Silent

Silent
Ingin Dihukum?



Yoka kembali tersenyum ramah, menghela napas kasar."Terimakasih selama ini sudah membimbing istriku,"


Tantra terdiam, tubuhnya beringsut mundur ke belakang."I...iya..." jawabnya gugup.


Pemuda yang berubah-ubah, berjalan kembali hendak pergi, namun hanya sekitar tiga langkah, langkahnya kembali terhenti."Aku lupa bilang, jangan berfikir untuk menggoda istriku..." hanya itu kata-katanya, melanjutkan langkahnya.


Sang dokter muda hanya dapat menelan ludahnya. Menatap ke arah punggung suami dari wanita idamannya. Mungkin semua kata-kata candaan dari Dora kini terbukti, seorang suami dengan senyuman bagaikan malaikat. Namun memiliki aura membunuh yang kuat.


*


Yoka menghela napas kasar. Berjalan beberapa langkah, kemana sebenarnya istrinya? Jemari tangannya meraih phonecell dan earphonenya. Menghubungi satu-satunya orang yang dekat dengan istrinya hampir tiga tahun ini.


Musuh? Hari ini dirinya terpaksa harus menghubungi ayahnya. Hanya beberapa detik, panggilannya diangkat. Pemuda yang tetap berjalan menuju tempat parkir kampus.


*


"Maaf, ini siapa?" tanya Narendra yang saat ini masih berada di kantor perusahaannya, menangani beberapa dokumen, mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal.


"Aku..." suara putra sulungnya terdengar.


Seketika Narendra membulatkan matanya, menjauhkan sedikit phonecellnya.


"Akhm..." Pria paruh baya itu mengatur suaranya. Bagikan seorang perjaka yang dihubungi gadis impiannya.


Kemudian kembali mendekatkan phonecellnya, menahan senyumnya."Ada apa?" tanyanya dengan suara penuh kharisma.


"Dora ada?" Pertanyaan Yoka langsung tanpa basa-basi sama sekali.


"Ada," jawaban datar dari Narendra mengira putranya masih di tempat yang jauh.


Terdengar helaan napas dari seberang sana. Bagaimana pemuda yang lega dengan jawaban ayahnya.


"Dimana?" tanya Yoka, mengira saat ini istrinya bersama sang ayah.


"Di kampus," jawaban polos dari Narendra, membuat Yoka mengepalkan tangannya berusaha tersenyum.


"Jika dia ada di kampus untuk apa aku menghubungimu..." geramnya.


"Kamu sudah pulang? Apa kamu tahu anak yang dikandung istrimu kembar? Ajak dia jalan-jalan nanti malam. Dia tidak begitu banyak memiliki teman sebaya karena Zou dan Arsen mengekangnya." Komat-kamit mulut Narendra berucap sedangkan Yoka memijit pelipisnya sendiri.


"Dia bahkan tidak ada di kampus, bagaimana aku bisa mengajaknya jalan-jalan?!" Yoka menyela, kata-kata Narendra.


"Dia tidak ada? Apa dia melarikan diri dengan dokter Tantra? Atau kembali pada Jovan mantan pacarnya? Kamu seharusnya berhati-hati, mungkin istrimu sekarang sedang dibujuk untuk bercerai. Aku sudah berpengalaman selama 11 tahun menghadapi orang seperti mereka. Akan sulit untuk membuat mereka jera..."


Tut...Tut... Tut...


Bukan suara kereta api, melainkan Yoka memutuskan panggilannya sepihak. Sedangkan Narendra yang masih ada di kantor mengenyitkan keningnya.


"Dasar! Tidak mendengarkan nasehat orang tua yang lebih berpengalaman. Jika istrimu dibawa kabur, ayah hanya akan menertawakanmu..." cibir Narendra meletakkan phonecellnya di atas meja, kembali membaca dokumen.


Namun pria itu terdiam sejenak, kemudian kembali melirik phonecellnya. Pinguin kecil yang bagaikan putrinya sendiri akan pergi?


Tidak boleh! Hanya itu kata yang ada di benaknya. Phonecell kembali diraihnya, menghubungi seseorang.


"Tuan..." ucap seseorang di seberang sana.


"Cari informasi di semua maskapai penerbangan, cari juga informasi di pemesanan tiket kereta api, bus dan mobil travel. Menantuku tidak menepati jadwalnya hari ini. Mungkin dia ingin melarikan diri. Biodata dan fotonya akan aku kirimkan nanti..." ucap Narendra mematikan panggilannya. Kemudian mengirim biodata Dora pada orang suruhannya.


