
Samy terdiam, kembali memungut pisau lipatnya, menyimpannya di dalam saku.
"Aku membencimu, benar-benar membencimu. Jika bisa aku ingin mengeluarkan semua darahmu yang mengalir dalam tubuhku. Kamu tahu bagaimana istrimu saat itu? Dia yang merawatku diam-diam harus diperlakukan seperti hewan. Aku memang tidak bisa membunuhmu, tetaplah menjadi keji seperti ini..." gumam Samy dengan air mata mengalir di pipinya. Menatap wajah pria itu berbaring dengan tenang.
Matanya menelisik, foto Melda berada di atas mejanya. Sebuah foto yang diraih Samy, tidak ingin ada satu foto ibunya pun yang dimiliki Narendra. Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan kamar sang ayah.
"Kamu berhutang nyawa pada pamanku, Ghani. Maka aku berhutang nyawa pada Melda, dendam ini akan aku simpan..." Kata-kata terakhir dari mulut Samy menahan rasa kosong di hatinya. Benar-benar menyakitkan baginya, setiap kali membayangkan tubuh ibunya yang dibawa ke UGD. Menatap ke wajah kakaknya yang hanya diam, menangis tanpa suara. Menggenggam jemari tangan ibunya.
Segalanya di saksikan olehnya yang saat itu berumur 11 tahun. Mengapa?
Malam itu adalah malam kepergian Narendra. Saat-saat dimana dirinya dapat menghabiskan waktu dengan kakak dan ibunya. Karena itulah dari sore dirinya mengikuti Martin, bahkan menunggu ayahnya di kantor. Membawa ransel besar berisikan mainan.
Dirinya ikut masuk bersama Martin, menyadari keadaan rumah yang sepi dan gelap. Menunggu di ruang tamu atas perintah ayahnya. Hingga pada akhirnya Martin menemukan Melda dan Yoka. Mengangkat tubuh Melda di hadapannya.
Tidak ada yang dapat dilakukannya. Air matanya mengalir saat itu menangis terisak, sama seperti Yoka. Memasuki mobil, berkali-kali mengguncang tubuh ibu mereka, putus asa di kursi penumpang bagian belakang. Sedangkan Martin menyetir mobil, berusaha menenangkan dirinya, berharap Melda akan bertahan.
Segalanya masih diingat oleh Samy, tidak ada satu detik pun yang dilupakan olehnya. Kematian? Mungkin itu terlalu baik bagi Narendra.
Pemuda yang tidak menyadari, Narendra mulai bangkit kala pintu tertutup. Tangannya gemetar, terdiam seorang diri.
"Putraku? Melda, apa kamu membohongiku? Kamu bukan pelakunya?" Pertanyaan yang entah tertuju pada siapa. Matanya menatap ke arah jendela besar di kamarnya. Bulan mulai tertutup awan, suara derai air hujan terdengar nyaring.
Tidak ada yang tersisa selain rasa sakit. Dirinya sendiri yang membunuh Melda. Itulah kenyataannya, sebuah dosa yang tidak dapat ditebusnya.
Banyak hal yang ada di fikirannya malam ini. Putranya telah tumbuh dewasa dalam asuhan Martin. Kedua putra yang membencinya karena membunuh ibu mereka.
Melda menyelamatkan putranya? Itu artinya Melda juga menyelamatkan Viona. Namun Viona berakhir meninggal usai melahirkan. Hanya itu kesimpulan yang diambilnya, tidak dapat bertanya pada orang mati.
*
Sudah hampir pagi, seharusnya menjadi suasana yang lebih romantis, mengingat dinginnya udara pedesaan. Selimut tebal melapisi tubuh mereka.
Yoka terdiri sejak menghela napas berkali-kali. Suara dengkuran terdengar saling bersahutan.
"Samy! Bangun! Pulang sana!" bentak Yoka, membangunkan pemuda yang tertidur di sampingnya.
Pemuda itu membuka matanya, kemudian tersenyum."Aku tidak bisa tidur, aku hampir melakukan kejahatan yang terburuk dalam hidupku,"
"Apa?! Apa meniduri wanita?" tanya Yoka dengan Dora yang masih tertidur di samping kanannya.
Benar, sekarang mereka memang tengah satu ranjang bertiga. Ada alasan tertentu, mengapa dapat seperti ini. Yoka yang awalnya sudah tertidur dengan Dora. Tidak menyadari Samy masuk melalui jendela, setelah mendapatkan informasi keberadaan Yoka dari supir pribadi.
