Silent

Silent
Ayahku



Chery beringsut mundur selangkah. Perlahan menghela napas kasar, mengepalkan tangannya. Mengapa Anggeline bisa berada disini? Itulah yang mungkin ada di fikirannya, wanita yang mengepalkan tangannya, air matanya mengalir tersenyum miris.


Perlahan berjalan ke arah gazebo."Anggeline," panggilnya.


Angeline terdiam pada awalnya, matanya menelisik mengamati wanita di hadapannya. Tidak mengenali wajah sang kakak pada awalnya. Namun, jemari tangannya mengepal, air matanya mengalir."Kakak?" gumamnya, bagaikan menemukan sosok seorang ibu.


Chery menghela napas kasar."Kita bicara di tempat lain," ucapnya.


*


Kamar yang tidak begitu luas, namun terdapat sofa di sana. Seorang pelayan menyuguhkan minuman. Kemudian mulai berjalan pergi.


"Kakak..." gumamnya lagi, ingin memeluk Chery, namun mengingat semua dosa yang telah dilakukannya. Membunuh Dorothy dengan tangannya sendiri, mendorong adik mereka menuju kematian.


Tidak menyesal? Mengapa dirinya tidak menolong saja? Dirinya memang terlalu takut keluarga yang mengadopsinya mengembalikannya. Karena melukai keluarga kandungnya sendiri.


Tangannya mengepal sebuah dendam yang mungkin disimpan sang kakak seumur hidupnya. Kakak yang sejatinya menggantikan sosok seorang ibu di masa kecilnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya menatap ke arah Angeline.


Angeline tersenyum miris, tidak menanyakan tentang keadaannya. Namun, apa yang dilakukannya di tempat ini. Jemari tangannya mengepal, tidak dapat menahan tangisannya. Pada akhirnya air mata itu mengalir juga.


Mungkin karena ini dirinya benar-benar membenci Dora. Mengingatkan rasa bersalahnya pada saudari kembarnya Dorothy.


Matanya menatap ke arah sang kakak."Aku..."


"Apa kamu menganggu Dorothy lagi?" tanya Chery dengan nada dingin.


Anggeline membulatkan matanya."Dorothy?" gumamnya, semua tentang Dora sudah pernah diselidiki olehnya. Hanya memiliki seorang ibu yang tinggal di desa lain. Tidak mungkin itu adalah adiknya bukan?


"Anggeline, kamu sudah merebut orang tua yang seharusnya mengadopsi Dorothy. Jangan mengganggunya lagi," Chery menghela napas berkali-kali, sudah dapat menduga apa yang terjadi.


Pengganti? Dirinya sudah menduga ketika sempat mendengar cerita dari Dora tentang seseorang yang benar-benar mirip dengannya. Itulah Anggeline adiknya, kakak kembar Dora.


"Jadi Dorothy masih hidup? A... apa dia Dora?" tanya Anggeline, berusaha tersenyum dalam tangisannya. Seolah-olah menertawakan dirinya sendiri.


Chery mengangguk."Aku mengganti namanya menjadi Dora. Mengubah masa lalunya, ingatannya menghilang karena kecelakaan, sampai sekarang dia menganggap orang yang mengadopsi kami sebagai orang tua kandungnya."


"Kakak aku..." kata-kata Anggeline disela.


"Apa yang akan kamu lakukan, bertarung mati-matian denganku dan Chery atau menyerahkan Yoka pada Dora?" tanya Chery.


Yoka tidak berharga untuk Anggeline selain mesin penghasil uang, jemari tangannya mengepal."Apa jika aku melepaskannya kakak akan kembali menganggapku sebagai adik?"


Chery mengangguk, kemudian tersenyum. Walaupun sifatnya berbeda jauh dengan Dorothy namun Anggeline tetap adiknya. Darah lebih kental dari air bukan.


"Kakak!" Kata-kata yang ingin diucapkannya terlebih dahulu. Pakaian indah, rumah dan keluarga yang sempurna. Namun, tidak ada yang lebih dirindukannya dibandingkan dengan dua saudari yang telah dikhianatinya demi mengejar kebahagiaan.


Kebahagiaan? Dorothy yang diyakininya telah mati hanya menjadi duri dalam hatinya. Mengubur rasa bersalah dalam sifat egoisnya."Kakak, sayangi aku..." pintanya memeluk Chery dalam tangisan.


Chery tersenyum kecil."Dora mempunyai bukti plagiat yang kamu lakukan. Bagaimana jika kamu tinggal dengan kakak di Las Vegas setelah ini?" tanyanya. Dengan cepat Anggeline mengangguk, rasa bersalah yang menghilang karena rasa egois dirinya mendorong saudari kembarnya ke jalan raya.


