seperti ini. Selain dapat banyak ilmu keagamaan Raluna juga bisa bertemu dengan banyak muslimah." Lanjut Raluna.


"Umi jamaahnya kayaknya udah gaada lagu, kita duduk aja ya umi. Pasti umi capek." Ajak Raluna.


Saidah tersenyum kemudian mengikuti putrinya dan Zara untuk duduk didekat tempat mereka tadi, pentas terlihat jelas oleh Anaya. Para kyai, Habib dan yang lainnya sudah duduk diatas pentas tinggal menunggunya acaranya dimulai.


Setelah membaca Ratib, kemudian lantunan sholawat kembali dibunyikan. Raluna dan Zara duduk menikmati sholawat yang amat sangat merdu itu.


Tak sengaja ekor mata Raluna menangkap sosok Abram, ya laki laki menyebalkan yang mengambil teman Lula darinya. Raluna kesal sendiri melihatnya, setelah memalingkan pandangannya. Ekor mata Raluna kembali menangkap sosok Abram dan satu laki laki disebelahnya.


"Zara, mau tau Abram kata Raluna? Yang udah ambil teman Lula?." Raluna mencolek lengan Zara yang pandangannya kearah pentas.


Zara menolehkan kepalanya, "mana?" Raluna menunjukkan kepada Zara sosok Abram yang sangat menyebalkan, pada saat itu Abram tengah membantu jamaah pria yang sudah sangat sepuh untuk mendapatkan tempat duduk.


"Baik sekali dia Raluna, sopan lagi-"


"Tapi Raluna gak suka karena dia ambil teman Lula dari Raluna."


"Woy lah, siapa tu yang disampingnya cakep amat. Aduh sopan banget lagi." Pekik Zara pelan.


"Wush, udah jangan diliatin. Raluna cuma nunjukin tadi. Jangan diulang ulang liatnya." Raluna menghalau pandangan Zara dengan tangannya yang putih bersih.


"Abisnya kamu nunjukin, kan aku penggemar cogan." Raluna dibuat geleng kepala oleh jawaban Zara.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, yeyyy udah bab berapa nihhh. Gasabar dehh, Yukk bismillah dulu bisa kawal silent love sampai tamat.


.


.


Jangan pernah bosen baca silent love, selalu ikutin silent love.


.


.


Tunggu part berikutnya ya, see you....


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


21 Maret 2022