Pemuda yang menangis, kemudian memeluk tubuh kakaknya yang tengah tertidur. Berbohong? Itulah yang dilakukan Samy mengatakan alasannya memeluk Yoka yang tengah tertidur dengan Dora adalah patah hati.
Tapi tetap saja, satu ranjang bertiga. Sesuatu yang benar-benar aneh.
"Anggap saja begitu, aku hampir melakukan dosa diatas ranjang," dusta Samy penuh senyuman.
"Wajahnya bisa bersaing denganku dan juga denganmu. Padahal usianya tidak lagi muda," jawaban Samy, mati-matian menahan tawa dalam hatinya.
"Kamu suka yang lebih tua?" pertanyaan dari Yoka mengenyitkan keningnya semakin penasaran saja.
"Iya, aku suka yang lebih tua," Samy hanya tersenyum, kembali memejamkan matanya. Terasa nyaman baginya dekat dengan Yoka, seorang kakak baginya.
Sedangkan Yoka menghela napas kasar, hanya ada satu ranjang dalam tempat tinggal Dora. Dan kini dirinya harus tidur satu bertiga? Bagaimana jika Samy melakukan sesuatu pada Dora saat dirinya tertidur? Tidak, dirinya tidak akan tidur sama sekali.
*
Pagi ini Dora terbangun lebih awal tepatnya hanya tidur beberapa jam. Sedangkan Yoka tidak tidur sama sekali, dan Samy kini tengkurap di lantai setelah ditendang Yoka dari tempat tidur.
"Kenapa Samy ada disini?" tanya Dora mengenyitkan keningnya.
"Dia baru putus dengan pacarnya, sedang patah hati. Tapi malah menggangu malam hangat untuk bertelur..." gumam Yoka.
"Bertelur?" Dora mengenyitkan keningnya seolah-olah tidak mengerti.
"Iya bertelur. Lusa kamu harus sudah selesai datang bulan! Akan aku pastikan akan ada telur yang berkembang kali ini." Tekadnya, penuh semangat.
Dora menghela napas kasar, memegang moto asal bos senang. Mengangguk menyetujui akan berusaha untuk bertelur.
*
Mobil milik Yoka melaju seperti biasanya, mengantar dirinya hingga kampus. Sudah beberapa hari berlalu semenjak dari Yoka membawanya ke acara makan malam keluarga.
Tidak ada yang terjadi setelahnya. Benar-benar suasana yang hening. Apa Yoka melupakan keinginannya untuk segera memiliki anak? Entahlah, namun beberapa hari ini memang ada yang aneh dengan suaminya.
Seperti biasanya paper bag berisikan susu persiapan ibu hamil dan kotak bekal dibawanya. Hingga mobil melaju, suaminya hanya sibuk dengan beberapa panggil, masih mengenakan earphonenya menghubungi seseorang.
Suami yang saat ini benar-benar sibuk. Wanita itu berjalan memasuki area kampus, matanya menelisik dirinya kini memiliki beberapa teman. Mungkin tidak akan kesepian lagi.
Hingga waktu pulang pun Yoka masih sibuk dengan panggilannya sembari menyetir mobilnya.
"Kapan kita akan punya anak jika kamu terus seperti ini?" tanyanya tiba-tiba, membuat Yoka menepikan mobilnya.
"Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu. Bisa kita tunda dulu untuk memiliki anak? Aku harus mulai mendirikan beberapa aset lagi di luar negeri. Kamu juga harus kuliah, aku janji aku hanya akan pergi selama tiga tahun..." pintanya, memegang jemari tangan Dora.
"Kamu akan pergi?" tanya Dora tertunduk, air matanya mengalir tidak dapat dihentikan olehnya.
"Awalnya aku mengira hanya akan pergi selama beberapa bulan, tapi ada banyak yang harus diurus. Aku tidak akan berselingkuh, akan menghubungimu setiap saat jadi..." Kata-kata Yoka dihentikan, Dora tiba-tiba mencium bibirnya agresif. Memainkan lidahnya, ini benar-benar sulit ditolak.
"Aku ingin anak darimu," pinta Dora pada suaminya. Sebuah pertemuan yang singkat, tiga tahun? Suaminya akan meninggalkannya selama tiga tahun? Setidaknya dirinya menginginkan malaikat kecil untuk mengikat hati suaminya.