*


Hingga barulah dirinya terfikir untuk menghubungi ibu mertuanya. Beberapa saat panggilannya diangkat.


"Halo, maaf ini siapa?" tanya Vera yang tidak mengenali nomor baru yang dipakai menantunya.


"Ibu, ini aku Yoka. Apa Dora ada disana?" tanyanya to the points.


"Dora? Chery berkata akan pergi ke USA, penerbangan besok pagi bersama Dora. Bukannya kamu sudah mengijinkan," Vera menghela napas kasar.


Kini Yoka ikut-ikutan menghela napasnya, entah berapa bab yang dia lewatkan."Chery siapa?" tanyanya tidak mengetahui tentang kakak iparnya.


"Jadi Dora tidak meminta ijin?" Kesimpulan Vera tanpa menjawab pertanyaan menantunya.


"Aku bahkan tidak mengenal Chery. Chery buah? Chery permen? Atau Cherrybelle?" geram Yoka benar-bebar berusaha bersabar.


"Dora tidak menceritakannya ya? Cherry kakak kandung Dora. Dia kabur dari rumah ketika SMU. Beberapa bulan lalu, dia datang, berkata akan membawa Dora pergi ke negara tempatnya merantau," jawaban dari Vera.


Satu jawaban yang membuat Yoka mengepalkan tangannya, menggenggam stir dengan kuat."Ibu bilang penerbangan besok pagi?"


"Iya..."


*


Benar-benar tengil, seorang kakak yang menarik tangan adiknya agar berjalan lebih cepat. Tidak henti-hentinya mengomel.


"Dengar, ada beberapa universitas favorit disana. Kita akan memilih satu persatu, aku juga mempunyai rumah kecil dengan beberapa kamar. Ada kolam renangnya, walaupun tidak sebesar rumah suamimu. Tapi pasti akan menyenangkan. Kita juga harus menyiapkan kamar bayi nanti." Kata-kata Chery yang mempromosikan tempat tinggalnya


"Kakak tinggal sendirian?" Dora mengenyitkan keningnya.


Chery mengangguk,"Kakak membuka sebuah kasino (tempat perjudian) legal di sana. Tenang saja, kamu tidak akan terlibat dengan kasino milik kakak. Fokus pada kuliah dan anakmu saja..." ucapnya mengacak-acak rambut adiknya gemas.


Dora kembali melangkah, lahan perlahan mengikuti sang kakak. Hingga langkahnya melambat, sedikit menengok ke belakang.


Janin di perutnya sedikit bergerak. Kondisi emosional yang benar-benar tidak stabil akibat kehamilannya.


Air matanya tiba-tiba mengalir, benar-benar pinguin kecil yang plin-plan."Kakak apa menurutmu Yoka akan kebingungan mencariku? Bagaimana jika dia tidak konsentrasi mengemudi, kemudian kecelakaan?"


Chery mengenyitkan keningnya. Dalam hatinya mungkin, siapa yang peduli dengan adik ipar yang tidak dikenalnya."Hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan. Kita hanya bisa menerima apapun keputusan-Nya." Kata-kata yang benar-benar bijak dari Chery.


"Tapi Yoka baik padaku. Dia..." kata-kata Dora disela.


"Ingat! Dia bisa berbuat buruk pada orang lain. Kenapa tidak bisa berbuat buruk padamu. Sangat mengerikan bukan? Membuat dua orang wanita baik-baik menjadi wanita penghibur? Kita harus pergi sebelum terlambat..." Chery menyakinkan.


Sedangkan Dora hanya mengangguk, menyetujui pendapat kakaknya. Dua orang yang berjalan ke tempat pengecekan informasi. Hingga sang pekerja bandara menghela napas kasar. "Mohon tunggu sebentar, datanya belum masuk. Mungkin ada kesalahan..." ucapnya.


Pasangan adik dan kakak itu kembali duduk di area ruang tunggu. Sedangkan Chery membeli air mineral untuk adiknya.


Namun, dalam beberapa menit, sang pinguin kecil plin-plan kembali berubah fikiran.


"Kakak benar, dia mungkin baik padaku sekarang. Tapi bagaimana jika aku berbuat salah sedikit saja, entah aku akan dihukum seperti apa..." gumam Dora bicara sendiri.


Namun tanpa diduga, seorang pemuda memegang tangannya, tersenyum menyeringai. Tepatnya kini mencium telapak tangannya."Hukuman? Kamu ingin dihukum? Karena itu mencoba melarikan diri?"