Sebuah penyesalan yang tertahan, mendekap lebih erat tubuh Chery."Aku akan menyayangi si ingusan dan menyayangi kakak..." sebuah rintihan yang tertahan dalam dekapan tubuh kakaknya.


Mulai bernyanyi perlahan, membawa Anggeline tenang dalam mimpinya. Inilah rasa nyaman yang dirindukannya. Apa Dorothy akan memaafkannya? Entahlah, namun duri dalam hatinya telah menghilang perlahan.


*


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di luar negeri, seorang pria terdiam di kursi putarnya.


"Tuan." seorang bawahannya memasuki ruangan kerja, membungkuk memberi hormat padanya.


"Aku sudah mengalami bantuan kerugian hanya agar Malik mendapatkan warisan dari keluarga itu. Berkali-kali pemuda itu (Yoka) melaporkan usaha gelapku pada kepolisian federal. Karena itu, jangan penuhi permintaan Salsa lagi. Jemput Malik secara paksa, walau bagaimanapun dia putra tunggalku. Satu-satunya pewaris usaha milikku," perintahnya.


"Baik tuan..." jawaban Sang bawahan.


Pria yang terdiam kembali menghela napas masih duduk di kursi putarnya. Sudah cukup menyebalkan berhadapan dengan dua pemuda tukang mengadu (Samy dan Yoka).


Dirinya kini mengidap penyakit mematikan. Mendidik Malik untuk menjadi penerusnya, itulah yang terpenting saat ini. Tidak peduli Salsa akan mengijinkannya atau tidak.


Bagaimanapun dirinya adalah ayah kandung Malik. Memisahkan seorang ibu dari putranya? Mengapa tidak dapat dilakukannya. Diri ini tidak memerlukan wanita murahan seperti Salsa. Wanita yang ditidurinya, bahkan berganti-ganti pasangan saat pesta kelulusan kampus.


Sungguh keajaiban sampel darahnya dan Malik sesuai. Karena itu tidak akan mengikuti syarat Salsa lagi. Lebih baik merebut Malik secara paksa.


*


Malam semakin gelap, hari ini pemuda itu menghela napas kasar. Setiap hari bersaing dengan Yoka membuatnya jengkel.


Anak tiri dan anak kandung? Dirinya memang hanya anak tiri. Namun, apa tidak berhak mendapatkan apapun yang terbaik. Pemuda yang terdiam dalam ruangan gelap di kamarnya.


Perlahan membuka diarynya. Mencatat satu persatu hal yang berhasil direbutnya dari Yoka. Namun, tidak terasa satupun kebahagiaan disana.


Dora? Itulah sasaran selanjutnya. Dua tahun ini sudah dilewatinya tanpa berhasil mendekati pinguin mengemaskan itu.


Karena dirinya memang anak tiri. Apa yang bisa dilakukannya selain rasa iri. Jabatannya juga ditekan setiap hari oleh para petinggi perusahaan. Mengingat dirinya yang bukan pewaris tunggal.


Terdiam dua tahun ini, tanpa melanjutkan buku hariannya. Perlahan pemuda itu mengambil kunci mobilnya. Melajukannya meninggalkan kediaman utama.


Kemana tujuannya? Ke tempat pergaulan kalangan atas. Ingin mengukuhkan kedudukannya sebagai anak yang disayangi. Siapa yang menyayanginya? Entahlah, ibunya sendiri membiarkan pengasuh yang disewa Reksa membesarkannya. Hingga dirinya berusia tiga tahun, Reksa menjodohkan Salsa dengan pria yang asing baginya.


Setelah beradaptasi dengan ayah tirinya. Salsa kembali bercerai, kemudian menikah dengan Narendra. Seorang ayah yang bahkan jarang tersenyum padanya.


Kehidupannya yang hancur dari awal, membuatnya berpura-pura tersenyum. Berusaha menyakinkan dirinya sendiri semua akan baik-baik saja. Tapi apa benar?


Mungkin anak yang hidup tanpa kasih sayang sepertinya akan berakhir buruk. Namun, dirinya menumpahkan segalanya ke dalam gaya hidupnya yang hedon.


Kini tidak ada yang tersisa, yang diperlukannya mungkin seseorang yang dengan bangga mengatakan. Inilah Malik, orang yang dapat dibanggakan. Namun, sekeras apapun dirinya berusaha, seumur hidupnya akan menjadi bayangan Yoka.


Hingga jalan tempatnya akan melintas di blokir. Beberapa mobil menghalangi jalannya.


Malik perlahan turun dari mobilnya."Tuan muda, ayah anda ingin bertemu. Sebaiknya ikut kami..." tegas sang pria tersenyum namun menodongkan senjata api tepat di kepala Malik.


"Ayahku?" batinnya, dengan tangan gemetar. Entah kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya selanjutnya.